Berita

Revitalisasi Galeri Nasional Disiapkan, Bangunan Cagar Budaya Dipertahankan

Revitalisasi Galeri Nasional mencakup pemugaran gedung, penataan lanskap, penguatan akses publik, dan pengembangan fasilitas baru tanpa menghilangkan karakter historis.

Oleh Ridwan

Revitalisasi Galeri Nasional Disiapkan, Bangunan Cagar Budaya Dipertahankan
Arsitek Andra Matin menjelaskan rancangan arsitektur revitalisasi Galeri Nasional Indonesia dalam pertemuan bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Foto: Kementerian Kebudayaan
Diterbitkan

Galeri Nasional Indonesia bersiap memasuki tahap baru revitalisasi. Kali ini, perhatian tidak hanya diarahkan pada ruang pamer, tetapi juga pada wajah kawasan, bangunan cagar budaya, lanskap, akses publik, dan fasilitas baru yang akan melengkapinya.

Kementerian Kebudayaan telah menghimpun gagasan dan pandangan arsitektur untuk menyusun desain revitalisasi tersebut. Menteri Kebudayaan Fadli Zon telah berdiskusi dengan arsitek Andra Matin dan Jasin Tedjasukmana dalam pertemuan terpisah pada Agustus 2026.

Keduanya memberikan pandangan mengenai pengembangan Galeri Nasional, tetapi informasi yang tersedia belum menyebut salah satu dari mereka sebagai arsitek tunggal proyek revitalisasi.

Dalam pertemuan dengan Jasin Tedjasukmana pada akhir Agustus, persoalan utama yang mengemuka adalah bagaimana menghadirkan fasilitas baru tanpa menghilangkan karakter bangunan lama. Jasin menilai bangunan tambahan harus dirancang secara hati-hati agar tidak mengambil alih perhatian dari bangunan utama.

“Revitalisasi dan penambahan bangunan di Galeri Nasional harus menjaga unity dengan langgam yang sudah ada. Bangunan lamanya tidak boleh tenggelam dari bangunan baru,” ujar Jasin.

Pernyataan itu menjadi salah satu kunci dalam rancangan revitalisasi Galeri Nasional. Bangunan eksisting berarsitektur Neo-Klasik akan tetap menjadi bagian penting dari kawasan, sementara pembangunan baru diarahkan untuk menyatu dengan karakter arsitektur yang sudah ada.

Kementerian Kebudayaan menyebut pelestarian keaslian bangunan cagar budaya sebagai fokus utama revitalisasi.

Apa yang Akan Diubah?

Rencana revitalisasi mencakup pemugaran Gedung A dan Gedung Aula, sekaligus pengembangan fasilitas penunjang baru dengan pendekatan adaptif. Lanskap kawasan juga akan ditata lebih terbuka agar Galeri Nasional terasa lebih ramah bagi masyarakat.

Fasilitas baru dirancang untuk menjawab kebutuhan pengunjung masa kini. Salah satunya adalah akses masuk modern yang direncanakan terintegrasi dengan transportasi umum. Pemerintah juga menyebut rencana fasilitas rooftop dengan restoran yang memungkinkan pengunjung menikmati lanskap kawasan budaya Jakarta dari ketinggian.

Fadli Zon menekankan pentingnya konsistensi visual dalam pengembangan kawasan tersebut. “Karakter bangunan yang ada di kawasan ini perlu mengusung satu bahasa arsitektur yang sama dan selaras,” kata Fadli.

Dengan demikian, revitalisasi tidak diarahkan sekadar untuk menambah bangunan atau mempercantik kawasan. Tantangannya adalah membuat fasilitas baru dapat bekerja bersama bangunan bersejarah tanpa menghilangkan identitas yang telah terbentuk.

Bukan Revitalisasi Pertama

Rencana baru ini bukan kali pertama Galeri Nasional mengalami pembaruan.

Dokumentasi resmi Galeri Nasional mencatat bahwa Pameran Tetap Galeri Nasional telah beberapa kali ditata ulang. Pada periode 2013–2015, pameran tetap ditutup untuk revitalisasi dan kemudian dibuka kembali dengan konsep periodisasi sejarah seni rupa Indonesia. Penataan tersebut membagi penyajian antara seni rupa modern dan internasional serta seni rupa kontemporer.

Pembaharuan kembali dilakukan pada 2019 melalui sejumlah pendekatan kuratorial, antara lain Monumen Ingatan, Paris 1959 Jakarta 1995, dan Kode/D. Pembaruan tersebut berkaitan dengan cara karya dan koleksi disajikan kepada publik, bukan revitalisasi fisik bangunan.

Artinya, perubahan di Galeri Nasional bukan sesuatu yang baru. Institusi ini memiliki sejarah memperbarui cara koleksi dan karya seni diperkenalkan kepada publik.

Tahap yang lebih baru berlangsung pada Gedung B. Galeri Nasional menutup pameran tetap sejak 31 Mei 2023 untuk revitalisasi Gedung B secara menyeluruh, termasuk peningkatan kualitas ruang pamer, tata ruang, fasilitas pendukung, dan pembaruan konsep kurasi.

Hasil pembaruan itu kemudian diperkenalkan kepada publik pada Juli 2025 melalui Pameran Tetap dengan pendekatan kuratorial baru.

Pameran tersebut menyajikan 229 karya yang mencakup koleksi Galeri Nasional, karya komisi, dan pinjaman dari kolektor serta seniman. Karya-karya itu merepresentasikan perjalanan seni rupa modern dan kontemporer Indonesia secara kronologis, dari abad ke-19 hingga masa kini.

Dari Ruang Pamer ke Penataan Kawasan

Rencana revitalisasi 2026 memiliki cakupan yang lebih luas. Selain bangunan dan ruang pamer, perhatian diarahkan pada bagaimana Galeri Nasional berhubungan dengan ruang kota di sekitarnya.

Akses yang terhubung dengan transportasi umum menjadi salah satu gagasan yang dibahas. Sebelumnya, Menteri Kebudayaan juga menyampaikan gagasan untuk menghubungkan Galeri Nasional dengan Stasiun Gambir melalui underpass. Rencana tersebut membutuhkan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait.

Jika terealisasi, konektivitas tersebut dapat membuat Galeri Nasional lebih mudah dijangkau pengguna transportasi publik. Galeri tidak hanya menjadi tujuan bagi orang yang sengaja datang untuk melihat pameran, tetapi berpotensi menjadi bagian dari perjalanan sehari-hari warga Jakarta.

Konsep lanskap terbuka yang diusulkan Jasin juga bergerak ke arah yang sama. Ruang budaya diharapkan tidak terasa eksklusif, melainkan lebih terbuka bagi masyarakat.

Menata Kembali Cara Publik Melihat Seni

Selain perubahan fisik kawasan, pengayaan alur tata pamer menjadi perhatian dalam revitalisasi. Hal ini sejalan dengan pembaruan yang telah dilakukan Galeri Nasional pada Pameran Tetap.

Galeri Nasional selama ini mengelola koleksi seni rupa modern dan kontemporer Indonesia, termasuk karya Raden Saleh, S. Sudjojono, Affandi, Basoeki Abdullah, Ahmad Sadali, Fadjar Sidik, FX Harsono, Heri Dono, serta sejumlah seniman mancanegara.

Koleksinya mencakup lukisan, patung, sketsa, grafis, keramik, fotografi, instalasi, video art, seni media, dan bentuk karya lainnya. Karena itu, pembaruan tata pamer bukan sekadar persoalan memindahkan karya dari satu ruangan ke ruangan lain.

Cara karya disusun menentukan bagaimana pengunjung membaca perjalanan seni rupa Indonesia—hubungan antara seniman, zaman, perubahan sosial, dan gagasan yang berkembang di dalamnya.

Nasirun Menjadi Penanda Sebelum Revitalisasi

Pada 2026, Galeri Nasional juga menempatkan pameran “Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru” sebagai pameran terakhir sebelum memasuki tahap revitalisasi. Pameran tersebut berlangsung di Gedung A dan menampilkan karya Nasirun bersama karya para guru yang menjadi bagian penting dalam perjalanan artistiknya.

Pameran ini menjadi semacam penanda sebelum kawasan memasuki fase perubahan. Di dalamnya, publik masih bertemu dengan karya seni dalam ruang Galeri Nasional yang selama ini dikenal, sebelum sebagian ruang dan bangunannya dipersiapkan untuk tahap revitalisasi berikutnya.

Pada saat yang sama, Galeri Nasional tetap menjalankan fungsi edukasi dan apresiasi seni. Institusi tersebut sejak berdiri pada 1998 berkomitmen melestarikan serta merepresentasikan seni rupa modern dan kontemporer Indonesia.

Menjaga yang Lama, Menyiapkan yang Baru

Ada ironi yang menarik dalam setiap revitalisasi bangunan cagar budaya. Semakin banyak kebutuhan baru yang harus ditampung, semakin besar pula kehati-hatian yang dibutuhkan agar identitas lama tidak hilang.

Itulah persoalan yang kini dihadapi Galeri Nasional. Gedung baru harus memenuhi kebutuhan zaman, tetapi tidak boleh mengalahkan bangunan yang menjadi penanda sejarah kawasan.

Bagi Jasin Tedjasukmana, jawabannya terletak pada pendekatan yang ringan, teliti, dan selaras. Bangunan baru tidak harus meniru bangunan lama, tetapi harus mampu hidup berdampingan dengannya.

Pada akhirnya, revitalisasi Galeri Nasional bukan hanya tentang seperti apa bangunan itu akan terlihat setelah selesai. Yang juga penting adalah bagaimana ruang tersebut digunakan: apakah lebih mudah diakses, lebih nyaman bagi pengunjung, lebih kuat dalam menyampaikan sejarah seni Indonesia, dan tetap mampu menjaga nilai bangunan cagar budaya.

Kementerian Kebudayaan kini berada pada tahap penyusunan dan pengembangan desain awal. Sementara itu, Galeri Nasional terus menjalankan fungsinya sebagai ruang seni dan kebudayaan.

Babak berikutnya akan menentukan bagaimana sebuah bangunan bersejarah di pusat Jakarta dapat berubah tanpa kehilangan wajah lamanya.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT