Jauh di pedalaman Jawadwipa, ketika kerajaan-kerajaan masih berdiri di antara pegunungan, sungai, dan hamparan hutan, terdapat sebuah desa bernama Wanasari. Sawah bertingkat membentang mengikuti lekuk perbukitan, sementara air dari mata air pegunungan mengalir melalui parit-parit kecil menuju tanah pertanian.
Kabut turun hampir setiap pagi dan menyelimuti atap rumah-rumah kayu sebelum matahari muncul dari balik bukit. Suara lesung, ayam berkokok, dan langkah para petani menuju sawah menjadi penanda dimulainya kehidupan.
Di salah satu rumah sederhana di pinggir persawahan tinggal seorang petani bernama Ki Darma bersama istrinya, Nyai Ratri. Mereka tidak mempunyai sawah luas ataupun ternak yang banyak, tetapi kehidupan sederhana itu selalu mereka syukuri.
Pasangan tersebut mempunyai seorang putri bernama Sekar Arum. Sejak kecil, wajahnya telah membuat banyak orang mengatakan bahwa kecantikannya tidak biasa.
Kulitnya bersih, rambutnya panjang dan hitam, sementara matanya teduh seperti permukaan telaga pada pagi hari. Namun Nyai Ratri selalu mengingatkan putrinya agar tidak pernah menjadikan kecantikan sebagai alasan merasa lebih tinggi.
“Wajah yang elok adalah titipan, Nduk,” katanya suatu malam. “Tetapi perangaimu adalah sesuatu yang harus kau bangun sendiri.”
Sekar Arum menyimpan nasihat itu dalam ingatannya.
Kecantikan yang Tidak Membuatnya Berubah
Ketika Sekar Arum tumbuh menjadi gadis dewasa, kabar mengenai kecantikannya mulai terdengar hingga desa-desa tetangga. Pemuda dari berbagai tempat datang dengan bermacam alasan hanya untuk melihat perempuan yang sering mereka dengar dari cerita para pedagang.
Sekar Arum tidak pernah memperlakukan perhatian tersebut sebagai sesuatu yang istimewa. Setiap pagi ia tetap membawa bakul menuju kebun, membantu ibunya menumbuk padi, kemudian mengantarkan makanan kepada ayahnya di sawah.
Suatu ketika seorang saudagar muda datang mengenakan pakaian indah dan membawa beberapa hadiah. Ia meletakkan kain serta perhiasan di hadapan Ki Darma sambil mengatakan keinginannya mempersunting Sekar Arum.
Ki Darma tidak langsung memberikan jawaban.
“Yang hendak kau nikahi adalah anakku,” katanya. “Maka tanyakan kepadanya, bukan kepadaku.”
Saudagar itu kemudian menemui Sekar Arum.
“Aku dapat memberimu rumah besar,” katanya. “Kau tidak perlu lagi turun ke sawah atau membawa bakul seperti ini.”
Sekar Arum memandang tangannya yang masih menyimpan tanah dari kebun.
“Apakah bekerja di sawah membuatku terlihat rendah?”
Saudagar tersebut kehilangan kata-kata.
Sekar Arum tersenyum dan membungkukkan kepala dengan sopan.
“Terima kasih atas niat baik Tuan, tetapi kehidupan ayah dan ibuku bukan sesuatu yang membuatku malu.”
Pelajaran dari Sebakul Beras
Pada suatu musim, hujan terlambat datang dan sebagian sawah mulai mengering. Persediaan beras setiap keluarga semakin sedikit, sementara hasil panen berikutnya belum dapat dipastikan.
Ki Darma hanya mempunyai satu lumbung kecil yang cukup untuk keluarganya hingga beberapa bulan. Namun suatu sore Sekar Arum mengetahui seorang janda tua di ujung desa sudah dua hari tidak memasak.
Ia mengambil bakul dan memasukkan sebagian beras keluarganya.
Nyai Ratri melihatnya.
“Persediaan kita juga tidak banyak, Nduk.”
Sekar Arum berhenti.
“Aku tahu, Ibu.”
Ia memandang bakul tersebut.
“Tapi malam ini kita masih bisa makan.”
Nyai Ratri tidak mengatakan apa-apa lagi.
Sekar Arum berjalan menuju rumah sang janda dan meninggalkan beras tanpa banyak berbicara. Baginya, kebaikan tidak membutuhkan banyak orang untuk mengetahuinya.
Beberapa hari kemudian hujan akhirnya turun.
Sekar Arum berdiri di depan rumah sambil melihat air membasahi tanah yang retak. Ki Darma berdiri di sampingnya dan tersenyum.
“Kau tahu mengapa Ayah tidak melarangmu memberikan beras itu?”
Sekar Arum menggeleng.
“Karena kemiskinan paling berat bukan ketika lumbung kita kosong.”
Ki Darma memandang putrinya.
“Tetapi ketika hati kita penuh dan tidak mempunyai ruang bagi orang lain.”
Raja yang Meninggalkan Mahkota
Beberapa hari perjalanan dari Wanasari berdiri Kerajaan Amartalaya yang dipimpin Prabu Jayengkara. Ia dikenal sebagai raja muda yang berusaha memahami kehidupan rakyatnya tidak hanya melalui laporan para pejabat kerajaan.
Suatu ketika ia memutuskan melakukan perjalanan ke beberapa wilayah tanpa iring-iringan kebesaran. Pakaian kerajaan ditinggalkannya dan hanya beberapa pengawal terpercaya yang mengikuti dari kejauhan.
Perjalanan itu akhirnya membawa Prabu Jayengkara menuju Wanasari.
Tidak seorang pun mengetahui siapa dirinya.
Menjelang sore, sang raja berhenti di dekat mata air dan melihat seorang perempuan sedang membantu seorang nenek mengangkat kendi. Perempuan itu kemudian berjalan kembali mengambil kendi lain tanpa menyadari dirinya sedang diperhatikan.
Perempuan tersebut adalah Sekar Arum.
Prabu Jayengkara mendekat.
“Apakah nenek itu keluargamu?”
Sekar Arum menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu mengapa kau membawakan airnya?”
Sekar Arum terlihat bingung dengan pertanyaan tersebut.
“Karena kendinya berat.”
Jawaban itu begitu sederhana hingga Prabu Jayengkara tidak mengetahui apa lagi yang harus ditanyakan.
Pertemuan di Pinggir Sawah
Hari berikutnya Prabu Jayengkara kembali melihat Sekar Arum membawa makanan menuju persawahan. Ia kemudian berjalan mendekat dan menawarkan diri membantu membawa salah satu bakul.
Sekar Arum tertawa kecil.
“Tangan Tuan terlihat tidak pernah memegang cangkul.”
Prabu Jayengkara melihat telapak tangannya sendiri.
“Kelihatan sekali?”
“Sedikit.”
Mereka tertawa.
Prabu Jayengkara kemudian memperkenalkan dirinya hanya sebagai Jaya, seorang pengelana dari kota kerajaan. Sekar Arum tidak bertanya lebih jauh karena baginya setiap orang mempunyai alasan sendiri untuk melakukan perjalanan.
Mereka duduk di bawah pohon setelah makanan diberikan kepada Ki Darma.
“Apa yang paling kau inginkan dalam hidup?” tanya Jaya.
Sekar Arum berpikir cukup lama.
“Ayah dan Ibu sehat.”
“Hanya itu?”
“Untuk sekarang, iya.”
Jaya kembali bertanya.
“Tidak ingin tinggal di istana?”
Sekar Arum tertawa.
“Untuk apa?”
“Bukankah kehidupan di sana lebih nyaman?”
Sekar Arum memandang hamparan sawah.
“Mungkin.”
Ia kemudian menunjuk seorang petani yang sedang membetulkan pematang.
“Tetapi kalau semua orang ingin tinggal di istana, siapa yang menanam makanan untuk orang-orang di dalamnya?”
Untuk kedua kalinya, Prabu Jayengkara tidak mempunyai jawaban.
Ketika Raja Belajar dari Petani
Prabu Jayengkara tinggal beberapa hari lebih lama di Wanasari. Semakin lama berada di sana, semakin ia menyadari banyak hal yang tidak pernah muncul dalam laporan pejabat kerajaan.
Ia melihat petani harus berjalan jauh ketika saluran air rusak. Ia mengetahui pungutan kecil yang terlihat ringan dalam catatan istana dapat terasa sangat berat bagi keluarga yang gagal panen.
Sekar Arum tidak pernah mengetahui bahwa orang yang mendengarkan keluhan mereka sebenarnya adalah rajanya sendiri. Karena itulah setiap perkataan yang keluar darinya tidak dibuat untuk menyenangkan penguasa.
“Kalau kau menjadi raja, apa yang akan kau lakukan?” tanya Jaya suatu sore.
Sekar Arum tertawa.
“Pertanyaanmu semakin aneh.”
“Anggap saja permainan.”
Sekar Arum kemudian memandang sawah.
“Aku akan lebih sering bertanya kepada orang yang kakinya terkena lumpur.”
“Mengapa?”
“Karena orang yang setiap hari duduk di tempat kering mungkin lupa betapa dinginnya lumpur.”
Prabu Jayengkara menundukkan kepala.
Kalimat sederhana seorang anak petani itu tinggal jauh lebih lama dalam pikirannya daripada banyak nasihat yang pernah didengarnya di balairung kerajaan.
Perpisahan yang Menyimpan Rahasia
Suatu pagi Jaya mengatakan dirinya harus kembali ke kota. Sekar Arum memberinya bungkusan kecil berisi makanan untuk perjalanan.
“Hanya singkong rebus.”
Prabu Jayengkara menerimanya dengan kedua tangan.
“Ini lebih berharga daripada banyak jamuan yang pernah kumakan.”
Sekar Arum tertawa karena menganggapnya bercanda.
Sebelum pergi, Prabu Jayengkara menoleh.
“Kalau suatu hari aku kembali dengan penampilan berbeda, apakah kau masih akan mengenaliku?”
Sekar Arum mengerutkan kening.
“Aku mengenal orang dari caranya berbicara, bukan pakaiannya.”
Prabu Jayengkara tersenyum.
Ia kemudian meninggalkan Wanasari.
Sekar Arum tidak mengetahui bahwa beberapa hari kemudian lelaki yang dikenalnya sebagai Jaya kembali duduk di atas singgasana Kerajaan Amartalaya.
Rombongan Kerajaan Datang ke Wanasari
Beberapa pekan kemudian suara kuda dan langkah prajurit terdengar memasuki Wanasari. Penduduk berhamburan keluar ketika melihat panji kerajaan bergerak di sepanjang jalan desa.
Ki Darma segera memanggil Sekar Arum.
“Sepertinya ada pejabat kerajaan datang.”
Namun yang turun dari kuda bukan seorang pejabat.
Sekar Arum membeku.
Lelaki yang dahulu duduk bersamanya di pinggir sawah kini mengenakan busana seorang raja.
“Jaya?”
Beberapa penduduk terkejut mendengar Sekar Arum memanggil rajanya hanya dengan nama.
Prabu Jayengkara tersenyum.
“Sekarang kau tahu mengapa tanganku tidak pernah memegang cangkul.”
Sekar Arum segera membungkuk.
“Ampun, Paduka.”
Prabu Jayengkara mendekatinya.
“Tidak ada yang harus dimaafkan.”
Ia memandang Ki Darma dan Nyai Ratri.
“Justru selama berada di desa ini, putri kalian berbicara kepadaku sebagaimana manusia berbicara kepada manusia lain.”
Lamaran Seorang Raja
Kedatangan Prabu Jayengkara ternyata bukan sekadar kunjungan. Di hadapan Ki Darma dan Nyai Ratri, ia menyampaikan keinginannya mempersunting Sekar Arum.
Seluruh desa terkejut.
Namun Ki Darma tidak segera membungkuk menyetujui permintaan rajanya.
“Paduka adalah raja kami.”
Prabu Jayengkara mengangguk.
“Tetapi Sekar Arum tetap anak kami.”
Ki Darma kemudian menatap putrinya.
“Biarkan dia memilih.”
Prabu Jayengkara justru tersenyum mendengar keberanian petani tersebut.
Ia kemudian berdiri di hadapan Sekar Arum.
“Aku tidak datang mengambilmu karena aku seorang raja.”
Sekar Arum menatapnya.
“Aku datang meminta apakah kau bersedia berjalan bersamaku.”
Sekar Arum tidak langsung menjawab.
“Kalau aku ikut ke istana, bolehkah aku tetap menjadi anak petani?”
Prabu Jayengkara mengangguk.
“Justru itulah perempuan yang ingin kubawa ke istana.”
Putri Petani Memasuki Istana
Perjalanan Sekar Arum menuju istana membuat masyarakat di sepanjang jalan keluar untuk melihat calon pendamping raja. Banyak orang ingin melihat kecantikan perempuan desa yang membuat Prabu Jayengkara datang sendiri melamarnya.
Namun kehidupan di istana tidak semudah cerita yang beredar di luar temboknya.
Sebagian bangsawan mempertanyakan asal-usul Sekar Arum.
“Seorang anak petani akan menjadi permaisuri?”
Sekar Arum mendengar perkataan itu.
Ia tidak membalas.
Ketika seorang pelayan menanyakan mengapa dirinya diam, Sekar Arum hanya tersenyum.
“Ayahku memang petani.”
Ia kemudian merapikan kainnya.
“Kalau itu dianggap penghinaan, aku justru tidak tahu bagian mana yang harus membuatku malu.”
Ujian Pertama Sang Permaisuri
Setelah menjadi permaisuri, Sekar Arum tidak meminta perhiasan atau bangunan baru. Permintaan pertamanya kepada Prabu Jayengkara justru membuat para pejabat kerajaan terkejut.
Ia meminta sang raja memperbaiki saluran air menuju desa-desa pertanian.
“Bukankah itu urusan pejabat wilayah?” tanya seorang menteri.
Sekar Arum menjawab dengan tenang.
“Benar.”
Ia memandang sang menteri.
“Karena itu saya ingin mengetahui mengapa urusan tersebut belum selesai.”
Ruangan menjadi sunyi.
Prabu Jayengkara menahan senyum.
Permaisurinya ternyata membawa sesuatu dari desa yang tidak pernah dapat diberikan oleh pendidikan istana.
Ia mengetahui bagaimana keputusan kerajaan terasa di dapur rakyat.
Ketika Kemewahan Tidak Mengubah Hati
Tahun-tahun berlalu dan Sekar Arum mulai terbiasa dengan kehidupan kerajaan. Namun ia tetap meminta beras dari hasil panen Wanasari dikirim kepadanya setiap musim.
Bukan karena beras desa tersebut lebih enak.
Ia hanya tidak ingin lupa dari mana dirinya berasal.
Suatu hari seorang bangsawan bertanya mengapa seorang permaisuri masih sering berbicara dengan petani yang datang membawa hasil bumi.
Sekar Arum tersenyum.
“Karena sebelum orang memanggilku Permaisuri, aku adalah anak seorang petani.”
Ia kemudian memandang hamparan halaman istana.
“Mahkota hanya mengubah bagaimana orang memanggilku.”
Tangannya menyentuh dadanya.
“Jangan sampai ia mengubah siapa diriku.”
Kecantikan yang Sebenarnya Dilihat Sang Raja
Pada suatu senja Prabu Jayengkara dan Sekar Arum berjalan melewati taman kerajaan. Rambut Sekar Arum mulai menunjukkan beberapa helai putih setelah bertahun-tahun kehidupan berlalu.
“Dulu orang mengatakan aku menikahimu karena kecantikanmu,” ujar sang raja.
Sekar Arum tertawa.
“Apakah mereka salah?”
Prabu Jayengkara ikut tertawa.
“Mungkin tidak sepenuhnya.”
Ia kemudian berhenti.
“Tetapi aku jatuh hati ketika melihatmu membawa kendi seorang nenek yang bahkan bukan keluargamu.”
Sekar Arum memandangnya.
“Jadi bukan wajahku?”
“Aku melihat wajahmu lebih dahulu.”
Prabu Jayengkara tersenyum.
“Tetapi kebaikanmu membuatku ingin melihatmu lebih lama.”
Sekar Arum tidak menjawab.
Untuk sesaat, perempuan yang dahulu berjalan tanpa alas kaki di pematang sawah itu kembali melihat dirinya sebagai gadis desa yang membawa bakul makanan untuk ayahnya.
Permaisuri yang Tidak Dilahirkan di Istana
Sekar Arum akhirnya dikenal rakyat bukan karena kecantikannya saja. Orang-orang mulai mengenangnya sebagai permaisuri yang memahami mengapa panen, air, dan kehidupan desa tidak pernah boleh dianggap persoalan kecil.
Ia tidak dilahirkan di dalam istana.
Tidak ada darah bangsawan yang membuatnya lebih tinggi daripada perempuan lain.
Ia juga tidak menjadi mulia ketika mahkota diletakkan di kepalanya.
Jauh sebelum mengenal raja, Sekar Arum telah belajar menghormati orang tua, membantu tetangga, berbagi makanan, bekerja bersama keluarganya, dan tidak malu menjadi anak petani.
Istana hanya membuat lebih banyak orang melihat sifat yang sebelumnya telah dikenal oleh masyarakat Wanasari.
Dan mungkin di situlah letak pesan perjalanan Sekar Arum.
Kecantikan memang dapat membuat seseorang menoleh.
Kedudukan dapat membuat ribuan manusia membungkuk.
Tetapi tidak satu pun menjamin seseorang akan dihormati setelah semuanya hilang.
Sekar Arum pernah menjadi anak petani.
Kemudian ia menjadi permaisuri.
Namun di antara dua kehidupan tersebut, ada sesuatu yang tidak pernah berubah.
Budi pekertinya.
Dan ketika waktu akhirnya mengambil kecantikan, kemudaan, bahkan kemegahan sebuah kerajaan, itulah satu-satunya mahkota yang tidak pernah dapat dilepaskan dari dirinya.
CATATAN REDAKSI
Sekar Arum, Ki Darma, Nyai Ratri, Prabu Jayengkara, Desa Wanasari, dan Kerajaan Amartalaya merupakan tokoh serta tempat fiktif yang diciptakan untuk cerita ini. Latar Jawadwipa digunakan sebagai dunia fiksi yang terinspirasi suasana kehidupan agraris dan kerajaan Nusantara, bukan sebagai rekonstruksi suatu kerajaan atau periode sejarah tertentu.
Cerita ini mengeksplorasi nilai budi pekerti, kesederhanaan, penghormatan terhadap orang tua, kepedulian kepada sesama, serta tanggung jawab seorang pemimpin terhadap rakyat. Perjalanan Sekar Arum menjadi permaisuri tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa kedudukan menentukan nilai seseorang; justru karakter yang telah dibangunnya sejak hidup sebagai anak petani menjadi inti perjalanan tokoh.
Unsur kehidupan desa, kerajaan, tata sosial, pakaian, arsitektur, dan kebiasaan dalam cerita digunakan untuk membangun dunia fiksi bernuansa Jawa-Nusantara. Detail tersebut tidak dimaksudkan sebagai keterangan sejarah mengenai masyarakat Jawa pada satu masa tertentu.






