Budaya

Patung Karwar, Media Komunikasi Suku Biak dengan Leluhur

Patung Karwar adalah salah satu warisan budaya dari Suku Biak di Papua. Patung ini memiliki makna mendalam sebagai simbol penghormatan kepada leluhur atau kerabat yang telah meninggal. Dalam bahasa Biak, kata “Karwar” berasal dari kata “Arwah” atau “Roh” (Rur), sedangkan patung disebut “Amfyanir” (Amfyanir Korwar) atau Karwar. Masyarakat Biak percaya, komunikasi yang baik dengan roh […]

Oleh Anisa Kurniawati

Patung Karwar, Media Komunikasi Suku Biak dengan Leluhur
Patung Karwar adalah Patung Kepercayaan Orang Biak. Foto: Wikimedia Commons/Seli Krey
Diterbitkan

Patung Karwar adalah salah satu warisan budaya dari Suku Biak di Papua. Patung ini memiliki makna mendalam sebagai simbol penghormatan kepada leluhur atau kerabat yang telah meninggal. 

Dalam bahasa Biak, kata “Karwar” berasal dari kata “Arwah” atau “Roh” (Rur), sedangkan patung disebut “Amfyanir” (Amfyanir Korwar) atau Karwar.

Masyarakat Biak percaya, komunikasi yang baik dengan roh leluhur dapat membawa keberkahan. 

Media Komunikasi dan Penyembuhan

Dalam kepercayaan masyarakat Biak, manusia adalah makhluk sejati yang terdiri dari tiga unsur penting, yaitu daging (Kraf), bayangan (Nin), dan roh (Rur). Ketika patung Karwar telah diresapi roh leluhur, maka patung tersebut dianggap hidup dan memiliki kekuatan spiritual.

Pada masa lalu, patung Karwar memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Biak. Patung ini digunakan sebagai media komunikasi dengan arwah leluhur serta sarana untuk memohon petunjuk dalam menjalani kehidupan.

Seiring waktu, Karwar tidak hanya menjadi simbol spiritual tetapi juga bagian dari kekayaan seni budaya yang diwariskan turun-temurun. Karwar juga dipercaya dapat memberikan perlindungan dan bantuan bagi keluarga yang masih hidup. 

Patung Karwar. Foto: sorong.tribunnews.com

Dalam praktiknya, patung ini sering digunakan dalam upacara penyembuhan dan pelepasan dari pengaruh ilmu hitam.Di Papua proses ini dikenal dengan istilah “fui-fui.

Proses pemanggilan roh ke dalam Karwar dilakukan seorang mediator yang disebut Wennamon.

Mediator ini memiliki kemampuan untuk menghubungkan dunia nyata dengan dunia roh atau dewa-dewa. Dukun ini memegang patung Karwar sambil mengucapkan mantra dan menyebut nama leluhur yang ada di dalam patung tersebut. 

Ketika dukun dirasuki arwah, kata-kata yang diucapkannya ditafsirkan sebagai petunjuk atau mantra penyembuhan bagi masyarakat.

Pembuatan Patung Karwar

Pembuatan patung Karwar tidak boleh dilakukan sembarangan. Dahulu, hanya para pengukir tertentu yang memiliki kemampuan khusus dan telah menjalani ritual adat yang diperbolehkan membuatnya. 

Kayu yang digunakan untuk membuat Karwar harus memenuhi syarat tertentu. Biasanya, bahan bakunya berasal dari tiga jenis kayu, yaitu kayu besi, kayu marem, dan kayu anyer. Usia kayu harus cukup tua dan memiliki warna hitam yang khas. 

Sebelum menebang pohon, masyarakat Biak melakukan ritual adat. Proses ritualnya yaitu dengan memakan pinang dan menyemburkan airnya ke batang pohon sebagai bentuk penghormatan. 

Setelah pohon ditebang, langkah pertama dalam proses pemahatan adalah membentuk kepala, kemudian diikuti dengan pemahatan bagian kaki, tangan, dan tubuh, serta tambahan ukiran motif.

Ciri khas patung Karwar adalah bentuk kepala yang lebih besar dibandingkan bagian tubuhnya. 

Karwar disakralkan karena melambangkan kehadiran roh leluhur dan digunakan untuk mengenang jasa serta kebijaksanaan mereka semasa hidup.

Hingga kini, patung ini tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Biak, baik sebagai warisan budaya maupun sebagai simbol spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

TopikBudaya
Budaya07 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati