Fiksi

Ria dan Mimpi yang Tak Pernah Padam

Mimpinya tertunda, tetapi Ria menemukan arti perjuangan ketika anaknya menentukan jalan sendiri.

Oleh Narendra

Ria dan Mimpi yang Tak Pernah Padam
Di dinding rumah sederhana, Ria masih menyimpan cita-cita masa mudanya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang belum selesai.
Diterbitkan

Di dinding kamar yang terbuat dari triplek, selembar kertas HVS menempel sedikit miring di antara kalender lama dan foto keluarga. Ria menulisnya sendiri dengan spidol hitam ketika masih duduk di kelas dua SMA: “RIA — S1 PSIKOLOGI — ANGKATAN 2018.”

Setiap bangun pagi, tulisan itu menjadi salah satu benda pertama yang dilihatnya. Setiap malam sebelum tidur, Ria membacanya lagi seolah sedang memperbarui janji kepada dirinya sendiri.

Ria bukan anak yang paling banyak bicara di kelas, tetapi namanya hampir selalu berada di antara tiga murid dengan nilai terbaik. Ia lebih senang mendengarkan orang lain daripada menjadi pusat perhatian.

Suatu hari, guru Bimbingan Konseling melihat Ria menemani seorang teman yang sedang menghadapi persoalan keluarga. Setelah temannya pulang, sang guru meminta Ria tetap berada di ruangan.

“Kamu pernah berpikir belajar psikologi?” tanyanya. Ria menggeleng karena saat itu ia bahkan belum benar-benar memahami pekerjaan seorang psikolog.

“Kamu punya kemampuan mendengarkan orang tanpa buru-buru menghakimi mereka,” ujar gurunya. “Kemampuan seperti itu harus kamu rawat.”

Kalimat tersebut dibawa Ria pulang dan dipikirkannya sepanjang malam. Keesokan harinya, selembar kertas HVS muncul di dinding kamarnya.

Ketika Mimpi Bertemu Kenyataan

Ayah Ria mengemudikan angkot sejak pagi dan sering baru kembali ketika jalan mulai sepi. Penghasilannya tidak pernah benar-benar dapat dipastikan karena ada setoran, bahan bakar, kerusakan kendaraan, dan kebutuhan rumah yang menunggu.

Ibunya menjual gorengan di depan kontrakan untuk menambah pendapatan keluarga. Pada hari yang baik dagangannya habis sebelum petang, tetapi tidak jarang sebagian dibawa kembali ke dapur untuk dimakan bersama.

Dua adik Ria masih bersekolah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit bagi keluarga mereka. Ria mengetahui keadaan itu, tetapi selama SMA ia tetap percaya akan ada jalan untuk melanjutkan pendidikan.

Jalan yang ditunggunya ternyata tidak datang. Pada hari kelulusan, Ria pulang membawa kabar baik dari sekolah bersamaan dengan datangnya tagihan kontrakan.

Ia melihat ibunya menghitung uang berkali-kali di atas meja, sementara ayahnya duduk diam dengan wajah kelelahan. Tidak seorang pun mengatakan bahwa Ria tidak boleh kuliah, tetapi keadaan telah mengatakannya lebih dahulu.

Malam itu Ria masuk ke kamar dan memandang kertas HVS di dinding. Untuk pertama kalinya, tulisan yang dibuat dengan penuh keyakinan tersebut terasa berada sangat jauh darinya.

Ria tidak merobeknya dan tidak pula mencoret cita-cita yang pernah dituliskannya. Ia membiarkan kertas itu tetap tergantung sebagai bagian dari dirinya yang belum tahu akan dibawa kehidupan ke mana.

Pernikahan yang Tidak Menyelesaikan Segalanya

Pada usia sembilan belas tahun, Ria menikah dengan seorang lelaki yang dikenalkan melalui lingkungan keluarganya. Keputusan itu tidak lahir dari kisah cinta yang menggebu, melainkan dari harapan bahwa hidupnya dan kehidupan orang tuanya akan menjadi sedikit lebih ringan.

Ada pula suara yang terus datang dari orang-orang di sekitarnya. Mereka mengatakan perempuan tidak perlu bersekolah terlalu tinggi karena pada akhirnya akan mengurus rumah dan keluarga.

Ria tidak mempunyai cukup keberanian untuk memperdebatkan semuanya saat itu. Ia memasuki pernikahan dengan keyakinan bahwa mungkin inilah jalan yang harus diterimanya.

Kenyataan kembali tidak sesederhana perkataan orang. Suaminya bekerja serabutan dengan pendapatan yang berubah dari bulan ke bulan, sedangkan kebutuhan rumah tangga tidak pernah menunggu keadaan membaik.

Ria akhirnya mencari pekerjaan untuk membantu keluarga. Pekerjaan pertama belum mencukupi, sehingga ia mengambil pekerjaan lain ketika kesempatan datang.

Tiga Kartu di Dalam Tas 

Pagi hari Ria bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah dealer sepeda motor. Menjelang siang ia bergegas menuju toko kosmetik dan berdiri berjam-jam melayani pembeli.

Malam hari, setelah pekerjaan rumah selesai, layar telepon menjadi meja kerjanya berikutnya. Ria membalas pesan pelanggan sebuah toko daring hingga matanya sering terasa panas.

Di dalam tas lusuh yang selalu dibawanya terdapat tiga kartu identitas kerja. Ketiganya berasal dari tempat berbeda, tetapi semuanya memuat foto perempuan yang sama.

Suatu hari Ria membuka tas untuk mencari uang receh dan melihat kartu-kartu tersebut bertumpuk. Ia teringat bahwa dahulu dirinya membayangkan akan mempunyai sebuah kartu mahasiswa.

Hidup memberinya kartu yang berbeda. Ria memasukkannya kembali ke dalam tas dan berangkat menuju pekerjaan berikutnya.

Ucapan yang Ikut Pulang

Berpindah tempat kerja memang melelahkan, tetapi tubuh Ria perlahan terbiasa dengan jadwalnya. Yang lebih sulit adalah menghadapi perkataan orang yang sering ikut pulang bersamanya.

Ada yang menyebutnya terlalu ambisius karena terus bekerja, sementara yang lain mempertanyakan mengapa ia tidak lebih banyak berada di rumah. Ketika mengetahui cita-citanya dahulu, beberapa orang menjadikannya bahan sindiran.

“Katanya mau jadi psikolog, sekarang kerjanya dari satu kantor ke kantor lain,” ujar seseorang dalam sebuah pertemuan keluarga. Beberapa orang tertawa, sedangkan Ria memilih menundukkan wajah.

Dahulu setiap ucapan seperti itu disimpannya berhari-hari. Ia belum mengerti bahwa menjaga kesopanan tidak mengharuskan seseorang menerima penghinaan sebagai kebenaran.

Ria belum mempunyai keberanian untuk menjawab. Ia hanya bekerja, pulang, dan memastikan keluarganya masih mempunyai sesuatu untuk dimakan keesokan hari.

Seorang Anak Bernama Alesha

Tahun kedua pernikahannya, Ria melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Alesha. Ketika pertama kali menggendongnya, Ria melihat jari-jari kecil itu menggenggam telunjuknya.

“Nak, semoga hidupmu nanti punya lebih banyak pilihan daripada Ibu,” bisiknya. Bayi itu belum memahami apa pun, tetapi bagi Ria kalimat tersebut menjadi sebuah janji.

Sejak hari itu pekerjaannya mempunyai arti berbeda. Upah yang sedikit dapat berubah menjadi susu, buku, seragam, atau bagian kecil dari masa depan anaknya.

Ria mengambil sebuah kaleng biskuit bekas dan membersihkannya. Pada bagian luarnya ia menempelkan kertas bertuliskan “KULIAH ALESHA.”

Tidak setiap hari ada uang yang dapat dimasukkan ke sana. Ada bulan ketika tabungan bertambah, tetapi ada pula masa ketika seluruh penghasilan harus digunakan untuk kebutuhan rumah.

Ria tidak pernah membuang kaleng itu. Baginya, setiap lembar uang yang tersimpan adalah kesempatan yang dahulu tidak dimilikinya.

Malam ketika Ria Berkata Jujur

Alesha tumbuh menjadi anak yang gemar membaca dan mempunyai kemampuan bercerita yang baik. Ketika duduk di kelas enam sekolah dasar, ia memenangkan sebuah lomba bercerita dan membawa pulang penghargaan yang membuat Ria begitu bangga.

Pada sebuah pertemuan keluarga tidak lama setelah itu, masa lalu Ria kembali dijadikan bahan candaan. Seseorang menyebut cita-citanya menjadi psikolog hanya berakhir pada pekerjaan mengetik dan melayani orang lain.

Ria tidak membalas perkataan tersebut. Ia pulang bersama Alesha dengan mata yang berusaha disembunyikannya dari sang anak.

“Ibu habis menangis?” tanya Alesha ketika mereka sudah berada di rumah. Ria sempat mengatakan tidak, tetapi Alesha terus memandangnya.

“Ibu bohong,” kata anak itu pelan. Kalimat sederhana tersebut membuat Ria menyadari bahwa anaknya sudah cukup besar untuk mengetahui bahwa ibunya juga dapat terluka.

Malam itu Ria menceritakan tentang sekolah, kertas HVS, cita-cita kuliah, dan keadaan keluarga yang membuatnya tidak pernah sampai ke kampus. Ia juga mengakui bahwa beberapa perkataan orang masih menyakitinya meski bertahun-tahun telah berlalu.

“Apa Ibu menyesal punya kami?” tanya Alesha. Ria segera menggeleng dan menarik anaknya mendekat.

“Tidak pernah,” jawabnya. “Kita bisa mencintai hidup yang kita punya dan tetap bersedih karena ada jalan yang dulu tidak sempat kita tempuh.”

Kaleng Biskuit dan Sebuah Pertanyaan

Ria kemudian mengambil kaleng biskuit yang disimpannya bertahun-tahun. Ketika tutupnya dibuka, Alesha melihat uang dengan berbagai pecahan yang sebagian sudah lusuh dan diikat rapi.

“Ini buat apa, Bu?” tanyanya. Ria menjawab bahwa uang tersebut dikumpulkan agar Alesha mempunyai kesempatan melanjutkan sekolah setinggi yang ia mampu.

“Supaya aku jadi psikolog?” Alesha kembali bertanya. Pertanyaan itu membuat Ria terdiam.

Selama bertahun-tahun, tanpa sadar Ria sering membayangkan anaknya mengenakan jas almamater jurusan psikologi. Ia membayangkan Alesha menyelesaikan perjalanan yang dahulu terputus pada dirinya.

Malam itu Ria melihat sesuatu yang selama ini tidak dipikirkannya. Alesha bukan kelanjutan dari hidupnya, melainkan seorang manusia yang kelak mempunyai cita-cita dan keputusan sendiri.

“Tidak harus psikologi,” kata Ria akhirnya. “Uang ini supaya kamu bisa belajar sesuatu yang kamu pilih dengan sungguh-sungguh.”

“Kalau aku memang mau psikologi?” tanya Alesha. Ria tersenyum dan mengatakan bahwa ia tentu akan sangat bahagia.

“Kalau aku tidak mau?” Alesha bertanya sekali lagi. Ria merangkulnya dan menjawab, “Ibu tetap akan bangga kalau kamu menjadi orang baik dan bertanggung jawab.”

Mimpi yang Memilih Pemiliknya Sendiri

Tahun-tahun berikutnya memperlihatkan bahwa ketertarikan Alesha pada psikologi bukan semata-mata karena cerita ibunya. Ia mulai membaca, bertanya, dan menemukan alasannya sendiri untuk mempelajari manusia.

Ria berhati-hati agar tidak menjadikan setiap keberhasilan Alesha sebagai kelanjutan ambisinya. Ia menyediakan buku ketika mampu dan mendengarkan ketika anaknya ingin bercerita.

Menjelang akhir SMA, Alesha mendaftarkan diri ke jurusan psikologi atas keinginannya sendiri. Ria membantu menyiapkan apa yang diperlukan tanpa mengatakan bahwa anaknya wajib berhasil demi dirinya.

Hari pengumuman tiba ketika Ria sedang menyelesaikan pekerjaan di rumah. Alesha tiba-tiba berlari dari kamar sambil membawa telepon dengan tangan gemetar.

“Bu, aku diterima,” katanya dengan suara yang hampir tenggelam oleh tangis. Ria membaca pengumuman itu beberapa kali sebelum memeluk anaknya.

Ria menangis bukan karena cita-citanya sendiri akhirnya tercapai melalui Alesha. Ia menangis karena anaknya memperoleh kesempatan yang dahulu tidak pernah dimilikinya.

Jembatan yang Belum Selesai 

Kebahagiaan itu hanya berlangsung semalam sebelum kenyataan kembali meminta mereka berhitung. Ria membuka buku catatan dan mulai menuliskan kebutuhan tempat tinggal, makan, buku, transportasi, serta biaya pendidikan.

Di rumah masih ada Bima, anak keduanya yang juga berhak mendapatkan pendidikan layak. Ria pun masih membantu beberapa kebutuhan keluarga yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

Angka di halaman buku tidak mengenal rasa haru. Berapa kali pun Ria menghitung, pendapatan keluarga tetap belum cukup untuk menanggung semuanya dengan aman.

Ria menatap buku tersebut hingga larut malam. Ia baru menyadari bahwa diterima di perguruan tinggi bukan akhir perjuangan, melainkan pintu menuju perjuangan berikutnya.

Ia kemudian menambah pekerjaan dengan menerima setrikaan kiloan di rumah. Waktu istirahatnya semakin pendek dan tubuhnya mulai terasa lebih cepat lelah.

Ria tetap memaksakan diri karena merasa seorang ibu yang baik harus mampu menyelesaikan semuanya. Tanpa disadarinya, tekad perlahan berubah menjadi kebiasaan memikul beban sendirian.

Ketika Kekuatan Membutuhkan Kejujuran

Beberapa bulan kemudian, tagihan sekolah Bima datang bersamaan dengan kebutuhan kuliah Alesha. Ria duduk di antara pakaian yang belum selesai disetrika sambil memegang telepon.

Ia akhirnya menghubungi anaknya. Suaranya bergetar ketika mengatakan mungkin Alesha perlu mempertimbangkan menunda kuliah karena keadaan keluarga sedang sulit.

Di seberang telepon, Alesha tidak segera menjawab. Setelah beberapa saat, ia justru bertanya mengapa ibunya baru mengatakan keadaan sebenarnya.

“Ibu pikir ini tanggung jawab Ibu,” jawab Ria. Alesha menarik napas sebelum mengatakan bahwa pendidikannya juga merupakan tanggung jawab dirinya sendiri.

Alesha telah mencari pekerjaan ringan yang dapat dilakukan tanpa meninggalkan kuliah. Penghasilannya memang tidak besar, tetapi cukup untuk mengurangi beberapa kebutuhan hariannya.

“Bu, aku bukan anak kecil lagi,” katanya. “Kalau ini memang jalanku, aku juga harus belajar berjuang untuk menjalaninya.”

Kalimat tersebut membuat Ria terdiam. Selama ini ia begitu sibuk menjadi jembatan sampai lupa bahwa orang yang diseberangkan sudah mempunyai kaki sendiri.

Ibu Berjalan di Belakang

Sejak percakapan itu, cara Ria memandang perjuangan mereka berubah. Ia tidak lagi mengatakan bahwa dirinya sedang mewujudkan mimpi melalui Alesha.

“Jalani mimpimu dengan sungguh-sungguh,” katanya suatu hari. “Ibu akan berjalan di belakang selama Ibu masih mampu.”

Perbedaannya tampak hanya pada beberapa kata, tetapi bagi Alesha artinya sangat besar. Ia tidak lagi merasa keberhasilannya kelak harus membayar sesuatu yang gagal diperoleh ibunya.

Ria pun memahami bahwa kasih sayang tidak memberikan hak kepada orang tua untuk menentukan seluruh kehidupan anak. Tugasnya adalah menanamkan nilai, menyediakan kesempatan, dan mengingatkan ketika anak kehilangan arah.

Pilihan tetap harus dipertanggungjawabkan oleh orang yang menjalaninya. Kesadaran itu membuat hubungan mereka menjadi lebih jujur daripada sebelumnya.

Bima Tidak Boleh Terlupa

Suatu malam Ria melihat Bima mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri. Ia baru menyadari bahwa pembicaraan keluarga selama beberapa bulan terakhir hampir selalu mengenai Alesha.

Ria duduk di samping anak laki-lakinya dan menanyakan sekolahnya. Bima awalnya hanya menjawab singkat, kemudian mengaku ingin melanjutkan pendidikan seperti kakaknya suatu hari nanti.

“Bima boleh kuliah juga?” tanyanya. Pertanyaan itu membuat dada Ria terasa sesak.

“Tentu boleh,” jawab Ria. “Kakakmu punya jalan sendiri, dan Bima juga punya jalan sendiri.”

Ria memahami bahwa pendidikan seorang anak tidak boleh dibangun dengan mengabaikan anak lainnya. Keadilan dalam keluarga bukan berarti semua anak memperoleh hal yang sama pada saat bersamaan, tetapi setiap anak harus mengetahui bahwa masa depannya sama berharganya.

Sejak itu Ria mulai membicarakan keadaan keluarga dengan lebih terbuka sesuai usia anak-anaknya. Ia tetap menjaga agar persoalan orang dewasa tidak menjadi beban mereka, tetapi tidak lagi menggunakan kebohongan untuk terlihat kuat.

Sopan Santun dan Harga Diri 

Cibiran orang lain tidak otomatis berhenti ketika keluarga Ria mulai menemukan ritmenya. Masih ada yang mempertanyakan mengapa keluarga sederhana bersusah payah membiayai pendidikan tinggi seorang anak.

Dahulu Ria akan tersenyum, menunduk, kemudian membawa perkataan itu pulang. Sekarang ia memilih memberikan jawaban sederhana.

“Doakan saja, kami sedang berusaha menyekolahkan anak-anak.” Ria mengatakannya tanpa meninggikan suara dan tanpa mempermalukan orang yang berbicara kepadanya.

Ia akhirnya memahami perbedaan antara kesabaran dan ketidakberdayaan. Menjaga budi pekerti tidak berarti membiarkan orang lain menentukan harga dirinya.

Seseorang dapat tetap santun sambil menetapkan batas. Ia dapat memilih tidak membalas penghinaan tanpa harus menganggap penghinaan itu benar.

Dua Perjalanan di Sebuah Dinding

Ketika Alesha mulai menjalani perkuliahan, suatu hari ia pulang membawa foto mengenakan jas almamater. Ria mencetak foto tersebut dan menempelkannya di rumah.

Tidak jauh dari sana masih tersimpan kertas HVS yang dahulu dibuatnya ketika SMA. Tintanya mulai pudar dan ujung kertasnya tidak lagi putih.

“Kenapa kertas itu tidak dibuang, Bu?” tanya Alesha. Ria berdiri di samping anaknya sambil memandang tulisan masa mudanya.

“Karena itu bukan bukti Ibu gagal,” jawabnya. “Itu bukti bahwa Ibu pernah punya mimpi.”

Di satu dinding kini tersimpan dua perjalanan yang tidak berakhir dengan cara yang sama. Satu tidak pernah sampai ke ruang kuliah, sedangkan yang lain baru saja dimulai.

“Tidak semua mimpi harus selesai persis seperti yang kita rencanakan supaya hidup kita berarti,” kata Ria. Alesha menggenggam tangan ibunya tanpa mengatakan apa pun.

Orang yang Selama Ini Mendengarkan

Setiap pulang, Alesha sering membawa beberapa buku dari kampus dan menceritakan apa yang dipelajarinya mengenai emosi, keluarga, serta tekanan hidup. Ria biasanya mendengarkan sambil melipat pakaian atau menyelesaikan pekerjaan rumah.

Suatu malam Alesha menutup bukunya dan meminta ibunya berhenti bekerja sebentar. “Sekarang Ibu yang cerita.”

Ria tertawa karena tidak mengerti apa yang dimaksud anaknya. Alesha kemudian menanyakan apakah ibunya benar-benar baik-baik saja.

Untuk pertama kalinya Ria tidak memberikan jawaban otomatis yang selama bertahun-tahun digunakannya. Ia mengakui bahwa tubuhnya sering lelah dan terkadang dirinya takut tidak mampu memenuhi seluruh tanggung jawab.

Ria juga mengatakan pernah merasa tidak cukup baik sebagai ibu, istri, anak, dan kakak. Alesha tidak memotong pembicaraan atau buru-buru menawarkan nasihat.

Ia hanya mendengarkan sampai ibunya selesai. Dalam kesunyian itu, Ria tiba-tiba teringat ucapan guru Bimbingan Konseling puluhan tahun sebelumnya.

Dahulu seseorang mengatakan bahwa dirinya mempunyai kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi. Malam itu Ria menemukan kemampuan yang sama pada anaknya.

Bukan gelar psikologi yang membuatnya terharu. Ia melihat sebuah kebaikan telah tumbuh dari satu generasi menuju generasi berikutnya.

Jembatan Bernama Ria 

Kehidupan Ria tidak mendadak menjadi mudah setelah Alesha masuk perguruan tinggi. Ia masih bekerja, tagihan tetap datang, dan keluarga mereka tetap harus membuat banyak pilihan dengan hati-hati.

Namun rumah tersebut tidak lagi menghadapi kesulitan dengan cara yang sama. Mereka mulai membicarakan masalah dengan jujur dan membagi tanggung jawab tanpa kehilangan rasa saling menghormati.

Alesha belajar mengenai ketekunan dari ibunya, sedangkan Bima tumbuh dengan keyakinan bahwa keadaan ekonomi tidak membuat mimpinya kurang berharga. Ria sendiri akhirnya memahami bahwa kegagalan memperoleh gelar tidak pernah menghapus nilai seorang manusia.

Martabat tidak datang dari kartu mahasiswa, seragam kerja, jabatan, atau pujian orang lain. Ia tumbuh dari kejujuran ketika keadaan sulit, tanggung jawab ketika tidak ada yang memuji, dan kesediaan memperlakukan orang lain dengan baik meskipun kehidupan tidak selalu memperlakukan kita dengan lembut.

Ria dahulu mengira dirinya harus menjadi jembatan agar anak-anaknya dapat berjalan menuju masa depan. Ia bahkan bersedia menghabiskan seluruh dirinya supaya jembatan itu tidak pernah runtuh.

Belakangan ia memahami bahwa seorang ibu tidak perlu menghancurkan dirinya untuk membuktikan kasih sayang. Anak membutuhkan orang tua yang mendampingi, bukan seseorang yang menentukan seluruh jalan hidup mereka.

Ria cukup berdiri di samping ketika jalan terasa berat dan menolong ketika mereka hampir jatuh. Ketika anak-anaknya sudah mampu melangkah sendiri, ia juga harus mempunyai keberanian untuk melepaskan tangan.

Kertas HVS lama tetap berada di dinding rumah. Ria tidak lagi melihatnya sebagai daftar sesuatu yang gagal dicapai.

Kertas itu mengingatkannya bahwa kehidupan yang baik tidak selalu berarti mendapatkan semua yang pernah diinginkan. Terkadang keberhasilan justru terlihat dari manusia seperti apa yang tetap kita pilih untuk menjadi ketika kenyataan berjalan berbeda dari harapan.

Ria memilih bekerja tanpa merendahkan pekerjaannya dan mendidik tanpa menguasai masa depan anaknya. Ia memilih bersabar tanpa kehilangan harga diri serta berkata jujur ketika dirinya tidak lagi sanggup berjalan sendirian.

Mimpi yang dahulu ditulis di atas selembar HVS memang tidak terwujud sebagaimana rencana seorang gadis SMA. Namun budi baik yang tumbuh sepanjang perjalanannya telah menemukan tempat lain untuk hidup.

CATATAN PENULIS 

“Tekad Ria” merupakan karya fiksi EMMANUS yang dikembangkan dari materi mengenai seorang perempuan pekerja, keluarga, pendidikan, dan cita-cita yang tertunda. Tokoh, hubungan keluarga, dialog, pekerjaan, keadaan ekonomi, perjalanan pendidikan, serta rangkaian peristiwa di dalam cerita telah diolah untuk kebutuhan naratif dan tidak dimaksudkan sebagai penggambaran kehidupan seseorang atau keluarga tertentu.

Cerita ini tidak menempatkan keberhasilan anak sebagai kewajiban untuk menebus cita-cita orang tua. Perjalanan Ria justru bergerak menuju kesadaran bahwa kasih dan pengorbanan perlu berjalan bersama penghormatan terhadap pilihan anak, serta bahwa pekerjaan, keadaan ekonomi, dan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi bukan ukuran martabat manusia.

Nilai yang ingin dirawat melalui cerita ini adalah ketekunan, kejujuran dalam keluarga, tanggung jawab, penghormatan terhadap kerja, kesabaran tanpa kehilangan harga diri, serta budi pekerti yang tetap dijaga ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT