Perjalanan panjang dari tanah Melayu membawa Dara Petak menuju sebuah dunia yang tidak pernah benar-benar dikenalnya. Ketika rombongan yang membawanya mencapai Jawa, kerajaan yang menjadi tujuan perjalanan mereka bahkan telah mengalami perubahan besar.
Singasari telah runtuh dan kekuasaan baru bernama Majapahit mulai tumbuh di bawah Raden Wijaya. Dara Petak yang semula dibawa dalam rangka hubungan politik kemudian berada di tengah lingkungan kerajaan yang sedang membangun masa depannya.
Orang-orang memperhatikan Dara Petak ketika ia berjalan melewati halaman istana. Parasnya membuat sebagian orang berbisik, tetapi ia memahami bahwa kekaguman adalah sesuatu yang dapat datang dan pergi dengan cepat.
“Semua orang melihatmu,” ujar seorang perempuan yang mendampinginya.
Dara Petak tersenyum tipis. “Mereka melihat wajahku, belum tentu mereka mengenalku.”
Perempuan itu terdiam mendengar jawabannya. Dara Petak kemudian melanjutkan langkah tanpa menoleh kepada orang-orang yang masih memperhatikannya.
Di negeri asalnya, ia telah diajarkan bahwa seorang bangsawan membawa nama keluarga ke mana pun dirinya pergi. Karena itu, pakaian indah dan paras rupawan tidak pernah dianggap cukup untuk menentukan martabat seseorang.
Hari-hari pertamanya di Jawa membuat pelajaran tersebut terasa semakin penting. Dara Petak kini hidup di lingkungan yang setiap senyum, perkataan, bahkan diam seseorang dapat memiliki arti.
Istana yang Tidak Hanya Dipenuhi Keindahan
Majapahit yang baru tumbuh bukanlah tempat yang sepenuhnya tenang. Di balik bangunan kerajaan dan upacara kebesaran terdapat hubungan keluarga, kepentingan politik, kesetiaan, serta ingatan mengenai Singasari yang belum benar-benar hilang.
Raden Wijaya memiliki hubungan perkawinan dengan putri-putri Kertanagara, raja terakhir Singasari. Nagarakretagama menyebut empat putri Kertanagara dalam lingkungan perkawinannya, sementara sumber lain memberikan rincian berbeda mengenai keluarga Raden Wijaya.
Dara Petak mengetahui dirinya datang ke tempat yang mempunyai sejarah sebelum dirinya tiba. Ia tidak ingin kehadirannya membuat perempuan-perempuan lain merasa seolah perjalanan mereka dapat dihapus hanya karena seorang pendatang baru memperoleh perhatian.
Suatu sore, seorang pelayan memujinya ketika sedang membantu mempersiapkan pakaian. “Tidak mengherankan jika orang-orang istana membicarakan kecantikan Gusti.”
Dara Petak menatap pantulan dirinya.
“Wajah ini akan menua.”
Pelayan tersebut tersenyum karena mengira sang putri sedang merendahkan diri. Dara Petak justru terlihat serius.
“Kalau satu-satunya alasan orang menghormatiku adalah wajah ini, berarti suatu hari aku akan kehilangan seluruh kehormatan itu.”
Kalimat tersebut kemudian tinggal dalam pikirannya sendiri. Ia mulai memahami bahwa kehidupan istana memberikan kesempatan besar kepada seseorang untuk dikenal, tetapi juga godaan besar untuk hidup hanya dari kekaguman orang lain.
Ketika Raden Wijaya Memperhatikannya
Kecantikan Dara Petak memang menjadi bagian menonjol dalam berbagai penuturan populer mengenai dirinya. Sejumlah kisah kemudian menggambarkan bagaimana ia memperoleh perhatian khusus dari Raden Wijaya dan mendapat kedudukan penting di lingkungan istana.
Namun bagi Dara Petak dalam pengembangan cerita ini, perhatian seorang raja tidak serta-merta dianggap sebagai kemenangan. Ia justru menyadari bahwa semakin dekat seseorang dengan pusat kekuasaan, semakin besar pula tanggung jawab menjaga dirinya.
Suatu malam Raden Wijaya bertanya mengapa Dara Petak tidak pernah terlihat berusaha menarik perhatian ketika banyak orang di istana berlomba memperoleh kedekatan dengannya. Dara Petak menundukkan kepala sebentar sebelum menjawab.
“Karena perhatian Paduka adalah milik Paduka sendiri.”
Raden Wijaya mengerutkan kening.
“Aku tidak berhak memaksanya datang kepadaku.”
Jawaban itu membuat sang raja terdiam. Ia mungkin terbiasa mendengar pujian, tetapi perempuan di hadapannya justru berbicara mengenai batas.
Dara Petak kemudian mengatakan bahwa kedekatan yang diperoleh dengan menjatuhkan orang lain tidak pernah benar-benar menjadi kehormatan. Seseorang mungkin memenangkan perhatian, tetapi pada saat yang sama dapat kehilangan dirinya sendiri.
Cermin yang Tidak Pernah Memberikan Jawaban
Pada suatu pagi Dara Petak duduk di depan cermin perunggu ketika seorang pelayan menata rambutnya. Cahaya matahari menyentuh wajah yang selama ini menjadi bahan pembicaraan banyak orang.
“Apakah Gusti tidak senang disebut perempuan paling cantik?” tanya pelayan itu.
Dara Petak tersenyum.
“Siapa yang menentukan paling cantik?”
Pelayan tersebut kebingungan.
“Hari ini mungkin mereka mengatakan aku cantik,” lanjut Dara Petak. “Besok akan datang perempuan lain yang lebih muda, dan orang-orang mungkin mengatakan hal yang sama kepadanya.”
Ia kemudian menyentuh permukaan cermin.
“Kalau hidupku dibangun dari pujian, aku akan menghabiskan umur dengan ketakutan kehilangan pujian itu.”
Pelayan tersebut berhenti menata rambutnya. Untuk pertama kalinya ia memahami bahwa kecantikan dapat menjadi anugerah sekaligus ujian bagi seseorang yang terus-menerus dinilai melalui penampilannya.
Dara Petak kemudian berdiri dan meninggalkan cermin.
Ia tidak ingin membenci kecantikan yang diberikan kepadanya. Ia hanya tidak ingin membiarkan kecantikan menjadi satu-satunya hal yang menentukan siapa dirinya.
Perempuan-Perempuan di Sekitar Takhta
Hidup di lingkungan istana mempertemukan Dara Petak dengan perempuan-perempuan yang masing-masing membawa perjalanan sendiri. Mereka bukan sekadar nama yang berada di sekitar seorang raja, melainkan bagian dari jaringan keluarga dan legitimasi yang ikut membentuk Majapahit awal.
Dalam dramatisasi cerita ini, Dara Petak menyadari bahwa persaingan akan mudah tumbuh apabila setiap perempuan mengukur harga dirinya dari perhatian seorang lelaki. Istana akan menjadi tempat yang sangat sempit jika kebahagiaan seseorang selalu ditentukan oleh siapa yang paling diperhatikan.
Suatu hari ia mendengar seseorang membandingkan kecantikannya dengan perempuan lain di lingkungan istana. Dara Petak segera menghentikan percakapan tersebut.
“Jangan meninggikan aku dengan merendahkan perempuan lain.”
Orang yang berbicara kepadanya terdiam.
“Kalau pujian untukku membutuhkan penghinaan kepada orang lain, aku tidak membutuhkannya.”
Dara Petak kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Ia mengetahui bahwa dirinya tidak dapat menghentikan seluruh persaingan di lingkungan kerajaan, tetapi setidaknya ia dapat menentukan bagaimana dirinya ikut berada di dalamnya.
Kecantikan dan Kekuasaan
Semakin lama Dara Petak berada di istana, semakin jelas ia melihat bahwa kecantikan dapat memiliki kekuatan. Seseorang yang menarik perhatian lebih mudah didengar, lebih mudah diingat, bahkan terkadang memperoleh kesempatan yang tidak diberikan kepada orang lain.
Namun kekuatan seperti itu memiliki batas.
Rupa dapat membuat pintu terbuka, tetapi tidak mengajarkan seseorang apa yang harus dilakukan setelah memasuki ruangan. Kecantikan dapat mengundang perhatian seorang raja, tetapi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan untuk hidup di tengah kekuasaan.
Dara Petak mulai berhati-hati dengan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Ia mengetahui sebuah kalimat yang diucapkan di dekat takhta dapat bergerak jauh melampaui orang yang pertama kali mendengarnya.
“Bukankah menyenangkan mempunyai pengaruh?” seseorang pernah bertanya kepadanya.
Dara Petak memandang orang itu cukup lama.
“Pengaruh menjadi berbahaya ketika kita mulai menikmatinya lebih daripada memikirkan akibatnya.”
Baginya, semakin besar kesempatan seseorang memengaruhi keputusan, semakin besar pula kewajiban untuk mengendalikan dirinya. Kekuasaan yang tidak dibatasi budi hanya akan membuat keinginan pribadi terlihat seperti kebenaran.
Ketika Seorang Anak Mengubah Segalanya
Nama Dara Petak kemudian berkaitan erat dengan Jayanegara dalam sejumlah tradisi penulisan sejarah. Pararaton menghubungkannya sebagai ibu Jayanegara, sedangkan Nagarakretagama menyebut ibu Jayanegara sebagai Indreswari, yang oleh sejumlah penafsiran dikaitkan dengan nama resmi Dara Petak.
Sumber pendidikan pemerintah juga menunjukkan adanya perbedaan tradisi mengenai silsilah tersebut. Karena itu, hubungan ini perlu dibaca dengan menyadari bahwa sumber-sumber sejarah tidak seluruhnya memberikan keterangan identik.
Dalam pengembangan fiksi ini, menjadi seorang ibu mengubah cara Dara Petak memandang kedudukannya.
Ia tidak lagi bertanya bagaimana orang akan mengingat kecantikannya.
Ia mulai bertanya dunia seperti apa yang akan diwariskan kepada anaknya.
Pada suatu malam ia memandang anak yang tertidur dan membayangkan hari ketika orang-orang akan memberitahunya bahwa dirinya adalah keturunan seorang raja. Dara Petak mengetahui kalimat semacam itu dapat membuat seorang anak tumbuh dengan tanggung jawab atau justru kesombongan.
“Jangan pernah merasa lebih tinggi hanya karena tempatmu dilahirkan,” bisiknya.
Anak itu tentu belum memahami apa pun.
Namun Dara Petak tetap berbicara.
“Kalau suatu hari orang membungkuk kepadamu, ingatlah bahwa mereka tetap manusia yang mempunyai harga diri.”
Budi yang Tidak Terlihat dari Wajah
Tahun-tahun berjalan dan Dara Petak mulai memahami bahwa kehidupan tidak pernah menanyakan apakah seseorang siap menjadi tua. Wajah yang dahulu membuat orang berhenti berbicara ketika dirinya memasuki ruangan perlahan akan berubah sebagaimana wajah manusia lainnya.
Anehnya, pemikiran tersebut tidak lagi menakutkannya.
Dara Petak pernah hidup ketika orang membicarakan parasnya. Jika pada akhir kehidupan mereka hanya mengingat kecantikannya, baginya itu justru berarti ia belum meninggalkan sesuatu yang cukup berarti.
Ia ingin dikenang melalui bagaimana dirinya memperlakukan orang yang tidak mempunyai kekuasaan. Ia ingin seorang pelayan merasa tetap manusia ketika berbicara dengannya, seorang prajurit merasa pengorbanannya dilihat, dan seorang perempuan lain tidak perlu merasa lebih rendah hanya karena dibandingkan dengannya.
Kecantikan tidak salah.
Pujian juga tidak salah.
Yang berbahaya adalah ketika manusia mulai percaya bahwa sesuatu yang tampak di wajah memberinya nilai lebih tinggi daripada manusia lain.
Percakapan tentang Masa yang Akan Datang
Dalam sebuah senja yang sepenuhnya merupakan dramatisasi EMMANUS, Dara Petak berdiri memandang halaman kerajaan bersama seorang perempuan tua yang telah lama mengabdi di lingkungan istana. Mereka melihat anak-anak berlari tanpa mengetahui rumitnya dunia orang dewasa di balik dinding kerajaan.
“Kelak orang akan menulis tentang orang-orang di tempat ini,” ujar perempuan tua itu.
Dara Petak tertawa kecil.
“Mereka mungkin bahkan tidak mengenal kita dengan benar.”
“Lalu apa yang Gusti ingin mereka ingat?”
Dara Petak tidak segera menjawab.
Angin menggerakkan ujung kainnya sementara matahari perlahan turun di balik bangunan kerajaan.
“Jangan kecantikanku.”
Perempuan tua itu menoleh.
“Kalau mereka ingin mengingatku, semoga mereka mengingat bahwa seorang perempuan tidak menjadi berharga karena seorang raja memilihnya.”
Ia berhenti sejenak.
“Seorang perempuan berharga bahkan sebelum siapa pun memilihnya.”
Wajah Akan Menua, Budi Akan Dikenang
Berabad-abad kemudian, Dara Petak memang masih muncul dalam pembicaraan mengenai awal Majapahit. Namanya berkelindan dengan Ekspedisi Pamalayu, Raden Wijaya, lingkungan istana Majapahit, dan perdebatan mengenai garis keturunan Jayanegara.
Sebagian kisah populer memilih menonjolkan kecantikannya dan bagaimana Raden Wijaya terpikat kepadanya. Namun bila cerita itu dibaca kembali untuk generasi sekarang, kecantikan tidak harus menjadi akhir dari pembicaraan mengenai seorang perempuan.
Kita dapat menjadikannya pintu untuk membicarakan sesuatu yang lebih penting.
Manusia tidak dapat memilih wajah ketika dilahirkan.
Seseorang juga tidak dapat memastikan bagaimana orang lain menilai penampilannya.
Tetapi manusia dapat memilih bagaimana berbicara kepada orang lain, bagaimana memperlakukan mereka yang lebih lemah, bagaimana menggunakan pengaruh, dan bagaimana bersikap ketika memperoleh kedudukan.
Di situlah budi luhur memperoleh tempatnya.
Kecantikan dapat menarik pandangan dalam beberapa detik. Budi membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dikenali, tetapi justru itulah yang dapat tinggal ketika wajah tidak lagi berada di hadapan kita.
Dara Petak dalam cerita ini akhirnya tidak perlu memilih antara menjadi cantik atau berbudi. Persoalannya bukan menolak kecantikan, melainkan memahami bahwa kecantikan hanyalah salah satu bagian kecil dari seorang manusia.
Wajah akan berubah.
Kedudukan dapat berpindah.
Istana bahkan dapat menjadi reruntuhan.
Namun kebaikan yang pernah diberikan kepada manusia lain mempunyai cara sendiri untuk bertahan dalam ingatan.
Dan mungkin itulah kecantikan yang paling sulit dirampas oleh waktu.
CATATAN REDAKSI
Tulisan ini merupakan fiksi edukasi EMMANUS yang dikembangkan dari tokoh sejarah Dara Petak dan konteks awal Kerajaan Majapahit. Keberadaan Dara Petak sebagai putri Melayu yang kemudian menjadi bagian dari keluarga Raden Wijaya memiliki dasar dalam sumber sejarah, tetapi sumber-sumber seperti Pararaton, Nagarakretagama, prasasti, dan penafsiran sejarah modern tidak selalu memberikan keterangan yang identik mengenai kedudukan para istri Raden Wijaya maupun garis ibu Jayanegara.
Dialog Dara Petak, percakapan dengan Raden Wijaya, pelayan, perempuan istana, nasihat kepada anak, pemikiran mengenai kecantikan, serta berbagai adegan personal dalam tulisan ini merupakan dramatisasi kreatif EMMANUS. Adegan tersebut tidak dimaksudkan sebagai kutipan atau peristiwa sejarah yang tercatat.
Pengembangan cerita sengaja tidak menempatkan kehidupan intim Raden Wijaya sebagai pusat penceritaan. EMMANUS menggunakan tema kecantikan Dara Petak sebagai pintu masuk untuk membicarakan budi luhur, harga diri perempuan, pengendalian pengaruh, penghormatan terhadap sesama, dan gagasan bahwa nilai manusia tidak berhenti pada rupa maupun kedudukannya.






