Cerita Rakyat

Legenda Putri Mambang Linau, Cerita Rakyat Bengkalis, Riau

Di sebuah daerah di tanah Bengkalis, Provinsi Riau, hiduplah seorang pemuda bernama Bujang Enok. Pemuda ini dikenal hidup miskin, tanpa orang tua, dan tanpa sanak saudara. Meski begitu, ia memiliki hati yang mulia dan suka menolong. Sehari-hari, ia mencari kayu bakar di hutan untuk dijual di pasar atau ditukar dengan kebutuhan pokok. Pertemuan dengan Ular […]

Oleh Achmad Aristyan

Legenda Putri Mambang Linau, Cerita Rakyat Bengkalis, Riau
Ilustrasi Putri Mambang Linau yang terbang ke kahyangan saat menari di depan Bujang Enok. Gambar: dpk.kepriprov.go.id/Cerita Rakyat Melayu Muatan Lokal/Wahyuningrum
Diterbitkan

Di sebuah daerah di tanah Bengkalis, Provinsi Riau, hiduplah seorang pemuda bernama Bujang Enok. Pemuda ini dikenal hidup miskin, tanpa orang tua, dan tanpa sanak saudara.

Meski begitu, ia memiliki hati yang mulia dan suka menolong. Sehari-hari, ia mencari kayu bakar di hutan untuk dijual di pasar atau ditukar dengan kebutuhan pokok.  

Pertemuan dengan Ular Berbisa  

Melansir dari wikibooks.org, suatu pagi saat tengah berjalan di hutan, Bujang Enok bertemu seekor ular berbisa yang menghadangnya. Bujang Enok berusaha mengusir ular itu dengan baik, namun hewan itu tetap bertahan di tempatnya.

Ketika ular itu hendak menyerang, Bujang Enok akhirnya menggunakan semambu atau tongkat rotan peninggalan almarhum ayahnyauntuk melindungi diri. Sekali pukul, ular itu mati.  

Setelah memastikan ular tidak bergerak lagi, Bujang Enok menguburkannya di pinggir jalan.

Ketika melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan kayu, ia mendengar suara dua perempuan bercakap-cakap dari arah lubuk sungai, membahas kematian ular itu. 

Meskipun merasa heran, ia memilih untuk tidak memedulikannya.  

Kejutan di Dapur  

Sepulang dari hutan, Bujang Enok mendapati hidangan lengkap di dapurnya. Karena lapar, ia segera memakan makanan itu sambil bertanya-tanya siapa yang telah menghidangkannya. 

Ia penasaran karena tidak memiliki kerabat atau tetangga dekat yang mungkin berbuat demikian. Keesokan harinya, Bujang Enok memutuskan untuk mengintai siapa yang telah masuk ke pondoknya. 

Menjelang siang, ia melihat tujuh gadis cantik seperti bidadari datang dari arah lubuk sungai, membawa hidangan dan masuk ke pondoknya. Di antara mereka, seorang gadis berselendang jingga tampak paling memikat hati Bujang Enok.  

Setelah para gadis pergi, ia mengikuti mereka ke lubuk sungai. Dari balik semak-semak, Bujang Enok melihat mereka berganti pakaian untuk mandi. Saat itu, ia menggunakan tongkat untuk mengambil selendang jingga milik gadis tercantik.  

Baca juga: Putri Kaca Mayang, Legenda Asal Usul Kota Pekanbaru

Pertemuan dengan Putri Mambang Linau  

Setelah selesai mandi, gadis berselendang jingga menyadari selendangnya hilang. Ia bersama teman-temannya mencarinya, namun tidak menemukannya. 

Enam gadis lainnya kemudian mengenakan selendang masing-masing dan terbang ke angkasa, meninggalkan gadis berselendang jingga sendirian di tepi lubuk. Bujang Enok keluar dari persembunyian dan menghampiri gadis itu. 

Saat ditanya, gadis itu memohon agar selendangnya dikembalikan. Namun, Bujang Enok memberi syarat gadis itu harus menikah dengannya. Gadis itu menyetujui, dengan satu syarat pula, bahwa jika ia harus menari suatu hari nanti, pernikahan mereka akan berakhir.  

Gadis itu mengaku sebagai Mambang Linau. Mereka menikah dan hidup bahagia. Setelah menikah, kebaikan hati Bujang Enok semakin terkenal hingga Raja mengangkatnya menjadi Batin (Pemimpin adat) di kampung Petalangan.  

Titah Raja dan Perpisahan yang Tragis  

Suatu hari, Raja mengadakan pesta yang mengharuskan istri para pembesar menari. Putri Mambang Linau menyadari bahwa jika ia menari, ia akan bercerai dengan Bujang Enok. Namun, ia merasa tidak dapat menolak titah Raja.  

Dengan selendang jingga yang dikenakannya, ia mulai menari. Gerakannya menyerupai burung elang yang melayang. Perlahan, tubuhnya terangkat dan terbang ke langit menuju kayangan. 

Semua yang hadir terkejut, termasuk Bujang Enok yang menyaksikan istrinya pergi untuk selamanya.

Sejak saat itu, Putri Mambang Linau tidak pernah kembali, dan Bujang Enok harus menerima perpisahan itu sebagai pengorbanannya demi menjunjung tinggi titah Raja. 

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat22 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan