Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi yang berada di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, merupakan peninggalan dari masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Hal ini yang menjadikannya salah satu kompleks candi terluas dan terbesar di Asia Tenggara dengan luas sekitar 3.981 hektare.
Namun, di tengah potensi sejarahnya yang luar biasa, kawasan ini membutuhkan perhatian lebih untuk menjadikannya pusat ilmu pengetahuan dan warisan budaya yang terjaga dengan baik. Upaya revitalisasi kawasan ini menjadi agenda penting untuk memastikan keberlanjutan nilai historis dan budaya yang dimiliki.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Kebudayaan, penemuan sekitar 115 struktur candi di kawasan ini menunjukkan bahwa KCBN Muarajambi bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan spiritual pada masanya.
Sebanyak 88 struktur bata kini telah diinventarisasi, dan sembilan candi sudah dipugar, di antaranya Candi Astano, Candi Kembar Batu, Candi Tinggi, Candi Tinggi I, Candi Gumpung, Candi Gumpung I, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Kedaton, serta Kawasan UMKM Paduka.
Keunikan kawasan ini terletak pada struktur bata khas yang dikelilingi parit, yang berfungsi sebagai jalur transportasi dan pengendalian banjir. KCBN Muarajambi mencerminkan perpaduan keunggulan teknologi, spiritualitas, dan pengetahuan pada masa lampau. Oleh karena itu, revitalisasi KCBN Muarajambi tidak hanya bertujuan untuk melindungi dan melestarikan, tetapi juga mengembangkan kawasan ini agar dapat diusulkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.
Baca juga: Kembalinya Candi Lumbung Magelang ke Desa Sengi
Pertegas Identitas Budaya
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam kunjungannya pada Selasa (19/11/2024), menekankan pentingnya pendekatan yang sesuai dengan kaidah pemugaran cagar budaya. “Situs ini adalah kompleks ilmu pengetahuan, narasi yang saya kira perlu kita gali lebih dalam, bahwa kita justru yang mengembangkan peradaban dari sini ke luar,” ujarnya.
Fadli Zon juga menyebutkan bahwa revitalisasi melibatkan pembangunan museum dan laboratorium pengetahuan yang dapat diakses publik. Hal ini bertujuan untuk menjadikan KCBN Muarajambi sebagai pusat edukasi yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga mendukung penelitian akademis.
Salah satu pendekatan yang diusung dalam revitalisasi adalah melibatkan masyarakat setempat sebagai bagian dari tata kelola kawasan. Dengan tetap mempertahankan esensi perdesaan, masyarakat dapat menjadi penjaga sekaligus pemandu bagi pelestarian warisan budaya ini. Kesadaran masyarakat akan nilai sejarah KCBN Muarajambi diharapkan semakin meningkat, sehingga mereka (masyarakat sekitar) dapat berperan aktif dalam melestarikan sekaligus memanfaatkan cagar budaya ini untuk kesejahteraan bersama.
Baca juga: Pemprov Jambi Optimalkan Cagar Budaya Candi Muaro
KCBN Muarajambi adalah saksi bisu kejayaan peradaban Nusantara di masa lalu. Dengan struktur candi yang unik, artefak bersejarah, dan nilai spiritual yang mendalam, kawasan ini memiliki semua elemen untuk diakui sebagai warisan dunia. Revitalisasi yang dilakukan tidak hanya akan mempertegas identitas budaya Indonesia di panggung internasional, tetapi juga menjadikan KCBN Muarajambi sebagai pusat ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan pariwisata berkelanjutan.
Dengan langkah revitalisasi yang tepat, Kawasan Percandian Muarajambi bukan hanya menjadi saksi kejayaan masa lalu, tetapi juga simbol kebanggaan nasional yang terus relevan di masa kini dan masa depan.