Patung Karwar adalah salah satu warisan budaya dari Suku Biak di Papua. Patung ini memiliki makna mendalam sebagai simbol penghormatan kepada leluhur atau kerabat yang telah meninggal.
Dalam bahasa Biak, kata “Karwar” berasal dari kata “Arwah” atau “Roh” (Rur), sedangkan patung disebut “Amfyanir” (Amfyanir Korwar) atau Karwar.
Masyarakat Biak percaya, komunikasi yang baik dengan roh leluhur dapat membawa keberkahan.
Media Komunikasi dan Penyembuhan
Dalam kepercayaan masyarakat Biak, manusia adalah makhluk sejati yang terdiri dari tiga unsur penting, yaitu daging (Kraf), bayangan (Nin), dan roh (Rur). Ketika patung Karwar telah diresapi roh leluhur, maka patung tersebut dianggap hidup dan memiliki kekuatan spiritual.
Pada masa lalu, patung Karwar memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Biak. Patung ini digunakan sebagai media komunikasi dengan arwah leluhur serta sarana untuk memohon petunjuk dalam menjalani kehidupan.
Seiring waktu, Karwar tidak hanya menjadi simbol spiritual tetapi juga bagian dari kekayaan seni budaya yang diwariskan turun-temurun. Karwar juga dipercaya dapat memberikan perlindungan dan bantuan bagi keluarga yang masih hidup.

Dalam praktiknya, patung ini sering digunakan dalam upacara penyembuhan dan pelepasan dari pengaruh ilmu hitam.Di Papua proses ini dikenal dengan istilah “fui-fui.
Proses pemanggilan roh ke dalam Karwar dilakukan seorang mediator yang disebut Wennamon.
Mediator ini memiliki kemampuan untuk menghubungkan dunia nyata dengan dunia roh atau dewa-dewa. Dukun ini memegang patung Karwar sambil mengucapkan mantra dan menyebut nama leluhur yang ada di dalam patung tersebut.
Ketika dukun dirasuki arwah, kata-kata yang diucapkannya ditafsirkan sebagai petunjuk atau mantra penyembuhan bagi masyarakat.
Pembuatan Patung Karwar
Pembuatan patung Karwar tidak boleh dilakukan sembarangan. Dahulu, hanya para pengukir tertentu yang memiliki kemampuan khusus dan telah menjalani ritual adat yang diperbolehkan membuatnya.
Kayu yang digunakan untuk membuat Karwar harus memenuhi syarat tertentu. Biasanya, bahan bakunya berasal dari tiga jenis kayu, yaitu kayu besi, kayu marem, dan kayu anyer. Usia kayu harus cukup tua dan memiliki warna hitam yang khas.
Sebelum menebang pohon, masyarakat Biak melakukan ritual adat. Proses ritualnya yaitu dengan memakan pinang dan menyemburkan airnya ke batang pohon sebagai bentuk penghormatan.
Setelah pohon ditebang, langkah pertama dalam proses pemahatan adalah membentuk kepala, kemudian diikuti dengan pemahatan bagian kaki, tangan, dan tubuh, serta tambahan ukiran motif.
Ciri khas patung Karwar adalah bentuk kepala yang lebih besar dibandingkan bagian tubuhnya.
Karwar disakralkan karena melambangkan kehadiran roh leluhur dan digunakan untuk mengenang jasa serta kebijaksanaan mereka semasa hidup.
Hingga kini, patung ini tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Biak, baik sebagai warisan budaya maupun sebagai simbol spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.