Kali Wong Gajah, salah satu tempat wisata yang berada di Giwangan, Umbulharjo, DI Yogyakarta. Ada banyak aktivitas menarik yang dapat dilakukan di sini, seperti objek Dermaga Cinta dan lainnya.
Kali Wong Gajah sendiri tidak lepas dari cerita rakyat yang beredar. Salah satunya yaitu mengenai kisah tentang asal usul nama Kali Gajah Wong pada sungai yang membelah Kota Yogyakarta tersebut.
Dilansir dari beberapa sumber, pada zaman dahulu di pusat pemerintahan Kerajaan Mataram berada di wilayah Kotagede ada seorang raja yang bernama Sultan Agung.
Dia dikenal memiliki ribuan prajurit dan pasukan kuda dan gajah untuk memperkuat pertahanan.
Kyai Dwipangga Sang Gajah
Semua hewan pasukan ini dirawat dengan baik para abdi dalem Sultan Agung. Ki Sapa Wira adalah abdi dalem Sultan Agung. Salah satu tugasnya yaitu memandikan seekor gajah yang berasal dari daerah Siam, namanya Kyai Dwipangga.
Ki Sapa Wira merawat gajah ini dengan baik. Mulai dari memberi makan, perawatan, hingga memandikannya. Biasanya Ki Sapa Wira memandikan Kyai Dwipangga setiap hari di sungai yang tidak jauh dari pusat pemerintahan Mataram.
Pada suatu hari, Ki Sapa Wira sakit. Akhirnya Ki Sapa Wira menyuruh adik iparnya, Ki Kerti Pejok untuk menggantikan tugasnya. Ki Kerti Pejok menyanggupinya setelah menanyakan segala informasi tentang gajah ini.
Ki Kerti Pejok kemudian menjemput Kyai Dwipangga dan dibawa menuju sungai. Di sungai, Ki Kerti Pejok memandikan Kyai Dwipangga dengan baik hingga dibawa kembali ke kandangnya.
Kali Gajah Wong
Melihat hal itu, Ki Sapa Wira sangat senang dan berterima kasih.
Karena belum pulih benar, Ki Sapa Wira kembali meminta bantuan Ki Kerti Pejok untuk memandikan gajah sang Sultan. Namun kali ini memberi pesan khusus kepada Ki Kerti Pejok
Isinya supaya tidak membawa Kyai Dwipangga mandi di arah hilir sungai. Hal ini disebabkan karena daerah tersebut cukup berbahaya. Keesokan harinya, Ki Kerti Pejok kembali menjemput Kyai Dwipangga dan dibawa ke sungai.
Tidak seperti biasanya, cuaca hari itu mendung dan seperti akan turun hujan lebat. Sesampainya di sungai, ternyata air yang ada di tempat Kyai Dwipangga mandi surut dan kering.
Melihat hal ini, Ki Kerti Pejok kemudian membawa Kyai Dwipangga ke arah hilir sungai.
Dia tetap pergi ke hilir sungai, meskipun sudah dilarang Ki Sapa Wira. Sesampainya disana dia melihat sebuah genangan air yang cukup dalam. Segera dia mengajak turun Kyai Dwipangga untuk berendam dan mulai memandikannya.
Ketika Ki Kerti Pejok sedang menggosok badan sang gajah tiba-tiba terdengar suara gemuruh.
Tidak lama berselang, tiba-tiba air bah besar datang dari arah hulu menuju hilir sungai. Ki Kerti Pejok yang sedang memandikan Kyai Dwipangga terkejut dan berteriak meminta tolong.
Akan tetapi, tidak ada orang dan dia tidak bisa menyelamatkan diri karena berada di tengah sungai. Akibatnya Ki Kerti Pejok bersama Kyai Dipangga hanyut terbawa arus.
Untuk mengenang peristiwa ini, Sultan Agung menamainya dengan nama Kali Gajah Wong. Arti dari nama itu karena telah menghanyutkan seekor gajah dan wong (orang).
Nah, begitulah legenda Kali Gajah Wong hingga dikenal sampai sekarang.