Soto Kudus, dikenal karena bahan dasarnya berasal dari potongan daging kerbau, ternyata memiliki makna toleransi dibaliknya. Dilengkapi dengan mie sohun, irisan kol, taoge, bertabur daun seledri dan bawang goreng, kuliner ini tidak hanya memiliki makna filosofi, namun juga menggugah selera.
Kota Kudus, tidak hanya dikenal sebagai kota kretek atau kota santri, namun juga ada berbagai kuliner lezat yang nikmat. Salah satunya yaitu soto kudus. Salah satu ciri khas dari Soto kudus adalah potongan daging kerbau yang berbentuk dadu, disertai dengan siraman kuah kaldu bening yang terbuat dari banyak rempah-rempah Indonesia.
Soto kudus biasanya disajikan bersama sate telur puyuh, sate kerbau, paru kerbau, otak-otak atau gorengan lainnya. Menurut beberapa sumber, porsi dari Soto Kudus dibuat kecil, karena ajaran Sunan Kudus yang menekankan pada hidup yang tidak berlebihan.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, budaya tersebut berubah. Saat ini banyak Soto Kudus yang disajikan dalam porsi normal, meski beberapa masih ada yang menyajikan dengan porsi kecil.
Makna Dibalik Soto Kudus
Di balik kelezatan soto kudus, ternyata terdapat makna ada sejarah panjang yang menyertainya. Dilansir dari situs resmi kuduskab.go.id, pada awalnya Kota Kudus bernama Loram. Namun, ada juga yang mengatakan dulunya bernama Tajug. Waktu itu, agama mayoritas penduduk di kota tersebut adalah agama Hindu.
Agama Islam sendiri masuk ke Tanah Jawa melalui perantara pedagang Muslim serta mubaligh melalui kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah pada abad ke-13 hingga 15 Masehi. Sehingga kemudian muncul kerajaan-kerajaan Islam di Cirebon, Banten, Pajang, Mataram, dan Demak, seiring runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit.
Perkembangan agama Islam di Tanah Jawa juga tidak terlepas dari peran Wali Songo, salah satunya adalah Ja’far Shadiq atau Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Sunan Kudus. Pada masa inilah, Kota Tajug berganti nama menjadi Kudus yang diambil dari Bahasa Arab Al-Quds yang berarti kesucian. Quds sendiri memiliki arti “suci” yang pelafalannya oleh orang-orang Jawa pada masa itu menjadi “Kudus.”
Dalam menyampaikan dakwahnya di Kota Kudus, Sunan Kudus menerapkan prinsip dakwah Wali Songo, yaitu penyampaian ajaran agama Islam yang disesuaikan dengan adat budaya serta kepercayaan penduduk setempat.
Strategi dakwah tersebut diaplikasikan dalam bentuk bertoleransi dengan umat non-Muslim yang dilakukan melalui seni, sosial, dan budaya. Dalam bidang sosial, Sunan Kudus memahami dan menghormati bahwa dalam agama Hindu, terdapat ajaran Ahimsa atau ahiṃsā atau ahingsā yang berarti “anti-kekerasan.”
Ajaran tersebut juga berlaku pada hewan, termasuk sapi. Karena bagi umat Hindu, sapi adalah hewan yang dianggap suci dan merupakan lambang dari semua hewan ternak di alam semesta. Menurut kepercayaan mereka sapi adalah ibu dari seluruh dunia.
Dilansir dari Buku Keagungan Sapi Menurut Weda yang ditulis oleh Made Darmayasa, sapi dipercaya sebagai milik dewa dan dapat mewujudkan semua keinginan yang dikehendaki oleh manusia. Sapi juga dilambangkan sebagai kendaraan Dewa Siwa, dewa alam semesta.
Oleh karena itu, demi menghormati penganut agama Hindu dan menjaga toleransi antar umat beragama, Sunan Kudus melarang pengikutnya untuk menyembelih sapi, termasuk pada saat perayaan Hari Raya Idul Adha. Sapi lalu digantikan dengan kerbau. Itulah sebabnya mengapa soto kudus di Kudus menggunakan daging kerbau dan bukan daging sapi. (Anisa Kurniawati- Sumber: Indonesiakaya.com)