Desa Kalimendong, yang terletak di Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, dikenal sebagai salah satu daerah penghasil salak berkualitas.
Selain sektor pertaniannya yang berkembang pesat, desa ini juga kaya akan tradisi dan budaya yang terus dijaga, termasuk berbagai ritual adat serta kegiatan pelestarian lingkungan
Desa Kalimendong memiliki alam yang asri, produktivitas pertanian yang tinggi, serta inovasi dalam pengelolaan lingkungan.
Kombinasi ketiganya menjadikan desa ini sebagai contoh kemajuan yang tetap mempertahankan kearifan lokal.
Sejarah Nama Kalimendong
Desa Kalimendong memiliki sejarah yang unik terkait asal-usul namanya.
Sesepuh desa, Parkam, mengungkapkan bahwa nama asli desa ini dulunya adalah “Kalimendol”.
Nama ini berasal dari kisah turun-temurun yang menyebutkan bahwa setiap kepala desa yang menjabat selalu mengalami gondok di leher.
“Setiap yang menjabat kepala desa pasti gondoken,” ujar Parkam.
Baca Juga: Suka Duka Pedagang di Pujasera Ramadhan Tamzis Wonosobo
Dalam cerita yang diwariskan secara lisan, diceritakan bahwa seorang putri dari Keraton Yogyakarta pernah dibawa ke desa ini untuk meminum air dari sumber mata air bernama “Tuk Gondok”.
Namun, alih-alih mengalami gondok, sang putri justru menjadi semakin cantik.
Peristiwa ini menjadi bagian dari sejarah desa yang terus diceritakan hingga kini.
Tradisi yang Tetap Lestari
Meskipun mengalami perkembangan, Desa Kalimendong tetap mempertahankan berbagai tradisi yang telah berlangsung sejak lama.
Kepala Desa Kalimendong, Sugito, menjelaskan bahwa beberapa tradisi yang terus dijalankan meliputi peringatan Maulid Nabi, Rojaban, Ruahan, serta Ziarah Kubur atau Pupul.
Selain itu, ada pula tradisi Merdi Dusun, yang merupakan kegiatan tahunan untuk menjaga kebersihan desa dengan diiringi gelar budaya serta aksi bersih-bersih massal setiap Ahad Pahing.
“Tradisi yang baik tetap kita jalankan, sedangkan yang sudah tidak relevan kita tinggalkan,” ujar Sugito.
Salah satu tradisi yang tidak lagi dilakukan adalah Jowongan, yaitu ritual pemanggilan hujan dengan menggunakan boneka dari kayu dan jerami.
Saat ini, masyarakat lebih memilih cara lain yang dianggap lebih logis dan selaras dengan nilai-nilai agama.
Keunggulan Desa dalam Pengelolaan Lingkungan
Desa Kalimendong juga dikenal sebagai desa yang memiliki sistem pengelolaan lingkungan yang baik.
Pada tahun 2019, desa ini meraih juara nasional dalam program Lingkungan Bersih dan Sehat (LBS).
Selain itu, pada 2023, desa ini mendapatkan penghargaan sebagai ProKlim Lestari, yaitu program perlindungan iklim yang menitikberatkan pada pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Menurut Sugito, pencapaian itu bukan semata-mata untuk meraih penghargaan, tetapi bertujuan untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang kebersihan dan pengelolaan sampah.
“Orang yang dulunya membuang sampah sembarangan, kini sudah mulai memilah dan mengolah sampah,” ujarnya.
Baca Juga: Sejarah Ramadhan on the Street 2025 di Kauman Wonosobo
Sampah yang bernilai ekonomis dijual ke bank sampah, sedangkan sampah organik diolah menjadi pupuk.
Sementara itu, limbah berbahaya seperti baterai dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) khusus di Wonorejo, Wonosobo.
Selain itu, Desa Kalimendong juga dikenal sebagai Kampung Berkualitas (KB).
Sistem pencatatan data warganya sangat lengkap, mencakup calon pengantin, ibu hamil, balita, hingga data stunting, warga miskin dan lainnya.
Pada 2024, desa ini berhasil meraih juara nasional kedua dalam kategori Kampung Berkualitas, hanya kalah tipis dari Kabupaten Malang.
Potensi Pertanian dan Perkebunan
Di sektor pertanian, Desa Kalimendong memiliki produk unggulan berupa gula merah serta perkebunan salak yang luas.
Menurut Sugito, desa ini memiliki sekitar 400 hektare lahan perkebunan salak dengan jumlah tanaman mencapai 400.000 batang pohon salak.
Produksi salak berlangsung sepanjang tahun, tetapi tetap mengalami masa panen raya yang dapat menyebabkan harga jual menurun.
“Saat panen raya, harga bisa turun karena produksi melimpah dan permintaan tidak sebanding,” jelas Sugito.
Saat ini, harga salak bervariasi, berkisar antara Rp2.500 per kilogram, tergantung pada ukuran dan kualitas buahnya.

Harapan untuk Masa Depan
Sugito berharap Desa Kalimendong dapat terus berkembang dengan mengikuti berbagai program pemerintah, khususnya di bidang ketahanan pangan dan koperasi.
“Kami tidak akan menolak program pemerintah yang bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga: Tari Lengger Kinayakan dan Refleksi Sedulur Papat Kalimo Pancer
Desa Kalimendong telah mencapai keberhasilan dalam pengelolaan lingkungan, pertanian, serta administrasi desa yang tertata rapi.
Dengan pencapaiannya, desa ini terus berupaya mempertahankan prestasinya dan meningkatkan kesejahteraan warganya.