Berita

Candiyasan-Keseneng Disiapkan Jadi 5 Dieng Baru, Warga Diminta Pertahankan Tanah

Kawasan lereng Gunung Sindoro, tepatnya di wilayah Candiyasan-Keseneng, kini mulai mencuri perhatian sebagai destinasi wisata baru yang digadang-gadang menjadi salah satu dari lima “Dieng Baru” di Kabupaten Wonosobo. Pemerintah daerah pun mulai melakukan berbagai persiapan agar pengembangan wilayah ini dapat berjalan terarah dan menguntungkan masyarakat lokal. Sekretaris Daerah (Sekda) Wonosobo, One Andang Wardoyo, menyampaikan bahwa […]

Oleh Achmad Aristyan

Candiyasan-Keseneng Disiapkan Jadi 5 Dieng Baru, Warga Diminta Pertahankan Tanah
Pertigaan Candiyasan, jalan dibagian kanan mengarah ke Bedakah, Damarkasiyan, Kertek, Wonosobo, dimana terdapat objek wisata Telaga Bedakah, Gunung Cilik dan Kebun Teh Bedakah. Foto: Aristyan
Diterbitkan

Kawasan lereng Gunung Sindoro, tepatnya di wilayah Candiyasan-Keseneng, kini mulai mencuri perhatian sebagai destinasi wisata baru yang digadang-gadang menjadi salah satu dari lima “Dieng Baru” di Kabupaten Wonosobo.

Pemerintah daerah pun mulai melakukan berbagai persiapan agar pengembangan wilayah ini dapat berjalan terarah dan menguntungkan masyarakat lokal.

Sekretaris Daerah (Sekda) Wonosobo, One Andang Wardoyo, menyampaikan bahwa Candiyasan-Keseneng memiliki potensi besar yang tidak hanya terbatas pada sektor pariwisata, tetapi juga dapat menjadi lokomotif pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Pemkab Wonosobo Dukung Investor Bangun Mall dan Hotel di Kalianget

“Potensi kawasan ini perlu kita arahkan secara sistematis agar pertumbuhannya tidak liar, melainkan teratur dan berkelanjutan,” ujar Andang, Kamis (17/4/2025) dilansir dari Kabar Wonosobo.

Ia menekankan, pengembangan wilayah ini tidak boleh melupakan isu-isu krusial seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga lingkungan hidup.

Karena itu, pendekatannya harus menyeluruh dan melibatkan banyak pihak, termasuk masyarakat lokal.

“Kita tidak hanya bicara wisata, tetapi bagaimana warga sekitar bisa turut tumbuh bersama kawasan ini. Pendekatannya harus integratif,” imbuhnya.

Di tengah geliat pembangunan ini, Andang pun mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menjual lahan miliknya.

Jalan menuju ke Bedakah, Damarkasiyan, Kertek, Wonosobo, terkenal dengan nama “Dalan Anyar” yang berarti jalan baru. Foto: Aristyan

Menurutnya, banyak pengalaman di wilayah lain menunjukkan warga sering kali menjadi penonton saat tanah mereka berubah fungsi dan dikelola investor luar.

“Jangan cepat-cepat jual tanah. Justru harus dipikirkan bagaimana tanah itu bisa dimanfaatkan untuk usaha, seperti membuka homestay atau usaha kuliner. Jadi masyarakat yang diuntungkan, bukan hanya investor dari luar,” tegasnya.

Sebagai bentuk keseriusan, Pemkab Wonosobo melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) tengah menyiapkan studi koridor kawasan Candiyasan-Keseneng.

Baca Juga: Antara Awan dan Akar Budaya, Semarak Balon Udara Jaraksari 2025

Hasil studi ini akan menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) agar pengembangan kawasan tidak melanggar aturan tata ruang dan tetap menjaga kelestarian alam.

Dengan panorama alam lereng Sindoro yang memesona dan dukungan penuh dari pemerintah daerah, Candiyasan-Keseneng diyakini dapat tumbuh sebagai magnet wisata baru di Jawa Tengah.

Harapannya, kawasan ini tidak hanya menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan warga setempat secara nyata.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Berita

Lihat semua →
Ikan arwana Super Red asal Kalimantan Barat yang dikenal dari kawasan Kapuas Hulu dan Danau Sentarum.

Kearifan Lokal Menjaga Arwana Super Red Kalbar

Arwana Super Red Kalimantan Barat dikenal di pasar ikan hias internasional. Di sekitar Danau Sentarum, pengetahuan dan keterlibatan masyarakat berperan menjaga kelestarian ikan kebanggaan daerah ini.

Ridwan
Budaya Batang Menelusuri Jejak Mataram

Budaya Batang Menelusuri Jejak Mataram

Dialog budaya Batang dan DI Yogyakarta membuka kembali pembahasan hubungan sejarah pesisir utara Jawa dengan Mataram Islam yang menjadi bagian dari upaya penelitian serta pelestarian warisan sejarah.

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan