Radio kayu di rak paling atas itu sudah tidak mengeluarkan suara selama bertahun-tahun. Namun, setiap pagi, sebelum membuka pintu toko, Harun masih membersihkan debu yang menempel pada permukaannya.
Ia tidak pernah mencoba menyalakannya lagi. Radio tersebut dibiarkan di antara kotak sekring, antena bekas, dan jam dinding yang berhenti pada pukul tiga lewat dua belas menit.
Toko Sinar Suara berada di sebuah gang pertokoan yang terhubung dengan Jalan Gajah Mada, Pontianak. Di sekitarnya, kios-kios baru menjual telepon genggam, pengeras suara portabel, dan perangkat elektronik yang bahkan belum dikenal Harun ketika pertama kali membuka usaha.
Papan nama tokonya sudah pudar, sementara huruf terakhir hampir tertutup kabel yang menjuntai dari atap. Harun tidak pernah berniat menggantinya selama orang-orang masih dapat menemukan pintu tokonya.
Usianya enam puluh delapan tahun, dengan rambut putih dan punggung yang mulai membungkuk. Namun, tangannya masih cukup tenang untuk menyolder sambungan kecil dan mengenali kerusakan radio melalui bunyi dengung, desis, atau suara pecah dari pengerasnya.
Orang-orang datang membawa berbagai barang yang dianggap terlalu tua untuk diperbaiki. Harun menerima hampir semuanya, kecuali satu radio yang tetap dibiarkannya rusak di rak paling atas.
Radio yang Datang Bersama Hujan
Sore itu hujan turun ketika seorang perempuan muda memasuki toko. Air menetes dari ujung payungnya dan membentuk lingkaran kecil di lantai semen.
“Masih bisa memperbaiki yang begini, Pak?” tanyanya sambil menyerahkan radio transistor dalam kantong kain.
Harun mengeluarkan radio tersebut dan memeriksa bagian luarnya. Badannya berwarna krem yang telah menguning, antenanya patah, dan penutup baterainya direkatkan dengan selotip lama.
“Dicoba dulu. Kalau bagian dalamnya sudah terlalu rusak, saya kabari.”
Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Mira. Radio tersebut peninggalan ibunya yang meninggal setahun sebelumnya, ditemukan ketika ia sedang mengosongkan rumah keluarga.
“Banyak barang ibu yang sudah saya bagikan. Yang ini rasanya sayang dibuang,” katanya.
Harun mencatat nama dan nomor telepon Mira, kemudian mengikatkan kertas kecil itu pada pegangan radio. Ia meminta waktu dua atau tiga hari untuk memeriksa kerusakannya.
Sebelum keluar, Mira memperhatikan radio kayu di rak paling atas. Ia bertanya mengapa radio itu dibiarkan rusak, tetapi Harun hanya menjawab bahwa dirinya belum sempat memperbaikinya.
Mira tidak bertanya lagi dan membuka payungnya. Beberapa saat kemudian, tubuhnya menghilang di balik hujan yang menutupi pertokoan seberang.
Menjelang petang, Harun mulai memeriksa radio titipan tersebut. Sekrup belakangnya berkarat, salah satu kabel terlepas, dan di dekat tempat baterai terdapat sambungan tambahan yang bukan bagian dari rangkaian asli.
Ia mengarahkan lampu kecil ke ruang sempit di balik pelat plastik. Di sana tersimpan alat perekam mikro-kaset yang dibungkus plastik bening, bersama selembar kertas terlipat.
Harun membuka kertas itu perlahan. Tulisan tangan di dalamnya berbunyi, Untuk Harun, jika suatu hari ia bersedia mendengar.
Di bawah kalimat tersebut tertulis sebuah nama yang pernah menjadi bagian dari hampir seluruh hari kerjanya. Nama itu adalah Idris, seseorang yang selama dua puluh tujuh tahun berusaha dijauhkan Harun dari ingatannya.
Tuduhan Dua Puluh Tujuh Tahun Lalu
Pada akhir 1990-an, Sinar Suara masih menempati bangunan yang lebih besar di kawasan pertokoan lama. Harun bekerja bersama istrinya, Salmah, dan seorang pemuda bernama Idris yang datang sebagai pembantu teknisi.
Idris belajar membersihkan sambungan, membaca rangkaian, dan memperbaiki radio tanpa harus selalu bertanya. Dua tahun kemudian, mereka hampir tidak pernah bekerja sendiri-sendiri ketika toko sedang ramai.
Salmah mengurus pembukuan dan pembayaran, sedangkan Harun dan Idris menangani pekerjaan di meja reparasi. Pada suatu pekan, mereka menerima uang muka cukup besar untuk memperbaiki perangkat komunikasi milik usaha angkutan sungai.
Uang itu disimpan dalam laci besi di ruang belakang. Keesokan paginya, Harun menemukan laci terbuka dan seluruh uang telah hilang.
Ia memeriksa pintu, jendela, serta tempat penyimpanan kunci cadangan. Tidak ada kerusakan yang menunjukkan seseorang masuk secara paksa.
Ketika mengetahui Idris kembali ke toko pada malam sebelumnya, Harun segera mencurigainya. Idris mengatakan bahwa ia hanya mengambil jas hujan yang tertinggal, tetapi penjelasan tersebut tidak dipercaya.
Pertengkaran mereka terdengar hingga toko sebelah. Beberapa orang bahkan berhenti di depan pintu ketika suara Harun meninggi.
“Aku tidak mengambil uang itu, Run,” kata Idris.
“Kalau bukan kau, siapa?”
“Aku tidak tahu. Tapi ada yang perlu kuceritakan tentang malam itu.”
Harun tidak memberinya kesempatan menyelesaikan kalimat. Ia meminta Idris menyerahkan kunci toko dan melarangnya kembali bekerja.
Idris pergi membawa tas kain serta jas hujan yang menjadi alasan kedatangannya malam sebelumnya. Gaji terakhirnya ditinggalkan Harun di atas meja tanpa sepatah kata perpisahan.
Sesudah itu, pekerjaan di Sinar Suara mulai berantakan. Harun harus meminjam uang untuk membeli komponen, beberapa pesanan terlambat, dan pelanggan yang semula rutin datang perlahan berkurang.
Salmah tidak pernah menyetujui cara suaminya memperlakukan Idris. Suatu malam, ketika mereka makan berdua, ia kembali meminta Harun mendengarkan penjelasan pemuda tersebut.
“Kau boleh marah karena uang itu hilang,” katanya. “Tapi kau belum tahu siapa yang mengambilnya.”
Harun menjawab bahwa tidak ada orang lain yang memiliki kesempatan. Salmah meletakkan sendoknya dan mengatakan bahwa kesempatan bukanlah bukti.
Perdebatan mereka berhenti tanpa penyelesaian. Namun, setiap kali nama Idris muncul, Salmah selalu meminta hal yang sama dan Harun selalu menolaknya.
Suara yang Tak Pernah Didengar
Kini, puluhan tahun kemudian, nama itu kembali muncul dari dalam radio yang dibawa seorang perempuan asing. Harun duduk di depan meja kerjanya, memandang alat perekam kecil yang telah lama kehilangan daya.
Ia membersihkan bagian luar perangkat tersebut dan mencari baterai yang sesuai dari persediaan lamanya. Setelah beberapa kali mencoba, pita di dalam alat itu akhirnya bergerak dan mengeluarkan desis pendek.
“Run, ini Idris.”
Harun mengenali suara itu meskipun terdengar lebih berat daripada yang diingatnya. Ada batuk dan jeda panjang di antara kalimat, seolah Idris harus memilih setiap kata sebelum mengucapkannya.
“Aku membuat rekaman ini karena setiap kali mencoba bicara, aku tidak pernah selesai. Aku tidak mengambil uang itu, tetapi ada hal yang tidak kuceritakan waktu itu.”
Harun mendekatkan alat perekam ke telinganya. Di luar toko, hujan telah mereda dan hanya menyisakan bunyi air yang menetes dari talang.
“Malam sebelum uang hilang, aku kembali mengambil jas hujan. Di depan toko aku bertemu Rahmat, adik Salmah, dan dia meminta aku tidak mengatakan bahwa dia datang.”
Harun menegakkan tubuh ketika mendengar nama adik iparnya. Rahmat memang pernah beberapa kali meminta bantuan keuangan kepada Salmah karena usaha angkutannya tidak berjalan baik.
“Aku tidak melihat dia membuka laci dan tidak melihat dia membawa uang. Aku hanya melihatnya keluar dari toko,” lanjut Idris dalam rekaman itu.
Suara tersebut berhenti sejenak sebelum kembali terdengar. Idris menjelaskan bahwa ia memilih diam karena mengira kedatangan Rahmat merupakan urusan keluarga yang tidak pantas dicampurinya.
“Ketika kau menuduhku, aku marah. Aku pikir kalau menyebut nama Rahmat, kau akan menganggapku sedang mencari kambing hitam.”
Harun menunduk dan memandangi tangannya sendiri. Ia masih mengingat gerakan tangan itu ketika meletakkan gaji terakhir Idris di atas meja.
“Aku tidak tahu siapa yang mengambil uang itu, Run. Sampai sekarang pun tidak, tetapi aku tidak mau seluruh hidupku dikenang dari tuduhan yang tidak pernah kau buktikan.”
Rekaman berakhir beberapa detik kemudian. Harun memutarnya sekali lagi, tetapi tidak menemukan jawaban yang selama ini ia anggap harus ada.
Idris tidak mengakui pencurian dan tidak memberikan bukti bahwa Rahmat melakukannya. Ia hanya menyampaikan keterangan yang dahulu tidak pernah diberi kesempatan untuk diucapkan.
Pertemuan di Sinar Suara
Keesokan paginya, Harun menelepon Mira. Ia menjelaskan bahwa di dalam radio ditemukan alat perekam lama dan pesan yang ditujukan kepada dirinya.
“Apakah Ibu Mira mengenal seseorang bernama Idris?” tanyanya.
“Itu paman saya, Pak. Kakak ibu.”
Harun meminta nomor telepon Idris setelah mengetahui laki-laki tersebut masih tinggal di Pontianak. Mira kemudian bercerita bahwa pamannya pernah menitipkan alat perekam kepada ibunya, jauh sebelum perempuan itu meninggal.
Ibunya menyimpan perangkat tersebut di dalam radio yang jarang digunakan. Mira tidak mengetahui isi rekamannya dan hanya ingat bahwa sang paman pernah menyebut ada pesan untuk seseorang.
Harun mengucapkan terima kasih dan mengakhiri sambungan. Namun, ia belum berani segera menghubungi Idris.
Ia membersihkan meja, menyusun kembali kotak komponen, dan memeriksa rangkaian radio transistor milik Mira. Menjelang siang, ketika tidak ada lagi pekerjaan yang dapat dijadikan alasan menunda, ia akhirnya menekan nomor Idris.
Telepon dijawab setelah dering keempat. Harun mendengar suara seorang laki-laki yang terdengar berhati-hati.
“Dris, ini Harun.”
Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Harun menunggu tanpa mencoba mengisi keheningan tersebut.
“Aku menemukan rekamanmu,” katanya.
“Kau sudah mendengarnya?”
“Sudah. Aku ingin bicara, kalau kau bersedia.”
Idris mengatakan bahwa ia membutuhkan waktu untuk memikirkan permintaan tersebut. Harun menjawab bahwa dirinya akan menunggu dan tidak memaksakan pertemuan.
Dua hari kemudian, Idris datang ke Sinar Suara dengan sebuah tongkat. Tubuhnya lebih kurus, rambutnya menipis, tetapi Harun masih mengenali bahu kirinya yang sedikit lebih rendah daripada bahu kanan.
Mereka berjabat tangan tanpa pelukan. Harun mempersilakan Idris duduk di kursi pelanggan, lalu mengambil dua gelas air putih.
“Aku sudah mendengar semuanya,” kata Harun setelah duduk di hadapannya.
Idris mengangguk dan memandang meja di antara mereka. Ia mengatakan bahwa rekaman tersebut tidak membuktikan siapa yang mengambil uang dan tidak dimaksudkan untuk menuduh Rahmat.
“Aku tahu,” jawab Harun.
“Aku tidak membuatnya supaya kau mencari orang lain untuk disalahkan. Aku hanya tidak ingin terus dikenang sebagai pencuri.”
Harun menatap wajah yang pernah dikenalnya ketika masih muda. Selama bertahun-tahun, ia membayangkan Idris datang untuk meminta pekerjaan kembali atau memohon agar dipercaya.
Kini laki-laki itu duduk di hadapannya tanpa meminta kedua hal tersebut. Ia hanya ingin Harun mengakui bahwa tuduhan yang pernah dilontarkannya tidak memiliki dasar yang cukup.
“Aku salah,” kata Harun.
Idris tidak segera menjawab. Ia mengangkat gelas, meminumnya sedikit, lalu meletakkannya kembali.
“Dulu aku kehilangan pekerjaan,” katanya. “Orang-orang yang mengenal kita bertanya macam-macam dan cerita itu kadang masih sampai, bahkan setelah aku pindah kerja.”
Harun mendengarkan tanpa menyela. Di luar toko, seseorang menurunkan pintu besi dan bunyi logamnya memantul panjang ke dalam ruangan.
“Aku tidak bisa mengembalikan tahun-tahun itu,” kata Harun.
“Memang tidak.”
Harun menarik napas sebelum melanjutkan. Ia menawarkan untuk menulis surat yang menyatakan bahwa tuduhannya dahulu tidak didukung bukti dan bahwa Idris telah diberhentikan sebelum penjelasannya didengar.
Idris memandangnya cukup lama. Kemudian ia meminta agar surat tersebut tidak menyebut siapa pun sebagai pencuri dan tidak menyatakan bahwa dirinya telah memaafkan Harun.
“Aku mengerti,” jawab Harun.
Kali ini ia tidak mencoba meminta persetujuan atau pengampunan. Ia hanya mendengarkan sampai Idris selesai berbicara.
Kesalahan yang Harus Diakui
Malam harinya, Harun menelepon Rahmat. Adik iparnya itu kini tinggal bersama keluarga anak bungsunya dan jarang berhubungan dengannya sejak Salmah meninggal.
Harun menanyakan kedatangan Rahmat ke toko dua puluh tujuh tahun sebelumnya. Rahmat mengakui bahwa ia datang untuk meminta pinjaman kepada Salmah, tetapi membantah mengambil uang dari laci.
“Salmah bilang uang pribadinya tidak cukup,” kata Rahmat. “Jadi aku pulang.”
Harun menanyakan apakah Rahmat pernah melihat laci penyimpanan uang toko. Rahmat menjawab tidak dan terdengar mulai tidak nyaman dengan pertanyaan tersebut.
“Aku tidak menelepon untuk menuduhmu,” kata Harun. “Aku hanya ingin mendengar apa yang dulu tidak kutanyakan.”
Rahmat menghela napas panjang sebelum mengulangi jawabannya. Harun tidak memaksanya berbicara lebih jauh dan mengakhiri percakapan.
Setelah menutup telepon, Harun duduk di meja makan rumahnya. Bekas lingkaran gelas masih terlihat pada permukaan kayu, tepat di tempat Salmah dahulu biasa meletakkan cangkir teh.
Ia teringat istrinya pernah meminta agar Idris dipanggil kembali. Salmah tidak pernah mengatakan bahwa ia mengetahui siapa yang mengambil uang, hanya bahwa Harun belum mendengarkan orang yang dituduhnya.
Harun mengambil kertas surat dari laci. Ia menulis selama hampir satu jam, kemudian membaca kembali setiap kalimat yang telah dibuatnya.
Dalam surat itu ia mengakui bahwa dirinya pernah menuduh Idris mengambil uang tanpa bukti yang cukup. Ia juga menyatakan telah mempermalukan Idris di hadapan orang lain dan memberhentikannya sebelum mendengarkan penjelasan.
Harun tidak menambahkan alasan tentang tekanan usaha, kemarahan, atau keadaan keuangan. Setelah menandatangani surat tersebut, ia melipatnya dan memasukkannya ke dalam amplop.
Surat itu tidak membuat masa lalu berubah. Namun, untuk pertama kalinya, Harun menuliskan kesalahannya tanpa mencari orang lain untuk ikut menanggungnya.
Pekerjaan yang Belum Selesai
Pada akhir pekan berikutnya, Idris kembali ke Sinar Suara. Kali ini ia membawa radio kayu besar peninggalan ayahnya, dengan kain penutup pengeras suara yang menguning dan salah satu sudut badan yang retak.
“Cucuku ingin tahu bagaimana radio ini bekerja,” katanya.
Harun mengangkat radio tersebut ke meja kerja. Idris duduk di sebelahnya dan memperhatikan rangkaian yang dipenuhi debu ketika penutup belakang dibuka.
Mereka mulai memeriksa kerusakan bersama. Harun menangani sambungan listrik, sementara Idris membersihkan bagian yang berkarat dan membantu mengganti beberapa komponen.
Sesekali mereka berbeda pendapat mengenai sumber kerusakan. Namun, keduanya menguji kemungkinan itu satu per satu, sebagaimana pernah mereka lakukan bertahun-tahun sebelumnya.
Ketika Harun meminta obeng kecil, Idris sudah lebih dahulu mengambilnya dari kotak perkakas. Gerakan itu terjadi begitu saja, seolah tubuh masih mengingat kebiasaan yang telah lama ditinggalkan.
Menjelang asar, radio mengeluarkan suara. Mula-mula terdengar desis, kemudian siaran muncul dan menjadi lebih jelas setelah Harun memutar tombol penala.
“Masih bisa,” kata Idris sambil mendekatkan telinganya ke pengeras suara.
“Belum sempurna. Tombol volumenya harus dibersihkan lagi.”
“Tidak apa-apa. Cucu saya belum tentu tahu bedanya.”
Harun tertawa kecil dan kembali memeriksa tombol tersebut. Mereka menyelesaikan pekerjaan tanpa membicarakan masa lalu lebih jauh.
Sebelum Idris pulang, Harun menyerahkan amplop yang telah disiapkannya. Idris membaca surat itu sampai selesai, melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Aku akan menyimpannya,” kata Idris.
“Memang untukmu.”
Idris kemudian bertanya biaya perbaikan radio. Harun menyebutkan jumlah yang biasa dikenakannya dan menerima pembayaran tanpa menawarkan pekerjaan gratis sebagai pengganti permintaan maaf.
Mereka tidak berpura-pura bahwa seluruh persoalan telah selesai. Sebuah radio telah diperbaiki, seorang pelanggan membayar pekerjaan teknisi, dan keduanya menerima kesederhanaan peristiwa tersebut.
Sebelum keluar, Idris memperhatikan radio di rak paling atas. Ia mengenalinya sebagai radio pertama yang pernah mereka perbaiki bersama ketika dirinya baru bekerja di Sinar Suara.
“Masih kau simpan?” tanyanya.
“Masih.”
“Sudah tidak hidup?”
“Sudah lama.”
Idris mengangguk dan mengingatkan bahwa bagian penerima radio tersebut memang pernah bermasalah. Harun tidak mengatakan bahwa benda itu sengaja dibiarkan rusak sejak hari Idris pergi.
Mereka berpisah di depan pintu toko. Idris berjalan perlahan menuju kendaraan yang menunggunya, sementara Harun berdiri sampai laki-laki itu masuk dan pintunya tertutup.
Radio di Rak Paling Atas
Beberapa hari kemudian, Mira datang mengambil radio transistor milik ibunya. Harun telah memperbaiki rangkaian penerimanya dan menyimpan alat perekam secara terpisah di dalam kantong kecil.
“Paman Idris sudah cerita,” kata Mira. “Dia bilang saya boleh menyimpan rekamannya, tetapi tidak perlu memperdengarkannya kepada orang lain.”
Harun menyerahkan kantong tersebut tanpa menanyakan lebih jauh. Ia merasa keputusan tentang rekaman itu memang seharusnya berada di tangan Idris.
Mira mencoba radionya sebelum pulang. Suara penyiar terdengar cukup jernih dan sebuah lagu lama muncul ketika ia memutar tombol penala.
“Ibu pasti senang kalau tahu masih bisa hidup,” katanya.
Setelah membayar biaya perbaikan, Mira memasukkan radio ke dalam kantong kain yang sama. Ia berpamitan ketika hujan mulai reda dan kendaraan kembali bergerak di sepanjang pertokoan.
Sore turun perlahan di Pontianak. Dari warung dekat gang, aroma kopi dan makanan yang baru diangkat dari penggorengan terbawa angin masuk ke toko.
Harun mematikan lampu etalase dan bersiap menutup pintu. Namun, sebelum melangkah keluar, pandangannya tertahan pada radio kayu di rak paling atas.
Ia mengambil bangku kecil dan menurunkan radio tersebut dengan kedua tangan. Kayunya berdebu, kabelnya mengeras, dan salah satu tombolnya telah lama hilang.
Harun meletakkannya di meja kerja, kemudian membuka penutup belakang. Beberapa kabel tampak rapuh, sementara sambungan lama sudah tidak lagi mengilap.
Ia mengambil obeng dan menyalakan lampu meja. Di luar, satu per satu toko mulai menutup pintu, meninggalkan cahaya yang memantul pada aspal basah.
Radio itu belum mengeluarkan suara. Namun, untuk pertama kalinya setelah dua puluh tujuh tahun, Harun telah membuka bagian yang selama ini dibiarkannya tertutup.
CATATAN REDAKSI
“Kesempatan Kedua di Toko Reparasi Radio” merupakan karya fiksi EMMANUS yang mengangkat tanggung jawab pribadi, kepercayaan, dan akibat sebuah tuduhan yang tidak didukung bukti.
Seluruh tokoh, toko Sinar Suara, rekaman, dan peristiwa merupakan rekaan sastra. Pontianak digunakan sebagai latar geografis kontemporer, bukan sebagai lokasi kejadian nyata yang didokumentasikan.
Cerita ini tidak memastikan siapa yang mengambil uang karena konflik utamanya terletak pada tanggung jawab Harun atas tuduhan yang pernah dilontarkannya. Permintaan maaf tidak selalu menghasilkan pengampunan, sebagaimana kesempatan kedua tidak selalu mengembalikan hubungan pada keadaan semula.






