Pariwisata

Candi Dwarawati, Jejak Sejarah di Tengah Ladang Kentang Dieng

Dataran Tinggi Dieng dikenal dengan deretan candinya yang memiliki nilai sejarah tinggi. Di antara candi-candi yang populer seperti Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, dan Candi Bima, terdapat sebuah candi kecil yang keberadaannya masih jarang diketahui banyak orang, yaitu Candi Dwarawati. Terletak di kaki Gunung Prahu, tepatnya di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, candi ini […]

Oleh Achmad Aristyan

Candi Dwarawati, Jejak Sejarah di Tengah Ladang Kentang Dieng
Candi Dwarawati di Dieng yang letaknya jauh dari keramaian. Foto: Aristyan
Diterbitkan

Dataran Tinggi Dieng dikenal dengan deretan candinya yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Di antara candi-candi yang populer seperti Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, dan Candi Bima, terdapat sebuah candi kecil yang keberadaannya masih jarang diketahui banyak orang, yaitu Candi Dwarawati.

Terletak di kaki Gunung Prahu, tepatnya di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, candi ini berdiri di tengah hamparan ladang kentang yang subur.

Pesona Tersembunyi di Tengah Ladang Kentang

Menurut Dhimas, seorang pemandu wisata di Dieng, banyak wisatawan yang tidak menyadari keberadaan Candi Dwarawati karena lokasinya yang cukup terpencil.

“Candi ini memang tidak sepopuler Candi Arjuna, tapi justru di situlah daya tariknya. Letaknya yang tersembunyi di tengah ladang membuat suasananya lebih tenang dan alami,” ujarnya.

Baca Juga: Candi Arjuna, Pusat Sejarah Terbesar di Dataran Tinggi Dieng

Untuk mencapai Candi Dwarawati, pengunjung harus melewati perkampungan warga dan jalan setapak di antara ladang kentang.

Candi ini memiliki ukuran yang relatif kecil, dengan panjang 5 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 6 meter, sehingga sulit terlihat dari kejauhan.

Asal-usul Nama yang Berbeda

Jika sebagian besar candi di Dieng mengambil nama dari tokoh dalam epos Mahabharata, Candi Dwarawati justru memiliki nama yang berbeda.

Dhimas menjelaskan bahwa nama “Dwarawati” berasal dari Dwaraka, ibu kota Kerajaan Dwarata di India.

“Penamaan ini mungkin karena arsitektur candi ini memiliki kemiripan dengan bangunan-bangunan candi di India,” katanya.

Hal ini memberikan nuansa budaya yang sedikit berbeda dibandingkan candi-candi lain di Dieng.

Candi Dwarawati yang jauh dari keramaian memiliki suasana yang tenang sehingga bagus untuk berkumpul dan bersantai. Foto: Aristyan

Jejak Kompleks Candi yang Hilang

Dahulu, Candi Dwarawati merupakan bagian dari kompleks candi yang terdiri dari Candi Pandu, Candi Margasari, dan Candi Parikesit.

Namun, ketiga candi itu kini hanya menyisakan tumpukan batu yang tidak lagi berbentuk.

“Sayang sekali, sebagian besar struktur candi lain sudah hilang, tinggal Candi Dwarawati yang masih berdiri meskipun ada beberapa bagian yang rusak,” ungkap Dhimas.

Di sekitar lokasi, masih terlihat sisa-sisa batu yang diyakini merupakan bagian dari candi-candi yang telah runtuh.

Hingga kini, belum ada upaya rekonstruksi yang dilakukan, sehingga pengunjung hanya bisa melihat Candi Dwarawati sebagai satu-satunya bangunan yang tersisa.

Fungsi dan Relik yang Terlindungi

Seperti halnya candi Hindu lainnya di Dieng, Candi Dwarawati dibangun sekitar abad ke-8 Masehi dan digunakan sebagai tempat pemujaan kepada Dewa Syiwa.

Di dalamnya, dulunya terdapat arca Ganesha, Agastya, dan Dewi Durga, namun kini arca-arca itu telah dipindahkan ke Museum Kailasa Dieng untuk keperluan konservasi.

Bca juga: Situs Dharmasala Dieng, Tempat Peristirahatan Peziarah Kuno

Kondisi dan Aksesibilitas

Candi Dwarawati dapat dikunjungi kapan saja karena memang terbuka untuk umum.

“Pengunjung bisa datang kapan saja tanpa ada biaya tiket, tapi harus berhati-hati karena jalannya cukup sempit dan melewati ladang penduduk,” jelas Dhimas.

Di sekitar candi, terdapat pagar kawat setinggi satu meter yang dipasang untuk melindungi struktur bangunan dari gangguan.

Meski tidak ada fasilitas pengelolaan khusus, suasana di sekitar candi tetap terjaga keasriannya.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan ketenangan sambil menikmati sejarah, Candi Dwarawati menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan candi-candi lain di Dieng.

Dengan lanskap ladang kentang dan udara pegunungan yang sejuk, tempat ini menjadi pilihan menarik bagi pencinta wisata sejarah yang ingin menjelajahi sisi tersembunyi Dieng.

Pariwisata26 MAR 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan