Profil

Marah Rusli, Sastrawan Roman Legendaris Siti Nurbaya

Marah Rusli, dikenal dengan karya fenomenalnya, Siti Nurbaya. Pada tahun 1920, melalui karya sastra tersebut, dia dianggap sebagai pengarang roman pertama dalam sejarah sastra Indonesia. Ia pun disebut pembaharu dalam penulisan prosa yang ketika itu lebih banyak berbentuk hikayat. Dikutip dari Tokoh.id, Pria bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar ini Padang 7 Agustus 1889. […]

Oleh Anisa Kurniawati

Marah Rusli, Sastrawan Roman Legendaris Siti Nurbaya
Marah Rusli. Foto: wikimedia commons
Diterbitkan

Marah Rusli, dikenal dengan karya fenomenalnya, Siti Nurbaya. Pada tahun 1920, melalui karya sastra tersebut, dia dianggap sebagai pengarang roman pertama dalam sejarah sastra Indonesia. Ia pun disebut pembaharu dalam penulisan prosa yang ketika itu lebih banyak berbentuk hikayat. 

Dikutip dari Tokoh.id, Pria bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar ini Padang 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran. Sementara ibunya seorang wanita biasa. Gelar “Marah” sendiri didapat dari keluarga ayahnya. 

Marah Rusli bersekolah di Rofdenschool, Bukittinggi atau kerap disebut sebagai ‘sekolah raja’. Setelah lulus, ia hijrah ke kota Bogor untuk melanjutkan studinya di sekolah dokter hewan. Setelah kuliahnya selesai, ia kembali ke kampung halamannya. 

Namun tanpa sepengetahuannya, ayah Rusli telah menjodohkannya dengan gadis sekampungnya. Marah pun berontak, berbagai alasan untuk membatalkan perjodohan tersebut gagal dilontarkannya. Pada akhirnya diam-diam dia kembali ke Bogor. 

Dari situlah roman Siti Nurbaya lahir. Buku yang mulai dikerjakan tahun 1918 itu ditulis berdasarkan adat dan tradisi di kampung halamannya sekaligus pengalaman pribadinya. Naskah tersebut akhirnya terbit di tahun 1920. 

Mendobrak Adat Istiadat

Ketika bukunya terbit, ayahnya sempat mengirim sepucuk surat yang isinya menyayangkan tindakan putra tunggalnya itu karena dianggap menabrak adat istiadat yang berlaku. Meski begitu, nyatanya Siti Nurbaya mendapat sambutan yang baik.

Pada waktu itu, novelnya memicu untuk melalukan tindakan yang sama, yaitu mendobrak aturan adat kuno, terutama dari kalangan pemuda. Siti Nurbaya dianggap sebagai roman penting. Hal itu dikarenakan dalam novelnya dia meletakkan landasan pemikiran-pemikiran yang mengarah kepada emansipasi wanita.

Selain itu, dalam novelnya ia menganggap bahwa adat tersebut tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Ia ingin melepaskan masyarakat dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi para pemuda untuk menyatakan pendapat. 

Berkat Siti Nurbaya, Marah Rusli dianggap sebagai pengarang roman pertama dalam sejarah sastra Indonesia. Ia dianggap sebagai pembaharu dalam penulisan prosa yang ketika itu lebih banyak berbentuk hikayat. 

Roman Siti Nurbaya sendiri hingga tahun 1996 tercatat telah 22 kali dicetak ulang, diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, serta pernah diangkat dalam sinetron di tahun 90-an. Bahkan setelah kepergiannya, Pemerintah RI memberi hadiah tahunan dalam bidang sastra untuk romannya. 

Pada tahun 1924, ketika dia bekerja sebagai dokter hewan di Sumbawa, ia melahirkan roman terbarunya yang berjudul La Hami. Novel tersebut mengisahkan kehidupan masyarakat Sumbawa. Marah Rusli mendedikasikan novel tersebut sebagai ungkapan terima kasih kepada penduduk yang telah banyak membantunya.

Selain Siti Nurbaya, Marah juga menulis karya sastra lain, yaitu Tambang Intan Nabi Sulaiman, yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Belanda dan diterbitkan di Jakarta, Anak dan Kemenakan, Memang Jodoh dan Tesna Zahera, serta Gadis yang Malang, sebuah karya terjemahan dari novel Charles Dickens.

Kehidupan Pribadi Marah Rusli

Di tahun 1911, saat usianya 22 tahun, Marah menikah dengan seorang gadis berdarah Sunda kelahiran Bogor. Pasangan ini dikaruniai dua putra dan satu putri. Meski lebih dikenal sebagai sastrawan, Marah Rusli tetap menjalani karirnya sebagai dokter hewan. 

Marah bekerja sebagai dokter hewan di Sumbawa Besar. Di tahun 1916, dia pernah menjabat sebagai Kepala Perhewanan di Bima. Setelah itu ia diangkat menjadi kepala peternakan hewan kecil di Bandung.

Pada tahun 1928, ia mengepalai daerah perhewanan di Blitar. Kemudian di tahun 1920, Marah ditunjuk sebagai asisten dokter di almamaternya. Tahun 1925, ia ditugaskan ke Balige, Tapanuli, Sumatera Utara.

Marah Rusli juga pernah masuk ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) yang mengurus pengangkutan angkatan darat, pertanian, perhewanan, dan perikanan pada tahun 1946. Dua tahun setelahnya, ia dipercaya menjadi dosen Sekolah Dokter Hewan di Klaten. 

Disamping itu, sastrawan ini juga pernah menjabat sebagai kepala perekonomian dan pendiri Voetbalbond (perkumpulan sepak bola) di Semarang di tahun 1950,. Bahkan pernah menjabat sebagai komisaris PSSI Semarang. Kemudian di tahun 1952, ia pensiun. 

Marah Rusli meninggal dunia di Bandung, 17 Januari 1968 pada usia 78 tahun dan dikebumikan di Bogor, Jawa Barat. Karyanya yang fenomenal, Siti Nurbaya, hingga kini masih banyak dibaca oleh generasi muda.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati