Di Kota Magelang, Jawa Tengah, nama Bagus Priyana dikenal sebagai sosok yang memiliki pengetahuan luas tentang sejarah lokal.
Ia bukan seorang sejarawan akademik, tetapi kecintaannya terhadap sejarah menjadikannya rujukan bagi banyak orang yang ingin memahami lebih dalam tentang Kota Tidar.
Minatnya terhadap sejarah berawal dari lingkungan tempat tinggalnya yang dipenuhi bangunan peninggalan Belanda. Ketertarikan ini kemudian membawanya membentuk komunitas Kota Toea Magelang pada tahun 2009.
Melalui komunitas ini, Bagus aktif menggelar berbagai kegiatan, seperti jelajah situs bersejarah, diskusi, bedah buku, hingga pameran arsip.
Salah satu kegiatannya yang terbaru adalah membantu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Magelang dalam penyelenggaraan pameran surat kabar lama di Loka Budaya Sukimin Adiwiratmoko.
Pameran yang berlangsung dari 8 hingga 11 Februari 2025 ini menampilkan koleksi koran dan majalah lawas, beberapa di antaranya merupakan sumbangan dari koleksi pribadi Bagus.
Dari Rasa Kagum terhadap Bangunan Belanda hingga Menjadi Sejarawan Mandiri
Minat Bagus terhadap sejarah sudah tumbuh sejak ia masih bersekolah di SD Negeri 1 Magelang. Dalam perjalanan menuju sekolah, ia selalu terpana melihat bangunan tua peninggalan Belanda.
Selain itu, sang ayah kerap mengajaknya berkeliling kota, termasuk ke Resimen Induk Komando Daerah Militer (Rindam) IV/Diponegoro, tempat ayahnya bekerja.
Ketertarikannya terhadap sejarah semakin mendalam ketika ia membaca buku stensilan berjudul “8 Pendjuru” karya Sukarman. Buku ini memberikan wawasan tentang Magelang yang semakin membuatnya penasaran.
Tidak hanya membaca, Bagus juga mulai mengoleksi benda-benda bersejarah, seperti sepeda jengki tua milik orang tuanya.
Pada tahun 2003, ia bersama teman-temannya mendirikan komunitas VOC Magelang, yang menggunakan sepeda tua untuk menjelajahi situs-situs sejarah di daerah itu.
Sebagai upaya memperkaya wawasan, ia pun mulai mengumpulkan data dari berbagai sumber, termasuk buku, foto, dan wawancara dengan warga lansia yang pernah mengalami langsung peristiwa bersejarah di Magelang.
Ia kemudian mencatat hasil penelitiannya, mengunggahnya ke blog, dan membagikannya dalam berbagai forum sejarah.
Membantu Warga Negara Asing Menelusuri Kenangan di Magelang
Aktivitas Bagus sebagai penggiat sejarah Magelang tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga warga negara asing (WNA).
Banyak di antara mereka yang pernah tinggal di Magelang pada masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, atau periode awal kemerdekaan Indonesia.
Berbekal foto lama dan cerita dari kerabat, mereka datang ke Magelang untuk mencari rumah keluarga atau tempat yang menyimpan kenangan masa kecil mereka. Bagus pun sering membantu mereka dalam menelusuri jejak sejarah.
Dalam beberapa kasus, rumah atau lokasi yang mereka cari sudah tidak ada. Namun, sekadar membawa mereka ke tempat yang dahulu pernah berdiri bangunan itu sudah cukup bagi mereka untuk bernostalgia.
Selama ini, Bagus telah membantu WNA dari Belanda, Jerman, Spanyol, hingga Kanada dalam perjalanan napak tilas mereka di Magelang.
“Saya bisa merasakan pengalaman mereka. Karena bapakku juga pernah terpisah dari adik perempuannya selama 40 tahun sejak tahun 1969 di Magelang,” ujarnya dilansir dari regional.kompas.com.
Sejarah Keluarga yang Menguatkan Tekadnya
Ketertarikan Bagus terhadap sejarah juga dipengaruhi kisah keluarganya sendiri.
Sang ayah pernah meninggalkan Pemalang dengan menumpang truk tentara pada masa pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh berafiliasi dengan PKI pada tahun 1965.
Bagus juga menceritakan bagaimana kakeknya hampir menjadi korban tuduhan yang sama. Suatu hari, kakeknya pulang dari sawah dan mendapati rumahnya ramai orang-orang yang mencurigainya.
Namun, karena kakinya masih berlumuran tanah, mereka percaya bahwa ia baru saja kembali dari ladang dan bukan bagian dari gerakan yang dituduh terlibat.
“Kalau tidak ada bekas tanah di kaki kakekku, mungkin dia sudah KO,” kenangnya.
Menjaga Sejarah agar Tidak Hilang Ditelan Waktu
Bagi Bagus, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Ia melihatnya sebagai jembatan yang menghubungkan manusia dengan identitas dan akar budaya mereka.
“Saya tidak ingin menggurui siapa pun, tetapi ingin berbagi ilmu dan berdiskusi. Itu lebih mengasyikkan,” ujarnya.
Dengan semangat yang tak pernah padam, Bagus Priyana terus mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap sejarah dan warisan budaya Kota Magelang.
Melalui komunitas dan berbagai kegiatannya, ia memastikan bahwa jejak sejarah kota ini tetap hidup dan tidak terlupakan bagi generasi mendatang.