Budaya

Melihat Tari Penjemputan Tamu Mondotambe Khas Suku Tolakai 

Suku Tolakai di Sulawesi Tenggara memiliki taraian khusus bernama Mondotambe sebagai cara penjemputan tamu kehormatan dari Suku Tolakai. Tarian ini biasanya ditarikan gadis-gadis remaja sebagai tanda penerimaan yang tulus, ikhlas, dan gembira dengan kedatangan tamu terhormat. Arti kata Mondotambe adalah penjemputan. Sedangkan definisinya yaitu Tari Mondotambe atau tari penjemputan merupakan bentuk penghormatan sekaligus penghargaan kepada […]

Oleh Anisa Kurniawati

Melihat Tari Penjemputan Tamu Mondotambe Khas Suku Tolakai 
Tari Mondotambe merupakan bentuk penghormatan sekaligus penghargaan kepada para tamu. Foto: Zona Sultra.id
Diterbitkan

Suku Tolakai di Sulawesi Tenggara memiliki taraian khusus bernama Mondotambe sebagai cara penjemputan tamu kehormatan dari Suku Tolakai.

Tarian ini biasanya ditarikan gadis-gadis remaja sebagai tanda penerimaan yang tulus, ikhlas, dan gembira dengan kedatangan tamu terhormat.

Arti kata Mondotambe adalah penjemputan. Sedangkan definisinya yaitu Tari Mondotambe atau tari penjemputan merupakan bentuk penghormatan sekaligus penghargaan kepada para tamu. 

Selain itu, tarian ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan kepada para tamu sekaligus sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan. Dalam tarian ini juga tersemat harapan agar para tamu yang berkunjung ke Sulawesi Tenggara mendapatkan rahmat dan keselamatan. 

Pertunjukan Tari Modotambe

Dalam pertunjukannya, tarian ini ditarikan gadis-gadis remaja. Jumlah penari terdiri dari 4, 6, 8, bahkan bisa mencapai 12 orang, yang terpenting jumlahnya genap.  Alasan minimal empat karena merupakan simbol dari Siwole Mbatohu.

Dimana, pada saat itu Kerajaan Konawe dibagi menjadi empat bagian, yaitu bagian barat, timur, utara, dan selatan. Tujuannya untuk memperlancar urusan pemerintahan Kerajaan Konawe yang saat itu memiliki wilayah luas. 

Tari Mondotambe terdiri dari 13 gerakan yang diakhiri dengan tabur bunga atau beras. Dalam bahasa Tolaki disebut mekaliako owoha. Sedangkan ragam gerak tari terdiri dari 4 hal. Gerak itu terdiri dari Masemba (penghormatan), Megili/Meputara (berputar), Mosembah (duduk bersembah), dan Mombehauako o Bunga (melempar bunga).

Iringan tarian ini menggunakan dua gong besar, tiga gong kecil berirama, dan tiga gendang Tolaki. Kostum yang digunakan adalah motif tabere atau hiasan, sarung tenun Tolaki. Dan aksesoris seperti ngaluh atau ikat kepala, kalung dan membawa bosara atau bokor dari rotan.

Gerak tari Mondotambe memiliki beberapa makna. Diantaranya yaitu sikap sopan santun dan menampilkan keseimbangan pada penari. Hal ini tercermin pada gerak berputar 360° ke kanan dan kekiri dengan seimbang. 

Pada saat gerak melempar bunga. Gerakan ini menggambarkan kegembiraan penari saat mempersilahkan para tamu undangan untuk masuk ke tempat acara. 

Tari Mondotambe dan Umoara

Jika berbicara Tari Mondotambe, maka tak bisa lepas dari Tari Umoara. Kedua tarian tradisional ini merupakan satu paket yang selalu ditampilkan bersama. Tari Umoara adalah tarian perang Kata Umoara sendiri memiliki arti mencoba atau coba-coba.

Adapun yang dicoba adalah ketangkasan memainkan parang, melatih kekuatan otot melalui hentakan kaki. Selain itu, juga melatih ketangkasan mata serta melatih menangkis dan memakai kinia atau tameng atau perisai.

Tari Umoara dibawakan dua pemuda berpakaian perang Tolaki lengkap dengan parang dan tameng. Menurut sejarah, Tari Umoara ada sejak masa Kerajaan Konawe dulu. Tari ini dipentaskan usai perang sebagai tanda kemenangan. 

Dulu hanya Tari Umoara saja yang ditampilkan untuk menyambut para tentara kerajaan. Kemudian terciptalah Tari Mondotambe yang hingga saat ini selalu menyertai Tari Umoara. 

Selain untuk menyambut tamu-tamu penting, tarian ini juga dipentaskan dalam prosesi pernikahan. Keluarga mempelai perempuan akan menyiapkan tarian ini untuk menyambut mempelai pria. Selain itu, sering juga dipentaskan dalam acara-acara budaya. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya08 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati