Tradisi

Paabingkon, Upacara Kelahiran Cucu Pertama di Simalungun

Paabingkon Pahompu, upacara adat suku Batak Simalungun, Sumatera Utara. Tradisi ini dilakukan ketika ada cucu pertama di suatu keluarga lahir. Bayi ini kemudian akan di bawa kepada kakek dan neneknya. Biasanya dilakukan di rumah dan masih bertahan hingga sekarang. Upacara Paabingkon bukan hanya sebatas membawa cucu pada kakek dan neneknya saja. Tradisi ini juga bermaksud […]

Oleh Anisa Kurniawati

Paabingkon Pahompu
Paabingkon Pahompu, upacara adat suku Batak Simalungun. Foto: Tangkapan layar youtube Mochtar Manik
Diterbitkan

Paabingkon Pahompu, upacara adat suku Batak Simalungun, Sumatera Utara. Tradisi ini dilakukan ketika ada cucu pertama di suatu keluarga lahir. Bayi ini kemudian akan di bawa kepada kakek dan neneknya. Biasanya dilakukan di rumah dan masih bertahan hingga sekarang.

Upacara Paabingkon bukan hanya sebatas membawa cucu pada kakek dan neneknya saja. Tradisi ini juga bermaksud untuk meminta doa disertai dengan pemberian nama. Sang kakek dari pihak ibu, biasanya akan memberikan nama yang mengandung doa, harapan dan cita-cita.

Tahapan Paabingkon memiliki beberapa tahapan. Pertama, kakek dari pihak ibu akan memberikan putri dan cucunya Dayok Nabitur, masakan khas Simalungun berbahan baku ayam. Pemberian Dayok Nabitur akan diiringi dengan pemberian kalimat doa. 

Bagi masyarakat Simalungun, Dayok Nabitur memiliki makna filosofis berupa pentingnya  keseimbangan dan keselarasan dalam segala aspek kehidupan. Kedua, dilanjutkan dengan prosesi pemberian kain panjang untuk menggendong bayi sambil memanjatkan doa.

Baca Juga: https: Memahami Filosofi Habonaron Do Bona Di Simalungun

Proses ketiga, orang tua akan menyerahkan anaknya ke ompu atau ompung diikuti dengan kata- kata harapan dan doa. Keempat, kakek dan neneknya kemudian membawa sang cucu, lalu memberikannya nama dan sang kakek kembali berdoa. 

Pemberian nama atau manghatahon goar biasanya menggunakan nama terbaik yang mengandung harapan bagi masa depan anak. Proses ini diiring doa seperti doa agar cucunya segera diberikan adik,  atau bisa berdiskusi saat beranjak dewasa. 

Tahap terakhir, kakeknya akan memberikan boras sipir ni tondi di bagian kepala sang bayi sebagai simbol pemberian berkah atau pemberkatan terhadap sang cucu. Baru kemudian sang bayi diserahkan kembali kepada ibunya. Sang kakek juga akan memberikan sebuah cincin emas yang melambangkan cinta dan ikatan batin antara kakek-nenek dan cucunya. 

Hingga saat ini, upacara Paabingkon masih dilakukan oleh masyarakat Simalungun. Upacara ini memiliki makna mendalam dan sebagai permohonan berkah agar sang bayi sehat, bahagia, serta beruntung. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi05 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati