Budaya

Patung Sapundu Simbol Budaya dan Spiritualitas Suku Dayak

Masyarakat Dayak memiliki kemahiran membuat karya seni ukir patung tradisional yakni Sapundu. Seni ukir ini menjadi bagian penting dalam upacara atau ritual Tiwah, yang merupakan ritual kematian masyarakat Dayak Ngaju, penganut Kaharingan di Kalimantan Tengah. Kekayaan seni budaya suku Dayak yang telah diwariskan dari generasi ke generasi bernama Sapundu ini berupa patung kayu yang berbentuk […]

Oleh Anisa Kurniawati

Patung Sapundu Simbol Budaya dan Spiritualitas Suku Dayak
Karya seni Sapundu. Foto: travellingindonesia.com
Diterbitkan

Masyarakat Dayak memiliki kemahiran membuat karya seni ukir patung tradisional yakni Sapundu.

Seni ukir ini menjadi bagian penting dalam upacara atau ritual Tiwah, yang merupakan ritual kematian masyarakat Dayak Ngaju, penganut Kaharingan di Kalimantan Tengah.

Kekayaan seni budaya suku Dayak yang telah diwariskan dari generasi ke generasi bernama Sapundu ini berupa patung kayu yang berbentuk tiang. Bentuk Sapundu bervariasi,berupa patung dengan ukiran dan ornamen khas Dayak.

Tiang Pengorbanan Upacara Tiwah

Sapundu, atau tiang pengorbanan, adalah elemen wajib dalam upacara Tiwah. Upacara ini bertujuan untuk mengantar arwah menuju tempat tertinggi asal mereka. 

Bagi penganut Kaharingan, Sapundu adalah bentuk penghormatan terhadap roh orang yang telah meninggal. Patung ini dianggap sebagai benda sakral yang dikeramatkan dan hanya dibuat saat keluarga melaksanakan ritual Tiwah. 

Secara fisik, Sapundu berbentuk tiang yang biasanya terbuat dari kayu ulin. Kayu ini diukir untuk menggambarkan sosok atau kebiasaan leluhur yang di-Tiwah-kan. Sapundu ini menggambarkan karakter manusia.

Bagi pemeluk Agama Kaharingan, sapundu memiliki hubungan timbal balik. Misalkan jika sapundu memiliki karakter kurang baik, maka dikaitkan dengan sifat manusia pada masa hidupnya.

Menurut sumber lain, sapundu biasanya berbentuk patung laki-laki atau perempuan. Nantinya, patung ini digunakan untuk mengikat hewan-hewan yang akan dikurbankan dalam upacara tiwah.

Hewan kurban ini menjadi media pengantar arwah leluhur menuju kehidupan abadi. Cara pengorbanan hewan ini dengan diikat di Sapundu dan ditombak bergantian keluarga almarhum.

Ukuran Tingkatan Sosial

Selain sebagai media pengorbanan, Sapundu juga digunakan untuk mengukur tingkatan sosial seseorang dalam masyarakat.

Di sisi lain Sapundu memiliki nilai magis dan eksotisme yang tinggi. Karakternya bersifat resiprokal atau saling berbalas yang menggambarkan sifat manusia.

Motif ukiran pada Sapundu umumnya menggambarkan manusia, meskipun tidak ada aturan adat yang ketat mengenai motif ini.

Kayu ulin, yang dianggap memiliki kekuatan luar biasa, biasanya digunakan sebagai bahan utama.Hal ini dikarenakan masyarakat Dayak Ngaju lebih familiar dengan kayu ini dibandingkan kayu lainnya.

Sebagai seni ukir tradisional, Sapundu tidak hanya berfungsi sebagai elemen upacara, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya dan spiritualitas Suku Dayak di Kalimantan Tengah. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya22 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati