Pariwisata

Hutan Kera Nepa, Saksi Sejarah Perjuangan Raden Segoro

Hutan Kera Nepa, terletak di Desa Batioh, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, Madura. Keunikan tempat wisata ini terletak dari keberadaan ratusan kera jinak. Tak hanya itu, tempat ini juga terdapat peninggalan sejarah adanya pemukiman kerajaan. Dibalik keunikan Hutan Kera Nepa terdapat juga legenda yang telah diwariskan secara turun temurun. Hutan ini menjadi saksi bisu perjuangan Raden […]

Oleh Anisa Kurniawati

Hutan Kera Nepa, Saksi Sejarah Perjuangan Raden Segoro
Sejumlah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berada di Hutan Kera Nepa, Sampang, Madura, Jawa Timur, Wikimedia Commons/Patrik Cahyo
Diterbitkan

Hutan Kera Nepa, terletak di Desa Batioh, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, Madura. Keunikan tempat wisata ini terletak dari keberadaan ratusan kera jinak.

Tak hanya itu, tempat ini juga terdapat peninggalan sejarah adanya pemukiman kerajaan.

Dibalik keunikan Hutan Kera Nepa terdapat juga legenda yang telah diwariskan secara turun temurun. Hutan ini menjadi saksi bisu perjuangan Raden Segoro dan ibunya, Dewi Ratna Rorogung. 

Legenda Raden Segoro dan Asal-Usul Hutan Kera

Dikisahkan di suatu kerajaan, ada Patih Pranggulang, yang ditugaskan menghabisi nyawa Dewi Ratna dan bayi Raden Segoro. Karena tidak tega, ia akhirnya memilih melindungi keduanya dan membawanya mengembara ke dalam hutan yang kini dikenal sebagai Hutan Kera Nepa. 

Di sana, mereka membangun pemukiman di tengah hutan bakau. Seiring waktu, Raden Segoro tumbuh dewasa dan berhasil berdamai dengan kakeknya, Prabu Sangyangtunggal.

Namun, tak lama setelah pertemuan itu, sang raja harus kembali ke kerajaan karena ancaman musuh.

Pemukiman yang ditinggalkan Raden Segoro kemudian berkembang menjadi tempat berkumpulnya kera-kera yang hidup berdampingan dengan manusia.

Hingga kini, Hutan Kera Nepa menjadi destinasi wisata yang unik, tempat manusia dan kera berinteraksi secara harmonis.

Baca juga: Kisah Raden Segoro dan Awal Mula Pulau Madura

Destinasi Wisata Bernilai Sejarah

Selain keberadaan ratusan kera jinak, tempat ini tetapi juga pada peninggalan sejarah. Dikutip dari madurapost.net, menurut tokoh masyarakat setempat, H. Ali, mengungkapkan bahwa terdapat fondasi bangunan yang terkubur.

Bukti itu menandakan kawasan ini dulunya merupakan pemukiman kerajaan. Penelitian lebih lanjut pun membuktikan adanya petilasan yang menguatkan sejarah tempat ini. Sayangnya, optimalisasi wisata masih minim. 

Pintu gerbang kawasan hutan Kera Nepa, Sampang, Madura. Foto: radarmadura.jawapos.com

Hutan Kera Nepa sendiri memiliki luas sekitar empat hektar dan dihuni sekira 600 ekor kera berekor panjang (Macaca fascicularis). Para pengunjung bisa langsung memberi makan kera-kera ini, sebuah pengalaman menarik yang menjadi daya tarik utama wisata tersebut.

Dikutip dari yakusa.id, Busiri, seorang juru kunci setempat, memiliki cara khas dalam memanggil kawanan kera dengan suara unik: “Lololololololololo.” Begitu dipanggil, ratusan kera akan segera berkumpul dan berebut makanan yang dilemparkan Busiri. 

Kondisi Wisata yang Terabaikan

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Hutan Kera ini menurun drastis. Busiri mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kelangsungan hidup para kera. Terutama karena bantuan makanan dari pemerintah telah dihentikan.

Akibatnya, kawanan kera kerap masuk ke pemukiman warga untuk mencari makanan. Sebelumnya, wisata ke hutan ini sempat dikelola pemerintah daerah. Berbagai fasilitas seperti musala dan tempat istirahat sempat dibangun.

Namun, sejak pengelolaannya diserahkan ke pemerintah desa, kondisi wisata ini mulai terbengkalai. Banyak fasilitas mulai rusak, membuat tempat ini terkesan semakin terabaikan.

Padahal dengan perhatian yang lebih baik, Hutan Kera Nepa dapat menjadi destinasi wisata unggulan. Objek wisata ini tidak hanya menyajikan keindahan alam, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang berharga.

TopikPariwisata
Pariwisata06 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati