By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Kisah Satisa dan Lahirnya Tari Kain Kromong Mandiangin Jambi
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Warisan Budaya > Kisah Satisa dan Lahirnya Tari Kain Kromong Mandiangin Jambi
Warisan Budaya

Kisah Satisa dan Lahirnya Tari Kain Kromong Mandiangin Jambi

Anisa Kurniawati
Last updated: 08/02/2025 06:50
Anisa Kurniawati
Share
Gerakan Tari Kain Kromong memiliki ciri khas yang lembut, gemulai, dan penuh makna. Foto: Tangkapan layar Youtube DNA PRODUCTION I MaulanaSyah
SHARE

Tari Kain Kromong, salah satu kekayaan budaya Nusantara dari daerah Mandiangin, Provinsi Jambi. Ciri khas dari tarian ini adalah menggunakan kain tenun sebagai properti utama. 

Menurut beberapa sumber, tarian ini telah ada sejak tahun 1800-an.

Tari Kain Kromong diiringi alat musik tradisional seperti kromong (kulintang), gendang, dan gong. Tarian ini bisa dipentaskan secara tunggal, berpasangan, atau berkelompok.

Asal-Usul Tari Kain Kromong

Dilansir dari pariwisataindonesia.id, keberadaan tarian ini tidak terlepas dari legenda makhluk ghaib bernama Satisa. Dalam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Mandiangin, Tari Kain Kromong bermula dari kisah Satisa.

Sosok Satisa adalah seorang Tirau, yakni makhluk ghaib yang hidup di dua alam, alam manusia dan alam ghaib. Tirau sering muncul di hutan dan dianggap mengganggu aktivitas penebang kayu. 

Oleh karena itu, masyarakat setempat melakukan ritual khusus untuk menangkap makhluk ini. Setelah tertangkap dan melalui proses ritual, Tirau berubah menjadi seorang gadis cantik yang kemudian diberi nama Satisa. 

Sejak saat itu, ia hidup sebagai manusia dan menghabiskan hari-harinya dengan menenun kain. Setiap kali menyelesaikan tenunannya, Satisa akan menari dengan penuh kebahagiaan. Dari hal itulah lahir tarian Kain Kromong. 

Baca juga: Gambang Semarang, Kolaborasi Apik Musik, Tari dan Humor

Pertunjukan Tari Kain Kromong

Tarian tradisional ini sering dipertunjukkan dalam berbagai acara, seperti penyambutan tamu kehormatan, pernikahan, peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, hingga festival budaya.

Gerakannya memiliki ciri khas yang lembut, gemulai, dan penuh makna. 

Beberapa gerakan terinspirasi dari alam sekitar, seperti gerakan burung yang terbang di angkasa. Terdapat juga gerakan badan yang berputar serta ayunan tangan yang lembut, dengan langkah kaki yang tetap berpijak di satu titik.

Properti utama tarian ini adalah kain tenun bernama Selendang Pelangi. Kain dari simbol perayaan dan ungkapan kebahagiaan Satisa setelah menyelesaikan proses menenun.

Awalnya, para penari mengenakan dodot atau kemben dengan hiasan teratai di dada. Namun, seiring dengan masuknya ajaran Islam, kostum tari para penari menggunakan baju kurung, kain songket, serta perhiasan kepala.

Tari Kain Kromong bukan hanya sekadar seni pertunjukan, tetapi juga simbol warisan leluhur yang terus dilestarikan generasi ke generasi. Sebagai upaya pelestariannya, pada tahun 2016, tarian ini secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. (Dari beberapa sumber)

You Might Also Like

Gedung Nusantara Senayan, Saksi Demokrasi Indonesia

Sagon Bu Ning, Jajanan Tradisional Legendaris Khas Wonosob

Kresesek dan Sarung Rimpu Ciri Khas Baju Adat Sumbawa

Mencicipi Pecel Pitik Kuliner Khas Suku Osing Banyuwangi 

Prol Tape Jember, Perpaduan Asam Manis dalam Satu Gigitan

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Anisa Kurniawati
Content Writer
Previous Article Upacara Mamat, Ritual Penyucian Diri Prajurit Suku Dayak Kenyah
Next Article Pantai Dampar Lumajang Jadi Surga Baru Peselancar Dunia
1 Comment 1 Comment
  • Pingback: Kisah Sang Ibu Menghibur Si Gadis dalam Tarian Nek Pung  - emmanus.com

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?