Kita sering lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada menemukan kekeliruan dalam diri sendiri. Mata dapat diarahkan ke mana-mana, tetapi untuk benar-benar melihat diri, manusia membutuhkan sesuatu yang lebih sulit: keberanian.
Orang Jawa mempunyai sebuah ungkapan untuk keadaan itu: Mulat Sarira Hangrasa Wani. Kalimatnya pendek, tetapi membawa gagasan yang telah berjalan melampaui zamannya—sebelum menilai dunia di luar diri, manusia perlu mempunyai keberanian untuk memeriksa dirinya sendiri.
Ungkapan tersebut bukan sekadar nasihat agar seseorang sesekali melakukan introspeksi. Di dalamnya terdapat hubungan antara kesadaran diri, keberanian, tanggung jawab, dan cara seseorang menempatkan dirinya di tengah kehidupan bersama.
Apa Arti Mulat Sarira Hangrasa Wani?
Secara sederhana, mulat dapat dipahami sebagai melihat atau meninjau, sedangkan sarira merujuk pada diri atau badan. Hangrasa berkaitan dengan rasa atau kesadaran, sementara wani berarti berani.
Jika diterjemahkan hanya kata demi kata, kedalaman ungkapan itu mudah hilang. Mulat Sarira Hangrasa Wani lebih dekat kepada keberanian untuk mawas diri—melihat diri secara jujur, mengenali kemampuan, menyadari kekurangan, dan tidak melarikan diri ketika menemukan kesalahan sendiri.
Keberanian dalam pengertian ini tidak selalu hadir sebagai tindakan menghadapi orang lain. Ada keberanian yang berlangsung diam-diam ketika seseorang bersedia mempertanyakan sikap, perkataan, dan tindakannya sendiri.
Karena itulah wani menjadi kata yang penting. Mawas diri membutuhkan keberanian karena apa yang ditemukan ketika seseorang bercermin ke dalam dirinya tidak selalu menyenangkan.
Jejaknya dalam Mangkunegaran
Mulat Sarira Hangrasa Wani dikenal sebagai salah satu bagian dari Tri Dharma yang berhubungan erat dengan Mangkunegara I, tokoh yang sebelumnya dikenal sebagai Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Setelah perjuangan panjang dan berdirinya Praja Mangkunegaran pada abad ke-18, falsafah tersebut menjadi bagian penting dari nilai yang hidup di lingkungan Mangkunegaran.
Tri Dharma terdiri atas tiga gagasan yang saling berhubungan: Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Hangrungkebi, dan Mulat Sarira Hangrasa Wani. Dalam penjelasan yang berkembang di Mangkunegaran, ketiganya berbicara mengenai rasa memiliki, kewajiban menjaga atau membela, serta keberanian melakukan mawas diri.
Ketiganya sulit dipahami apabila dipisahkan sepenuhnya. Rasa memiliki melahirkan tanggung jawab, tanggung jawab meminta keberanian untuk menjaga, sementara tindakan manusia tetap harus dikendalikan oleh kemampuan memeriksa dirinya sendiri.
Dengan demikian, mawas diri bukan tindakan menarik manusia menjauh dari kehidupan bersama. Ia justru menjadi pengendali agar rasa memiliki dan keberanian bertindak tidak berubah menjadi tindakan yang hanya mengikuti kehendak sendiri.
Dari Perjuangan Menuju Pitutur
Sejumlah kajian mengenai sejarah Mangkunegaran menghubungkan Mulat Sarira Hangrasa Wani dengan pengalaman perjuangan Raden Mas Said dan para pengikutnya. Ungkapan tersebut kemudian memperoleh kehidupan yang lebih panjang sebagai falsafah, tidak berhenti sebagai ingatan terhadap sebuah masa perjuangan.
Dalam perjalanan berikutnya, maknanya bergerak dari lingkungan kekuasaan menuju kehidupan yang lebih luas. Ia dapat dibaca sebagai ajaran kepemimpinan, tetapi pada saat yang sama juga berbicara kepada manusia biasa tentang kemampuan mengenali dirinya.
Di sinilah sebuah ungkapan dapat melampaui konteks kelahirannya. Kata-kata yang pernah hidup di lingkungan Mangkunegaran kemudian terus diucapkan karena persoalan yang dibicarakannya tidak pernah benar-benar selesai.
Manusia tetap berhadapan dengan kesombongan, kemarahan, ketakutan, kepentingan, kekeliruan, dan keinginan untuk merasa paling benar. Selama semua itu masih ada, kebutuhan untuk melihat diri sendiri juga tidak kehilangan tempatnya.
Mawas Diri Bukan Merendahkan Diri
Ada perbedaan antara mawas diri dan merasa rendah. Mulat sarira tidak meminta manusia menganggap dirinya tidak mempunyai kemampuan, melainkan mengenali kemampuan dan kekurangannya secara lebih jernih.
Penelitian mengenai ungkapan ini menunjukkan adanya gagasan untuk mengenal potensi diri sekaligus menyadari kekurangan. Dari pengenalan itulah dapat tumbuh kerendahan hati dan kemampuan menata diri.
Seseorang yang mengetahui kemampuannya tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, seseorang yang mengetahui kekurangannya mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya.
Maka kerendahan hati yang lahir dari mulat sarira berbeda dari ketidakpercayaan diri. Ia tumbuh bukan karena manusia menganggap dirinya kecil, melainkan karena memahami dirinya secara lebih utuh.
Berani Mengakui Kesalahan
Mengakui kesalahan sering kali lebih sulit daripada melakukan kesalahan itu sendiri. Manusia dapat mencari alasan, menunjuk keadaan, menyalahkan orang lain, atau mempertahankan tindakannya karena pengakuan terhadap kekeliruan dapat terasa seperti kekalahan.
Mulat Sarira Hangrasa Wani menawarkan cara pandang yang berbeda. Kemampuan mengakui kekurangan justru membutuhkan keberanian karena manusia harus berhadapan dengan harga dirinya sendiri.
Dalam pemaknaan ini, orang yang berani bukan hanya mereka yang mampu menghadapi ancaman dari luar. Keberanian juga terlihat ketika seseorang mampu mengatakan bahwa dirinya keliru dan bersedia memperbaiki akibat dari tindakannya.
Itulah sebabnya mawas diri mempunyai hubungan erat dengan tanggung jawab. Kesadaran tanpa keberanian dapat berhenti menjadi pengetahuan, sementara keberanian tanpa kesadaran dapat berubah menjadi tindakan yang tidak terkendali.
Sebelum Menunjuk Orang Lain
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terus melakukan penilaian. Kita menilai perkataan orang, keputusan keluarga, tindakan tetangga, perilaku pemimpin, bahkan kehidupan seseorang yang sebenarnya hanya kita lihat dari kejauhan.
Namun ada bagian dari diri yang tidak mudah terlihat oleh pemiliknya sendiri. Tradisi Jawa mengenal berbagai pitutur yang mengingatkan keterbatasan manusia dalam menilai dirinya, termasuk gambaran bahwa seseorang tidak dapat dengan mudah melihat bagian belakang tubuhnya sendiri.
Pesannya bukan agar manusia berhenti mengkritik sesuatu yang keliru. Yang diingatkan adalah pentingnya memberikan ukuran yang sama kepada diri sendiri sebelum ukuran itu digunakan untuk menilai orang lain.
Pertanyaan kemudian berubah dari “apa kesalahan mereka?” menjadi “apakah aku melakukan hal yang sama?”. Perubahan kecil dalam arah pertanyaan itu merupakan inti dari mawas diri.
Ketika Rasa Memiliki Membutuhkan Mawas Diri
Mulat Sarira Hangrasa Wani menjadi lebih utuh ketika ditempatkan bersama dua unsur Tri Dharma lainnya. Rumangsa Melu Handarbeni membawa gagasan mengenai rasa ikut memiliki, sementara Wajib Melu Hangrungkebi berbicara mengenai tanggung jawab untuk ikut menjaga atau membela.
Rasa memiliki tanpa mawas diri dapat berubah menjadi keinginan menguasai. Keberanian membela tanpa kemampuan memeriksa diri juga dapat membuat seseorang begitu yakin pada tindakannya sehingga tidak lagi bersedia mendengar orang lain.
Karena itu, mulat sarira dapat dibaca sebagai penyeimbang. Manusia diajak bertindak dan bertanggung jawab, tetapi pada saat bersamaan tidak kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan dirinya.
Di dalam gagasan tersebut terdapat sesuatu yang menarik tentang kepemimpinan Jawa. Kekuatan tidak hanya diukur dari kemampuan memimpin orang lain, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan dan menilai diri sendiri.
Dari Mangkunegaran ke Kehidupan Hari Ini
Berabad-abad telah berlalu sejak masa Mangkunegara I. Dunia yang dihadapi masyarakat hari ini tentu sangat berbeda dari dunia ketika kekuasaan Jawa berhadapan dengan perang, perjanjian politik, dan perubahan besar pada abad ke-18.
Namun persoalan manusia yang disentuh Mulat Sarira Hangrasa Wani terasa anehnya dekat. Kita hidup pada masa ketika pendapat dapat disampaikan dalam hitungan detik dan penilaian terhadap seseorang dapat menyebar jauh sebelum persoalannya benar-benar dipahami.
Media sosial memperbesar kemampuan manusia untuk melihat kehidupan orang lain. Pada saat yang sama, teknologi tidak otomatis membuat seseorang lebih mudah melihat kekurangan dalam dirinya sendiri.
Satu unggahan dapat segera dibalas dengan kemarahan, satu kesalahan dapat mengundang ribuan penghakiman, dan perbedaan pendapat dapat berubah menjadi perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling benar. Dalam keadaan seperti itu, pitutur tentang keberanian melihat diri sendiri memperoleh ruang baru untuk dibaca.
Mulat Sarira di Zaman Media Sosial
Bayangkan seseorang membaca sebuah pernyataan yang membuatnya marah. Jari dapat segera bergerak menuju kolom komentar, sementara kata-kata dapat dikirim sebelum pikiran mempunyai cukup waktu untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.
Mulat sarira dapat hadir pada jarak pendek antara rasa marah dan tombol kirim. Bukan untuk membungkam pendapat, melainkan untuk memberi kesempatan kepada seseorang bertanya apakah informasi yang dibacanya benar, apakah responsnya adil, dan apakah dirinya sedang melakukan sesuatu yang sebenarnya ia kecam dari orang lain.
Mawas diri juga tidak berarti semua persoalan harus dikembalikan menjadi kesalahan pribadi. Ketidakadilan tetap dapat dikritik, kesalahan tetap dapat disebut sebagai kesalahan, dan seseorang tetap dapat mempertahankan sesuatu yang dianggap benar.
Perbedaannya terletak pada kesediaan untuk memasukkan diri sendiri ke dalam pemeriksaan yang sama. Orang lain dapat salah, tetapi kemungkinan bahwa kita pun dapat salah tidak pernah sepenuhnya hilang.
Warisan yang Tidak Dapat Dipajang
Ketika berbicara tentang warisan budaya, pikiran mudah menuju keraton, candi, keris, kain, manuskrip, atau rumah tradisional. Semua itu dapat dilihat, disentuh, didokumentasikan, dan sebagian dapat disimpan di museum.
Mulat Sarira Hangrasa Wani mempunyai bentuk yang berbeda. Warisannya berada dalam bahasa, ingatan, pendidikan, perilaku, dan cara manusia memahami hubungan antara dirinya dengan orang lain.
Warisan semacam ini tidak cukup dilestarikan dengan menuliskan kalimatnya pada dinding. Kata-katanya mungkin tetap terbaca, tetapi maknanya hanya hidup ketika manusia masih mempraktikkan gagasan yang berada di belakangnya.
Itulah salah satu sifat warisan pengetahuan. Ia dapat bertahan tanpa mempunyai bangunan, tetapi juga dapat hilang meskipun kalimatnya masih terus diucapkan.
Berani Bercermin
Ada ironi sederhana dalam kehidupan manusia. Kita dapat menghabiskan waktu bertahun-tahun mengenali watak orang lain, tetapi tetap mempunyai bagian dari diri sendiri yang tidak pernah benar-benar kita periksa.
Mulat Sarira Hangrasa Wani mengajak arah pandang itu sesekali dibalik. Bukan terus menuju dunia di luar, tetapi kembali kepada orang yang selama ini berdiri di belakang semua penilaian tersebut: diri sendiri.
Mungkin itulah sebabnya pitutur ini mampu bertahan melewati zaman yang melahirkannya. Peralatan manusia berubah, bentuk kekuasaan berubah, dan cara berkomunikasi berubah, tetapi menghadapi diri sendiri tetap menjadi pekerjaan yang tidak sederhana.
Pada akhirnya, keberanian tidak selalu ditandai suara yang paling keras atau langkah yang paling jauh. Dalam satu pitutur Jawa yang diwariskan lintas generasi, keberanian dapat dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sunyi: berani bercermin, menemukan kekurangan, lalu bersedia memperbaiki diri.
CATATAN REDAKSI
Mulat Sarira Hangrasa Wani memiliki sejumlah atribusi dalam sumber populer. Sumber resmi Pura Mangkunegaran dan sejumlah kajian sejarah menempatkannya dalam Tri Dharma yang berkaitan dengan Mangkunegara I atau Raden Mas Said, sedangkan sumber lain menghubungkannya dengan Sultan Agung atau tradisi pemikiran Jawa yang lebih luas. Artikel ini menggunakan keterkaitan dengan Mangkunegara I sebagai pijakan utama karena didukung dokumentasi kelembagaan Mangkunegaran dan sejumlah kajian, tanpa menyatakan bahwa seluruh unsur pemikirannya muncul untuk pertama kali dari satu tokoh.
Pemaknaan ungkapan tersebut juga berkembang menurut konteks sejarah, kebudayaan, pendidikan, dan penafsirnya. EMMANUS menempatkan Mulat Sarira Hangrasa Wani sebagai warisan pemikiran dan pitutur dalam kebudayaan Jawa, serta membedakan konteks historisnya dari interpretasi filosofis yang berkembang kemudian.






