Dinamika

Mengapa Kita Masih Mencari Hari Baik?

Dari langit hingga keyakinan, masyarakat Nusantara telah lama memberi makna berbeda pada waktu.

Oleh Narendra

Mengapa Kita Masih Mencari Hari Baik?
Ilustrasi kalender tradisional dan penanda waktu sebagai gambaran cara masyarakat Nusantara memberi makna pada hari. Sistem yang berkembang di berbagai daerah memiliki perhitungan, fungsi, dan keyakinan yang tidak selalu sama.
Diterbitkan

Sebuah keluarga telah menemukan tanggal untuk menikahkan anaknya. Gedung tersedia, keluarga kedua mempelai sepakat, pekerjaan dapat ditinggalkan, dan hampir semua urusan terasa selesai.

Lalu seseorang yang lebih tua mengajukan satu pertanyaan pendek. “Sudah dihitung harinya?”

Percakapan yang tadinya membahas katering, undangan, dan biaya mendadak bergerak ke tempat lain. Kalender tidak lagi hanya menunjukkan tanggal, tetapi memasuki wilayah tradisi, keyakinan, harapan, dan kegelisahan manusia terhadap sesuatu yang belum terjadi.

Pertanyaan seperti itu tidak hanya hidup di Jawa. Dalam bentuk, istilah, perhitungan, dan filosofi yang berbeda, sejumlah masyarakat Nusantara sejak lama mempunyai cara sendiri untuk membaca waktu.

Waktu Tidak Selalu Hanya Angka

Bagi manusia modern, tanggal dapat terlihat seperti deretan angka yang terus berjalan. Senin berganti Selasa, Januari bergerak menuju Februari, kemudian satu tahun selesai dan kalender baru dipasang.

Masyarakat tradisional tidak selalu membaca waktu sesederhana itu. Waktu dapat berhubungan dengan posisi benda langit, musim, pertanian, perjalanan, upacara, perkawinan, kehidupan keluarga, hingga hubungan manusia dengan alam dan keyakinannya.

Dari sinilah kita perlu berhati-hati dengan istilah “hari baik”. Di balik dua kata tersebut dapat tersembunyi pengetahuan kalender, pengamatan alam, adat, pertimbangan sosial, kepercayaan spiritual, bahkan ramalan yang sebenarnya berada dalam wilayah berbeda.

Menyatukan semuanya sebagai takhayul akan menghilangkan banyak lapisan pengetahuan. Sebaliknya, menganggap semua perhitungan tradisional terbukti secara ilmiah juga sama kelirunya.

Jawa Mengenal Weton dan Pasaran

Dalam tradisi Jawa, weton lahir dari pertemuan siklus tujuh hari dengan lima pasaran: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kombinasi keduanya kemudian digunakan dalam berbagai bentuk petungan yang diwariskan di sejumlah masyarakat Jawa.

Dalam praktik tertentu, perhitungan itu digunakan untuk mempertimbangkan pernikahan, kecocokan pasangan, pembangunan rumah, perjalanan, atau penyelenggaraan hajat. Penggunaannya tidak seragam karena masyarakat Jawa sendiri terus berubah dan mempunyai tingkat kepercayaan yang berbeda-beda.

Bagi sebagian keluarga, petungan dapat mempunyai bobot keyakinan yang kuat. Bagi keluarga lainnya, ia diperlakukan sebagai adat, penghormatan kepada orang tua, atau salah satu pertimbangan sebelum menentukan waktu.

Karena itu tidak tepat mengatakan setiap orang Jawa mempercayai weton dengan cara yang sama. Sebuah tradisi dapat tetap digunakan ketika penafsiran terhadapnya sudah berubah.

Batak Mempunyai Parhalaan

Jauh dari Jawa, masyarakat Batak mengenal Parhalaan. Dokumentasi kebudayaan menunjukkan kalender tradisional ini pernah mempunyai hubungan dengan berbagai kegiatan masyarakat, termasuk upacara, perkawinan, pertanian, memasuki rumah, dan penentuan waktu yang dipandang baik atau buruk.

Parhalaan memperlihatkan bahwa gagasan memberi kualitas tertentu kepada waktu bukan monopoli satu kebudayaan. Namun struktur, sejarah, istilah, dan keyakinan di dalamnya tidak boleh begitu saja disamakan dengan weton Jawa.

Dalam dokumentasi lama, ahli yang memahami Parhalaan mempunyai kedudukan penting karena tidak semua orang menguasai pembacaannya. Pengetahuan tentang waktu dengan demikian juga berhubungan dengan orang-orang tertentu yang dipercaya memahami sistem tersebut.

Perubahan agama, pendidikan, teknologi, dan cara hidup kemudian ikut mengubah hubungan masyarakat dengan kalender tradisional. Sebuah sistem dapat bertahan sebagai pengetahuan budaya meskipun tidak lagi mempunyai otoritas sebesar pada masa sebelumnya.

Bugis Membaca Bulan dan Waktu

Penelitian ilmu falak terhadap sistem penanggalan Bugis di Pinrang mendokumentasikan penggunaan peredaran Bulan dan pengetahuan lokal untuk mempertimbangkan waktu pelaksanaan kegiatan. Menariknya, masyarakat yang diteliti tidak semata-mata menggambarkan dunia sebagai kumpulan hari baik dan hari buruk.

Dalam penelitian tersebut muncul pandangan bahwa semua hari pada dasarnya baik. Yang dicari adalah waktu yang dianggap lebih baik di antara hari-hari tersebut untuk menjalankan suatu kegiatan.

Pengetahuan Bugis juga mengenal struktur penanggalan yang jauh lebih kompleks daripada kalender tujuh hari yang kita gunakan sehari-hari. Penelitian lain di Pinrang mencatat keberadaan sistem dua puluh hari dalam satu siklus tradisional yang pernah digunakan untuk menentukan waktu kegiatan.

Kenyataan ini mengingatkan kita untuk tidak membaca kalender tradisional hanya dari istilah “ramalan”. Di dalamnya dapat tersimpan cara masyarakat menyusun, menghitung, mengingat, dan mengorganisasi waktu.

Bali Mempunyai Cara Membaca Waktunya Sendiri

Di Bali dikenal wariga dan padewasan, sebuah tradisi pengetahuan waktu yang mempunyai struktur perhitungan kompleks. Hari dan waktu dapat dipertimbangkan dalam hubungan dengan berbagai kegiatan keagamaan, sosial, pertanian, pembangunan, dan daur kehidupan.

Kerangka tersebut hidup di dalam kosmologi Hindu Bali dan tidak tepat diterjemahkan begitu saja menggunakan istilah weton. Kesamaan dalam mencari waktu yang sesuai tidak berarti sistem pengetahuan dan landasan kepercayaannya sama.

Bahkan penggunaan wariga dapat berbeda menurut kegiatan dan masyarakat yang menjalankannya. Karena itu kata “hari baik Nusantara” seharusnya tidak membuat kita membayangkan satu kitab perhitungan yang berlaku dari Sumatra hingga Papua.

Yang kita temukan justru keragaman. Manusia Nusantara membangun banyak cara untuk memberi struktur kepada waktu.

Sasak Menengadah ke Pleiades

Kalender Rowot masyarakat Sasak memberi kita pintu yang sangat menarik karena membawa pembicaraan langsung menuju langit. Salah satu acuan pentingnya adalah kemunculan gugus bintang Pleiades yang dalam tradisi Sasak dikenal sebagai Rowot.

Kemunculan Rowot digunakan sebagai penanda awal tahun dan berkaitan dengan pembacaan musim. Kalender tersebut juga menjadi acuan bagi kegiatan pertanian dan penyelenggaraan hajat masyarakat.

Di sini kita berhadapan dengan sesuatu yang dapat diamati secara fisik. Pleiades memang merupakan gugus bintang nyata di langit, dan kemunculan tampaknya dari Bumi dapat dihitung serta diuji menggunakan astronomi.

Penelitian astronomi terhadap Kalender Rowot bahkan menemukan perbedaan antara perhitungan tradisional tertentu mengenai waktu kemunculan Pleiades dan hasil kalkulasi menggunakan parameter astronomi modern. Temuan seperti ini penting karena memperlihatkan bahwa menghormati pengetahuan tradisional tidak berarti ilmu modern dilarang mengujinya.

Langit Memang Bisa Menjadi Kalender

Jauh sebelum kalender digital memberi tahu tanggal dalam sepersekian detik, langit merupakan salah satu penunjuk waktu paling besar yang dimiliki manusia. Pergantian siang dan malam, perubahan posisi tampak Matahari, fase Bulan, serta kemunculan bintang tertentu memberikan pola yang dapat diamati berulang kali.

Matahari mempunyai hubungan nyata dengan siklus harian dan tahunan yang dialami Bumi. Bulan mempunyai fase yang dapat diamati, sementara perubahan kenampakan langit sepanjang tahun dapat digunakan masyarakat untuk mengenali musim atau menyusun penanggalan.

Karena itu penggunaan benda langit sebagai penanda waktu bukan sesuatu yang aneh. Banyak peradaban membangun kalender melalui pengamatan terhadap keteraturan langit.

Tetapi di sinilah garis batas pertama harus dibuat. Astronomi dapat menghitung gerak benda langit dan fenomena yang dapat diamati, tetapi astronomi tidak menetapkan bahwa suatu posisi bintang menyebabkan sebuah pernikahan bahagia atau sebuah usaha mengalami kebangkrutan.

Membaca Langit Tidak Sama dengan Membaca Nasib

Sebuah bintang dapat terbit pada waktu tertentu. Bulan dapat memasuki fase tertentu, Matahari dapat berada pada posisi tertentu, dan semua fenomena tersebut dapat dipelajari melalui pengamatan serta perhitungan.

Namun dari fakta astronomis itu tidak otomatis lahir kesimpulan tentang jodoh, rezeki, kesialan, atau keberhasilan manusia. Untuk membuat klaim sebab-akibat semacam itu dibutuhkan bukti yang berbeda, dan astronomi modern tidak menyediakan dasar untuk menganggap benda langit menentukan nasib pribadi seseorang.

Perbedaan antara astronomi dan astrologi menjadi penting di sini. Astronomi mempelajari benda serta fenomena langit menggunakan metode ilmiah, sedangkan astrologi menghubungkan konfigurasi benda langit dengan sifat atau peristiwa kehidupan manusia melalui sistem interpretasi tertentu.

Maka sebuah kalender tradisional dapat mengandung observasi astronomis sekaligus interpretasi budaya di dalam sistem yang sama. Menemukan unsur astronomi pada suatu tradisi tidak otomatis membuktikan seluruh ramalan yang mungkin melekat kepadanya.

Pranata Mangsa Memperlihatkan Lapisan Lain

Pranata mangsa Jawa memberikan contoh bagaimana membaca waktu dapat mempunyai hubungan kuat dengan lingkungan. Sistem ini digunakan sebagai pedoman tradisional untuk bercocok tanam dan kegiatan lain dengan memperhatikan berbagai tanda alam.

Letak tampak Matahari, arah angin, cuaca, perilaku tumbuhan, dan perilaku hewan menjadi bagian dari pengetahuan yang dibangun melalui pengalaman panjang. BRIN bahkan menerbitkan kajian khusus yang menempatkan pranata mangsa dalam dialog dengan sains.

Ini berbeda dari mengatakan suatu hari membawa keberuntungan. Petani yang memperhatikan musim hujan sedang berusaha membaca kondisi alam yang mempunyai konsekuensi nyata terhadap pekerjaannya.

Batas tersebut kadang menjadi kabur ketika pengetahuan ekologis, kalender, ritual, dan keyakinan hidup bersama selama beberapa generasi. Tugas penelitian bukan memotongnya secara kasar, melainkan memisahkan lapisannya agar kita mengetahui apa yang sebenarnya sedang dibicarakan.

Pengetahuan Lama Tidak Harus Selalu Benar

Ada kecenderungan romantis mengatakan nenek moyang sudah mengetahui semua yang baru ditemukan sains. Kalimat semacam itu terdengar membanggakan, tetapi justru dapat mengurangi nilai sebenarnya dari pengetahuan tradisional.

Nenek moyang dapat melakukan pengamatan yang tajam sekaligus membuat interpretasi yang menurut pengetahuan hari ini perlu dikaji kembali. Ilmu pengetahuan modern pun berkembang karena teori dan perhitungan terus diuji, diperbaiki, bahkan ditinggalkan ketika bukti baru ditemukan.

Kasus Rowot memberikan contoh yang baik. Tradisi pengamatan Pleiades mempunyai nilai sejarah dan astronomi, tetapi penelitian modern tetap dapat menemukan bahwa perkiraan waktu kemunculannya perlu dikoreksi berdasarkan parameter astronomis.

Menghormati leluhur tidak membutuhkan keyakinan bahwa leluhur tidak pernah keliru. Justru dengan meneliti pengetahuan mereka secara serius, kita memperlakukannya sebagai pengetahuan yang layak dipahami, bukan sekadar cerita yang harus dibenarkan.

Mengapa Manusia Membutuhkan Hari Baik?

Ada alasan lain yang tidak berada di langit. Ia berada di dalam diri manusia.

Pernikahan, membuka usaha, membangun rumah, bepergian jauh, menanam, atau mengambil keputusan besar mempunyai satu kesamaan: hasil akhirnya tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali kita. Semakin penting sebuah peristiwa dan semakin besar ketidakpastiannya, semakin kuat pula keinginan manusia mencari kepastian.

Psikologi modern telah lama mempelajari hubungan antara takhayul, ritual, ketidakpastian, dan kebutuhan manusia terhadap rasa kendali. Kepercayaan tertentu dapat menjadi lebih menarik ketika seseorang menghadapi hasil penting yang tidak dapat dipastikan sebelumnya.

Hal itu tidak berarti setiap tradisi hari baik dapat direduksi menjadi kecemasan psikologis. Tradisi juga dapat berfungsi sebagai cara keluarga bermusyawarah, menghormati orang tua, mengatur jadwal, mempertahankan identitas, dan menghubungkan generasi.

Namun psikologi membantu menjelaskan sesuatu yang sangat manusiawi. Kita tidak nyaman berdiri terlalu lama di hadapan masa depan yang tidak dapat kita lihat.

Islam Juga Memberi Makna pada Waktu

Di titik ini kita harus sangat hati-hati. Mengatakan “dalam Islam semua waktu sama” tanpa penjelasan juga tidak tepat.

Islam mengenal waktu-waktu yang mempunyai keutamaan berdasarkan sumber ajarannya. Hari Jumat mempunyai kedudukan tertentu, Ramadan mempunyai keutamaan, Lailatul Qadar mempunyai tempat istimewa, sementara hari Arafah dan hari-hari Tasyrik berkaitan dengan ketentuan serta keutamaan tertentu dalam ibadah.

Karena itu persoalan Islam bukan sekadar boleh atau tidak boleh mengatakan suatu waktu istimewa. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah dari mana penetapan keistimewaan itu berasal dan apa yang diyakini manusia tentang kekuatan waktu tersebut.

Waktu yang mempunyai keutamaan berdasarkan ajaran agama berbeda dengan keyakinan bahwa suatu tanggal memiliki kekuatan mandiri untuk mendatangkan keberuntungan atau kesialan. Perbedaan ini menjadi penting ketika tradisi hari baik bertemu dengan akidah.

Batasnya Bernama Keyakinan

Dalam ajaran Islam dikenal larangan tathayyur atau thiyarah, yakni mengaitkan pertanda tertentu dengan kesialan sehingga memengaruhi tindakan seseorang. MUI, misalnya, mengingatkan bahwa keyakinan suatu hari atau bulan membawa kesialan dengan sendirinya tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan dalam ajaran Islam.

Contoh yang sering muncul adalah bulan Safar atau waktu tertentu yang dianggap membawa bala. Menghindari pernikahan, perjalanan, atau usaha karena meyakini waktu tersebut pada dirinya membawa kesialan ditempatkan dalam persoalan tathayyur.

Namun memilih waktu karena pertimbangan yang nyata merupakan persoalan berbeda. Menunda perjalanan karena cuaca buruk, memilih tanggal pernikahan ketika keluarga dapat hadir, atau menanam berdasarkan kondisi musim tidak berarti seseorang meyakini kalender mempunyai kekuatan gaib.

Perbedaan tersebut tampak sederhana tetapi sangat penting. Yang sedang diperiksa bukan hanya tanggal yang dipilih, melainkan alasan dan keyakinan di belakang pemilihannya.

Adat Tidak Otomatis Menjadi Akidah

Kajian hukum Islam terhadap weton memperlihatkan adanya usaha membedakan tradisi sebagai kebiasaan dengan keyakinan yang menentukan nasib. Dalam pembahasan fikih, konsep ‘urf memungkinkan adat dipertimbangkan selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.

Sejumlah penelitian hukum Islam kontemporer terhadap weton sampai pada batas yang serupa. Weton dapat ditempatkan sebagai pengetahuan atau kebiasaan budaya selama tidak diyakini mempunyai kekuasaan mutlak menentukan keberuntungan, nasib, atau sah-tidaknya suatu pernikahan.

Batas tersebut berubah ketika perhitungan diperlakukan sebagai kekuatan penentu. Apalagi apabila seseorang percaya suatu hitungan dengan sendirinya memastikan rumah tangga akan rusak, seseorang akan celaka, atau rezekinya tertutup.

Tetapi EMMANUS juga tidak berada pada posisi mengeluarkan putusan hukum agama terhadap praktik tertentu. Tradisi yang konkret perlu dilihat secara konkret karena nama yang sama dapat dijalankan dengan keyakinan berbeda oleh masyarakat yang berbeda.

Jangan Terburu-buru Menyebut Takhayul

Seseorang menemukan catatan kalender tua yang berisi fase Bulan, musim, arah angin, hari upacara, dan ramalan. Jika seluruh buku langsung dibuang sebagai takhayul, pengetahuan astronomi, sejarah, bahasa, matematika tradisional, dan ekologi yang tersimpan di dalamnya dapat ikut hilang.

Tugas dokumentasi kebudayaan justru memisahkan setiap lapisan tersebut. Mana yang merupakan hasil observasi, mana sistem kalender, mana adat, mana simbol, mana keyakinan, dan mana klaim yang dapat atau tidak dapat diuji.

Parhalaan tetap penting dipelajari meskipun seseorang tidak mempercayai ramalannya. Weton tetap merupakan bagian dari sejarah pengetahuan Jawa meskipun seseorang tidak menggunakannya untuk memilih pasangan.

Wariga, kalender Bugis, dan Rowot juga dapat dipelajari tanpa seseorang harus menganut seluruh kepercayaan yang pernah menyertainya. Mempelajari sebuah keyakinan tidak sama dengan meyakininya.

Jangan Pula Menjual Tradisi sebagai Sains

Kesalahan sebaliknya juga sering terjadi. Sebuah pengetahuan tradisional menemukan sedikit persinggungan dengan astronomi, lalu seluruh sistemnya disebut telah terbukti secara ilmiah.

Itu lompatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Fakta bahwa sebuah kalender mengamati Bulan tidak membuktikan ramalan yang mungkin berada di dalam kalender tersebut.

Kita dapat mengatakan masyarakat Sasak telah lama mengamati Pleiades. Kita dapat meneliti hubungan pranata mangsa dengan fenomena musim, atau mengkaji struktur matematis sebuah kalender tradisional.

Tetapi kita tidak boleh melanjutkan kalimat itu menjadi klaim bahwa ilmu astronomi membuktikan tanggal tertentu membawa rezeki atau kesialan. Di situlah penghormatan terhadap budaya harus berjalan bersama kejujuran ilmiah.

Agama dan Sains Bertemu pada Batas yang Berbeda

Astronomi tidak menentukan apakah sebuah keyakinan sesuai dengan akidah Islam. Itu wilayah kajian agama.

Sebaliknya, dalil agama tidak digunakan untuk menghitung posisi Pleiades, fase Bulan, atau gerak semu tahunan Matahari. Untuk persoalan tersebut manusia menggunakan observasi, matematika, dan ilmu astronomi.

Keduanya dapat hadir dalam kehidupan seorang Muslim tanpa harus dicampuradukkan. Ilmu falak sendiri memperlihatkan bagaimana pengetahuan astronomi digunakan untuk kebutuhan agama seperti arah kiblat dan penentuan waktu, dengan metodologi yang dapat dihitung dan diperiksa.

Kalender Rowot memberikan contoh menarik tentang pertemuan tersebut. Penelitian terhadapnya bahkan membedakan fungsi kalender tradisional dengan ketentuan kalender Hijriah untuk kebutuhan ibadah Islam.

Mencari Waktu Terbaik Tidak Pernah Hilang

Manusia modern mungkin tersenyum ketika mendengar seseorang membuka kitab lama sebelum menentukan tanggal. Namun tanpa disadari, kita sendiri terus mencari waktu terbaik.

Sebelum mengadakan pesta di ruang terbuka, kita melihat prakiraan cuaca. Sebelum membuka usaha, kita mempelajari kondisi pasar, sedangkan sebelum bepergian kita melihat kemacetan, musim, harga tiket, dan jadwal orang yang akan ditemui.

Seorang petani memperhitungkan hujan, seorang nelayan memperhatikan cuaca dan keadaan laut, sementara seorang astronom dapat menghitung kapan sebuah objek langit terlihat. Semua itu merupakan upaya memilih waktu berdasarkan informasi yang dianggap relevan.

Perbedaannya terletak pada dasar yang digunakan. Ada pertimbangan yang dapat diuji secara empiris, ada kesepakatan sosial, ada ketentuan agama, ada tradisi, dan ada pula keyakinan metafisik.

Memahami perbedaan tersebut membuat kita tidak perlu mengejek masa lalu. Pada saat yang sama, kita juga tidak harus menyerahkan masa depan kepada sebuah hitungan hanya karena hitungan itu diwariskan.

Tradisi Bisa Tetap Hidup Tanpa Menjadi Penentu Nasib

Bayangkan seorang keluarga Jawa tetap mencari weton anaknya karena ingin mengetahui bagian dari tradisi keluarganya. Mereka dapat mempelajari cara menghitungnya, memahami sejarahnya, mencatat istilahnya, dan menceritakannya kepada generasi berikutnya.

Hal itu berbeda dengan membatalkan sebuah pernikahan yang telah dipertimbangkan secara matang hanya karena meyakini angka tertentu pasti membawa kehancuran. Objek budayanya mungkin sama, tetapi posisi keyakinannya tidak sama.

Demikian pula kalender tradisional Nusantara dapat terus diteliti oleh astronom, antropolog, sejarawan, filolog, ahli agama, dan masyarakat pemiliknya. Pengetahuan tersebut tidak harus dibuang hanya karena sebagian unsur di dalamnya tidak dapat dibuktikan oleh sains.

Justru penelitian lintas disiplin memungkinkan kita menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga. Kita dapat mengetahui bagaimana leluhur mengamati langit, membaca alam, menyusun waktu, membangun simbol, menghadapi ketidakpastian, dan memahami hubungan manusia dengan sesuatu yang mereka yakini.

Hari Baik Mungkin Berubah Makna

Kembali kepada keluarga yang sedang mencari tanggal pernikahan tadi. Mungkin orang tua masih membawa hitungan yang diwariskan keluarganya, sementara anak melihat jadwal kerja, musim hujan, ketersediaan tempat, dan kemampuan ekonomi.

Mereka tidak selalu harus berdiri sebagai dua kubu yang saling menertawakan. Percakapan dapat dimulai dengan menanyakan apa yang sebenarnya dipercaya dan apa yang sekadar dijaga sebagai penghormatan terhadap tradisi.

Bagi seorang Muslim, batas keyakinan tetap penting karena nasib dan ketentuan hidup tidak diserahkan kepada kekuatan sebuah tanggal. Bagi ilmu pengetahuan, klaim sebab-akibat harus mempunyai bukti sebelum dapat disebut fakta.

Sementara bagi kebudayaan, catatan tentang cara leluhur membaca waktu tetap berharga untuk didokumentasikan. Kita dapat mewarisi pengetahuan tanpa harus mewarisi setiap kesimpulan yang pernah dibuat darinya.

Mungkin itulah cara paling dewasa untuk memandang hari baik. Tidak dengan menertawakan orang yang masih menghitungnya, dan tidak pula dengan memberikan kepada kalender kekuasaan atas hidup yang tidak pernah dapat dibuktikannya.

Sebab sejak dahulu manusia memang selalu mencari waktu terbaik untuk memulai sesuatu. Yang terus berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya adalah alasan mengapa sebuah hari akhirnya kita sebut baik.

CATATAN REDAKSI

Artikel ini membahas konsep “hari baik” sebagai fenomena kebudayaan, sistem penanggalan, pengetahuan astronomis, pengalaman ekologis, psikologi manusia, serta persoalan keyakinan dan agama. EMMANUS tidak menyamakan seluruh sistem penanggalan tradisional Nusantara karena weton Jawa, Parhalaan Batak, wariga Bali, penanggalan Bugis, Kalender Rowot Sasak, serta sistem lokal lainnya mempunyai sejarah, struktur, fungsi, masyarakat pemilik, dan landasan kepercayaan yang berbeda.

Penyebutan astronomi dalam artikel ini tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa seluruh sistem hari baik mempunyai dasar ilmiah. Pengamatan terhadap Matahari, Bulan, bintang, musim, cuaca, dan fenomena alam dapat mengandung pengetahuan empiris yang dapat diuji, sedangkan klaim bahwa tanggal, angka, atau konfigurasi benda langit menentukan jodoh, rezeki, keberhasilan, kesialan, atau nasib seseorang merupakan klaim berbeda dan tidak otomatis memperoleh pembenaran dari astronomi.

EMMANUS juga tidak menggunakan istilah “takhayul” secara menyeluruh terhadap kalender tradisional. Sebuah sistem dapat sekaligus memuat observasi alam, pengetahuan kalender, aturan sosial, simbol, ritual, dan kepercayaan. Setiap unsur perlu dibaca sesuai konteksnya agar kritik terhadap suatu klaim tidak sekaligus menghapus pengetahuan sejarah, astronomi tradisional, ekologi, bahasa, matematika, atau ingatan budaya yang mungkin tersimpan di dalamnya.

Dalam perspektif Islam, artikel ini membedakan antara waktu yang mempunyai keutamaan berdasarkan dalil agama dengan keyakinan bahwa suatu hari atau bulan mempunyai kekuatan mandiri membawa keberuntungan atau kesialan. Pembahasan mengenai tathayyur merujuk pada larangan mengaitkan pertanda, waktu, atau hal tertentu dengan kesialan dalam cara yang bertentangan dengan prinsip tauhid dan ketentuan Allah.

Pembahasan mengenai weton dan konsep ‘urf tidak dimaksudkan sebagai fatwa EMMANUS. Kajian akademik hukum Islam menunjukkan adanya pembedaan antara adat yang dipertahankan sebagai kebiasaan atau pengetahuan budaya dengan keyakinan yang menjadikan hitungan sebagai penentu mutlak nasib. Penilaian terhadap praktik keagamaan tertentu tetap harus memperhatikan bentuk praktik, niat, keyakinan, konteks masyarakat, dalil, dan otoritas keagamaan yang kompeten.

Artikel ini juga tidak menyimpulkan bahwa setiap orang Jawa, Batak, Bali, Bugis, Sasak, atau masyarakat Nusantara lainnya masih mempercayai atau menjalankan sistem tradisional tersebut dengan cara yang sama. Tradisi berubah, tingkat kepercayaan berbeda antarkeluarga dan antargenerasi, sedangkan sebagian sistem kini dapat dipelajari sebagai warisan pengetahuan tanpa digunakan sebagai pedoman menentukan nasib.

EMMANUS menempatkan tema ini sebagai upaya memahami bagaimana masyarakat Nusantara membaca waktu dan menghadapi ketidakpastian sepanjang sejarah. Dokumentasi kebudayaan tidak harus berubah menjadi pembenaran terhadap seluruh kepercayaan yang didokumentasikan, sebagaimana kritik ilmiah atau keagamaan terhadap suatu keyakinan tidak harus berakhir dengan penghapusan pengetahuan budaya yang melatarbelakanginya.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait