Tradisi

Makna Filosofis Galungan dan Penjor bagi Umat Hindu Bali

Umat Hindu kembali merayakan Hari Raya Galungan pada Rabu, 23 April 2025, disusul Hari Raya Kuningan yang jatuh pada Sabtu, 3 Mei 2025. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Galungan selalu dirayakan setiap hari Rabu, sementara Kuningan selalu jatuh pada hari Sabtu. Melansir dari detik.com, hal ini berkaitan erat dengan perhitungan kalender Bali yang menggunakan siklus 210 hari […]

Oleh Achmad Aristyan

Makna Filosofis Galungan dan Penjor bagi Umat Hindu Bali
Masyarakat Hindu Bali melaksanakan Galungan. Foto: Laurent Houmeau – https://www.flickr.com/photos/10873597@N00/19679885876/
Diterbitkan

Umat Hindu kembali merayakan Hari Raya Galungan pada Rabu, 23 April 2025, disusul Hari Raya Kuningan yang jatuh pada Sabtu, 3 Mei 2025.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Galungan selalu dirayakan setiap hari Rabu, sementara Kuningan selalu jatuh pada hari Sabtu.

Melansir dari detik.com, hal ini berkaitan erat dengan perhitungan kalender Bali yang menggunakan siklus 210 hari atau sekitar enam bulan sekali.

Dalam sistem ini, Galungan jatuh pada Budha Kliwon Wuku Dungulan, sedangkan Kuningan jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan.

Baca Juga: Viral Tugu Biawak Realistis di Wonosobo, Dibangun Tanpa Dana APBD

Jarak antara keduanya selalu tetap, yakni 10 hari.

Dengan demikian, Galungan memang selalu dirayakan setiap hari Rabu (Budha) dan Kuningan setiap hari Sabtu (Saniscara) dalam siklus pawukon.

Sejarah dan Filosofi Galungan

Menurut lontar Purana Bali Dwipa, perayaan Galungan pertama kali diselenggarakan pada tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804.

Dalam naskah tertulis: “Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya”.

Artinya: “Perayaan Galungan pertama digelar pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka”.

Galungan sendiri dimaknai sebagai kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kejahatan).

Filosofinya menjadi momen bagi umat Hindu untuk meningkatkan kesadaran spiritual, menegakkan dharma dalam kehidupan sehari-hari, dan melawan pengaruh negatif.

Persembahan hasil bumi pada Hari Raya Galungan. Foto: Spencer Weart

Makna Penjor dalam Perayaan Galungan

Salah satu ciri khas menjelang Galungan adalah pemasangan penjor atau batang bambu melengkung yang dihias janur dan berbagai hasil bumi di depan rumah warga.

Menurut penjelasan Dra. Ni Made Sri Arwati (1992), penjor dibuat dari bambu melengkung ke bawah dan dihiasi janur, buah-buahan, daun-daunan, serta sesajen.

Penjor dimaknai sebagai simbol bumi (pertiwi) dengan segala hasilnya yang menopang kehidupan manusia.

“Penjor itu melambangkan Gunung Agung sebagai tempat suci, juga disebut sebagai simbol dari Naga Basuki, simbol kemakmuran dan keselamatan,” jelas Arwati dalam tulisannya.

Baca Juga: Bledug Kramesan, Gunung Lumpur Unik di Grobogan

Dalam lontar Jayakasunu, disebutkan bahwa penjor adalah representasi Gunung Agung, sementara dalam lontar Basuki Tatwa, disebut sebagai Naga Raja atau Naga Basuki.

Hiasan seperti padi, jagung, dan kain menggambarkan bulu Naga Ananta Bhoga, tempat tumbuhnya sandang dan pangan.

Pemasangan dan Pencabutan Penjor

Pemasangan penjor dilakukan pada hari Penampahan Galungan, yaitu sehari sebelum Galungan.

Masyarakat Bali mempercayai bahwa pemasangan penjor menandakan kesiapan untuk menegakkan dharma.

Sementara itu, penjor akan dicabut pada Buda Kliwon Pahang atau dikenal pula sebagai Pegatwakan. Hari itu menandai berakhirnya seluruh rangkaian upacara Galungan.

Setelah dicabut, penjor biasanya dibersihkan dan dibakar sebagai bentuk pelepasan dan pemurnian.

Pemasangan penjor yang dihias janur dan berbagai hasil bumi saat Galungan. Foto: Roland – Flickr: P7064819

Warisan Budaya yang Sarat Makna

Hari Raya Galungan dan Kuningan bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi warisan budaya yang memperlihatkan kedalaman filosofi dan hubungan spiritual masyarakat Hindu Bali dengan alam semesta.

Baca Juga: Rizki Rahma, Dalang Wanita Hidupkan Kembali Wayang di Era Digital

Melalui simbol-simbol seperti penjor dan perayaan yang penuh makna, umat Hindu terus memperkuat identitas budayanya dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. (Diolah dari berbagai sumber)

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan