Dinamika

Ketika Layar Mulai Mengasuh Anak-anak Kita

Generasi muda tumbuh bersama algoritma yang ikut membentuk perhatian, kebiasaan, dan dunianya.

Oleh Narendra

Ketika Layar Mulai Mengasuh Anak-anak Kita
Ilustrasi seorang Wanita muda menatap telepon pintar dalam kesehariannya. Media sosial kini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi menjadi salah satu ruang tempat generasi muda belajar, bergaul, mencari pengakuan, dan mengenal dunia.DOK pexels-rdne
Diterbitkan

Pagi belum sepenuhnya datang ketika sebuah layar lebih dahulu menyala. Mata yang masih berat belum sempat melihat halaman rumah, tetapi jari sudah mengenal gerakannya: membuka, menggulir, berhenti sebentar, lalu menggulir lagi.

Di meja makan, telepon diletakkan di samping piring. Di kendaraan, di kamar, di sekolah, bahkan beberapa menit menjelang tidur, layar seperti selalu menemukan tempat di antara kehidupan yang lain.

Kita menyebutnya media sosial. Tetapi bagi generasi yang lahir ketika internet sudah berada di mana-mana, ia bukan lagi sekadar media.

Ia adalah tempat bertemu teman, mencari hiburan, mengenal dunia, menemukan idola, belajar bahasa, mengikuti tren, mencari pengakuan, bahkan perlahan membentuk gambaran mengenai siapa dirinya.

Mungkin karena itu pertanyaan kita tidak lagi cukup berhenti pada: berapa lama anak menggunakan telepon?

Pertanyaan yang lebih dalam adalah: selama berjam-jam itu, siapa yang sedang berbicara kepada mereka?

Dunia yang Tidak Pernah Selesai

Dahulu sebuah acara televisi mempunyai akhir. Majalah dapat ditutup, permainan mempunyai waktu berhenti, sementara malam perlahan membuat rumah menjadi lebih tenang.

Layar hari ini berbeda. Gulirannya seperti tidak mempunyai halaman terakhir.

Satu video selesai dan video lain telah menunggu. Satu cerita menghilang, notifikasi berikutnya datang; sebuah topik mulai membosankan, sistem rekomendasi mencari sesuatu yang mungkin membuat kita bertahan sedikit lebih lama.

Fitur seperti rekomendasi konten, notifikasi, tanda suka, dan guliran tanpa akhir menjadi bagian dari perhatian para peneliti terhadap pengalaman digital remaja. American Psychological Association mengingatkan bahwa desain yang dibuat untuk orang dewasa belum tentu sesuai dengan kemampuan perkembangan anak dan remaja.

Di sinilah telepon berhenti menjadi benda yang hanya kita gunakan. Ia juga menjadi ruang yang terus berusaha membuat kita kembali.

Ketika Perhatian Menjadi Rebutan

Perhatian seorang anak dahulu diperebutkan oleh banyak hal yang dapat kita lihat: teman, permainan, keluarga, buku, sekolah, lapangan, televisi, atau lingkungan di sekelilingnya. Sekarang ada pemain lain yang bekerja jauh lebih senyap.

Di balik layar terdapat sistem rekomendasi yang mempelajari apa yang dilihat, dilewati, disukai, dan membuat seseorang berhenti lebih lama. Semakin tepat sistem itu mengenali perhatian pengguna, semakin mudah ia menyodorkan sesuatu berikutnya.

Persoalannya bukan semata-mata teknologi. Persoalan muncul ketika perhatian yang juga dibutuhkan untuk tidur, belajar, bergerak, berbicara, membaca, bermain, dan mengalami dunia nyata terus-menerus harus bernegosiasi dengan layar.

Kajian psikologi mengenai penggunaan media sosial pada remaja mengenali sejumlah tanda penggunaan problematik, antara lain sulit berhenti meskipun ingin melakukannya, menggunakan media sosial lebih lama daripada yang direncanakan, serta terganggunya aktivitas dan hubungan penting.

Bukan Semua Anak, Bukan Semua Media Sosial

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Mudah sekali membuat kesimpulan bahwa media sosial telah merusak satu generasi. Kalimat seperti itu terdengar tegas, tetapi penelitian tidak memberikan kesimpulan sesederhana itu.

National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, setelah menelaah penelitian mengenai media sosial dan kesehatan remaja, menyatakan bahwa bukti yang tersedia belum mendukung kesimpulan bahwa media sosial menyebabkan perubahan kesehatan remaja pada tingkat populasi.

Pengalaman setiap anak juga tidak sama. Media sosial dapat menjadi ruang belajar, kreativitas, persahabatan, dan dukungan bagi sebagian anak, sementara anak lain dapat menghadapi perbandingan sosial, perundungan, gangguan tidur, atau pola penggunaan yang sulit dikendalikan.

Karena itu persoalannya bukan tentang sebuah telepon yang otomatis merusak anak. Persoalannya jauh lebih rumit: apa yang terjadi ketika sebagian masa pertumbuhan manusia berlangsung di dalam lingkungan digital yang belum sepenuhnya kita pahami?

Indonesia Juga Sedang Menghadapinya

Persoalan ini tidak hanya datang dari penelitian di luar negeri. UNICEF Indonesia dalam kajian mengenai pengetahuan dan kebiasaan daring anak menemukan bahwa sebagian besar anak yang diteliti menggunakan internet setiap hari, terutama untuk bersosialisasi dan mencari hiburan.

Namun ruang yang sama juga membawa risiko. Kajian tersebut mencatat hanya 37,5 persen anak yang telah menerima informasi mengenai cara menjaga keamanan diri ketika berada di dunia daring.

Sebanyak 42 persen anak dalam kajian itu pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman daring. Temuan tersebut tidak berarti seluruh anak Indonesia mengalami persoalan yang sama, tetapi menunjukkan bahwa kehidupan digital anak di negeri ini memerlukan perhatian yang jauh lebih serius daripada sekadar memperdebatkan berapa lama mereka memegang telepon.

Ada dunia yang sedang mereka masuki setiap hari. Dan belum semuanya memasuki dunia itu dengan bekal yang cukup.

Ketika Hidup Orang Lain Selalu Lebih Indah

Di layar, kehidupan datang setelah melalui proses pemilihan. Orang memperlihatkan perjalanan terbaik, wajah terbaik, makanan terbaik, pencapaian terbaik, tubuh terbaik, dan beberapa detik terbaik dari hari yang mungkin sebenarnya biasa saja.

Seorang remaja dapat mengetahui bahwa apa yang dilihatnya hanyalah potongan kehidupan. Tetapi mengetahui sesuatu secara rasional tidak selalu membuat manusia kebal terhadap perbandingan.

Ada usia ketika penerimaan teman terasa begitu penting. Ada masa ketika wajah, tubuh, popularitas, dan pengakuan dapat memperoleh tempat besar dalam cara seseorang melihat dirinya.

Penelitian psikologi memberi perhatian khusus pada penggunaan media sosial yang mendorong perbandingan sosial berbasis penampilan. Pada sebagian remaja, perhatian berlebihan terhadap penampilan, foto diri, dan umpan balik yang diterimanya berkaitan dengan citra tubuh yang lebih buruk dan sejumlah persoalan psikologis.

Di dunia seperti itu, sebuah angka kecil di bawah foto dapat terasa lebih besar daripada bentuknya. Tanda suka perlahan dapat dibaca sebagai penerimaan, sementara sepi respons kadang terasa seperti penolakan.

Luka Tidak Berhenti di Gerbang Sekolah

Dahulu seorang anak yang mengalami ejekan di sekolah setidaknya mempunyai kemungkinan meninggalkan tempat itu ketika pulang. Rumah dapat menjadi jarak.

Media sosial mengubah batas tersebut. Sebuah komentar dapat mengikuti seseorang sampai ke kamar tidurnya.

Foto dapat disebarkan, percakapan dapat disimpan, penghinaan dapat disaksikan banyak orang, sementara sebuah peristiwa yang dahulu mungkin hanya terdengar oleh beberapa teman dapat meninggalkan jejak jauh lebih panjang.

Cyberbullying, diskriminasi, kebencian, pelecehan, serta paparan terhadap berbagai konten yang tidak sesuai usia menjadi bagian dari risiko yang terus mendapat perhatian dalam penelitian mengenai kehidupan digital remaja.

Teknologi memang tidak menciptakan kekejaman manusia. Tetapi teknologi dapat memperbesar panggung tempat kekejaman itu berlangsung.

Ada Hal yang Lebih Sunyi

Tidak semua perubahan kehidupan digital datang sebagai peristiwa besar. Beberapa justru terjadi begitu biasa sehingga kita nyaris tidak menyadarinya.

Ayah melihat telepon. Ibu melihat telepon. Anak melihat telepon.

Mereka berada dalam satu ruangan, tetapi perhatian masing-masing sedang berada di tempat lain.

Kita sering mengkhawatirkan anak karena terlalu banyak menggunakan media sosial, tetapi jarang menanyakan apa yang mereka lihat dari orang dewasa. Kajian mengenai penggunaan media sosial remaja juga memberi perhatian pada kebiasaan orang dewasa menggunakan perangkat ketika sedang berinteraksi dengan anak.

Mungkin sebagian pendidikan digital pertama tidak dimulai dengan memasang aplikasi pengawas. Ia dimulai ketika orang dewasa berani meletakkan teleponnya sendiri.

Percakapan yang Perlahan Kehilangan Tempat

Ada kemampuan manusia yang tidak dapat sepenuhnya dipelajari melalui tombol reaksi. Kita belajar membaca wajah ketika berbicara, memahami jeda, mengetahui kapan harus diam, merasakan perubahan nada suara, meminta maaf, menghadapi ketidaksetujuan, dan menyelesaikan percakapan yang tidak selalu menyenangkan.

Semua itu membutuhkan kehadiran.

Media sosial dapat memperluas hubungan dan memberi dukungan sosial yang berharga. Bagi sebagian remaja, ruang daring bahkan dapat menyediakan persahabatan dan kedekatan emosional yang sulit mereka temukan di lingkungan sekitar.

Namun kehidupan digital tidak seharusnya menghilangkan kesempatan anak untuk berlatih berinteraksi secara langsung. Dunia daring dapat memperluas kehidupan sosial, tetapi tidak harus menggantikan seluruh ruang tempat manusia belajar berhadapan dengan manusia lainnya.

Ketika Kebosanan Menjadi Masalah

Ada masa ketika menunggu berarti benar-benar menunggu. Anak yang menunggu jemputan melihat jalan, mengobrol dengan teman, menggambar sesuatu, atau sekadar merasa bosan.

Hari ini beberapa detik kosong dapat segera diisi layar.

Kebosanan seperti menjadi sesuatu yang harus secepat mungkin disingkirkan. Padahal tidak setiap ruang kosong dalam kehidupan harus dipenuhi.

Ada pikiran yang justru datang ketika manusia tidak sedang menerima apa-apa. Ada imajinasi yang tumbuh ketika anak harus menciptakan permainannya sendiri, dan ada percakapan yang terjadi hanya karena tidak ada layar lain untuk dilihat.

Mungkin salah satu hal yang perlu kita jaga bukan hanya waktu tanpa media sosial. Tetapi kemampuan generasi berikutnya untuk merasa baik-baik saja ketika tidak ada sesuatu yang sedang menghiburnya.

Bukan Sekadar Berapa Jam

Pertanyaan “berapa jam?” tetap penting, tetapi tidak cukup.

Dua anak dapat menggunakan media sosial dalam durasi yang sama dan memperoleh pengalaman yang sama sekali berbeda. Satu menggunakannya untuk belajar menggambar, berbicara dengan keluarga yang jauh, menemukan komunitas, atau membuat karya; yang lain mungkin menerima penghinaan, terus membandingkan tubuhnya, kehilangan tidur, atau mengalami penggunaan yang sulit dikendalikan.

Karena itu pembicaraan mengenai media sosial tidak dapat berhenti pada disiplin individual. Desain platform, sistem rekomendasi, literasi digital, perlindungan dari pelecehan, lingkungan keluarga, serta kemampuan anak memahami apa yang ditemuinya juga perlu diperhitungkan.

Seorang remaja tidak berhadapan dengan teknologi dalam ruang yang netral. Ia bertemu sistem yang dibuat oleh orang dewasa, perusahaan, model bisnis, desain produk, dan algoritma yang jauh lebih kompleks daripada sekadar aplikasi di dalam telepon.

Jangan Jadikan Anak Terdakwa

Ketika seorang remaja tidak dapat melepaskan telepon, kalimat yang paling mudah adalah: anak sekarang memang kecanduan HP.

Kita selesai berbicara setelah itu.

Padahal orang dewasa membeli perangkatnya, industri membangun platformnya, kreator memproduksi kontennya, perusahaan merancang fiturnya, keluarga membentuk kebiasaannya, sekolah mengatur pendidikannya, sementara masyarakat menciptakan lingkungan tempat semua itu berlangsung.

Anak berada di tengah sebuah ekosistem yang tidak ia bangun sendiri.

Karena itu tidak adil apabila seluruh akibatnya kemudian kita letakkan di pundaknya. Literasi digital memang harus diajarkan kepada generasi muda, tetapi kedewasaan digital juga harus dipelajari oleh orang dewasa.

Larangan Saja Tidak Cukup

Ada godaan lain ketika sebuah masalah terasa terlalu besar: larang.

Ambil teleponnya, matikan internetnya, tutup aplikasinya, dan kita berharap persoalan selesai.

Pada usia tertentu, batas yang jelas memang diperlukan. Para ahli merekomendasikan pemantauan, diskusi, pendampingan, dan pembatasan yang sesuai dengan perkembangan anak, terutama pada masa remaja awal.

Namun anak yang hanya belajar hidup aman ketika tidak mempunyai akses belum tentu mampu mengambil keputusan ketika akses itu kembali berada di tangannya. Tujuan akhirnya bukan menciptakan manusia yang selamanya dijauhkan dari teknologi, melainkan manusia yang mampu menggunakan teknologi tanpa menyerahkan seluruh kendali dirinya.

Di situlah percakapan lebih penting daripada sekadar hukuman.

Rumah Perlu Menjadi Tempat Kembali

Barangkali tidak semua keluarga memahami algoritma. Tidak semua orang tua mengikuti perubahan aplikasi, istilah baru, tren, atau dunia yang sedang ramai di antara anak-anak mereka.

Tetapi keluarga mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki algoritma: hubungan.

Seorang anak perlu mempunyai tempat untuk menceritakan apa yang ia lihat tanpa langsung dihakimi. Ia perlu dapat berkata bahwa seseorang menghinanya, bahwa sebuah konten membuatnya takut, atau bahwa ia merasa tidak cukup baik setelah terlalu lama melihat kehidupan orang lain.

Pendampingan digital bukan hanya mengetahui kata sandi. Ia juga berarti membangun hubungan yang membuat anak masih ingin datang kepada manusia ketika dunia di dalam layar mulai terasa terlalu berat.

Sekolah Tidak Cukup Mengajarkan Tombol

Literasi digital tidak boleh berhenti pada kemampuan membuka aplikasi, membuat presentasi, atau mencari informasi. Generasi yang hidup bersama algoritma perlu memahami bagaimana perhatian mereka bekerja dan mengapa sebuah konten muncul di depan mereka.

Mereka perlu belajar membedakan informasi dan manipulasi, mengenali iklan dan persuasi, menjaga privasi, menghadapi pelecehan, memeriksa informasi, serta memahami bahwa popularitas bukan ukuran kebenaran.

Berbagai rekomendasi ilmiah mengenai kehidupan digital remaja menempatkan literasi media sosial sebagai bagian penting dari perlindungan pengguna muda.

Mungkin pelajaran penting abad ini bukan hanya bagaimana menggunakan teknologi. Tetapi bagaimana mengetahui ketika teknologi sedang menggunakan perhatian kita.

Kita Juga Membicarakan Budi Pekerti

Persoalan media sosial pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang perangkat. Ia juga menyentuh cara manusia memperlakukan manusia lainnya.

Di balik akun terdapat manusia. Di balik foto terdapat seseorang yang dapat terluka, sementara di balik komentar yang diketik beberapa detik dapat ada akibat yang tinggal jauh lebih lama.

Nilai seperti tenggang rasa, penghormatan, tanggung jawab, kesantunan, kemampuan menahan diri, dan kesediaan memahami orang lain tidak menjadi usang hanya karena percakapan berpindah ke layar. Justru ketika jarak fisik membuat kita tidak melihat wajah orang yang menerima perkataan kita, nilai-nilai itu mungkin semakin dibutuhkan.

Budi pekerti tidak seharusnya berhenti di depan pintu rumah. Ia perlu ikut masuk ke ruang digital.

Layar Juga Bisa Menjadi Jendela

Kita juga tidak boleh melupakan sisi lain dari cerita.

Di media sosial seorang anak dapat menemukan ilmu yang sebelumnya sulit dijangkau. Ia dapat menemukan komunitas yang mendukung, memamerkan karya, belajar keterampilan, berbicara dengan keluarga yang jauh, mengenal kebudayaan lain, bahkan menemukan jalan hidup yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Penelitian mengenai media sosial dan remaja memang tidak menggambarkan pengalaman digital sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif atau sepenuhnya positif. Manfaat dan risikonya dapat hadir bersamaan, dengan pengalaman yang berbeda pada setiap anak.

Karena itu tujuan kita bukan membesarkan generasi yang takut kepada teknologi.

Kita ingin membesarkan generasi yang tidak mudah dikuasai olehnya.

Jangan Sampai Algoritma Mengenal Anak Lebih Dahulu

Malam datang dan layar itu masih menyala.

Seorang anak mungkin sedang tertawa melihat video, berbicara dengan temannya, belajar sesuatu, atau menemukan karya yang kelak mengubah hidupnya. Di layar yang sama, ia juga mungkin sedang membandingkan dirinya, menerima ejekan, kehilangan waktu tidur, atau terus menggulir tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang dicari.

Kita tidak dapat berdiri di belakang bahunya sepanjang hidup.

Suatu hari ia harus memegang layar itu sendirian. Ia harus mengetahui kapan harus membuka, kapan harus berhenti, apa yang layak dipercaya, apa yang sebaiknya dilewati, bagaimana memperlakukan manusia lain, dan kapan dunia di luar layar membutuhkan kehadirannya.

Di situlah pekerjaan kita sebenarnya.

Bukan memenangkan perang melawan media sosial. Bukan pula merindukan masa lalu seolah seluruh kehidupan sebelum internet selalu lebih baik.

Pekerjaan kita adalah memastikan seorang anak mengenal dirinya sebelum algoritma merasa telah mengenalnya.

Dan ketika layar itu akhirnya padam, masih ada kehidupan yang ingin ia datangi.

CATATAN REDAKSI

Judul “Ketika Layar Mulai Mengasuh Anak-anak Kita” digunakan sebagai cara EMMANUS membaca perubahan ruang tumbuh generasi muda ketika telepon pintar, media sosial, dan sistem rekomendasi digital semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari. Istilah “mengasuh” tidak dimaksudkan secara harfiah untuk menyatakan bahwa teknologi telah menggantikan orang tua, keluarga, sekolah, atau masyarakat, dan artikel ini tidak menyimpulkan bahwa media sosial dengan sendirinya menyebabkan kerusakan pada satu generasi.

Bukti ilmiah mengenai hubungan media sosial dan kehidupan remaja masih berkembang dan tidak menunjukkan pengalaman yang seragam. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine menyatakan bukti yang ditelaah belum mendukung kesimpulan bahwa media sosial menyebabkan perubahan kesehatan remaja pada tingkat populasi. American Psychological Association juga menekankan bahwa media sosial tidak secara inheren baik ataupun buruk; dampaknya dapat berbeda menurut usia, kondisi psikologis, lingkungan keluarga dan sosial, kerentanan individu, jenis konten, fitur platform, serta cara seseorang menggunakannya. Karena itu, hubungan antara media sosial, perilaku, kesehatan, relasi sosial, dan perkembangan remaja tidak seharusnya dibaca sebagai hubungan sebab-akibat yang sederhana.

Sejumlah angka dan temuan dalam artikel digunakan untuk memberikan konteks, bukan untuk menggeneralisasi seluruh generasi muda. Data dari penelitian internasional tidak otomatis mewakili kondisi anak Indonesia, sementara temuan UNICEF Indonesia yang disebut dalam artikel juga harus dibaca sesuai populasi, metode, dan ruang lingkup kajiannya. Istilah seperti “penggunaan problematik” juga tidak digunakan EMMANUS sebagai diagnosis terhadap anak atau remaja tertentu.

EMMANUS tidak menempatkan generasi muda sebagai terdakwa dalam perubahan ini. Anak dan remaja tumbuh di dalam ekosistem digital yang dibentuk bersama oleh keluarga, sekolah, masyarakat, industri teknologi, kreator, media, kebijakan publik, dan kebiasaan orang dewasa. Karena itu tanggung jawab untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat tidak semestinya dibebankan hanya kepada kemampuan seorang anak mengendalikan dirinya.

Artikel ini juga tidak mengajak pembaca memusuhi teknologi atau kembali secara romantis kepada masa sebelum internet. Media sosial dapat membuka akses terhadap pengetahuan, kreativitas, pertemanan, komunitas, kebudayaan, dan kesempatan yang sebelumnya sulit dijangkau. Refleksi EMMANUS diarahkan pada satu persoalan yang lebih mendasar: bagaimana memastikan teknologi tetap menjadi alat yang memperluas kehidupan manusia, tanpa perlahan mengambil seluruh ruang bagi tidur, percakapan, pertemanan langsung, aktivitas fisik, daya kritis, budi pekerti, serta pengalaman nyata yang juga dibutuhkan generasi muda untuk tumbuh.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait