Sebuah lagu dapat menyeberangi ribuan kilometer tanpa membawa paspor. Beberapa hari kemudian melodinya sudah dinyanyikan di Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, hingga kota-kota yang mungkin tidak pernah dikunjungi penyanyinya.
Film berpindah negara dalam hitungan detik, makanan memperoleh penggemar sebelum restorannya hadir, sedangkan gaya berpakaian dapat menyebar hanya melalui beberapa unggahan. Jarak geografis masih ada, tetapi jarak kebudayaan menyusut dengan sangat cepat.
Keadaan semacam ini mudah menimbulkan kegelisahan. Jika segala sesuatu dari luar dapat masuk begitu mudah, masihkah kekayaan Nusantara mempunyai cukup kekuatan untuk bertahan?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Sebab ancaman terhadap kebudayaan ternyata tidak selalu datang dari sesuatu yang asing.
Nusantara Tidak Pernah Benar-Benar Terisolasi
Kepulauan yang sekarang bernama Indonesia telah berabad-abad menjadi tempat perjumpaan manusia. Perdagangan, migrasi, agama, pelayaran, perkawinan, kekuasaan, dan pertukaran pengetahuan membawa berbagai pengaruh dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Jejak India, Tiongkok, Arab, Eropa, jaringan Austronesia, serta hubungan antarpulau dapat ditemukan dalam bahasa, pangan, seni, arsitektur, kepercayaan, teknologi, dan kehidupan sosial. Banyak hal yang hari ini terasa sangat akrab sesungguhnya mempunyai sejarah perjumpaan panjang.
Artinya, perubahan akibat hubungan dengan dunia luar bukan pengalaman baru. Masyarakat di kepulauan ini sejak lama menerima sesuatu, menolak sebagian, menyesuaikan yang lain, kemudian menghasilkan bentuk yang berbeda dari sumber awalnya.
Kemampuan mengolah perjumpaan tersebut justru menjadi bagian penting perjalanan Nusantara. Kebudayaan tidak pernah hidup seperti benda yang dikunci dalam lemari kaca.
Kini Arusnya Bergerak Jauh Lebih Cepat
Perbedaannya terletak pada kecepatan, skala, dan kekuatan distribusi. Dahulu sebuah pengaruh dapat membutuhkan perjalanan panjang untuk berpindah antarpelabuhan, sementara sekarang sebuah video mampu memasuki jutaan layar hampir bersamaan.
Platform digital juga tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan. Sistem rekomendasi ikut menentukan musik mana yang terdengar, video apa yang muncul, siapa yang ditemukan, dan karya mana yang memperoleh kesempatan berulang kali bertemu penonton.
Akibatnya persaingan perhatian tidak berlangsung dalam kondisi yang selalu setara. Sebuah kesenian dari desa kecil dapat berada dalam layar yang sama dengan industri hiburan bernilai sangat besar dan mempunyai jaringan produksi, pemasaran, penerjemahan, distribusi, serta komunitas penggemar lintas negara.
Namun teknologi yang sama menyediakan kesempatan yang dahulu sulit dibayangkan. Seorang penutur bahasa daerah, pemusik tradisional, pembuat kerajinan, atau pencerita dari sebuah kampung kini secara teknis dapat ditemukan oleh manusia di belahan dunia lain.
Menyukai Budaya Asing Bukan Berarti Kehilangan Indonesia
Anak Indonesia mendengarkan K-pop tidak otomatis berhenti menjadi Indonesia. Menonton anime, menikmati film Hollywood, membaca manga, mengikuti sepak bola Eropa, atau menyukai makanan negara lain juga tidak dengan sendirinya menghapus identitas seseorang.
Manusia mampu mempunyai lebih dari satu ketertarikan pada saat bersamaan. Pertukaran lintas masyarakat bahkan telah menjadi salah satu sumber kreativitas sepanjang sejarah.
Karena itu menyalahkan produk asing akan membawa pembicaraan ke arah yang terlalu mudah. Pertanyaan yang lebih berguna adalah mengapa sebagian ekspresi dari luar mampu hadir begitu dekat, sedangkan kekayaan dari lingkungan sendiri kadang terasa jauh.
Jawabannya mungkin berada pada pengalaman sehari-hari. Sesuatu akan sulit dicintai apabila hampir tidak pernah diperkenalkan secara menarik, jarang digunakan, sukar ditemukan, atau hanya muncul pada kesempatan seremonial.
Bahasa Memberikan Peringatan yang Sulit Diabaikan
Indonesia mempunyai kekayaan linguistik yang luar biasa. Badan Bahasa telah mengidentifikasi ratusan bahasa daerah, tetapi kajian vitalitas menunjukkan tidak semuanya berada dalam keadaan aman.
Ada bahasa yang rentan, mengalami kemunduran, terancam, kritis, bahkan telah kehilangan penuturnya. Hilangnya sebuah bahasa jauh lebih besar daripada hilangnya kumpulan kosakata.
Di dalam bahasa terdapat cara memberi nama pada alam, hubungan keluarga, humor, cerita, ingatan, pengetahuan, serta pengalaman sebuah masyarakat. Terjemahan dapat menyelamatkan sebagian makna, tetapi tidak selalu mampu membawa seluruh dunia yang hidup di dalam bahasa asal.
Sebuah kamus dapat mencatat ribuan kata dan tetap tidak membuat bahasa itu hidup. Kehidupan baru terjadi ketika masih ada manusia yang menggunakannya untuk berbicara kepada manusia lain.
Persoalannya Ada pada Rantai Pewarisan
Seorang nenek mungkin masih fasih berbicara dalam bahasa ibunya. Anak-anaknya mengerti tetapi lebih nyaman menggunakan bahasa lain, sedangkan cucunya hanya mengenal beberapa ungkapan.
Tiga generasi masih berada dalam satu keluarga. Namun dalam rentang yang sangat pendek, kemampuan aktif dapat berubah menjadi pemahaman pasif lalu tinggal kenangan.
Pola serupa dapat terjadi pada cerita lisan, teknik kerajinan, musik, pengetahuan tumbuhan, permainan, tata cara membuat perahu, keterampilan mengolah pangan, atau kemampuan membaca lingkungan. Ancaman terbesar muncul saat hubungan antara orang yang mengetahui dan orang yang seharusnya menerima pengetahuan itu terputus.
Karena itu jumlah dokumentasi bukan satu-satunya ukuran keselamatan. Rekaman dapat mempertahankan jejak, tetapi peneruslah yang membuat pengetahuan bergerak menuju masa depan.
Batik Memberikan Pelajaran yang Berbeda
Batik memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus memilih antara masa lalu dan masa kini. Ia masih dibuat menggunakan pengetahuan yang diwariskan, tetapi sekaligus memasuki pendidikan, fesyen, desain, perdagangan, museum, penelitian, dan berbagai bentuk penggunaan kontemporer.
Program pendidikan batik di Pekalongan bahkan mendapat pengakuan UNESCO sebagai praktik pelindungan yang baik. Museum, lembaga pendidikan, pemerintah, serta komunitas bekerja bersama membawa sejarah, nilai, dan keterampilan membatik kepada pelajar.
Hal penting dari contoh tersebut bukan semata pengakuan internasional. Kekuatan sebenarnya berada pada mekanisme transmisi yang membuat orang muda mempunyai kesempatan bertemu langsung dengan pengetahuan tersebut.
Batik pun terus mengalami inovasi pada desain, penggunaan, teknik, dan pasar. Perubahan tidak otomatis menghapus akar apabila pengetahuan mengenai asal, proses, komunitas, serta maknanya masih dijaga.
Jamu Tidak Berhenti di Ingatan Masa Lalu
Jamu menunjukkan jalur lain. Pengetahuan meracik bahan tumbuhan diwariskan melalui keluarga dan lingkungan sosial, sementara pada perkembangan berikutnya sebagian pengetahuan mengenai jamu juga memasuki perguruan tinggi.
Di sana terlihat sesuatu yang penting: sebuah praktik dapat berpindah dari dapur keluarga menuju penelitian, usaha, pendidikan, dokumentasi digital, dan percakapan internasional. Ia tidak harus meninggalkan seluruh sejarahnya untuk memasuki kehidupan kontemporer.
Tentu pengetahuan tradisional mengenai kesehatan tetap perlu dibedakan dari klaim medis yang membutuhkan pembuktian ilmiah. Penghormatan terhadap jamu sebagai kebudayaan tidak membuat setiap klaim khasiat otomatis menjadi fakta kedokteran.
Justru kemampuan membedakan keduanya membuat pengembangan berlangsung lebih bertanggung jawab. Tradisi mendapat penghormatan, sementara keselamatan dan pengetahuan ilmiah tetap mempunyai tempat.
Pengakuan Dunia Tidak Menjamin Keselamatan
Daftar UNESCO sering membuat masyarakat merasa sebuah unsur telah aman. Kenyataannya, pencatatan internasional bukan akhir pekerjaan.
Indonesia memiliki berbagai unsur dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, mulai dari wayang, keris, batik, angklung, noken, Saman, pencak silat, gamelan, jamu, kebaya, kolintang hingga Reog Ponorogo dan pantun. Status setiap unsur pun tidak sama.
Reog Ponorogo, misalnya, masuk dalam daftar yang membutuhkan pelindungan mendesak. Fakta tersebut menunjukkan sebuah ekspresi dapat dikenal luas sekaligus menghadapi persoalan keberlanjutan.
Sertifikat tidak dapat menggantikan penerus. Popularitas juga belum tentu berarti ekosistem di belakang pertunjukan berada dalam keadaan sehat.
Yang Harus Selamat Adalah Manusianya
Sebuah tarian membutuhkan penari, musik memerlukan pemain, tenun membutuhkan penenun, dan tradisi lisan memerlukan penutur. Terlalu sering perhatian berhenti pada produk akhirnya.
Di belakang sehelai kain terdapat keterampilan yang membutuhkan waktu untuk dipelajari. Di belakang pertunjukan terdapat latihan, pengetahuan, alat, tempat, guru, serta kehidupan orang-orang yang menjalaninya.
Jika pelaku tidak memperoleh penghidupan yang memungkinkan mereka bertahan, rantai tersebut menjadi rapuh. Kita tidak dapat terus meminta seseorang menjaga peninggalan berharga sambil menganggap kebutuhan ekonominya sebagai persoalan pribadi.
Sektor kreatif Indonesia telah menjadi kegiatan ekonomi besar dengan jutaan pekerja. Potensi tersebut seharusnya membuka percakapan tentang bagaimana nilai ekonomi kembali kepada pencipta, perajin, seniman, komunitas, serta pemilik pengetahuan.
Tradisi Tidak Harus Berpenampilan Tua
Ada kekhawatiran bahwa pembaruan akan merusak keaslian. Kekhawatiran itu dapat dimengerti, terutama ketika perubahan menghilangkan konteks, mengambil milik komunitas tanpa izin, atau menjadikan simbol sakral sebagai komoditas sembarangan.
Namun membekukan seluruh ekspresi pada satu bentuk tertentu juga membawa persoalan. Kehidupan sosial berubah, medium berkembang, selera bergerak, sedangkan setiap angkatan mempunyai bahasa estetiknya sendiri.
Gamelan dapat bertemu komposisi baru tanpa membuat gamelan lama harus lenyap. Motif tradisional dapat berdialog dengan desain kontemporer selama asal, hak, konteks, dan pengetahuan pembuatnya dihormati.
Daya tahan tidak selalu berarti bentuknya persis sama selama seratus tahun. Terkadang kemampuan berubah secara sadar justru membuat sesuatu terus mempunyai penerus.
Anak Muda Tidak Perlu Menjadi Salinan Leluhurnya
Mewariskan kebudayaan bukan pekerjaan mencetak manusia masa kini menjadi manusia abad lampau. Anak hari ini hidup dengan persoalan, teknologi, pergaulan, dan kemungkinan yang berbeda.
Mereka perlu diberi kesempatan mengetahui akar sekaligus kebebasan menciptakan cabang. Tanpa pengetahuan dasar, inovasi mudah kehilangan konteks; tanpa kebebasan bereksperimen, tradisi dapat terasa seperti kewajiban yang tidak mempunyai hubungan dengan kehidupan mereka.
Tantangannya adalah membuat pengetahuan lokal menjadi bahan penciptaan. Bahasa daerah dapat masuk film, musik, komik, gim, animasi, siniar, sastra, humor, aplikasi, dan medium yang mungkin belum pernah digunakan generasi sebelumnya.
Pewarisan berhasil bukan saat seorang anak mampu mengulang semuanya tanpa perubahan. Keberhasilan terlihat ketika ia mengetahui dari mana sesuatu berasal dan masih menganggapnya cukup berharga untuk dibawa ke tempat baru.
Pertarungan Sesungguhnya Terjadi pada Perhatian
Hari ini kelangkaan tidak selalu berupa informasi. Yang semakin mahal justru perhatian manusia.
Ribuan lagu, film, video, permainan, berita, dan gambar berlomba memperoleh beberapa menit dari hari seseorang. Dalam keadaan seperti itu, keberadaan sebuah karya di internet belum menjamin karya tersebut ditemukan.
UNESCO telah menyoroti konsentrasi platform dan sistem kurasi yang tidak transparan sebagai persoalan bagi keberagaman ekspresi. Kreator yang kurang dikenal dapat tenggelam meskipun secara teknis memiliki akses ke platform yang sama.
Artinya digitalisasi arsip hanyalah langkah awal. Konten lokal membutuhkan metadata, terjemahan, kualitas produksi, strategi distribusi, kemampuan digital, dan sistem penemuan yang membuatnya benar-benar sampai kepada publik.
Algoritma Bisa Menjadi Gerbang Baru
Sistem rekomendasi belajar dari data dan perilaku pengguna. Jika materi mengenai bahasa, cerita, musik, gambar, serta pengetahuan Nusantara sedikit tersedia atau kurang terstruktur, representasinya di ekosistem digital juga berisiko mengecil.
Kecerdasan buatan menambah persoalan baru. UNESCO telah memperingatkan bahwa bias data dan algoritma dapat mengutamakan narasi dominan sekaligus membuat ekspresi lokal atau kelompok yang kurang terwakili semakin sulit terlihat.
Namun teknologi yang sama menawarkan peluang besar untuk penerjemahan, digitalisasi arsip, museum virtual, dokumentasi bahasa, pendidikan, produksi kreatif, dan akses pengetahuan. Pilihannya bukan menerima atau menolak teknologi, melainkan memastikan Indonesia mempunyai kapasitas untuk mengisinya.
Jika bahasa daerah hanya tersimpan dalam rekaman yang tidak terstruktur, mesin masa depan mungkin mengetahui sangat sedikit tentangnya. Dokumentasi kebudayaan kini karena itu juga menyentuh persoalan kedaulatan data.
Sekolah Perlu Menghadirkan Pengalaman
Pelajaran mengenai kebudayaan mudah berubah menjadi hafalan nama pakaian, rumah, tarian, atau alat musik. Pengetahuan seperti itu berguna, tetapi tidak selalu menciptakan hubungan emosional.
Bayangkan siswa belajar tenun bersama penenun, mengenali tumbuhan bersama masyarakat yang menggunakannya, memainkan musik dengan seniman, atau merekam cerita kampung bersama penuturnya. Materi pelajaran berubah menjadi perjumpaan dengan manusia.
Model pendidikan batik menunjukkan kerja sama semacam itu dapat dilakukan. Prinsipnya dapat diterjemahkan secara berbeda sesuai keadaan masing-masing daerah, tanpa membuat satu pola nasional yang menghapus keragaman.
Sekolah tidak perlu menggantikan komunitas sebagai pemilik pengetahuan. Ia dapat menjadi jembatan yang membawa murid mendekati sumbernya.
Rumah Tetap Menjadi Pintu Pertama
Program pemerintah tidak dapat sepenuhnya menggantikan percakapan di meja makan. Banyak bahasa ibu, resep, cerita, sapaan, nyanyian, permainan, dan kebiasaan pertama kali dikenali melalui keluarga.
Ketika orang tua berhenti meneruskannya karena merasa bahasa atau kebiasaan lokal tidak berguna bagi masa depan anak, transmisi mulai kehilangan salah satu jalur terpenting. Pilihan tersebut sering mempunyai alasan sosial yang kompleks dan tidak layak dijawab dengan menyalahkan keluarga.
Bahasa nasional dibutuhkan, kemampuan asing membuka kesempatan, sementara mobilitas sosial membawa kebutuhan baru. Tantangannya adalah membuat kemampuan tersebut bertambah tanpa selalu meminta identitas lokal menghilang sebagai harga yang harus dibayar.
Seorang anak dapat menguasai bahasa Indonesia dan bahasa internasional sekaligus mengenal bahasa leluhurnya. Identitas manusia tidak harus bekerja seperti kursi yang hanya menyediakan satu tempat.
Pemerintah Tidak Bisa Bekerja Sendirian
Indonesia sebenarnya telah mempunyai landasan hukum melalui Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan ditempatkan sebagai langkah strategis untuk membawa kebudayaan nasional di tengah perkembangan dunia.
Instrumen pendanaan juga terus berkembang. Pada 2026 tersedia dukungan bagi dokumentasi pengetahuan maestro atau objek rawan punah, kajian, penciptaan karya inovatif, distribusi internasional, restorasi, sinema, hingga kewirausahaan budaya.
Uang tentu diperlukan, tetapi anggaran tanpa ekosistem mudah berubah menjadi rangkaian proyek. Kesinambungan membutuhkan kerja daerah, sekolah, kampus, komunitas, media, industri, perusahaan teknologi, keluarga, serta pelaku yang berada di lapangan.
Satu acara besar dapat selesai dalam beberapa hari. Membangun penerus memerlukan tahun.
Dunia Usaha Memiliki Pilihan Besar
Industri dapat memperlakukan kebudayaan sebagai ornamen atau sebagai sumber pengetahuan yang dihormati. Perbedaannya terlihat dari siapa yang memperoleh manfaat.
Hotel dapat bekerja bersama perajin, rumah produksi dapat melibatkan peneliti dan komunitas, pengembang gim dapat menggali cerita dengan sumber yang bertanggung jawab, sedangkan merek fesyen dapat memastikan motif tidak dicabut sembarangan dari masyarakat asalnya. Nilai komersial kemudian tumbuh bersama atribusi, hak, dan kesejahteraan pembawa tradisi.
Model seperti itu lebih sulit daripada mengambil simbol lalu menempelkannya pada produk. Namun justru di sana industri kreatif dapat menjadi kekuatan pemajuan, bukan mesin ekstraksi.
Pasar global juga tidak harus menjadi tempat Indonesia kehilangan diri. Ia dapat menjadi tempat karya dari sini melakukan perjalanan keluar.
Media Harus Berhenti Menunggu Kepunahan
Ada ironi dalam pemberitaan kebudayaan. Sebuah bahasa terkadang baru memperoleh perhatian setelah penutur terakhirnya meninggal, sementara seorang maestro dikenal luas setelah usianya sangat lanjut.
Dokumentasi semestinya datang lebih awal. Media dapat merekam proses, menjelaskan istilah, memperkenalkan manusia, menghubungkan sejarah dengan keadaan hari ini, serta membuat pengetahuan yang dianggap kecil memperoleh tempat dalam ingatan publik.
Tugas tersebut berbeda dari romantisasi. Jurnalisme kebudayaan juga perlu membicarakan konflik, perubahan, ekonomi, perebutan hak, regenerasi, klaim sejarah, serta praktik yang memang perlu ditinjau kembali.
Tidak semua yang lama harus dipuji. Tetapi sesuatu harus dipahami sebelum masyarakat memutuskan apa yang hendak dibawa ke masa depan.
Tidak Perlu Menang dengan Menyingkirkan yang Lain
Kebudayaan Indonesia tidak menjadi lebih kuat dengan membuat anak merasa bersalah karena menyukai karya Korea, Jepang, Amerika, India, Arab, atau negara mana pun. Sikap defensif semacam itu bahkan dapat membuat tradisi sendiri terasa seperti beban moral.
Pelajaran yang lebih menarik justru dapat diambil dari keberhasilan negara lain. Produk budaya memperoleh pengaruh besar ketika penciptaan, pendidikan, industri, teknologi, pembiayaan, distribusi, diplomasi, dan komunitas penggemarnya saling memperkuat.
Indonesia mempunyai bahan yang luar biasa besar. Tantangannya adalah mengubah kekayaan tersebut menjadi ekosistem penciptaan tanpa menguras masyarakat yang menjadi sumbernya.
Kita tidak harus meminta dunia mengecil agar Nusantara terlihat besar. Yang diperlukan adalah kemampuan membuat sesuatu dari sini cukup hidup untuk berdiri di tengah dunia.
Popularitas Tidak Sama dengan Keberlanjutan
Sebuah tarian dapat ditonton sepuluh juta kali setelah viral. Beberapa minggu kemudian perhatian berpindah dan tidak seorang pun datang belajar kepada gurunya.
Sebaliknya, sebuah tradisi yang hanya dikenal di satu kabupaten mungkin mempunyai puluhan murid, guru aktif, ruang latihan, dan masyarakat yang terus menggunakannya. Dari sisi keberlanjutan, keadaan kedua dapat jauh lebih sehat.
Karena itu jumlah penonton perlu dibaca bersama indikator lain. Ada atau tidak penerus, frekuensi penggunaan, kemampuan ekonomi pelaku, keberadaan guru, kualitas dokumentasi, ruang praktik, serta partisipasi komunitas jauh lebih menentukan.
Pengakuan nasional dan internasional tetap berharga. Namun penghargaan paling nyata adalah ketika pengetahuan masih mempunyai manusia yang ingin meneruskannya.
Nusantara Tidak Akan Selamat sebagai Dekorasi
Motif dapat ditempel pada dinding bandara, musik tradisional diputar saat tamu datang, tarian ditampilkan di panggung, dan pakaian daerah dikenakan pada hari tertentu. Semua itu mempunyai fungsi, tetapi belum cukup untuk menjamin kehidupan kebudayaan.
Daya hidup terlihat ketika bahasa masih digunakan, perajin mempunyai murid, seniman dapat berkarya, cerita terus diceritakan, pengetahuan lokal diteliti, serta anak memperoleh kesempatan mengenali asalnya tanpa dipaksa menolak dunia.
Di titik itu istilah pelestarian memperoleh arti yang lebih luas. Tujuannya bukan membuat masa lalu tetap diam, melainkan menjaga kemampuan masyarakat untuk menentukan perjalanan kebudayaannya sendiri.
Ada bagian yang mungkin berubah, sebagian bertahan, beberapa lahir kembali dalam medium berbeda, sedangkan unsur lain dapat benar-benar menghilang. Tidak ada masyarakat yang mampu menghentikan waktu.
Pertanyaannya Bukan Lagi Siapa yang Menyerang
Menyebut keadaan sekarang sebagai gempuran budaya asing memang menggambarkan derasnya arus yang dirasakan banyak orang. Namun istilah tersebut dapat menipu apabila membuat kita mengira solusi utamanya adalah membangun tembok.
Tidak ada tembok yang cukup tinggi untuk menghentikan lagu, film, bahasa, makanan, mode, gim, atau gagasan pada zaman jaringan global. Bahkan seandainya itu mungkin dilakukan, Indonesia akan kehilangan kesempatan untuk belajar, bertukar, dan memperkenalkan dirinya kepada dunia.
Pertahanan yang lebih kuat berada di dalam. Seorang anak yang mengenal asal-usulnya tidak perlu takut mengenal bangsa lain.
Masyarakat yang masih mempunyai penutur, guru, pembuat, peneliti, pasar, arsip, sekolah, panggung, laboratorium, studio, dan penerus tidak mudah kehilangan seluruh pengetahuannya hanya karena budaya lain datang. Keterbukaan kemudian menjadi perjumpaan, bukan penghapusan.
Yang Menentukan Adalah Apakah Kita Masih Menciptakan
Ada perbedaan antara mewarisi dan sekadar menerima peninggalan. Pewaris mempunyai kesempatan meneruskan sesuatu, tetapi juga memikul pekerjaan untuk membuatnya bermakna pada zamannya.
Nusantara tidak kekurangan bahan. Ribuan pulau menyimpan bahasa, musik, pengetahuan pangan, teknologi tradisional, arsitektur, permainan, cerita, tekstil, manuskrip, keterampilan bahari, pengobatan, seni pertunjukan, dan pengalaman hidup yang belum seluruhnya terdokumentasikan dengan baik.
Persoalannya adalah apakah kekayaan itu berhenti menjadi daftar atau berubah menjadi tenaga penciptaan. Sebuah bangsa tidak dapat hidup selamanya hanya dengan mengatakan bahwa leluhurnya hebat.
Daya budaya terlihat dari apa yang mampu diciptakan oleh manusia yang hidup sekarang. Di tangan merekalah sesuatu yang diwariskan memperoleh bab berikutnya.
Kita Tidak Sedang Berlomba dengan Dunia
Mungkin pertanyaan awal perlu dibaca kembali. Mampukah budaya Nusantara bertahan di tengah derasnya budaya dari luar?
Jawabannya bergantung pada apa yang kita maksud dengan bertahan. Jika bertahan berarti tidak pernah berubah dan tidak pernah menerima pengaruh, sejarah Nusantara sendiri menunjukkan bahwa ukuran tersebut hampir mustahil.
Namun jika bertahan berarti masyarakat masih mengenali pengetahuannya, mempunyai kebebasan mengembangkannya, mampu meneruskannya, serta memperoleh tempat yang layak untuk berkarya, kemungkinan itu tetap terbuka lebar. Bahkan perjumpaan global dapat menyediakan jalan baru untuk membawa karya Indonesia melampaui batas geografisnya.
Bahaya terbesar mungkin bukan saat seorang anak menyanyikan lagu dari negeri jauh. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika tidak ada seorang pun yang pernah memberinya kesempatan mendengar suara dari tempat ia berasal.
Sebab sesuatu tidak hilang hanya karena dunia datang mengetuk pintu. Ia benar-benar berada dalam bahaya ketika orang-orang di dalam rumah tidak lagi mengetahui apa yang sedang mereka miliki.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini menggunakan frasa “gempuran budaya asing” sebagai gambaran atas derasnya arus budaya global yang masuk melalui media, industri hiburan, perdagangan, migrasi, teknologi digital, dan interaksi lintas masyarakat. EMMANUS tidak menempatkan kebudayaan asing sebagai musuh, tidak menganggap pertukaran budaya sebagai proses yang selalu merusak, dan tidak menyimpulkan bahwa ketertarikan terhadap produk budaya luar menyebabkan seseorang kehilangan identitas Indonesianya.
Kebudayaan tidak bersifat statis. Sejarah masyarakat di Nusantara menunjukkan proses panjang perjumpaan, pertukaran, penyesuaian, penciptaan, dan perubahan. Karena itu, kemiripan, adopsi, atau hadirnya unsur luar dalam praktik budaya Indonesia tidak otomatis dipahami sebagai kehilangan keaslian. Penilaian harus memperhatikan sejarah, masyarakat pemilik, proses perubahan, serta konteks masing-masing.
Artikel ini juga tidak menyimpulkan bahwa globalisasi merupakan penyebab tunggal melemahnya bahasa, tradisi, atau pengetahuan lokal. Vitalitas suatu unsur dapat dipengaruhi oleh transmisi antargenerasi, urbanisasi, migrasi, pendidikan, perubahan mata pencaharian, sikap penutur, kebijakan, kondisi ekonomi pelaku, perubahan lingkungan, ketersediaan ruang praktik, teknologi, serta berbagai faktor sosial lainnya.
Penyebutan algoritma, platform digital, dan kecerdasan buatan tidak berarti teknologi secara otomatis merusak kebudayaan. Teknologi dapat memperluas akses, dokumentasi, penerjemahan, pendidikan, penciptaan, dan distribusi. Pada saat yang sama, penelitian dan kebijakan internasional mengingatkan adanya persoalan bias data, konsentrasi platform, sistem rekomendasi yang tidak transparan, kesenjangan keterampilan digital, hak kekayaan intelektual, serta keterlihatan ekspresi lokal.
Pengakuan UNESCO terhadap unsur kebudayaan Indonesia juga tidak diperlakukan sebagai bukti bahwa sebuah tradisi telah sepenuhnya aman. Daftar Representatif, Daftar yang Memerlukan Pelindungan Mendesak, serta Register Praktik Pelindungan yang Baik memiliki fungsi berbeda. Keberlanjutan pada akhirnya tetap bergantung pada masyarakat, pelaku, transmisi pengetahuan, kondisi sosial-ekonomi, kebijakan, dan berbagai upaya pelindungan yang dilakukan secara berkelanjutan.
EMMANUS tidak beranggapan bahwa seluruh praktik lama harus dipertahankan tanpa perubahan atau kritik. Masyarakat pemilik kebudayaan mempunyai hak untuk mengembangkan, menafsirkan kembali, mengubah, atau mengambil keputusan mengenai praktiknya dengan mempertimbangkan pengetahuan, agama, hak asasi manusia, lingkungan, keselamatan, perkembangan sosial, dan konteks kehidupan mereka.
Artikel ini juga menghindari pandangan bahwa satu kebudayaan daerah dapat mewakili seluruh Indonesia. Jawa, Sunda, Bali, Batak, Minangkabau, Bugis, Dayak, Sasak, Aceh, Melayu, masyarakat Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, serta berbagai komunitas lainnya mempunyai sejarah dan pengalaman yang tidak dapat dilebur menjadi satu pola.
Bagi EMMANUS, kemampuan budaya Nusantara bertahan tidak diukur dari keberhasilan menutup diri terhadap dunia. Ukurannya berada pada keberlanjutan pengetahuan, keberadaan penerus, penghormatan terhadap masyarakat pemilik, kemampuan beradaptasi secara bertanggung jawab, penghidupan pelaku, kebebasan berkarya, serta kesempatan bagi setiap generasi untuk mengenali dan menentukan hubungan mereka dengan kebudayaan yang diwariskan.






