Tradisi

Tradisi Ojong: Atraksi Adu Ketangkasan dengan Cambuk Rotan

Tradisi Ojong, atau Ojung, merupakan warisan budaya leluhur yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Sememu, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Acara langka dan unik ini melibatkan adu ketangkasan antar warga menggunakan rotan. Dahulu, Ojong adalah ritual para petani untuk memohon turunnya hujan. Seiring perkembangan jaman, esensi tradisi ini berubah menjadi sarana hiburan dan juga […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tradisi Ojong: Atraksi Adu Ketangkasan dengan Cambuk Rotan
Foto: merdeka.com
Diterbitkan

Tradisi Ojong, atau Ojung, merupakan warisan budaya leluhur yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Sememu, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Acara langka dan unik ini melibatkan adu ketangkasan antar warga menggunakan rotan. 

Dahulu, Ojong adalah ritual para petani untuk memohon turunnya hujan. Seiring perkembangan jaman, esensi tradisi ini berubah menjadi sarana hiburan dan juga untuk melestarikan budaya. 

Biasanya, Ojong juga diadakan sebagai bagian dari acara ruwat atau bersih desa pada bulan Suro atau Muharam. Namun, tradisi ini juga digelr di berbagai acara seperti tasyakuran keluarga, perayaan HUT RI, dan hiburan masyarakat. 

Prosesi Tradisi Ojong

Dalam pelaksanaannya, tradisi Ojung melibatkan dua peserta yang saling beradu ketangkasan dengan menggunakan rotan khusus yang disebut “Manjhalin”.

Rotan sepanjang 110 cm ini digunakan untuk saling bertanding. Setiap peserta diberi kesempatan untuk menyabet lawan sebanyak lima kali atau sepuluh kali sesuai perjanjian.

Para peserta saling memukul serta menangkis lawan. Pemenang ditentukan peserta yang mampu membuat luka lebih banyak di punggung lawan. Meski meninggalkan luka, para peserta menganggapnya biasa dan percaya lukanya akan sembuh seiring waktu.

Pertandingannya juga diiringi dengan alat musik seperti kendang atau gamelan. Sedangkan peserta yang umumnya warga Kecamatan Pasirian dan sekitarnya, mengenakan kostum tradisional.

Menariknya, tradisi ini tidak hanya diikuti pria dewasa, tetapi juga remaja dan anak-anak yang antusias menunjukkan ketangkasan mereka di atas panggung.

Nilai- Nilai Tradisi Ojong

Tradisi Ojong memiliki nilai simbolis, berupa doa dan harapan untuk keberlangsungan hidup desa. Selain tradisi perayaan, ojong juga kaya akan budaya dan menjadi media saling menghormati.

Melalui tradisi ini juga, para peserta dapat mengambil nilai kekeluargaan dan persaudaraan.

Meski berada di tengah tantangan zaman, masyarakat Lumajang tetap teguh menjaga tradisi Ojong sebagai bagian penting dari identitas budaya dan mempererat ikatan sosial antar warga. (Dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi15 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati