Tradisi

Menelusuri Tradisi Beluluh Kutai, Warisan Budaya Penuh Makna

Indonesia kaya akan tradisi adat yang sarat dengan nilai spiritual dan simbolisasi seperti ritual Beluluh di Kutai, Kalimantan. Tradisi penuh makna ini, menjadi cara bagi masyarakat menyampaikan harapan dan doa kepada Tuhan. Tradisi ini mencerminkan harapan orang tua agar individu yang menjalani prosesi ini memperoleh keselamatan, kebijaksanaan, dan keberkahan hidup. Mantra-mantra yang diucapkan selama prosesi […]

Oleh Achmad Aristyan

Menelusuri Tradisi Beluluh Kutai, Warisan Budaya Penuh Makna
Prosesi memercikan air dalam upacara adat Beluluh. Foto: kukarpaper.com
Diterbitkan

Indonesia kaya akan tradisi adat yang sarat dengan nilai spiritual dan simbolisasi seperti ritual Beluluh di Kutai, Kalimantan. Tradisi penuh makna ini, menjadi cara bagi masyarakat menyampaikan harapan dan doa kepada Tuhan.

Tradisi ini mencerminkan harapan orang tua agar individu yang menjalani prosesi ini memperoleh keselamatan, kebijaksanaan, dan keberkahan hidup.

Mantra-mantra yang diucapkan selama prosesi menjadi penghubung antara doa orang tua dan harapan yang diamanatkan kepada individu.  

Asal Usul Upacara Beluluh  

Melansir dari tribunnews.com, upacara adat Beluluh berawal dari sebuah kisah di Tanjung Ruwana, Kutai, tahun 1300. Upacara pertama kali dilakukan saat lahirnya bayi perempuan yang kelak menjadi permaisuri Raja Kutai pertama, Adji Batara Agung Dewa Sakti. 

Upacara Adat Beluluh memiliki prosesi yang kaya simbolisme, dimulai dengan persiapan air suci yang dicampur bunga harum, daun sirih, dan sesajen sebagai simbol penghormatan kepada leluhur.

Inti ritualnya adalah mandi penyucian menggunakan air tersebut, dilakukan oleh tokoh adat atau orang tua sambil mengucapkan mantra doa untuk keselamatan dan kebijaksanaan hidup. 

Setelah itu, individu yang diluluh mengenakan pakaian adat sebagai lambang kesucian, diikuti dengan nasihat dan doa dari orang tua atau sesepuh. Prosesi ini diakhiri dengan makan bersama sebagai ungkapan syukur dan kebersamaan.

Prosesi ini bertujuan menyucikan bayi serta menjadikannya simbol kemurnian dan harapan baru.  

Baca juga: Melihat Warisan Kerajaan Tertua di Istana Kutai Kartanegara

Filosofi di Balik Upacara  

Dilansir dari kukarpaper.com, makna mendalam dari Beluluh adalah keinginan agar seseorang dapat kembali kepada kemurnian, seperti bayi yang baru dilahirkan.

Prosesi ini tidak hanya menjadi ritual penyucian secara simbolis tetapi juga sarana refleksi diri untuk mencapai kebijaksanaan dan ketenangan batin.  

Dalam pelaksanaannya, ritual ini sering diiringi doa-doa khusus, penyucian menggunakan air yang telah diberkati, dan berbagai tahapan yang merepresentasikan perjalanan hidup manusia.

Dengan menjalani ritual ini, individu diharapkan dapat melangkah ke depan dengan hati yang bersih dan tekad yang lebih kuat.  

Tradisi yang Menjaga Warisan Budaya  

Sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, Upacara Adat Beluluh menunjukkan bagaimana masyarakat lokal memadukan tradisi dengan nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga kini.

Melalui ritual ini, generasi muda diajak untuk memahami dan melestarikan budaya leluhur, sekaligus menghargai makna kehidupan yang lebih dalam.  

Upacara ini adalah pengingat bahwa harapan, doa, dan kebijaksanaan adalah pilar penting dalam kehidupan, sesuatu yang ingin diwariskan orang tua kepada generasi berikutnya.

TopikTradisi
Tradisi23 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan