Cerita Rakyat

Cerita Dibalik Kali Gajah Wong, Legenda dari Tanah Jogja 

Kali Wong Gajah, salah satu tempat wisata yang berada di Giwangan, Umbulharjo, DI Yogyakarta. Ada banyak aktivitas menarik yang dapat dilakukan di sini, seperti objek Dermaga Cinta dan lainnya. Kali Wong Gajah sendiri tidak lepas dari cerita rakyat yang beredar. Salah satunya yaitu mengenai kisah tentang asal usul nama Kali Gajah Wong pada sungai yang […]

Oleh Anisa Kurniawati

Cerita Dibalik Kali Gajah Wong, Legenda dari Tanah Jogja 
Ilustrasi obyek wisata Dermaga Cinta yang berada di Kali Wong Yogyakarta. Foto: GoogleMaps/ahsin dinal
Diterbitkan

Kali Wong Gajah, salah satu tempat wisata yang berada di Giwangan, Umbulharjo, DI Yogyakarta. Ada banyak aktivitas menarik yang dapat dilakukan di sini, seperti objek Dermaga Cinta dan lainnya. 

Kali Wong Gajah sendiri tidak lepas dari cerita rakyat yang beredar. Salah satunya yaitu mengenai kisah tentang asal usul nama Kali Gajah Wong pada sungai yang membelah Kota Yogyakarta tersebut.

Dilansir dari beberapa sumber, pada zaman dahulu di pusat pemerintahan Kerajaan Mataram berada di wilayah Kotagede ada seorang raja yang bernama Sultan Agung.

Dia dikenal memiliki ribuan prajurit dan pasukan kuda dan gajah untuk memperkuat pertahanan. 

Kyai Dwipangga Sang Gajah 

Semua hewan pasukan ini dirawat dengan baik para abdi dalem Sultan Agung. Ki Sapa Wira adalah abdi dalem Sultan Agung.  Salah satu tugasnya yaitu memandikan seekor gajah yang berasal dari daerah Siam, namanya Kyai Dwipangga. 

Ki Sapa Wira merawat gajah ini dengan baik. Mulai dari memberi makan, perawatan, hingga memandikannya. Biasanya Ki Sapa Wira memandikan Kyai Dwipangga setiap hari di sungai yang tidak jauh dari pusat pemerintahan Mataram. 

Pada suatu hari, Ki Sapa Wira sakit. Akhirnya Ki Sapa Wira menyuruh adik iparnya, Ki Kerti Pejok untuk menggantikan tugasnya. Ki Kerti Pejok menyanggupinya setelah menanyakan segala informasi tentang gajah ini. 

Ki Kerti Pejok kemudian menjemput Kyai Dwipangga dan dibawa menuju sungai. Di sungai, Ki Kerti Pejok memandikan Kyai Dwipangga dengan baik hingga dibawa kembali ke kandangnya.

Kali Gajah Wong

Melihat hal itu, Ki Sapa Wira sangat senang dan berterima kasih.

Karena belum pulih benar, Ki Sapa Wira kembali meminta bantuan Ki Kerti Pejok untuk memandikan gajah sang Sultan. Namun kali ini memberi pesan khusus kepada Ki Kerti Pejok

Isinya supaya tidak membawa Kyai Dwipangga mandi di arah hilir sungai. Hal ini disebabkan karena daerah tersebut cukup berbahaya. Keesokan harinya, Ki Kerti Pejok kembali menjemput Kyai Dwipangga dan dibawa ke sungai. 

Tidak seperti biasanya, cuaca hari itu mendung dan seperti akan turun hujan lebat. Sesampainya di sungai, ternyata air yang ada di tempat Kyai Dwipangga mandi surut dan kering.

Melihat hal ini, Ki Kerti Pejok kemudian membawa Kyai Dwipangga ke arah hilir sungai.

Dia tetap pergi ke hilir sungai, meskipun sudah dilarang Ki Sapa Wira. Sesampainya disana dia melihat sebuah genangan air yang cukup dalam. Segera dia mengajak turun Kyai Dwipangga untuk berendam dan mulai memandikannya.

Ketika Ki Kerti Pejok sedang menggosok badan sang gajah tiba-tiba terdengar suara gemuruh.

Tidak lama berselang, tiba-tiba air bah besar datang dari arah hulu menuju hilir sungai. Ki Kerti Pejok yang sedang memandikan Kyai Dwipangga terkejut dan berteriak meminta tolong. 

Akan tetapi, tidak ada orang dan dia tidak bisa menyelamatkan diri karena berada di tengah sungai. Akibatnya Ki Kerti Pejok bersama Kyai Dipangga hanyut terbawa arus.

Untuk mengenang peristiwa ini, Sultan Agung menamainya dengan nama Kali Gajah Wong. Arti dari nama itu karena telah menghanyutkan seekor gajah dan wong (orang).

Nah, begitulah legenda Kali Gajah Wong hingga dikenal sampai sekarang.

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat05 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati