Budaya

Alunan Alat Musik Canang Kayu Perkaya Musik Etnik

Kekayaan seni dan budaya Indonesia tak dapat dilepaskan dari eksistensi alat musik yang beragam, salah satunya seperti Canang Kayu. Alat musik ini sejak lama menjadi pemberi warna terhadap seni pertunjukan tari tradisional di Aceh. Dibuat dari bahan kayu, alat musik ini mampu menciptakan alunan nada-nada ritmis dan harmonis. Saat ini, canang kayu menjadi salah satu […]

Oleh Anisa Kurniawati

Alunan Alat Musik Canang Kayu Perkaya Musik Etnik
Foto: Indonesia.go.id
Diterbitkan

Kekayaan seni dan budaya Indonesia tak dapat dilepaskan dari eksistensi alat musik yang beragam, salah satunya seperti Canang Kayu. Alat musik  ini sejak lama menjadi pemberi warna terhadap seni pertunjukan tari tradisional di Aceh. 

Dibuat dari bahan kayu, alat musik ini mampu menciptakan alunan nada-nada ritmis dan harmonis.  Saat ini, canang kayu menjadi salah satu kekayaan budaya di Kabupaten Aceh Singkil, daerah di ujung barat daya Provinsi Aceh.

Alat musik ini mulanya hanya sebagai alat musik penghibur bagi para petani. Seiring kepopulerannya, alunan canang digunakan saat mengiringi pertunjukan tari tradisional. 

Dilansir dari laman Indonesia.go.id, canang kayu terbuat dari kayu pilihan dari pohon cuping dan kayu tarok, atau masyarakat Aceh Singkil biasa menyebutnya sebagai kayu trep. Kayu kemudian dibuat menjadi papan balok berukuran 40 sentimeter. 

Baca juga: Aceh Barat Tetapkan Lima Cagar Budaya Bersejarah

Ikuti Zaman

Papan balok yang dimainkan ada 3-4 kayu dengan panjang yang sama. Alat musik dari kayu ini melahirkan nada yang harmonis ketika dipukul. Pemain canang kayu biasanya memainkannya sambil berselonjor di lantai. Kemudian menabuh balok-balok kayu di atas kaki secara bergantian. 

Cara itu menciptakan suara khas kayu dan alunan musik yang merdu serta harmonis. Selain disusun di kaki, alat musik khas ini dimainkan dengan cara menyusunnya di atas kotak kayu dan ditabuh.

Seiring perkembangannya, alat musik ini diiringi dengan musik tradisional. Alunan Canang pun lebih ramai dan merdu jika diiringi tabuhan alat musik tradisional lainnya, misalnya gendang dan talam.

Obat Rematik

Di era modern, kini canang ada yang dibuat dari material tembaga. Namun suara yang dihasilkan berbeda. Alat musik ini masih terus dilestarikan dan dipopulerkan masyarakat Aceh Singkil. 

Bahkan pada tahun 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menobatkan canang kayu sebagai salah satu warisan budaya tak benda Aceh sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya Aceh Singkil. 

Beberapa seniman kesenian berupaya menarik generasi muda belajar bermain alat tradisional ini demi menjaga kelestariannya. Selain menghibur, canang kayu juga digunakan mengobati rematik dengan cara meletakkan canang di atas kedua kaki, karena kaki terasa seperti diurut. 

Baca juga: Upacara Adat Peusijuek, Tradisi Syukuran Masyarakat Aceh

Modifikasi Tangga Nada

Seiring perkembangannya, supaya alat musik ini terlihat lebih menarik, beberapa kelompok musik ada yang gencar mengenalkan instrumen musik canang kayu. Mereka kerap tampil dengan diiringi rebana, dan alat musik modern lain seperti drum dan gitar.

Awalnya, alat musik canang kayu hanya memiliki tiga nada dasar. Kemudian, sebuah grup musik etnik bernama Destanada II telah memodifikasi alat tradisional itu hingga memiliki delapan nada dasar. Proses modifikasi iyu telah mendapatkan izin dari tetua Aceh Singkil.

Dari upaya pelestarian itu harapannya agar masyarakat Kabupaten Aceh Singkil bangga akan budayanya sendiri. Selain itu, supaya budaya khas Aceh Singkil dapat dikenal masyarakat luas. Dan memang sudah sepatutnya, terutama generasi muda melestarikan dan menjaga budayanya sendiri. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya28 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati