Langit tidak ingat apa pun tentang kota kelahirannya, kecuali cerita ibunya mengenai sebuah rumah dengan pohon mangga di halaman. Ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah itu, ia hanya melihat pagar besi berkarat dan seorang perempuan tua yang menunggu di teras.
Nenek memeluknya cukup lama hingga Langit merasa canggung. Ia membalas pelukan itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih memegang tali ransel.
“Sudah tinggi sekali kamu,” kata Nenek sambil mengusap lengannya. Langit tersenyum sedikit, lalu membantu ibunya menurunkan koper.
Tiga minggu sebelumnya, ayahnya meninggal setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Sejak itu, keputusan datang berturut-turut: rumah di Jakarta dikosongkan, barang-barang dipilih, dan ibunya memutuskan kembali ke kota asalnya.
Langit tidak menolak ketika diberi tahu mereka akan pindah. Ia juga tidak mengatakan setuju, sebab rasanya kedua jawaban itu tidak akan mengubah apa pun.
Kamar barunya menghadap gang sempit yang setiap pagi dilalui pedagang sayur. Dari jendela ia dapat melihat atap rumah tetangga, kabel listrik, dan sepotong langit di antara bangunan.
Di atas meja, ia meletakkan sebuah foto ayahnya. Foto itu diambil ketika mereka menonton pertandingan sepak bola, beberapa bulan sebelum semuanya berubah.
Bangku Paling Belakang
Hari pertama sekolah dimulai dengan perkenalan singkat di depan kelas. Wali kelas menyebut nama Langit, sekolah asalnya, dan meminta murid-murid lain membantunya menyesuaikan diri.
Langit mengucapkan salam, lalu berjalan menuju bangku kosong paling belakang. Tempat itu berada dekat jendela, cukup jauh dari papan tulis dan percakapan teman-teman yang sudah saling mengenal.
Ketika jam istirahat tiba, hampir semua murid bergerak dalam kelompok. Ada yang menuju kantin, ada yang bermain di koridor, dan beberapa masih bercakap-cakap menggunakan bahasa Jawa yang belum dipahami Langit.
“Anak Jakarta, ya?” terdengar suara dari barisan tengah. Seseorang menjawab pelan, tetapi cukup jelas untuk didengarnya, “Paling susah diajak ngobrol.”
Langit pura-pura sibuk memeriksa telepon. Ia sebenarnya ingin mengatakan bahwa dirinya tidak sedang bersikap sombong, hanya tidak tahu harus mulai berbicara dari mana.
Selama seminggu, ia berangkat sekolah, mencatat pelajaran, lalu pulang tanpa banyak berinteraksi. Ibunya beberapa kali bertanya apakah ia sudah mendapat teman, dan Langit selalu menjawab bahwa semuanya baik-baik saja.
Sepulang sekolah, ia menutup pintu kamar dan memasang earphone. Sesekali ia masih menoleh ketika mendengar sepeda motor berhenti di depan rumah, sebelum teringat bahwa ayahnya tidak akan pulang.
Anak yang Datang Tanpa Diundang
Senin minggu kedua, seseorang menarik kursi kosong di sebelah Langit tepat sebelum pelajaran dimulai. Anak laki-laki itu bertubuh kurus, rambutnya agak berantakan, dan jaket sekolahnya tampak kebesaran.
“Kosong, kan?” tanyanya sambil meletakkan tas. Langit mengangguk, meskipun anak itu sudah telanjur duduk.
“Gue Arya,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Lo Langit, yang dari Jakarta itu?”
Langit menjabat tangannya dan memperkenalkan diri sekali lagi. Arya kemudian mengeluarkan buku catatan yang bagian sampulnya dipenuhi gambar-gambar kecil.
“Kenapa pindah ke belakang?” tanya Langit. Arya menoleh ke bangku lamanya di depan dan menjawab bahwa ia bosan terlalu dekat dengan guru matematika.
Langit tertawa pendek sebelum sempat menahannya. Arya terlihat puas, lalu membuka buku pelajaran ketika guru masuk.
Saat istirahat, Arya mengajaknya ke kantin belakang. Ia memberi tahu makanan yang paling cepat habis, tempat membeli es teh murah, dan guru mana yang tidak suka murid terlambat mengumpulkan tugas.
Arya berbicara cepat, terkadang menyelipkan kata-kata Jawa yang langsung diterjemahkannya sendiri. Langit tidak selalu mengerti leluconnya, tetapi ia mulai berani bertanya tanpa takut ditertawakan.
Dua Orang yang Sama-Sama Asing
Beberapa hari kemudian, hujan turun ketika jam sekolah berakhir. Mereka menunggu di depan kelas karena halaman sudah dipenuhi genangan dan sepeda motor yang berdesakan menuju gerbang.
“Lo kangen Jakarta?” tanya Arya sambil memandang hujan. Langit memasukkan telepon ke saku dan mengangguk.
“Di sana gue tahu harus ke mana kalau lagi pengin keluar,” jawabnya. “Di sini gue bahkan belum hafal jalan ke toko alat tulis.”
Arya menyebut nama sebuah toko dekat pasar dan menawarkan diri untuk mengantarnya kapan-kapan. Setelah itu ia bercerita bahwa dirinya juga sering tertinggal dari kegiatan teman-teman sekolah.
“Kok bisa?” tanya Langit. Arya memainkan ujung tali tasnya sebelum menjawab.
“Kadang mereka punya cerita yang gue nggak ikut,” katanya. “Jadi pas ketemu lagi, gue cuma bisa dengerin.”
Langit ingin bertanya lebih jauh, tetapi Arya sudah menunjuk seorang teman yang berlari menembus hujan tanpa payung. Mereka tertawa ketika anak itu hampir terpeleset di dekat gerbang.
Sejak sore itu, percakapan mereka tidak lagi sebatas tugas sekolah atau makanan kantin. Arya mulai tahu bahwa ayah Langit baru meninggal, sementara Langit belajar bahwa temannya tidak selalu ingin ditanya ketika sedang diam.
Pada hari-hari tertentu mereka hanya duduk bersama sambil memainkan permainan di telepon masing-masing. Jika salah satunya menemukan sesuatu yang lucu, ia cukup menyodorkan layar kepada yang lain.
Rencana ke Yogyakarta
Arya mempunyai kebiasaan menggambar di halaman belakang buku pelajaran. Ia menggambar wajah guru, sudut sekolah, sepeda yang diparkir sembarangan, dan terkadang Langit yang tertidur ketika jam kosong.
“Lo harusnya masuk DKV,” kata Arya suatu siang. Langit sedang menunjukkan rancangan poster yang dibuatnya untuk tugas sekolah.
“Emang rencananya begitu,” jawab Langit. “Kalau bisa, gue mau kuliah di Jogja.”
Arya langsung mengangkat kepala dan mengatakan bahwa ia juga ingin pergi ke Yogyakarta untuk belajar sastra. Ia sudah membayangkan toko buku bekas, pertunjukan teater, dan kamar kos dengan rak yang penuh buku.
“Berarti kita cari kos bareng,” kata Arya. Langit mengingatkan bahwa mereka bahkan belum naik kelas dua belas.
“Ya justru direncanain dari sekarang,” jawab Arya. “Biar nanti nggak panik.”
Mereka mulai membuat daftar tempat yang ingin dikunjungi. Langit mencari informasi kampus, sementara Arya lebih tertarik membicarakan toko buku dan angkringan yang pernah dilihatnya dalam video perjalanan.
Pada suatu malam, Arya mengirim foto kamar kos dari internet dan bertanya apakah Langit bersedia tinggal di tempat sesempit itu. Langit membalas bahwa kamar tersebut masih cukup besar untuk menampung buku-buku Arya yang jumlahnya belum seberapa.
Hal-Hal yang Mulai Terlihat
Pada awalnya Langit mengira Arya hanya mudah kelelahan. Temannya sering tidak mengikuti olahraga, beberapa kali meminta izin ke UKS, dan kadang tidak masuk sekolah selama dua atau tiga hari.
Suatu pagi, Arya mengalami mimisan ketika sedang mencatat pelajaran. Guru segera membantunya, sementara Langit mengambilkan tisu dan menemani sampai petugas UKS datang.
“Nggak apa-apa, sering begini,” kata Arya setelah keadaan lebih tenang. Langit ingin percaya, tetapi wajah temannya terlihat jauh lebih pucat daripada biasanya.
Di kesempatan lain, Langit melihat memar pada lengan Arya ketika jaketnya tersingkap. Arya menarik lengan baju dan mengatakan bahwa ia terbentur sesuatu di rumah.
Beberapa kali Arya juga tidak menghabiskan makanannya. Ia biasanya mendorong piring ke arah Langit sambil mengatakan bahwa porsinya terlalu besar.
Langit tidak selalu menerima makanan itu. Sesekali ia justru meminta Arya membawanya pulang, lalu mengalihkan percakapan ke tugas sekolah yang belum mereka kerjakan.
Namun semakin lama, alasan ketidakhadiran Arya semakin sulit diabaikan. Bangku di sebelah Langit beberapa kali kosong ketika mereka seharusnya mengerjakan tugas bersama.
Gelang Rumah Sakit
Pada suatu sore, Langit datang ke rumah Arya untuk mengerjakan tugas kelompok. Ibu Arya mempersilakannya masuk dan meminta ia menunggu sebentar karena Arya baru selesai beristirahat.
Kamar Arya dipenuhi buku, kertas gambar, dan beberapa poster film yang ditempel tidak beraturan. Di dekat meja belajar terdapat kotak obat, masker, serta sebuah gelang identitas rumah sakit.
Langit sedang memperhatikan gambar di dinding ketika Arya masuk membawa dua gelas air. Melihat arah pandangan temannya, Arya berhenti di ambang pintu.
“Lo mau tanya, ya?” katanya. Langit mengangguk dan menunggu Arya duduk.
Arya meletakkan gelas di meja, lalu menjelaskan bahwa ia mengidap leukemia sejak kelas sembilan. Ia pernah menjalani pengobatan dan sempat merasa kondisinya membaik, tetapi pemeriksaan terakhir menunjukkan penyakitnya kembali.
Langit mendengarkan tanpa menyela. Ia teringat semua hari ketika Arya tidak masuk sekolah dan beberapa kali dijemput lebih awal oleh ibunya.
“Kenapa nggak cerita dari dulu?” tanyanya setelah beberapa saat. Arya mengusap wajah dan memandang buku gambar yang terbuka di pangkuannya.
“Gue capek kalau setiap ketemu orang yang dibahas cuma sakit gue,” jawabnya. “Gue pengin punya temen yang ngajak ke kantin, bukan yang tiap lima menit nanya gue kuat atau nggak.”
Langit mengangguk, tetapi air matanya mulai turun. Ia segera menunduk dan mengusap pipi dengan lengan seragam.
Arya mengambil kotak tisu dan menggesernya ke dekat Langit. Setelah itu ia membuka buku gambarnya dan menunjukkan sketsa gerbang sekolah yang belum selesai.
“Menurut lo, pohonnya kegedean nggak?” tanyanya. Langit mengambil tisu, mengusap wajah, lalu mengatakan bahwa pohon itu justru terlihat lebih bagus daripada gerbangnya.
Berteman Tanpa Mengasihani
Setelah mengetahui keadaan Arya, Langit sempat kesulitan bersikap seperti biasa. Ia berkali-kali menawarkan bantuan, mengingatkan temannya agar tidak kelelahan, dan menjadi gelisah setiap kali Arya batuk.
Akhirnya Arya menegurnya ketika mereka sedang makan di kantin. “Git, gue masih bisa ambil sendok sendiri.”
Langit meletakkan sendok yang baru diambilnya dan meminta maaf. Arya kemudian mengatakan bahwa ia senang diperhatikan, tetapi tidak ingin semua orang menganggap dirinya tidak mampu melakukan hal-hal kecil.
Sejak itu Langit belajar bertanya sebelum membantu. Ketika Arya ingin istirahat, ia menemaninya; ketika temannya ingin membicarakan film atau tugas, Langit tidak membawa percakapan kembali kepada penyakit.
Mereka tetap membicarakan Yogyakarta, meskipun tidak lagi membuat rencana terlalu jauh. Arya bahkan meminta Langit membuat desain sampul untuk cerita pendek yang sedang ditulisnya.
“Bayarannya apa?” tanya Langit. Arya berpikir sebentar sebelum menawarkan satu porsi mi ayam jika suatu hari mereka benar-benar sampai di Yogyakarta.
“Murah banget,” protes Langit. Arya tertawa dan berjanji menambahkan es teh.
Hari-Hari di Rumah Sakit
Beberapa bulan kemudian, Arya semakin jarang datang ke sekolah. Kondisinya membuat ia harus lebih banyak berada di rumah sakit, sehingga bangku di sebelah Langit kembali sering kosong.
Langit mulai berkunjung setelah sekolah ketika keluarga Arya dan pihak rumah sakit mengizinkan. Ia membawa catatan pelajaran, kabar tentang teman-teman sekelas, dan terkadang makanan titipan ibu Arya.
Mereka mengerjakan soal bersama jika Arya sedang cukup kuat. Pada hari lain, Langit hanya duduk membaca sementara Arya beristirahat.
Suatu sore Arya meminta Langit mengambil buku gambarnya dari tas. Di dalamnya terdapat beberapa sketsa yang belum selesai, termasuk gambar gerbang sekolah dengan dua anak berdiri di bawah pohon.
“Bagus, kan?” tanya Arya. Langit memperhatikan garis-garis yang belum dirapikan dan mengatakan bahwa salah satu tokohnya terlihat terlalu pendek.
“Itu lo,” jawab Arya. Langit tertawa dan mengambil pensil untuk memperpanjang kaki tokoh tersebut.
Mereka menghabiskan hampir setengah jam memperdebatkan gambar itu. Ketika perawat datang memeriksa keadaan Arya, Langit menutup buku dan menunggu di kursi dekat jendela.
Sebelum pulang, Arya meminta Langit membawa buku gambarnya agar tidak tertinggal di rumah sakit. Langit memasukkannya ke tas dan berjanji akan membawanya kembali pada kunjungan berikutnya.
Telepon pada Malam Hari
Malam itu Langit sedang mengerjakan tugas ketika mendengar telepon ibunya berdering. Ia tidak terlalu memperhatikan sampai suara ibunya berubah pelan dan percakapan di ruang tengah berhenti cukup lama.
Ibunya mengetuk pintu kamar beberapa menit kemudian. Langit melihat wajah perempuan itu dan langsung meletakkan pensilnya.
Ibu duduk di tepi tempat tidur sebelum mengatakan bahwa Arya meninggal malam itu setelah mengalami komplikasi penyakitnya. Langit memandang ibunya tanpa mengucapkan sepatah kata.
Ia meminta ibunya mengulang kabar tersebut. Ketika mendengar nama Arya sekali lagi, Langit menggeleng dan meraih telepon untuk membuka percakapan terakhir mereka.
Pesan terakhir Arya dikirim dua hari sebelumnya. Isinya hanya meminta Langit membawa buku gambar yang tertinggal ketika mereka bertemu lagi.
Langit membaca pesan itu berulang kali. Ia belum sempat membalas dengan kabar bahwa buku tersebut sudah ada di dalam tas sekolahnya.
Kursi yang Tak Berani Dilihat
Langit tidak datang ke pemakaman Arya. Ia mengatakan kepada ibunya bahwa dirinya tidak sanggup, lalu mengurung diri di kamar ketika keluarga bersiap melayat.
Selama beberapa hari, seragam sekolah tetap tergantung di belakang pintu. Langit hampir tidak membuka pesan teman-temannya dan membiarkan tugas menumpuk di meja.
Ia kesal ketika mendengar orang berbicara mengenai menerima kenyataan. Kalimat itu terus terngiang, sementara ia bahkan belum sanggup membayangkan kembali duduk di sebelah kursi Arya yang kosong.
Suatu malam ibunya masuk membawa makanan dan duduk di lantai dekat tempat tidur. Langit mengatakan bahwa ia tidak mengerti mengapa ayahnya dan Arya harus pergi ketika dirinya baru mulai merasa nyaman bersama mereka.
Ibunya tidak mencoba menjawab pertanyaan yang memang tidak mempunyai jawaban sederhana. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya juga masih belajar menjalani hari-hari tanpa ayah Langit.
Mereka duduk cukup lama tanpa berbicara. Ketika ibunya hendak keluar, Langit meminta perempuan itu membiarkan pintu kamar sedikit terbuka.
Buku yang Ditinggalkan Arya
Beberapa hari kemudian, ibu Arya menitipkan sebuah kotak melalui ibu Langit. Di dalamnya terdapat beberapa lembar gambar dan sebuah amplop kecil bertuliskan nama Langit.
Langit mengeluarkan buku gambar Arya dari tas sekolahnya, lalu membuka kotak tersebut di atas tempat tidur. Ia menyadari bahwa lembaran-lembaran di dalamnya merupakan gambar lain yang dibuat Arya selama mereka berteman.
Ada gambar dirinya tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Di halaman lain, Arya menggambar mereka berdua sedang menunggu hujan berhenti di depan kelas.
Langit tersenyum ketika melihat gambar tersebut. Ia masih ingat perdebatan mereka mengenai siapa yang seharusnya memegang payung, padahal hari itu tidak seorang pun membawa payung.
Ia kemudian membuka amplop yang dititipkan ibu Arya. Tulisan di atas kertas itu tidak serapi catatan sekolah Arya, tetapi Langit masih mengenali bentuk huruf-hurufnya.
Git, makasih sudah mau duduk sama gue dan ngajak ngobrol soal hal-hal biasa. Gue senang kita sempat punya rencana ke Jogja, walaupun gue nggak tahu nanti bisa ikut atau nggak.
Kalau lo jadi ke sana, mampir ke toko buku yang pernah kita lihat di video. Jangan lupa kirim foto sampul buku paling aneh yang lo temuin.
Oh iya, jangan terus duduk sendirian kalau sebenarnya lo pengin punya teman. Gue dulu juga harus berani pindah bangku buat kenalan sama lo.
— Arya
Langit membaca tulisan itu sampai selesai, kemudian melipatnya kembali mengikuti bekas lipatan semula. Ia memasukkan surat tersebut ke dalam buku gambar agar tidak tercecer.
Malam itu ia membawa buku tersebut ke ruang tengah. Ia duduk bersama ibunya dan mulai menunjukkan halaman demi halaman sambil menceritakan bagaimana Arya selalu menemukan sesuatu yang lucu dalam kejadian sehari-hari.
Kembali ke Sekolah
Senin pagi, Langit mengenakan seragam yang sudah hampir seminggu tidak disentuhnya. Ibunya menyiapkan sarapan dan bertanya apakah ia ingin diantar sampai gerbang.
Langit mengangguk meskipun biasanya ia lebih suka berangkat sendiri. Dalam perjalanan, ia melihat toko-toko yang mulai buka dan jalan yang sudah semakin dikenalnya.
Ketika memasuki kelas, beberapa teman menyapanya dengan hati-hati. Langit membalas salam mereka, lalu berjalan menuju bangku paling belakang dekat jendela.
Kursi Arya masih berada di tempat yang sama. Langit meletakkan tas, duduk, dan mengeluarkan buku pelajaran tanpa memindahkan kursi tersebut.
Saat istirahat, seorang teman mengajaknya ke kantin. Langit sempat menolak, tetapi kemudian teringat betapa sering Arya menyeretnya keluar kelas hanya untuk membeli es teh.
Ia akhirnya berdiri dan ikut berjalan bersama mereka. Di kantin, Langit menceritakan bahwa Arya selalu menganggap minuman di tempat itu lebih enak daripada yang dijual di depan gerbang.
Teman-temannya tertawa karena mereka mengenali kebiasaan tersebut. Salah seorang bahkan bercerita bahwa Arya pernah berdebat dengan penjual es teh mengenai jumlah es batu dalam gelasnya.
Seseorang di Depan Pintu
Beberapa minggu setelah Langit kembali bersekolah, seorang murid pindahan datang ke kelas mereka. Anak itu memperkenalkan diri dengan suara pelan, kemudian berdiri kebingungan ketika wali kelas memintanya memilih tempat duduk.
Langit memperhatikan bagaimana beberapa kelompok kembali berbicara di antara mereka sendiri. Ia mengenali gerakan anak itu yang berkali-kali memeriksa kursi kosong tanpa berani mendekat.
Saat jam istirahat, murid baru tersebut masih duduk sendirian sambil membuka bekal. Langit mengambil botol minumnya dan berjalan ke arah bangku itu.
“Lo udah tahu kantin di mana?” tanyanya. Anak itu menggeleng dan mengatakan bahwa dirinya baru sempat melihat gerbang depan.
“Kalau mau, ikut gue,” kata Langit. “Ada es teh yang lumayan enak di belakang.”
Anak itu tersenyum dan mulai memasukkan bekalnya ke dalam tas. Langit menunggu sampai ia siap, lalu mengajaknya berjalan melewati koridor.
Di depan kelas, mereka berpapasan dengan beberapa teman yang memanggil nama Langit. Ia memperkenalkan murid baru tersebut dan mengajaknya bergabung tanpa membuat peristiwa itu terasa istimewa.
Arti Sebuah Kepulangan
Sore itu Langit pulang lebih lambat karena membantu menyiapkan poster kegiatan sekolah. Ia berjalan melewati gang menuju rumah nenek dengan buku gambar Arya tersimpan di dalam tas.
Dari kejauhan terdengar suara penjual makanan dan anak-anak yang bermain di depan rumah. Nenek sedang menyiram tanaman ketika Langit membuka pagar.
“Sudah pulang?” tanya Nenek. Langit mengangguk dan mengambil selang dari tangannya agar perempuan tua itu dapat beristirahat.
Setelah mandi, ia duduk di meja belajar dan membuka kembali rancangan poster yang belum selesai. Di sampingnya terdapat daftar kampus yang pernah ia buat bersama Arya, lengkap dengan beberapa coretan yang kini sudah dikenalnya sebagai tulisan sahabatnya.
Langit belum tahu apakah suatu hari ia benar-benar akan kuliah di Yogyakarta. Ia juga belum tahu kapan ia bisa membuka buku gambar Arya tanpa harus berhenti sejenak pada beberapa halaman.
Malam itu ibunya mengetuk pintu dan bertanya apakah Langit sudah mulai betah. Ia menoleh ke jendela, melihat lampu rumah tetangga menyala, lalu menjawab bahwa dirinya ingin tetap tinggal di sana.
Ibunya tersenyum sebelum mengingatkannya agar tidak tidur terlalu malam. Setelah pintu ditutup, Langit kembali mengerjakan posternya dan menggeser buku gambar Arya agar tidak terkena tumpahan air minum.
Di halaman terakhir buku itu, dua anak masih duduk berdampingan dekat jendela kelas. Langit membiarkan gambar tersebut seperti adanya, lalu mengambil pensil lain untuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
CATATAN PENULIS
“Pulang” merupakan karya fiksi EMMANUS yang dikembangkan dari materi cerita mengenai kehilangan, persahabatan remaja, perpindahan tempat tinggal, dan proses menemukan kembali rasa memiliki. Tokoh, percakapan, hubungan antarkarakter, serta rangkaian peristiwa diolah secara kreatif untuk membangun pengalaman membaca yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Leukemia dalam cerita menjadi bagian dari pengalaman salah satu tokoh, bukan gambaran yang berlaku bagi seluruh pasien. Perjalanan penyakit, respons terhadap pengobatan, dan kondisi setiap pasien dapat berbeda. Cerita ini tidak dimaksudkan sebagai rujukan medis maupun untuk menggambarkan bahwa penyakit tertentu selalu berakhir dengan kematian.
Melalui hubungan Langit dan Arya, cerita ini mengajak pembaca melihat persahabatan sebagai hubungan yang menghargai martabat, kejujuran, dan keadaan seseorang tanpa menjadikannya objek belas kasihan. Kehilangan juga tidak digambarkan sebagai sesuatu yang harus segera dilupakan; setiap orang dapat membutuhkan waktu dan dukungan yang berbeda untuk kembali menjalani keseharian nya.




