Profil

Jejak Kreativitas Augustin Sibarani di Dunia Karikatur Indonesia

Augustin Sibarani bisa melukis siapa saja, dengan pendekatan realis maupun karikatural. Namanya dikenal melalui lukisan Si Singamangaraja XII yang menjadi dasar ilustrasi pada uang kertas Rp 1.000. Lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara pada 20 Agustus 1925, Augustin Sibarani sudah memperlihatkan bakat seninya sejak kecil. Pada usia 10 tahun ia sudah pandai menggambar. Sayangnya, sang ibu […]

Oleh Anisa Kurniawati

Jejak Kreativitas Augustin Sibarani di Dunia Karikatur Indonesia
Kartunis legendari Agustin Sibarani dan sala satu karyanya (Kanan). Foto: Tangkapan Layar Youtube/ Perpusnas RI
Diterbitkan

Augustin Sibarani bisa melukis siapa saja, dengan pendekatan realis maupun karikatural. Namanya dikenal melalui lukisan Si Singamangaraja XII yang menjadi dasar ilustrasi pada uang kertas Rp 1.000. 

Lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara pada 20 Agustus 1925, Augustin Sibarani sudah memperlihatkan bakat seninya sejak kecil. Pada usia 10 tahun ia sudah pandai menggambar. Sayangnya, sang ibu tidak mengharapkan Augustin Sibarani memiliki pendidikan seni lukis. 

Namun, hal itu tidak menyurutkan tekadnya menjadi seniman. Berkat kepiawaian melukis ,ia menerima penghargaan Bintang Emas dari Asisten Residen Tichelman atas lukisannya yang menggambarkan Pangeran Willem Van Oranje.

Pemerintah Hindia Belanda bahkan menawarkan beasiswa untuk belajar di Akademi Seni Rupa di Belanda, namun kesempatan ini terhalang pecahnya Perang Dunia II.

Karikatur Lepas

Sibarani lalu bersekolah di Middelbare Landbouw School (Sekolah Menengah Pertanian) di Bogor pada April 1945. Hal ini dikarenakan sang ibu berharap anaknya dapat menjadi Ajunct Landbouw (Petugas Penyuluh Pertanian)

Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia bekerja di perkebunan Merbuh, sebelah Selatan kota Semarang. Tak lama kemudian, bakat seni Sibarani membawanya pindah pekerjaan menjadi karyawan di United States Information Service (USIS) Jakarta sebagai ilustrator. 

Karier awal sebagai kartunis diketahui saat Sibarani berumur 25 tahun. Saat itu dia diajak temannya menghadiri sidang Parlemen Indonesia. Karena bosan,  Sibarani membuat coretan sketsa diatas kertas. Coretan itu tanpa sengaja tertangkap mata seorang wartawan dari koran Merdeka. 

Akhirnya, wartawan itu menantang Sibarani untuk membuat karikatur Mr. Mohammad Yamin dan beberapa politisi. Gaya karikatur Sibarani yang lucu dan menggambarkan situasi politik saat itu akhirnya dimuat di halaman surat kabar Merdeka.

Sejak itulah Sibarani mendalami dunia karikatur. Dia lalu memutuskan menjadi karikaturis lepas di banyak surat kabar. Diantaranya seperti Kader, Gelanggang Masyarakat, dan Pewarta Djakarta. 

Potret Sisingamangaraja XII dari bagian depan uang kertas 1.000 rupiah (seri 1987) yang dilukis Augustin Sibarani. Foto: Wikimedia Commons

Karya Augustin Sibarani

Pada awal tahun 1953 ia menerbitkan tiga buku kartun untuk anak-anak, yaitu Si Kasmin Pergi ke Kota, Musik Si Beber, dan Rumah Si Bolang. Tak lama setelah itu, ia berkenalan dengan seorang Belanda, pemilik toko buku dan sekaligus penerbit.

Tuan Gotfried, begitu panggilannya, menawari Sibarani menerbitkan buku. Buku kumpulan gambar lelucon berikutnya, yang ia kumpulkan dari majalah Aneka, terbit berjudul Senyum, Kasih, Senyum. 

Pada tahun 1959, ia mendapat kesempatan menggelar pameran di Jerman Barat, Moskow (Uni Sovyet), dan Wina, Austria. Karya-karya karikaturnya pada era 50-an hingga awal 70-an tersebar di sejumlah penerbitan dan menjadi perbincangan.

Agustin Sibarani juga dikenal sebagai pelukis wajah raja Sisingamangaraja XII pada tahun 1961. Lukisan itu diselesaikannya 1962 setelah melalui riset yang panjang. Karyanya itu menjadi dasar ilustrasi pada uang kertas Rp1.000.

Pada 1998 sejumlah media Prancis menerbitkan karikatur-karikaturnya, seperti Le Monde Diplomatique, Humanite, dan La Lettrede. Karikaturnya itu berkeliaran di internet, terbang ke Amerika Serikat, dan dimuat di jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell.

Augustin Sibarani meninggal pada 19 Desember 2014, meninggalkan warisan seni yang signifikan bagi Indonesia. (Dari berbagai sumber)

TopikProfil
Profil28 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati