Pagi belum sepenuhnya datang ketika Ki Jagabaya membuka pintu rumah dan berdiri di ambang sambil memandang lereng Merapi. Biasanya kabut tipis turun hingga ke halaman pada jam seperti itu, membuat pucuk rumput basah dan udara Tlogolele menusuk hingga ke tulang.
Namun pagi itu ia tidak merasakan dingin. Udara terasa hangat dan pengap, terlalu panas untuk sebuah pagi di desa yang berada di lereng gunung.
Ki Jagabaya melangkah ke halaman dan mengangkat wajahnya, membiarkan angin menyentuh kulit. Dari arah hutan terdengar suara ranting patah, disusul gerakan cepat di antara semak.
Seekor kijang muncul dari pepohonan dan berlari melintasi ujung kebun. Hewan itu tidak berhenti meskipun biasanya kijang akan menghindari kawasan yang dekat dengan rumah penduduk.
“Pak!”
Ki Jagabaya menoleh ketika Jaka, anak lelakinya, berlari dari belakang rumah. Anak itu menunjuk ke arah pepohonan dengan wajah tegang.
“Lihat di sana.”
Dua ekor monyet bergerak tergesa dari satu dahan menuju dahan lainnya. Arah gerakan mereka bukan menuju hutan yang lebih dalam, melainkan turun mendekati desa.
“Mereka turun lagi,” kata Jaka.
Ki Jagabaya tidak menjawab dan hanya menatap puncak Merapi yang sebagian tertutup kabut. Ingatannya kembali kepada cerita orang-orang tua tentang binatang yang terkadang meninggalkan hutan ketika keadaan di atas gunung berubah.
“Ayah?”
“Bangunkan ibumu.”
Jaka mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Lakukan saja.”
Nada suara ayahnya membuat Jaka berhenti bertanya. Anak itu segera berlari masuk sementara Ki Jagabaya tetap berdiri menghadap gunung.
Merapi tampak diam dari kejauhan. Justru ketenangan itulah yang membuat dada Ki Jagabaya terasa tidak nyaman.
Gunung yang Memberi Kehidupan
Tlogolele telah hidup bersama Merapi selama beberapa generasi. Penduduk menanam sayuran, memelihara ternak, mengambil rumput, dan membangun kehidupan dari tanah subur yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan gunung.
Bagi mereka, Merapi bukan sekadar ancaman. Gunung itu merupakan bagian dari bentang kehidupan yang memberikan tanah subur sekaligus menuntut manusia memahami bahayanya.
Orang-orang tua selalu mengingatkan anak-anak agar tidak menganggap gunung sebagai sesuatu yang dapat ditaklukkan. Manusia boleh tinggal di lerengnya, tetapi alam tetap memiliki kekuatan yang jauh melampaui manusia.
Matahari perlahan muncul dari balik perbukitan. Bukannya membawa kesejukan, sinarnya justru membuat udara semakin pengap.
Beberapa warga mulai keluar rumah setelah melihat binatang turun dari hutan. Mereka berkumpul di jalan sambil menunjuk ke arah pepohonan.
“Ada apa dengan mereka?” tanya seorang perempuan.
“Barangkali ada macan di atas,” jawab seorang lelaki.
“Kalau macan, tidak mungkin sebanyak itu yang turun.”
Ki Jagabaya berjalan mendekati mereka. Sebagai pemimpin desa, ia terbiasa menjadi orang pertama yang dicari ketika terjadi sesuatu yang tidak biasa.
“Jangan ada yang masuk terlalu jauh ke hutan hari ini,” katanya.
Seorang lelaki yang membawa sabit segera mengangkat tangan. “Rumput ternak bagaimana, Ki?”
“Ambil yang dekat desa saja.”
“Merapi?”
Pertanyaan itu membuat semua orang terdiam. Ki Jagabaya menoleh ke arah puncak sebelum menjawab.
“Kita perhatikan.”
Tidak ada yang membantah. Namun kegelisahan mulai menyebar dari satu rumah menuju rumah lainnya.
Pesan Mbah Wiranta
Menjelang siang, seorang lelaki tua bernama Mbah Wiranta datang ke rumah Ki Jagabaya. Langkahnya sudah lambat, tetapi matanya masih tajam memperhatikan perubahan alam di sekelilingnya.
“Kau melihat binatang turun?” tanyanya.
“Sejak sebelum matahari muncul,” jawab Ki Jagabaya.
“Udara?”
“Panas.”
Mbah Wiranta duduk di beranda tanpa meminta izin. Ia mengambil tembakau dari kantong kecil, tetapi mengurungkan niat menyalakannya setelah melihat puncak gunung.
“Dulu bapakku pernah melihat keadaan seperti ini.”
Ki Jagabaya menoleh. “Apa yang terjadi?”
“Merapi mengeluarkan apa yang disimpannya.”
Ki Jagabaya kembali menatap gunung. “Kita belum tahu apakah kali ini akan sama.”
“Benar, karena itu jangan membuat orang takut sebelum kita mengetahui keadaan.”
Pesan tersebut terdengar sederhana, tetapi Ki Jagabaya memahami maksudnya. Ketakutan dapat bergerak dari mulut ke mulut jauh lebih cepat daripada informasi yang benar.
“Aku akan meminta beberapa orang berjaga.”
Mbah Wiranta mengangguk. “Dan kalau keadaan berubah?”
“Kita bawa warga menjauh.”
Lelaki tua itu memandang Ki Jagabaya cukup lama. “Jangan menunggu gunung berbicara terlalu keras, Jaga.”
Ki Jagabaya terdiam mendengar pesan itu. Ada sesuatu dalam suara Mbah Wiranta yang membuat kegelisahannya semakin kuat.
Gemuruh dari Puncak Merapi
Tidak lama setelah Mbah Wiranta meninggalkan rumah, tanah terasa bergetar halus. Gelas teh di atas meja bergerak dan membentuk lingkaran kecil pada permukaannya.
“Jaka!”
Anaknya segera keluar. “Ada apa, Pak?”
“Kau merasakannya?”
Jaka mengangguk.
Belum sempat mereka berbicara lagi, suara gemuruh terdengar dari arah gunung. Suara itu rendah dan panjang, seolah datang dari tempat yang sangat dalam.
Orang-orang mulai keluar rumah. Beberapa berdiri di tengah jalan sambil menatap puncak.
“Ki Jagabaya!”
Seseorang berteriak memanggilnya. Ki Jagabaya berlari menuju tempat terbuka dan mendongakkan kepala.
Asap tebal mulai terlihat dari arah puncak Merapi. Dalam hitungan detik suara warga bersahutan.
“Merapi!”
“Merapi meletus!”
Ketenangan desa berubah menjadi kegaduhan. Seorang ibu menarik anak-anaknya masuk rumah sementara para lelaki berteriak memanggil anggota keluarga.
Ki Jagabaya mengangkat kedua tangannya. “Jangan berlari sendiri-sendiri!”
Tidak banyak yang mendengarnya. Suara manusia, ayam, kambing, dan anjing bercampur dengan gemuruh dari arah gunung.
Pandangan Ki Jagabaya jatuh pada kentongan besar yang tergantung di gardu desa. Ia berpikir benda itu dapat membuat semua warga berhenti dan memperhatikan perintahnya.
Ki Jagabaya mengambil pemukul. Tanpa menunggu lebih lama, ia mengayunkannya.
Kentongan Pertama Berbunyi
Tong!
Bunyi pertama menggema di antara rumah-rumah. Beberapa orang langsung berhenti dan menoleh.
Tong! Tong! Tong!
Ki Jagabaya memukul kentongan lebih keras. Ia berharap warga berkumpul seperti ketika alat tersebut digunakan untuk memanggil penduduk menghadiri pertemuan desa.
Namun keadaan hari itu berbeda. Orang-orang sudah diliputi ketakutan.
“Bahaya!”
Seseorang berteriak dari ujung jalan. “Semua lari!”
Ki Jagabaya berhenti memukul. “Jangan lari sendiri-sendiri, berkumpul di sini!”
Teriakannya tenggelam oleh suara orang-orang. Sebagian justru berlari semakin cepat setelah mendengar kentongan.
Jaka datang dengan napas terengah. “Ayah!”
“Bawa ibumu ke tempat berkumpul.”
“Bagaimana dengan Ayah?”
“Ayah menyusul.”
Jaka masih berdiri. “Tapi—”
“Pergi sekarang!”
Anak itu akhirnya berlari. Ki Jagabaya naik sedikit lebih tinggi di gardu agar dapat melihat keadaan desa.
Sebagian warga bergerak menuju dirinya. Sebagian lainnya justru berlari meninggalkan desa melalui jalan yang berbeda.
Saat itulah Ki Jagabaya menyadari sesuatu. Mereka mendengar bunyi yang sama, tetapi tidak memahami pesan yang sama.
Wedhus Gembel Datang
Gemuruh kedua terdengar dari arah Merapi. Kali ini suaranya jauh lebih keras.
Semua orang menoleh hampir bersamaan. Dari arah gunung terlihat gumpalan pekat bergerak mengikuti lereng.
“Wedhus gembel!”
Teriakan seseorang membuat kepanikan semakin besar. Istilah itu telah lama dikenal masyarakat untuk menyebut awan panas yang tampak bergulung menyerupai bulu domba.
Ki Jagabaya pernah mendengar cerita mengenai bahayanya sejak kecil. Namun melihat gumpalan besar bergerak dari arah gunung membuat seluruh cerita itu terasa berbeda.
“Wedhus gembel datang!”
Ki Jagabaya berteriak sekuat tenaga. “Menjauh dari arah gunung dan ikuti jalan ke bawah!”
Orang-orang kembali berlari. Anak-anak menangis sementara ternak yang terlepas bergerak tanpa arah.
Debu mulai memenuhi udara. Ki Jagabaya turun dari gardu untuk membantu mengarahkan warga.
Tiba-tiba kentongan kembali berbunyi.
Tong! Tong! Tong!
Ki Jagabaya menoleh. Seorang warga mengambil pemukul yang tadi diletakkannya.
“Berhenti!” teriak Ki Jagabaya.
Lelaki itu tidak mendengar. Ia terus memukul kentongan untuk memperingatkan rumah-rumah yang lebih jauh.
Tong! Tong! Tong!
Dari tempat lain muncul bunyi serupa. Beberapa warga yang mempunyai kentongan di rumah ikut membunyikannya.
Tidak ada pola yang disepakati. Tidak ada satu pesan yang dipahami bersama.
Sebagian menganggap bunyi itu berarti berkumpul. Sebagian mengartikannya sebagai perintah untuk segera berlari.
Yang terdengar hanyalah bahaya.
Ketika Pesan Berubah Menjadi Kepanikan
Ratri berlari sambil menggandeng putrinya yang masih kecil. Ketika mendengar kentongan dari arah berlawanan, ia mendadak berhenti.
“Bu, kenapa berhenti?”
Ratri menoleh ke arah gardu. “Mungkin kita harus kembali.”
Orang-orang lain justru berlari menuju jalan turun. Ratri semakin bingung melihat dua kelompok bergerak ke arah yang berbeda.
“Ke mana kita harus pergi?” teriaknya.
Tidak ada yang menjawab.
Ia menarik putrinya ke kanan. Beberapa langkah kemudian ia berhenti dan kembali menoleh.
Di persimpangan lain, dua keluarga berdebat mengenai jalan yang harus dipilih. Salah satu yakin kentongan berarti mereka harus menuju gardu, sementara keluarga lainnya percaya bunyi tersebut merupakan perintah meninggalkan desa.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk bergerak menuju tempat lebih aman terbuang dalam kebingungan. Ketakutan membuat setiap orang mengambil keputusan berdasarkan pemahamannya sendiri.
Ki Jagabaya melihat semuanya dari kejauhan. Untuk pertama kalinya ia memahami kesalahan yang baru saja terjadi.
Kentongan dapat membawa suara hingga jauh. Namun suara tanpa pesan yang dipahami bersama dapat menghasilkan arti berbeda bagi setiap orang.
“Mbah Wiranta!”
Ki Jagabaya melihat lelaki tua itu berjalan bersama beberapa anak. Ia segera menghampiri mereka.
“Bawa mereka turun!”
Mbah Wiranta menatapnya. “Bagaimana yang lain?”
“Aku akan mencari mereka.”
Orang tua itu mencengkeram lengan Ki Jagabaya. “Jangan kembali terlalu jauh ke atas.”
“Masih ada warga.”
“Jaga!”
Ki Jagabaya melepaskan tangannya perlahan. “Aku pemimpin mereka.”
Ia berbalik dan berlari.
Debu semakin tebal. Napasnya mulai terasa berat.
“Ratri!”
Tidak ada jawaban.
“Surono!”
Hanya suara kentongan yang terdengar.
Tong.
Tong.
Tong.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bunyi itu membuat Ki Jagabaya merasa takut.
Malam Setelah Merapi Mengamuk
Tidak seorang pun dapat memastikan berapa lama kekacauan berlangsung. Waktu seolah kehilangan ukuran ketika langit dipenuhi debu dan setiap orang hanya berusaha menemukan keluarganya.
Ketika keadaan mulai mereda, Tlogolele tidak lagi terlihat seperti desa yang mereka tinggalkan pagi itu. Sebagian rumah rusak dan jalan dipenuhi ranting, tanah, serta barang-barang yang ditinggalkan ketika orang berlari.
Mereka yang berhasil mencapai tempat berkumpul mulai saling mencari. Nama demi nama diteriakkan di antara kerumunan.
“Jaka!”
Ki Jagabaya berjalan dengan tubuh penuh debu. “Jaka!”
“Ayah!”
Suara itu membuatnya berhenti. Jaka berlari dari kerumunan dan langsung memeluknya.
“Ibumu?”
“Di sana.”
Ki Jagabaya melihat istrinya duduk bersama beberapa perempuan. Ia mengembuskan napas panjang.
Kelegaan itu tidak berlangsung lama. Seorang lelaki datang dengan wajah pucat.
“Ratri belum ditemukan.”
Ki Jagabaya menatapnya. “Siapa lagi?”
Lelaki itu mulai menyebut beberapa nama. Sebagian warga terpisah dari keluarga karena mengambil jalan berbeda ketika kentongan berbunyi.
Ki Jagabaya duduk di atas batu. Tangannya gemetar ketika ia melihat telapak tangannya sendiri.
“Ayah?”
Jaka duduk di sebelahnya.
“Ayah yang membunyikan kentongan itu.”
Jaka menggeleng. “Ayah hanya ingin memperingatkan mereka.”
“Tapi mereka menjadi bingung.”
“Merapi yang membuat semua orang takut.”
Ki Jagabaya memandang anaknya cukup lama. Kalimat sederhana itu membuatnya menyadari sesuatu yang penting.
Bencana tidak terjadi karena kentongan. Awan panas juga tidak datang karena manusia memukul sepotong kayu.
Namun cara mereka menyampaikan peringatan telah menambah kebingungan. Pada saat keselamatan membutuhkan keputusan cepat, mereka tidak mempunyai satu pesan yang dipahami bersama.
Desa Menghitung Kehilangan
Hari-hari berikutnya dipenuhi pencarian dan duka. Beberapa warga yang sempat terpisah akhirnya ditemukan, tetapi tidak semua keluarga kembali dalam keadaan utuh.
Desa yang sebelumnya dipenuhi suara anak-anak dan ternak menjadi lebih sunyi. Setiap rumah memiliki cerita tentang bagaimana mereka berusaha menyelamatkan diri.
Ada yang berlari mengikuti tetangga. Ada pula yang sempat kembali menuju desa karena mengira bunyi kentongan merupakan panggilan untuk berkumpul.
Ki Jagabaya mendengarkan cerita itu satu demi satu. Semakin banyak ia mendengar, semakin jelas bahwa masalah terbesar bukan sekadar bunyi kentongan.
Mereka tidak mempunyai kesepakatan mengenai arti peringatan. Mereka juga belum menentukan dengan jelas ke mana warga harus bergerak ketika bahaya datang.
Malam-malam Ki Jagabaya menjadi panjang. Ia sering terbangun karena dalam tidurnya terdengar kembali bunyi kentongan.
Tong.
Tong.
Tong.
Ia akan membuka mata dan mendapati rumah dalam keadaan sunyi. Namun suara itu seolah masih tertinggal di kepalanya.
Suatu malam istrinya duduk di sampingnya. “Kau tidak bisa terus menyalahkan dirimu sendiri.”
“Aku pemimpin mereka.”
“Dan kau juga manusia.”
Ki Jagabaya menunduk. “Seharusnya aku lebih siap.”
Istrinya menggenggam tangannya. “Kalau begitu pastikan kita lebih siap jika suatu hari keadaan seperti itu datang lagi.”
Ki Jagabaya memandangnya.
Untuk pertama kalinya setelah bencana, ia melihat sesuatu selain penyesalan. Ada pelajaran yang harus mereka bawa dari kehilangan.
Musyawarah Para Tetua
Beberapa hari kemudian para tetua dan warga berkumpul. Ki Jagabaya duduk paling dekat dengan pintu sementara sebuah kentongan kecil diletakkan di tengah ruangan.
Tidak seorang pun menyentuh benda itu. Bagi sebagian warga, melihatnya saja sudah mengingatkan mereka pada hari ketika desa dipenuhi kepanikan.
Mbah Wiranta membuka pembicaraan. “Kita harus mengingat apa yang terjadi.”
Seorang warga segera menyahut. “Kentongan membawa celaka.”
Beberapa orang mengangguk. Ki Jagabaya hanya menundukkan kepala.
“Bukan kentongan yang membuat Merapi mengeluarkan awan panas,” kata Mbah Wiranta.
Ruangan mendadak hening. Semua mata mengarah kepadanya.
“Lalu kenapa setelah kentongan berbunyi orang-orang menjadi semakin kacau?” tanya seorang perempuan.
“Karena kita tidak memahami pesan yang sama.”
Ki Jagabaya akhirnya mengangkat kepala. “Aku yang pertama memukulnya.”
Semua orang menoleh kepadanya. Tidak seorang pun berbicara.
“Aku ingin kalian berkumpul dan mendengarkan perintah,” lanjutnya. “Tetapi sebagian mengira bunyi itu berarti lari, sebagian menuju gardu, dan sebagian ikut memukul kentongan tanpa mengetahui pesan apa yang harus disampaikan.”
Seorang perempuan mulai menangis di sudut ruangan. Ia merupakan kerabat salah satu warga yang menjadi korban.
“Apa gunanya membicarakan semua ini sekarang?” tanyanya.
Ki Jagabaya tidak mampu menjawab. Mbah Wiranta kemudian menatap perempuan tersebut.
“Agar anak-anak kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.”
Tidak ada yang membantah. Kesedihan tetap ada, tetapi perlahan musyawarah berubah menjadi pembicaraan mengenai apa yang harus dilakukan jika bahaya kembali datang.
Lahirnya Larangan Memukul Kentongan
Sebagian warga meminta agar kentongan tidak lagi dibunyikan ketika Merapi menunjukkan bahaya. Mereka merasa bunyinya terlalu kuat mengingatkan pada kepanikan dan kehilangan.
“Kalau kentongan tidak dipakai, bagaimana kita memberi peringatan?” tanya seseorang.
“Datangi rumah-rumah dan sampaikan pesannya secara jelas,” jawab seorang tetua.
“Bagaimana kalau waktunya tidak cukup?”
Pertanyaan itu membuat semua orang kembali berpikir. Mereka sadar tidak ada cara yang sempurna dengan kemampuan yang mereka miliki saat itu.
Pada akhirnya mereka sepakat bahwa peringatan tidak boleh hanya berupa bunyi tanpa penjelasan. Orang yang membawa kabar harus mengatakan bahaya apa yang terjadi dan ke mana warga harus bergerak.
Keputusan tersebut kemudian berkembang menjadi nasihat. Nasihat yang diulang berkali-kali perlahan berubah menjadi kebiasaan.
Kebiasaan kemudian menjadi pantangan. Anak-anak yang lahir setelah peristiwa itu tumbuh dengan mendengar pesan yang sama.
“Jangan pukul kentongan ketika Merapi mengamuk.”
Ketika mereka bertanya mengapa, orang tua menceritakan hari ketika kentongan berbunyi dari berbagai penjuru Tlogolele. Setiap generasi menambahkan ingatan dan cara penceritaannya sendiri.
Sebagian orang mulai mengatakan bahwa suara kentongan dapat mengundang wedhus gembel. Ada pula yang percaya bunyinya membuat awan panas mengetahui letak desa.
Ki Jagabaya tidak pernah mengatakan hal tersebut. Setiap kali seseorang bertanya kepadanya, jawabannya selalu sama.
“Gunung tidak datang karena kentongan.”
“Lalu kenapa kita tidak boleh memukulnya, Ki?”
“Karena pada hari itu kami tidak memahami satu sama lain.”
Namun sebuah cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut dapat berubah. Lama-kelamaan batas antara pengalaman, nasihat, ketakutan, dan kepercayaan menjadi semakin tipis.
Sega Gunung dan Malam Kebersamaan
Setelah bencana, masyarakat berusaha membangun kembali kehidupan. Rumah diperbaiki, ladang dibersihkan, dan ternak yang tersisa dikumpulkan.
Pada malam tertentu warga berkumpul membawa makanan. Beberapa keluarga membakar tempe dan memasang obor di depan rumah.
Di tengah tempat berkumpul diletakkan nasi yang dibentuk menyerupai gunung. Masyarakat kemudian membagikannya kepada semua orang yang hadir.
Sebagian memaknainya sebagai bentuk tolak bala dan permohonan agar desa dijauhkan dari bahaya. Sebagian lainnya melihat makan bersama sebagai cara menguatkan keluarga yang sedang berduka.
Apa pun maknanya, malam itu tidak seorang pun makan sendirian. Mereka duduk bersama sebagai masyarakat yang baru saja menghadapi kehilangan.
Jaka duduk di samping ayahnya. Matanya memperhatikan nasi berbentuk gunung.
“Kenapa dibuat seperti Merapi?”
Ki Jagabaya tersenyum tipis. “Supaya kita ingat tempat kita hidup.”
“Kalau Merapi berbahaya, kenapa kita tetap tinggal di sini?”
Pertanyaan itu membuat Ki Jagabaya terdiam beberapa saat. Ia kemudian mengambil segenggam tanah di dekat tempat duduknya.
“Karena Merapi bukan hanya bahaya.”
Ia memperlihatkan tanah itu kepada anaknya. “Tanah ini memberi kita makanan.”
Jaka memandang gunung di kejauhan.
“Tetapi hidup dekat alam berarti kita harus mengetahui batas kita,” lanjut Ki Jagabaya. “Kita boleh mencintai tempat ini tanpa menganggap bahwa alam harus mengikuti kemauan manusia.”
Jaka mengangguk perlahan. Kelak percakapan tersebut akan menjadi salah satu cerita yang ia wariskan kepada anak-anaknya.
Pantangan Menjadi Cerita Rakyat
Tahun demi tahun berlalu. Rumah-rumah baru berdiri dan ladang kembali menghijau.
Anak-anak yang dahulu bersembunyi dalam pelukan orang tua tumbuh menjadi orang dewasa. Namun cerita mengenai kentongan tidak pernah benar-benar hilang.
Pada suatu sore, Ki Jagabaya yang rambutnya mulai memutih duduk di depan rumah bersama cucunya. Anak kecil itu menemukan sepotong bambu dan memukulnya menggunakan kayu.
Tong!
Ki Jagabaya menoleh.
Cucunya tertawa dan mengangkat kayu untuk memukul sekali lagi. “Bunyinya keras, Mbah.”
“Nak.”
Anak itu berhenti. “Kenapa?”
Ki Jagabaya memandang bambu di tangannya. Dalam pikirannya ia kembali melihat hari ketika seluruh desa berlari dalam kepanikan.
“Dulu pernah ada kentongan yang berbunyi ketika Merapi sedang berbahaya.”
“Terus?”
“Orang-orang ketakutan.”
Anak itu mendekat. “Karena kentongannya?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Karena mereka tidak tahu harus melakukan apa.”
Cucunya terlihat berpikir. “Kalau kentongan tidak bunyi, Merapi tidak marah?”
Ki Jagabaya menggeleng.
“Merapi tidak menunggu kentongan untuk melakukan apa pun.”
“Kenapa kentongannya dilarang?”
Ki Jagabaya menunjuk telinga cucunya. “Karena sebuah peringatan harus membuat orang mengerti, bukan hanya membuat mereka mendengar.”
Anak kecil itu mungkin belum memahami seluruh maksud perkataan kakeknya. Namun kalimat tersebut tersimpan bersama cerita yang kelak akan diteruskannya.
Memahami Wedhus Gembel
Dalam tradisi masyarakat sekitar Merapi, istilah wedhus gembel digunakan untuk menyebut awan panas yang tampak bergulung menyerupai bulu domba. Dalam cerita rakyat, fenomena itu kemudian memperoleh berbagai makna dan penafsiran.
Namun awan panas merupakan bahaya vulkanik nyata. Kemunculannya tidak disebabkan oleh suara kentongan ataupun tindakan ritual manusia.
Pengetahuan manusia tentang aktivitas gunung api terus berkembang. Pemantauan modern menggunakan berbagai pengamatan dan instrumen untuk memahami perubahan aktivitas gunung.
Karena itu, perubahan perilaku binatang yang terdapat dalam cerita tidak seharusnya dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan bahwa erupsi akan terjadi. Masyarakat perlu mengikuti informasi kebencanaan resmi dan arahan pihak yang berwenang.
Ki Jagabaya dalam cerita hidup pada masa ketika sistem seperti itu belum tersedia. Ia dan warga menggunakan pengalaman, pengamatan alam, serta sarana komunikasi yang mereka miliki.
Di situlah cerita tentang kentongan memperoleh makna edukatif. Alat peringatan hanya akan berguna jika masyarakat mengetahui dengan jelas apa arti peringatan tersebut.
Ketika Suara Harus Memiliki Arti
Kentongan pada dasarnya hanyalah alat komunikasi. Bunyi yang dihasilkannya dapat menjangkau orang yang berada cukup jauh dari sumber suara.
Namun satu bunyi dapat menimbulkan masalah jika setiap orang memberikan arti yang berbeda. Hal itulah yang dialami warga dalam kisah Ki Jagabaya.
Bunyi sirene modern pun memerlukan aturan yang dipahami masyarakat. Pesan melalui telepon juga tidak akan berguna apabila penerimanya tidak mengetahui tindakan yang harus dilakukan.
Karena itu, keselamatan bukan hanya persoalan mempunyai alat peringatan. Masyarakat juga harus memahami prosedur ketika peringatan diberikan.
Ke mana harus bergerak?
Siapa yang harus diikuti?
Jalur mana yang harus digunakan?
Apa yang harus dilakukan terhadap anak-anak, lansia, atau anggota keluarga yang membutuhkan bantuan?
Pertanyaan seperti itu sebaiknya mempunyai jawaban sebelum keadaan darurat terjadi. Ketika kepanikan sudah muncul, manusia cenderung lebih sulit membuat keputusan.
Dalam pengertian itulah pengalaman Ki Jagabaya memperoleh makna yang melampaui legenda. Kesalahannya menjadi pelajaran tentang pentingnya komunikasi dalam menghadapi bencana.
Persiapan Sebelum Bahaya Datang
Bertahun-tahun setelah bencana, Ki Jagabaya masih sering mengumpulkan warga. Ia meminta setiap keluarga mengetahui jalan yang dapat digunakan apabila suatu hari mereka harus meninggalkan desa.
“Kenapa harus dibicarakan sekarang, Ki?” tanya seorang pemuda.
“Karena sekarang kalian masih bisa berpikir dengan tenang.”
Pemuda itu tertawa kecil. “Kalau Merapi benar-benar meletus, kami tinggal lari.”
“Ke mana?”
Pemuda itu terdiam.
Ki Jagabaya menunjuk dua jalan yang bercabang di ujung desa. “Ke sana atau ke sana?”
Tidak ada jawaban.
“Itulah sebabnya kalian harus mengetahui tujuan sebelum bahaya datang.”
Warga mulai memahami maksudnya. Keselamatan tidak dimulai ketika bencana sudah berada di depan mata.
Keselamatan dimulai ketika keluarga mengetahui jalur yang harus dilalui. Ia juga dimulai ketika masyarakat memahami peringatan dan tidak menyebarkan kabar yang belum jelas.
Ki Jagabaya tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi. Namun ia dapat memastikan pengalaman itu tidak hilang tanpa meninggalkan pelajaran.
Pesan Terakhir Ki Jagabaya
Usia akhirnya membuat Ki Jagabaya tidak lagi mampu berjalan jauh. Sebagian besar waktunya dihabiskan di beranda sambil memandang Merapi yang tetap berdiri seperti ketika ia masih muda.
Suatu sore Jaka, yang kini telah memiliki anak sendiri, duduk di samping ayahnya. Mereka memandang puncak gunung yang perlahan berubah menjadi bayangan di bawah cahaya senja.
“Orang-orang masih menceritakan kentongan itu,” kata Jaka.
Ki Jagabaya tersenyum. “Aku tahu.”
“Ceritanya sudah berubah.”
“Cerita selalu berubah ketika berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya.”
Jaka menatap ayahnya. “Ada yang bilang wedhus gembel datang karena Ayah memukul kentongan.”
Ki Jagabaya tertawa kecil. “Kalau begitu mereka membuat ayahmu terlalu hebat.”
Jaka ikut tertawa.
“Tidak ingin meluruskannya?”
“Sudah berkali-kali.”
“Lalu?”
Ki Jagabaya memandang Merapi. “Manusia sering lebih mudah mengingat cerita daripada penjelasan.”
Jaka terdiam.
“Kalau begitu apa yang harus aku ceritakan kepada anak-anakku?”
Ki Jagabaya menoleh kepadanya. “Ceritakan bahwa dulu orang-orang panik karena kami tidak mempunyai pesan yang sama.”
Ia menarik napas panjang. “Katakan kepada mereka, ketika bahaya datang dengarkan informasi yang benar, jangan menyebarkan kabar yang belum jelas, dan jangan bergerak tanpa mengetahui tujuan.”
Jaka mengangguk. “Aku akan mengingatnya.”
Ki Jagabaya menggeleng perlahan.
“Jangan hanya mengingat.”
Ia memandang anaknya.
“Ajarkan.”
Warisan dari Lereng Merapi
Generasi berganti dan kisah larangan memukul kentongan terus diwariskan. Sebagian masyarakat mempertahankannya sebagai bagian dari tradisi dan ingatan mengenai hubungan manusia dengan Merapi.
Sebuah pantangan tidak selalu harus dibaca sebagai penjelasan ilmiah terhadap suatu peristiwa. Di dalamnya dapat tersimpan pengalaman sosial, ketakutan, kehilangan, dan cara masyarakat masa lalu memahami lingkungan mereka.
Kisah Ki Jagabaya menunjukkan bagaimana tindakan yang dimaksudkan untuk menolong dapat menimbulkan kebingungan ketika pesan tidak dipahami. Cerita itu juga menggambarkan bagaimana kepanikan dapat memengaruhi keputusan manusia.
Hari ini peringatan dapat datang melalui perangkat yang jauh lebih canggih daripada kentongan. Namun informasi yang salah atau pesan yang tidak jelas tetap dapat menimbulkan masalah.
Teknologi berubah, tetapi kebutuhan terhadap komunikasi yang jelas tidak berubah. Dalam keadaan darurat, masyarakat perlu mengetahui sumber informasi yang dapat dipercaya dan tindakan yang harus dilakukan.
Tradisi tetap dapat dihormati sebagai bagian dari warisan budaya. Sementara itu, keputusan keselamatan harus mengikuti pengetahuan kebencanaan serta informasi resmi dari pihak berwenang.
Pada akhirnya, larangan memukul kentongan dalam cerita ini bukan sekadar kisah tentang sepotong kayu. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah masyarakat belajar dari ketakutan dan kehilangan.
Di lereng Merapi, Ki Jagabaya dan orang-orang dalam kisah itu telah menjadi bagian dari cerita yang berpindah dari generasi ke generasi. Setiap penceritaan membuat bunyi kentongan seolah kembali terdengar di antara rumah-rumah Tlogolele.
Tong.
Tong.
Tong.
Bukan untuk memanggil wedhus gembel. Bukan pula karena bunyi kayu mampu menentukan apa yang dilakukan sebuah gunung.
Bunyi itu tinggal sebagai pengingat bahwa peringatan harus dipahami oleh orang yang menerimanya. Sebab ketika bahaya datang, mengetahui apa yang harus dilakukan dapat menjadi perbedaan antara kepanikan dan keselamatan.




