Budaya

Jejak Sejarah Laksamana Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong, atau yang sudah sejak lama dikenal juga sebagai Klenteng Gedung Batu, merupakan klenteng tertua di Semarang, Jawa Tengah. Didirikan laksamana Cheng Ho, klenteng ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai situs penghormatan terhadap jasa Cheng Ho. Bangunan ini mencerminkan perpaduan arsitektur Cina dan Jawa dari abad ke-14. Dengan […]

Oleh Anisa Kurniawati

Jejak Sejarah Laksamana Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong
Klenteng Sam Poo Kong menjadi salah satu destinasi wisata religi dan budaya yang penting di Semarang. Foto. djkn.kemenkeu.go.id
Diterbitkan

Klenteng Sam Poo Kong, atau yang sudah sejak lama dikenal juga sebagai Klenteng Gedung Batu, merupakan klenteng tertua di Semarang, Jawa Tengah.

Didirikan laksamana Cheng Ho, klenteng ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai situs penghormatan terhadap jasa Cheng Ho.

Bangunan ini mencerminkan perpaduan arsitektur Cina dan Jawa dari abad ke-14. Dengan dominasi warna merah serta atap pagoda berlapis tiga, klenteng ini menjadi simbol khas budaya Asia Timur.

Sejarah Berdirinya Klenteng

Pendiri pertama klenteng ini adalah Laksamana Cheng Ho. Dia adalah penjelajah Muslim dari Cina pada era Dinasti Ming. Saat singgah di Jawa, banyak anak buahnya yang memilih menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat. 

Akibatnya, wilayah Simongan menjadi pemukiman keturunan Tionghoa. Tahun 1704, gua dan kuil asli runtuh akibat tanah longsor. Dua dekade kemudian, masyarakat membangun kembali klenteng ini di lokasi lebih aman dan dekat pusat kota. 

Laksamana Cheng Ho, atau Zheng He, merupakan seorang pelaut ternama pada masa pemerintahan Kaisar Yung Lo. Ia dikenal sebagai Muslim yang membawa misi diplomatik dan perdagangan. 

Terdapat perbedaan pendapat mengenai identitas Sam Po Kong dan Cheng Ho.

Beberapa sumber menyebutkan mereka sebagai individu berbeda. Namun, catatan sejarah yang lebih kuat mengindikasikan bahwa Zheng He dan Sam Po Kong adalah orang yang sama.

Zheng He memperoleh gelar “Sam Po” dari Kaisar Yung Lo atas jasa-jasanya.

Pada awal abad ke-15, garis pantai Semarang masih berada di kaki perbukitan Simongan. Pelabuhan Semarang menjadi tempat persinggahan kapal dagang dari berbagai bangsa.

Seiring waktu, wilayah Simongan berkembang menjadi pemukiman Tionghoa pertama di Semarang.

Pada tahun 1742, terjadi pemberontakan. Hal ini menyebabkan sebagian besar komunitas Tionghoa di kawasan Gedung Batu dipindahkan ke Pecinan. Tempat ini kemudian dikenal sebagai Gang Baru. 

Struktur dan Fungsi Bangunan Klenteng Sam Poo Kong

Bangunan utama klenteng berupa gua batu. Tempat ini diyakini sebagai tempat persinggahan Zheng He. Di dalamnya terdapat patung yang dipercaya sebagai representasi dari Sam Po Tay Djien.

Untuk menghormati Zheng He, masyarakat mendirikan altar dan patung tambahan. Selain sebagai tempat ibadah, klenteng ini juga menjadi lokasi pemujaan dan ziarah bagi para peziarah.

Beberapa tempat pemujaan yang terdapat di dalam kompleks ini. Diantaranya, Klenteng Thao Tee Kong, yang merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Bumi.

Tempat pemujaan lainnya yaitu Kyai Juru Mudi, merupakan makam dari juru mudi kapal yang mengantar Laksamana Zheng He. Tempat Pemujaan Sam Po Kong, Kyai Jangkar, Nabi Khong Tju,  Kyai Cundrik Bumi, dan banyak lainnya. 

Dari perjalanan yang penuh keberanian dan nilai sejarah yang kaya, KlentengSam Poo Kong ini menjadi salah satu destinasi wisata religi dan budaya yang penting di Semarang. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya23 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati