Pariwisata

Menyusuri Keindahan Alam Tersembunyi di Pemandian Mata Air Mudal Slukatan

Pemandian Mata Air Mudal, merupakan salah satu destinasi alam tersembunyi yang berada di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Destinasi ini menawarkan kesegaran pemandian mata air dengan panorama alamnya yang memukau. Letaknya berada di Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo. Wisata alam ini merupakan sebuah kolam alami yang sumber airnya berasal langsung dari mata air pegunungan. Destinasi Alami […]

Oleh Anisa Kurniawati

Pemandian Mata Air Mudal
Pemandian Mata Air Mudal Slukatan. Foto: Anisa
Diterbitkan

Pemandian Mata Air Mudal, merupakan salah satu destinasi alam tersembunyi yang berada di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Destinasi ini menawarkan kesegaran pemandian mata air dengan panorama alamnya yang memukau.

Letaknya berada di Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo. Wisata alam ini merupakan sebuah kolam alami yang sumber airnya berasal langsung dari mata air pegunungan.

Destinasi Alami untuk Rehat dan Refresh

Menurut warga sekitar, keberadaan Pemandian Mata Air Mudal tidak diketahui secara pasti. “Kalau asal-usul pemandian mata air ini sudah nggak ada yang tahu. Kalau kata orang-orang, mata air ini sudah ada sebelum Desa Slukatan berdiri.” jelas Udin, warga lokal Slukatan.

Selain digunakan sebagai destinasi wisata alam, mata air ini juga dimanfaatkan desa-desa yang berada di bawah Slukatan, seperti Kebrengan, Wonokromo, dan lainnya. Air yang mengalir biasanya digunakan untuk mengairi persawahan.

Sebagai destinasi alam, pengunjung dapat berenang atau sekadar bermain air sembari menikmati pemandangan sekitar. Kejernihan air di tempat ini sungguh luar biasa. Ditambah dengan pepohonan di sekitar yang menambah sejuk suasana.

Pemandian Mata Air Mudal
Suasana di sekitar Pemandian Mata Air Mudal Slukatan. Foto: Anisa

Keunikan Pemandian Mata Air Mudal

Pemandian alami ini memiliki keunikan tersendiri. Dari atas permukaan, pengunjung bisa menyaksikan ikan-ikan mas dan koi warna-warni berenang bebas, menciptakan pemandangan yang memanjakan mata dan menenangkan jiwa.

Keunikan lain dari tempat ini adalah batang pohon tumbang di tengah kolam, yang secara alami menjadi ikon dari Pemandian Mudal. Batang ini tidak hanya memperindah suasana, tetapi juga menjadi spot favorit untuk bermain air maupun berfoto estetik.

“Pohon itu baru tumbang belum lama, dulunya pohon beringin itu besar sekali sampai seluruh area bendungan mata air terpayungi. Mungkin karena sudah tua, jadinya tumbang.” kata Udin.

Pemandian ini bukan sekadar tempat untuk berenang. Suasana di sekitarnya yang masih alami dan dikelilingi oleh pepohonan rindang membuatnya cocok sebagai lokasi untuk bersantai.

Udaranya sejuk khas pegunungan serta suasana yang tenang. Sehingga menjadikan tempat ini pilihan tepat untuk melepas penat dari rutinitas harian.

Baca juga: Belajar Mendaki bagi Pendaki Pemula di Gunung Cilik Wonosobo

Bagi para pendaki Gunung Bismo via Silandak, pemandian ini bisa menjadi tempat sempurna untuk menyegarkan diri. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari jalur pendakian menjadikannya populer di kalangan petualang alam.

Pemandian Mata Air Mudal
Pengunjung yang sedang menikmati pemandangan bawah air berupa ikan-ikan yang berwarna-warni. Foto: Anisa

Akses dan Fasilitas

Akses menuju tempat ini mudah meski cukup jauh dari pusat kota. Hanya sekitar 25 menit dari pusat Kota Wonosobo. Namun, perlu dicatat bahwa jalan menuju lokasi tidak ada kendaraan umum dan di beberapa area cukup sempit.

Maka dari itu, pengunjung perlu membawa kendaraan pribadi. Fasilitasnya masih sederhana, hanya terdapat warung dan kamar mandi. Meski begitu, kealamiannya yang masih terjaga menjadi nilai lebih.

Untuk masuk ke kawasan Pemandian Mata Air Mudal tidak dipungut biaya. Pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir seikhlasnya. Jika ingin memberi makan ikan, tersedia pakan yang dijual di warung sekitar.

Baca juga: Telaga Menjer Wonosobo, Pesona Wisata Alam yang Menenangkan

Tradisi di Sekitar Mata Air

Desa Slukatan sendiri memiliki tradisi tahunan yang sampai saat ini masih dilakukan. Setiap bulan Suro, desa ini mengadakan pagelaran wayang yang ditutup dengan pengajian akbar.

“Setiap bulan Suro sini mengadakan pagelaran wayang. Nanti, rangkaian acaranya ada pementasan kesenian, nyadran, bersih-bersih desa dan mata air mudal, kemudian wayangan, baru ditutup dengan pengajian akbar.” ujar Udin.

Selain tradisi tahunan, siapa saja yang berkunjung ke kolam alami ini juga diminta untuk tetap menjaga kebersihan dan kelestarian tempat. Pengunjung dilarang mengotori sumber mata air dengan bahan kimia seperti sabun, sampo, dan lainnya.

Selain itu, pengunjung juga diminta untuk tidak memancing ataupun mengonsumsi ikan yang berada di kolam mata air Mudal

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati