Pariwisata

Empat Menara Masjid At Thohir yang Bercerita

Dari amanah keluarga Thohir hingga destinasi wisata religi, Masjid At-Thohir menyatukan ibadah, arsitektur, sejarah, dan ruang sosial.

Oleh Ridwan

Tampak depan Masjid At-Thohir di kawasan Tapos, Depok dengan kubah putih dan menara menjulang.
Masjid At-Thohir di Tapos, Depok, yang diproyeksikan menjadi salah satu daya tarik wisata religi Jawa Barat. Foto: ist
Diterbitkan

Bus-bus rombongan datang silih berganti ke kawasan Masjid At-Thohir, Tapos, Depok. Sebagian jamaah datang untuk beribadah, sebagian lainnya sekaligus menikmati keunikan bangunan yang sejak awal memang dirancang lebih dari sekadar tempat salat.

Terutama ketika malam tiba, wajah Masjid At-Thohir berubah. Pencahayaan bangunan dan kemegahan deretan kubah menjadikannya ruang yang menarik perhatian pengunjung. Di tengah perjalanan rombongan wisata religi, masjid ini menawarkan pengalaman yang mempertemukan ibadah, arsitektur, sejarah keluarga, dan ruang berkumpul.

Fenomena itu kini memperoleh babak baru. Pada 9 Juli 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Barat meluncurkan program Pariwisata Ramah Muslim atau Smiling West Java-Muslim Friendly Tourism di Masjid At-Thohir, Kota Depok.

Pemilihan At-Thohir bukan tanpa alasan. Masjid yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 9 Maret 2022 itu diproyeksikan menjadi daya tarik wisata berbasis religi dengan konsep zona KHAS: Kuliner, Halal, Aman, dan Sehat.

Dengan demikian, program pemerintah tersebut tidak semata-mata menciptakan destinasi baru. Ia juga berupaya memperkuat ekosistem yang secara kasatmata sudah hidup di sekitar masjid.

Masjid At-Thohir dan Babak Baru Wisata Religi Jawa Barat

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Iendra Sofyan mengatakan pendampingan terhadap Masjid At-Thohir sedang dilakukan untuk mengembangkannya sebagai daya tarik wisata berbasis religi sekaligus mendorong konsep zona KHAS.

Dalam pengembangannya, pemerintah daerah berkolaborasi dengan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah serta Balai Penyelenggara Jaminan Produk Halal.

Konsep tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap wisata religi. Masjid tidak hanya ditempatkan sebagai titik persinggahan untuk beribadah, tetapi sebagai ruang yang dapat mempertemukan layanan wisata, kuliner, produk halal, keamanan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat.

Bagi Pemerintah Kota Depok, pengembangan tersebut juga berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas destinasi dan pelayanan wisata.

Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah menyebut pariwisata tidak semestinya hanya berorientasi pada jumlah kunjungan. Kualitas destinasi, pelayanan berbasis data, serta kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat menjadi bagian penting dari pengembangannya.

Masjid At-Thohir pun berada di titik temu antara dua fungsi tersebut: rumah ibadah yang terus digunakan masyarakat dan ruang yang memiliki daya tarik bagi pengunjung dari berbagai daerah.

Dari Amanah Mochamad Teddy Thohir

Di balik bangunan megah Masjid At-Thohir terdapat kisah keluarga.

Masjid ini dibangun oleh dua bersaudara, Garibaldi Thohir atau Boy Thohir dan Erick Thohir, sebagai bagian dari penghormatan kepada ayah mereka, Mochamad Teddy Thohir.

Bagi keluarga Thohir, pembangunan masjid tersebut berkaitan dengan amanah untuk meneruskan nilai pengabdian sang ayah.

Proses pembangunan tidak berlangsung seketika.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 31 Maret 2018 oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla yang ketika itu juga menjabat Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia.

Saat itu, Jusuf Kalla menyebut masjid yang diwakafkan kepada masyarakat tersebut dapat menjadi amal ibadah keluarga dan almarhum Teddy Thohir.

Empat tahun kemudian, masjid tersebut memasuki babak baru.

Kubah dan bangunan Masjid At Thohir terlihat dari udara, menampilkan karakter arsitektur masjid yang menjadi salah satu ikon religi di kawasan Depok, Jawa Barat. Foto:Ist

Diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2022

Pada 9 Maret 2022, Presiden Joko Widodo meresmikan Masjid At-Thohir di kawasan Tapos, Depok.

Dalam peresmian tersebut, Presiden berharap masjid dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah modern yang mencerdaskan dan mencerahkan.

Jokowi juga mengharapkan Masjid At-Thohir menjadi ruang mempererat silaturahmi dan persaudaraan serta ikut memperkuat toleransi dan moderasi beragama.

Pesan tersebut penting untuk memahami posisi At-Thohir hari ini.

Sebab sejak awal, masjid ini memang tidak dirancang sebagai bangunan yang hanya ramai ketika waktu salat. Berbagai ruang pendukung membuatnya memiliki kemungkinan untuk menjadi tempat berlangsungnya aktivitas umat.

Dalam konteks sejarah pembangunannya, peresmian oleh Presiden menjadi salah satu tonggak penting perjalanan At-Thohir dari gagasan keluarga menjadi ruang publik.

29 Kubah dan Empat Menara yang Bercerita

Salah satu daya tarik paling mudah dikenali dari Masjid At-Thohir adalah komposisi kubah dan menaranya.

Bangunan ini memiliki 29 kubah yang dikelilingi empat menara. Jumlah dan susunannya bukan sekadar persoalan estetika.

Kubah terbesar dimaknai sebagai simbol sosok ayah, Mochamad Teddy Thohir, sebagai pemimpin keluarga.

Di sekitarnya terdapat tiga kubah berukuran sedang yang merepresentasikan tiga anaknya: Vitaya, Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, dan Erick Thohir. Sementara kubah-kubah berukuran lebih kecil dikaitkan dengan generasi cucu.

Ada satu simbol yang justru tidak berada di atas bangunan. Pondasi masjid dimaknai sebagai sosok ibu yang menopang seluruh anggota keluarga.

Dengan begitu, arsitektur At-Thohir dapat dibaca sebagai sebuah narasi keluarga yang diterjemahkan ke dalam bentuk bangunan.

Kubah terbesar, kubah-kubah sedang, kubah kecil, dan pondasi membentuk semacam komposisi silsilah. Empat menara yang mengelilinginya kemudian dikaitkan dengan empat penjuru mata angin.

Arsitektur tersebut membuat pengunjung tidak hanya melihat sebuah masjid yang megah, tetapi juga dapat membaca cerita yang berada di balik bentuk fisiknya.

Ketika Keluarga Diterjemahkan Menjadi Arsitektur

Dalam banyak bangunan keagamaan, arsitektur bekerja sebagai bahasa.

Ia menyampaikan nilai melalui bentuk, ruang, proporsi, ornamen, cahaya, hingga hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Pada Masjid At-Thohir, bahasa tersebut secara kuat berkaitan dengan keluarga.

Ayah berada pada posisi simbolis tertinggi melalui kubah utama. Anak-anak berada di sekelilingnya. Generasi berikutnya hadir dalam kubah-kubah yang lebih kecil.

Sementara seluruh komposisi berdiri di atas pondasi yang dimaknai sebagai ibu.

Konsep ini menjadikan Masjid At-Thohir menarik untuk dibaca dari sisi arsitektur Islam Indonesia, bukan semata-mata karena bentuk kubah dan menaranya, tetapi karena adanya gagasan simbolis yang menyertai bentuk tersebut.

Detail arsitektur interior Masjid At Thohir menampilkan perpaduan ornamen, bentuk, dan ruang yang memberi karakter khas pada bagian dalam masjid.

Masjid sebagai Sarana Aktivitas Umat

Erick Thohir pernah menyampaikan harapan keluarga agar Masjid At-Thohir menjadi sarana aktivitas umat.

Dalam keterangannya, ia membawa pesan sang ayah agar keluarga terus mengabdi dan berkontribusi kepada masyarakat.

Masjid diharapkan menjadi tempat berlangsungnya aktivitas umat, ruang bertemunya masyarakat, tempat terjalinnya silaturahmi, sekaligus ruang yang dapat ikut menggerakkan roda ekonomi.

Harapan itu sejalan dengan konsep ruang yang dibangun di kompleks At-Thohir.

Area keseluruhan masjid yang mencakup ruang salat utama, lobi, pre-function, dan plaza serbaguna memiliki luas sekitar 3.240 meter persegi dengan kapasitas hingga 3.371 jamaah.

Kompleks masjid secara keseluruhan mencapai sekitar 9.000 meter persegi dan dilengkapi fasilitas seperti amphitheater, taman, serta area parkir.

Kehadiran berbagai fasilitas tersebut memperluas fungsi masjid dari ruang salat menjadi ruang berkegiatan. Pada titik inilah gagasan wisata religi memiliki landasan yang lebih kuat.

Ketika Jamaah Datang Sekaligus Berwisata

Kunjungan ke masjid tidak selalu berhenti pada aktivitas ibadah.

Dalam pengamatan di kawasan Masjid At-Thohir, rombongan dari berbagai daerah dapat terlihat datang menggunakan bus. Mereka beribadah, beristirahat, berkumpul, sekaligus menikmati karakter arsitektur masjid.

Situasi seperti ini menunjukkan bahwa pengalaman wisata religi sesungguhnya dapat tumbuh secara alami ketika sebuah tempat memiliki daya tarik yang kuat.

Masjid At-Thohir memiliki beberapa unsur yang mendukung pengalaman tersebut: bangunan dengan skala monumental, komposisi kubah dan menara, ruang terbuka, fasilitas pendukung, serta suasana berbeda antara siang dan malam.

Pada malam hari, pencahayaan bangunan semakin menonjolkan bentuk arsitekturnya.

Pencahayaan warna-warni menyelimuti Masjid At Thohir pada malam hari, menghadirkan suasana berbeda pada bangunan masjid setelah matahari terbenam. Foto: Ist

Bagi pengunjung, pengalaman semacam ini dapat menjadi bagian dari perjalanan religi yang tidak hanya berisi aktivitas ibadah, tetapi juga pengenalan terhadap arsitektur dan cerita yang melekat pada sebuah tempat.

Karena itu, pengembangan wisata religi di At-Thohir lebih menarik jika ditempatkan sebagai upaya menata pengalaman yang sudah berlangsung, bukan sekadar mendatangkan wisatawan baru.

Kemegahan bangunan memang menjadi pintu masuk pertama bagi pengunjung. Tetapi wisata religi yang berkelanjutan membutuhkan cerita.

Pengunjung perlu mengetahui mengapa masjid tersebut dibangun, siapa yang berada di baliknya, apa makna nama At-Thohir, mengapa terdapat 29 kubah, dan bagaimana gagasan keluarga diterjemahkan ke dalam arsitektur.

Di sinilah informasi sejarah dan budaya menjadi penting. Tanpa konteks, pengunjung hanya melihat bangunan.

Dengan konteks, mereka dapat memahami narasi yang tersimpan di dalamnya.

Dalam kerangka tersebut, Masjid At-Thohir dapat ditempatkan sebagai salah satu contoh bagaimana arsitektur, sejarah keluarga, kehidupan keagamaan, dan pariwisata dapat bertemu dalam satu ruang.

At-Thohir di Los Angeles: Nama yang Sama, Konteks Berbeda

Nama At-Thohir ternyata tidak hanya hadir di Depok.

Keluarga Thohir juga mendirikan Masjid At-Thohir di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Masjid tersebut diresmikan pada 27 Maret 2022 oleh Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Rosan P. Roeslani.

Kehadirannya ditujukan antara lain untuk memberi ruang bagi komunitas Muslim Indonesia dan masyarakat Muslim lainnya di Los Angeles. Kedua masjid itu tentu merupakan bangunan yang berbeda dan berada dalam konteks masyarakat yang berbeda pula.

Namun terdapat benang merah pada kisah keduanya: nama At-Thohir membawa ingatan terhadap Mochamad Teddy Thohir dan semangat menghadirkan ruang ibadah yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Di Depok, At-Thohir kini berkembang dalam konteks wisata religi dan kehidupan perkotaan. Di Los Angeles, ia memiliki arti penting bagi komunitas Muslim Indonesia di perantauan.

Dua tempat, satu nama, dan dua pengalaman sosial yang berbeda.

Dari Rumah Ibadah Menjadi Ruang Budaya

Program Pariwisata Ramah Muslim Jawa Barat membuka babak baru bagi Masjid At-Thohir.

Pemerintah tidak hanya melihat potensi bangunannya, tetapi juga mencoba membangun ekosistem di sekitarnya melalui konsep Kuliner, Halal, Aman, dan Sehat.

Jika dikembangkan dengan baik, wisata religi di At-Thohir tidak harus mengubah karakter masjid menjadi objek wisata semata.

Justru sebaliknya.

Fungsi utama sebagai rumah ibadah dapat tetap menjadi pusat, sementara sejarah, arsitektur, kegiatan umat, kuliner halal, ekonomi masyarakat, dan pengalaman pengunjung menjadi lapisan yang memperkaya perjalanan.

Model semacam ini membuat wisata religi tidak sekadar berbicara tentang jumlah orang yang datang, juga apa yang mereka pelajari, apa yang mereka rasakan, dan manfaat apa yang tinggal setelah mereka pulang.

Jemaah melaksanakan ibadah di dalam Masjid At Thohir, dengan ruang interior yang luas dan ornamen arsitektur yang memberikan kesan megah. Foto: Ist

Amanah yang Menjadi Ruang Bersama

Perjalanan Masjid At-Thohir dimulai dari sebuah amanah keluarga.

Peletakan batu pertama pada 2018 menandai dimulainya pembangunan. Peresmian oleh Presiden Joko Widodo pada 2022 membuka fase baru sebagai masjid yang diharapkan menjadi pusat aktivitas umat.

Kini, pada 2026, pemerintah Jawa Barat mendorongnya memasuki wilayah lain: wisata religi ramah Muslim. Di antara semua perubahan itu, satu hal tetap menjadi pusatnya: masjid sebagai ruang bagi manusia.

Kubah-kubahnya menyimpan simbol keluarga. Pondasinya mengingatkan pada sosok ibu. Menaranya menjulang ke empat penjuru. Ruang-ruangnya menampung jamaah dan berbagai kegiatan.

Sementara di luar bangunan, bus-bus rombongan terus datang membawa orang-orang yang ingin beribadah sekaligus melihat salah satu masjid yang memiliki karakter arsitektur khas di kawasan Depok.

Dari sebuah amanah untuk mengenang seorang ayah, Masjid At-Thohir perlahan menjadi ruang bersama.

Dan ketika pemerintah kini menempatkannya dalam ekosistem wisata religi Jawa Barat, tantangannya bukan sekadar membuat semakin banyak orang datang.

Tantangannya adalah menjaga agar setiap orang yang datang menemukan lebih dari sekadar kemegahan bangunan: sebuah kisah tentang keluarga, pengabdian, ibadah, arsitektur, dan ruang sosial yang terus hidup.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT