Cianjur adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di bagian barat dan selatan provinsi Jawa Barat. Sebagian besar wilayah ini berupa pegunungan, kecuali di sebagian pantai selatan berupa dataran rendah yang sempit.
Dibalik keindahan alam dan budaya Cianjur, terdapat legenda mengenai asal usul nama Cianjur.
Dikisahkan di zaman dahulu, di sebuah desa kecil di Jawa Barat, hiduplah seorang lelaki kaya raya yang dikenal dengan nama Pak Kikir.
Pak Kikir yang Pelit
Sebutan itu diberikan penduduk sekitar karena sifatnya yang sangat pelit dan enggan berbagi.
Pak Kikir memiliki kekayaan melimpah berupa sawah dan ladang yang hampir menguasai seluruh desa. Sebaliknya, penduduk desa hanya bekerja sebagai buruh tani di tanah miliknya.
Berbeda dengan ayahnya, anak Pak Kikir memiliki sifat yang dermawan dan suka menolong. Meskipun sering dilarang ayahnya, diam-diam ia tetap membantu penduduk yang membutuhkan.
Suatu hari, masyarakat desa bersiap mengadakan pesta syukuran sebagai bagian dari tradisi untuk memohon hasil panen yang lebih baik. Takut dianggap tidak mengikuti adat, Pak Kikir pun mengadakan acara serupa.
Namun, sifat kikirnya tetap terlihat, karena jamuan yang ia sediakan sangat terbatas dan tidak mencukupi semua tamu. Para undangan pun kecewa dan membicarakan sifat pelit Pak Kikir.
Di tengah acara, datanglah seorang nenek tua yang meminta sedekah. Namun, bukannya memberi, Pak Kikir justru menghardiknya dengan kasar dan mengusirnya. Sang nenek yang merasa sakit hati pun pergi dengan perasaan sedih.
Tanpa sepengetahuan ayahnya, anak Pak Kikir mengejar sang nenek dan memberikan makanan yang berhasil ia sisihkan.
Nenek itu menerima makanan dengan penuh syukur, mendoakan kebaikan bagi anak Pak Kikir, lalu melanjutkan perjalanannya hingga ke sebuah bukit dekat desa.
Tenggelamnya Pak Kikir dan Hartanya
Dari atas bukit, nenek tua itu memandangi rumah besar milik Pak Kikir, satu-satunya bangunan megah di desa. Kemarahannya kembali memuncak, lalu ia mengucapkan doa agar orang yang tamak dan kikir itu mendapatkan balasan setimpal.
Ia menancapkan tongkatnya ke tanah dan ketika mencabutnya, air menyembur dengan deras. Dalam sekejap, air semakin banyak dan mengalir deras menuju desa, menyebabkan banjir besar.
Penduduk desa yang melihat air bah datang berteriak panik dan berusaha menyelamatkan diri. Anak Pak Kikir dengan sigap mengarahkan mereka agar segera mengungsi ke bukit terdekat. Namun, Pak Kikir enggan meninggalkan rumahnya.
Ia lebih memilih menyelamatkan hartanya, berpikir bahwa kekayaannya bisa menolongnya. Meskipun anaknya terus membujuk, ia tetap keras kepala. Akhirnya, Pak Kikir pun tenggelam bersama hartanya yang begitu ia cintai.
Asal Mula Nama Cianjur
Setelah bencana berlalu, desa mereka telah lenyap, dan penduduk yang selamat harus mencari tempat tinggal baru. Mereka memutuskan untuk menetap di lokasi lain yang lebih aman dan mengangkat anak Pak Kikir sebagai pemimpin mereka.
Anak Pak Kikir memimpin dengan sifatnya yang bijaksana dan baik. Atas kebiasaan penduduk yang selalu mengikuti nasihat pemimpin mereka, tempat tersebut kemudian dinamakan “Anjuran”.
Seiring berjalannya waktu, desa Anjuran berkembang menjadi sebuah kota yang semakin besar. Lama-kelamaan, nama tempat ini berubah menjadi “Cianjur”, sebagaimana yang kita kenal saat ini.