Budaya

Pengrajin Topeng Lengger Wonosobo Masih Bertahan

Pekerjaan membuat alat-alat kesenian tradisional, seperti Topeng Lengger misalnya, makin jarang ditemui di sekitar kita. Selain, pasarnya sangat sempit, permintaannya pun cenderung kecil. Itulah persoalan yang kini dihadapi Ratib, seorang pengrajin topeng lengger Wonosobo dari Dusun Prigi, Mergolangu, Wonosobo, Jawa Tengah. Meski begitu, Ratib tetap tekun membuat berbagai topeng kesenian Lengger meski masih menggunakan alat-alat […]

Oleh Anisa Kurniawati

Pengrajin Topeng Lengger Wonosobo Masih Bertahan
Ratib sedang memperlihatkan Topeng Gondosuli, salah satu karakter Topeng Lengger.
Diterbitkan

Pekerjaan membuat alat-alat kesenian tradisional, seperti Topeng Lengger misalnya, makin jarang ditemui di sekitar kita. Selain, pasarnya sangat sempit, permintaannya pun cenderung kecil. Itulah persoalan yang kini dihadapi Ratib, seorang pengrajin topeng lengger Wonosobo dari Dusun Prigi,  Mergolangu, Wonosobo, Jawa Tengah. 

Meski begitu, Ratib tetap tekun membuat berbagai topeng kesenian Lengger meski masih menggunakan alat-alat manual dan tradisional. Pemesan topeng pun masih bermunculan. Bahkan ada pemesan dari Thailand.

Sehari-hari Ratib, disibukkan dengan membuat kerajinan topeng di studio kecilnya. Topeng karyanya sering digunakan dalam pentas-pentas kesenian tari tradisional. Beberapa karakter yang dibuatnya seperti topeng Gondosuli, Sontoloyo, Kebo Giro dan lainnya.

Baca juga: Asmuni, Dari Seniman ABRI Hingga Legenda Komedi

Minat Ratib pada kerajinan topeng lengger berawal dari hobinya. Dia mengaku belajar secara otodidak, terus berlatih hingga karyanya laris dipesan. 

“Mulai dari tahun 2019, awalnya hobi, kemudian coba-coba, diposting di Facebook. Akhirnya banyak yang pesan. Belajar sendiri secara otodidak. Mulai dari tahun 2020, mulai banyak yang pesan dari Wonosobo, Kalimantan, Temanggung, Sumatra, Papua, Thailand,” ujarnya.

Tergantung Kerumitan

Ratib menjelaskan proses pembuatan topeng dimulai dari pemilihan kayu terlebih dahulu. “Pembuatannya dimulai dari pemilihan kayu, yaitu dari kayu pule. Kalau pakai kayu kanthil, jarang karena langka, sehingga hanya menerima permintaan dari pelanggan saja. Bagian kayu yang dibuat topeng itu bagian tengah pohon. Setelah itu kayu tersebut dipotong dibuat segitiga, diseksta, lalu dipahat.” ungkap pengrajin yang sudah 15 tahun menekuni pekerjaannya ini.

Ratib juga menjelaskan proses pembuatan topeng membutuhkan waktu yang bervariasi tergantung tingkat kesulitannya. Ukuran juga menjadi salah satu penentu lamanya pembuatan topeng. 

“Pembuatannya sekitar satu sampai dua hari tergantung tingkat kesulitannya. Kalau topeng seperti barongan macan ini bisa memakan waktu sampai empat sampai lima hari. Karena ukurannya besar jadi harus membuat dua bagian lalu disambungkan dengan engsel pintu.“ kata Ratib sambil menunjukkan bagian belakang barong macan. 

Baaca juga: Kesenian Jaran Bodhag, Hiburan Dengan Kuda Tiruan

Tahapan selanjutnya yaitu proses pengecatan. Langkah-langkah tersebut biasanya diulangi dua sampai tiga kali. “Kemudian proses pengecatan menggunakan cat minyak biasa. Kalau topeng dengan detail yang rumit bisa membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga hari. Karena setelah pengecatan pertama, nunggu kering baru dicat lagi. Biasanya sampai dua tiga kali,” jelas Ratib.

Ratib menjelaskan harga-harga topeng yang biasa dijualnya bervariasi. Topeng model Gondosuli dan Sontoloyo dipatok dengan harga 300 ratus ribu. Topeng Kebo Giro sekitar 1 juta. Untuk Barongan yang berukuran besar dibanderol dengan harga sekitar 2,5 juta.  Dalam sebulan Ratib mengaku bisa menjual 10 sampai 15 buah topeng tergantung tingkat kerumitan pembuatan.

Ratib mengungkapkan, pembuatan topeng ini masih cukup sulit jika ingin dijadikan lebih besar lagi. Karena selain alat-alatnya masih manual, mencari sumber daya manusia yang sejalan dan terlatih membuat topeng juga sulit. Meski demikian, ia mengaku, kemajuan digital dan media sosial, telah menyelamatkan pekerjananya karena topeng lengger ternyata masih banyak dicari peminatnya. 

TopikBudaya
Budaya25 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati