Berita

Tari Zapin dan Jejak Budaya yang Menyatukan Empat Negara

Empat negara mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO, membawa cerita tentang tradisi, migrasi, dan masyarakat yang terus menjaganya.

Oleh Ridwan

Tari Zapin dan Jejak Budaya yang Menyatukan Empat Negara
Empat negara mengusulkan Tari Zapin sebagai nominasi multinasional Warisan Budaya Takbenda UNESCO untuk memperkuat pelestarian tradisi yang hidup di masyarakat. Foto: InfoPublik.id
Diterbitkan

Ada tradisi yang tidak lahir dari satu ruang, apalagi mengenal batas yang tegas. Ia berpindah bersama manusia, bertemu dengan kebudayaan lain, lalu tumbuh dalam bentuk yang berbeda di setiap tempat. Tari Zapin adalah salah satunya. Dari gerak, musik, lagu, hingga pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, Zapin menyimpan cerita tentang masyarakat Asia Tenggara yang sejak lama saling berhubungan.

Kini, cerita itu dibawa ke panggung yang lebih luas. Indonesia bersama Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura mengusulkan Tari Zapin sebagai nominasi multinasional untuk masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO.

Bagi keempat negara, pengusulan tersebut bukan sekadar upaya mendapatkan pengakuan internasional, melainkan cara untuk memperkuat pelindungan terhadap tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan Zapin tumbuh dalam sejarah kawasan yang jauh lebih tua daripada batas-batas negara modern. Pertemuan antarmasyarakat, perpindahan manusia, dan akulturasi membuat tradisi ini berkembang dalam banyak rupa.

“Kita mengusulkan pada tahun 2027 untuk Zapin sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO. Ini adalah satu budaya yang tentu saja sama-sama kita share, karena pada zaman sebelumnya kita tidak terkait dengan batas-batas wilayah. Terjadi persilangan, pertemuan, migrasi, dan akulturasi budaya yang saling memengaruhi,” ujarnya di Gedung Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Satu Nama, Beragam Wajah

Di Indonesia sendiri, Zapin tidak hadir dalam satu bentuk tunggal. Di berbagai daerah, masyarakat mengenalnya dengan nama dan karakter yang berbeda, antara lain Zafin, Jepin, Japin, hingga Dana-Dani. Perbedaan itu memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial dan kebudayaan tempat ia tumbuh.

Bagi Fadli, keragaman tersebut justru menjadi kekuatan nominasi multinasional. “Ekspresi budaya Zapin di setiap negara berbeda-beda dan mempunyai ciri serta keunikan tersendiri. Justru keragaman ini menjadi kekuatan dari nominasi multinasional ini,” katanya.

Dengan cara pandang itu, pengusulan Zapin tidak menempatkan satu bentuk sebagai yang paling utama, tetapi memberi ruang bagi berbagai ekspresi yang berkembang di masing-masing komunitas.

Tradisi yang Hidup di Tengah Masyarakat

Di balik istilah warisan budaya takbenda, ada manusia yang membuat sebuah tradisi tetap hidup.

Ada penari yang terus berlatih, pemusik yang menjaga irama, orang-orang tua yang mengajarkan gerak kepada generasi berikutnya, serta komunitas yang membawa Zapin ke dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, masa depan Zapin tidak hanya ditentukan oleh dokumen nominasi, tetapi juga oleh keberlanjutan praktiknya di tengah masyarakat.

Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T. D. Retnoastuti menegaskan pentingnya posisi komunitas dalam proses tersebut.

“Inisiatif pengusulan ini bertujuan memperkuat kearifan kebudayaan di tingkat regional dan persaudaraan antarbangsa di Asia Tenggara. Saat ini proses pengusulan masih dalam tahap persiapan, sehingga diperlukan kerja bersama antara komunitas, pemerintah daerah, dan kementerian terkait untuk memastikan proses ini dapat terlaksana dengan baik, termasuk memastikan keterlibatan dan persetujuan komunitas secara bebas dan berdasarkan informasi yang memadai atau free, fair, and informed consent,” ungkapnya.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama perwakilan Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura usai mengumumkan pengusulan bersama Tari Zapin sebagai nominasi Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Foto: Kementerian Kebudayaan

Dari Jejak Sejarah Menuju Generasi Berikutnya

Pengusulan Zapin juga membawa pesan tentang bagaimana kebudayaan dapat menjadi jembatan. Wakil Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Farzamie Sarkawi, menyebut nominasi tersebut sebagai refleksi hubungan sejarah dan kebudayaan yang telah mengikat masyarakat di kawasan.

Menurutnya, para pelaku dan penjaga tradisi harus tetap menjadi bagian utama agar pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman mereka dapat terus diwariskan.

Pesan serupa datang dari Singapura. Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar Singapura, Terrence Teo, mengatakan Zapin merupakan tradisi yang terus dipraktikkan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

“Zapin merupakan tradisi yang hidup dan terus dipraktikkan serta diwariskan dari generasi ke generasi di negara-negara kami. Bagi Singapura, nominasi ini merupakan kelanjutan dari kemitraan yang telah terjalin di antara empat negara,” ujarnya.

Pengakuan Bukanlah Akhir

Jika kelak proses nominasi berjalan sesuai harapan, pengakuan internasional bukan semestinya menjadi garis akhir. Justru setelah perhatian dunia datang, pekerjaan yang lebih penting adalah memastikan Zapin tetap memiliki ruang untuk tumbuh di masyarakat.

Dokumentasi, pendidikan, regenerasi pelaku, ruang pertunjukan, serta dukungan kepada komunitas menjadi bagian dari pekerjaan panjang tersebut.

Pengusulan ke UNESCO dengan demikian bukan hanya tentang sebuah daftar, tetapi tentang bagaimana pengetahuan dan praktik budaya tetap dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Indonesia sebelumnya telah terlibat dalam sejumlah nominasi multinasional warisan budaya bersama negara-negara kawasan. Kerja sama semacam ini menunjukkan bahwa perbedaan bentuk dan ekspresi budaya tidak selalu menjadi batas. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi titik temu untuk saling mengenal dan menjaga warisan yang memiliki sejarah keterhubungan.

Pada akhirnya, cerita Zapin mungkin bukan terutama tentang sebuah daftar UNESCO.

Cerita itu adalah tentang bagaimana sebuah tradisi bertahan karena masih dianggap berarti oleh orang-orang yang menjalaninya. Ketika gerak, musik, dan pengetahuan Zapin terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, di situlah warisan tersebut benar-benar hidup—melampaui batas negara, sekaligus tetap berakar pada masyarakat yang menjaganya.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT