Budaya

Kesenian Ebeg Banyumas, Antara Peperangan Dan Kesurupan

Ebeg, kesenian kuda lumping atau jaran kepang yang berasal dari Banyumas. Kesenian tradisional ini menggunakan boneka kuda terbuat dari anyaman bambu dan kepalanya diberi ijuk sebagai rambut. Tarian Ebeg sendiri menggambarkan kegagahan dan keberanian prajurit perang yang sedang menunggang kuda diiringi musik gamelan dan lagu-lagu Banyumas. Kata Ebeg sudah biasa dikenal di wilayah Banyumas. Di […]

Oleh Anisa Kurniawati

Kesenian Ebeg Banyumas, Antara Peperangan Dan Kesurupan
Para penari Ebeg, kesenian kuda lumping dari Banyumas. Wikimedia Commons/ Gunawan Kartapranata
Diterbitkan

Ebeg, kesenian kuda lumping atau jaran kepang yang berasal dari Banyumas. Kesenian tradisional ini menggunakan boneka kuda terbuat dari anyaman bambu dan kepalanya diberi ijuk sebagai rambut. Tarian Ebeg sendiri menggambarkan kegagahan dan keberanian prajurit perang yang sedang menunggang kuda diiringi musik gamelan dan lagu-lagu Banyumas. 

Kata Ebeg sudah biasa dikenal di wilayah Banyumas. Di daerah lain, ebeg mirip dengan kesenian kuda lumping, jathilan, jaran dhor, atau barongan. Dikutip dari epsos.id, Kesenian ini telah berkembang sejak meletusnya Perang Diponegoro (1925-1930). 

Pemain ebeg biasanya terdiri dari 5-8 personel. Properti yang digunakan berupa jaranan atau kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu. Terkadang juga dihidangkan sesaji berupa bunga-bungaan, pisang, kelapa muda (degan), jajanan pasar, dan lainnya. 

Tarian Perang

Tarian ini melambangkan dukungan rakyat terhadap Pangeran Diponegoro dalam melawan imperialisme kolonial Belanda. Dilansir dari laman klampok.id, kesenian tari Ebeg sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu. Kesenian ini lahir pada masa kekuasaan Raja Sri Aji Wurawari, Penguasa Lwaram, kerajaan kecil di bawahan kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. 

Tarian Ebeg muncul sebagai bentuk perayaan kemenangan kerajaan Lwaram yang bersekutu dengan Kerajaan Sriwijaya terhadap Mataram Kuno pada Tahun 991-992 M. Pada saat itu kerajaan sekutu dipimpin oleh Raja Dharmawangsa.

Beberapa tahun kemudian, Airlangga, menantu Raja Dharmawangsa balas dendam dan menewaskan penguasa Lwaram. Setelah meninggalnya Raja Wurawari, Ebeg masih dipentaskan.

Kemudian, tarian mulai melibatkan makhluk dari dimensi lain yang disebut indang (pamong atau pengasuh). Salah satu kebiasaan wajib dalam pementasan kesenian Ebeg yakni sesaji atau menyan.

Sesaji menjadi sebuah persembahan kepada para arwah dan penguasa makhluk halus agar mau mendukung pementasan. Sehingga penari Ebeg menari dalam kondisi kesurupan yang dalam bahasa Banyumas disebut wuru atau mendem.

Konon, pada sesi kesurupan bermakna memanggil roh Raja Wurawari dan para prajurit yang gugur dalam peperangan. Selain itu, bertujuan untuk mengenang kejayaan dan kemenangan Raja Wurawari ketika mengalahkan Raja Dharmawangsa. 

Baca juga: Festival Khentongan, Atraksi Wisata Dan Budaya Khas Banyumas

Pertunjukan Ebeg

Koreo atau rancangan tari di pentas Ebeg tidak rumit. Namun, para penari dituntut bergerak selaras dan kompak sesuai ritme alunan musik gamelan. Pementasannya terdiri dari empat babak yaitu buto lawas yang dilakukan dua kali, babak senterewe dan babak begon putri. Tiap babak pentas ebeg dimulai dengan tari-tarian, janturan dan gapetan dipimpin seorang penimbul/dalang.

Iringan musiknya menggunakan gamelan seperti kendang, saron, kenong, gong, dan terompet. Lagu yang dimainkan berupa lagu Banyumasan, seperti Ricik-Ricik, Tole-Tole, Waru Doyong, Sekar Gadung Gudril, Blendrong, Lung Gadung, Cebonan, dan sebagainya.

Masyarakat banyak yang mengaitkan kesenian ini dengan hal-hal yang bersifat magis. Hal ini dikarenakan pada saat babak janturan biasanya para pemain kesurupan roh dan kehilangan akal.

Ketika para penari mulai kesurupan, tanpa sadar mereka memakan pecahan kaca, bara api atau benda lainnya yang berada di dekatnya. Bukan hanya pemain, namun penonton juga ada yang kerasukan. Atraksi seni nilah yang menjadikan Ebeg tetap populer dan ditonton masyarakat. 

Hingga saat ini Ebeg masih eksis dan menjadi hiburan dalam berbagai acara syukuran, hajatan, acara kebudayaan di daerah Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Kebumen, dan Banjarnegara.

TopikBudaya
Budaya16 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati