Tradisi

Tradisi Perang Air Siat Yeh, Sarana Penyucian Diri di Pulau Dewata

Tradisi Siat Yeh mungkin tidak sepopuler upacara adat lainnya di Bali. Tradisi ini dilakukan Masyarakat Desa Adat Suwat di Kabupaten Gianyar, Bali untuk menyambut pergantian tahun Masehi, sekitar 30-31 Desember. Masyarakat Desa Suwat selalu menggelar Festival Air Suwat dengan puncak acara berupa perang air sebagai simbol mensucikan diri. Festival ini sudah diadakan sejak tahun 2014. Festival […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tradisi Perang Air Siat Yeh, Sarana Penyucian Diri di Pulau Dewata
Foto: Wikimedia commons/ Ebi Triastika
Diterbitkan

Tradisi Siat Yeh mungkin tidak sepopuler upacara adat lainnya di Bali. Tradisi ini dilakukan Masyarakat Desa Adat Suwat di Kabupaten Gianyar, Bali untuk menyambut pergantian tahun Masehi, sekitar 30-31 Desember.

Masyarakat Desa Suwat selalu menggelar Festival Air Suwat dengan puncak acara berupa perang air sebagai simbol mensucikan diri. Festival ini sudah diadakan sejak tahun 2014.

Festival Air Suwat sendiri adalah sebuah tradisi penghormatan terhadap peran air sebagai pemberi kehidupan bagi kehidupan desa. Berbagai rangkaian acara digelar selama festival.

Mulai dari lomba menangkap bebek, tarik tambang, dan adu cepat membawa bubungan berisi lumpur. Puncak festival yakni Mendak Tirta dan Siat Yeh atau dikenal juga sebagai perang air.

Siat Yeh

Dilansir dari berbagai sumber, Siat Yeh berasal dari dua kata yakni Siat atau perang. Maknanya adalah kondisi manusia yang setiap harinya berperang dengan diri dan pikiran sendiri.

Sedangkan Yeh mengandung makna air, sebagai salah satu sumber kehidupan manusia dan harus dijaga serta dihormati.

Melalui Siat Yeh, masyarakat setempat berupaya melawan energi buruk yang bakal merintangi perjuangan mereka menghadapi kehidupan di tahun baru. Siat Yeh biasanya digelar di kawasan catus pata atau perempatan jalan desa.

Prosesi Siat Yeh

Pelaksanaan tradisi ini dimulai dengan pengambilan air di sumber mata air. Desa Suwat sendiri memiliki beberapa sumber mata air yang dianggap suci seperti Tukad Melanggih.

Sumber mata air ini tidak pernah kering. Selain itu selalu diandalkan untuk mengairi persawahan sejak era pemerintahan raja-raja di Kerajaan Gianyar, Bali.

Siat Yeh kemudian dimulai dengan berkumpulnya warga dari empat penjuru mata angin di catus pata. Puluhan gayung warna-warni bak pelangi telah disiapkan panitia untuk dibagi-bagikan kepada peserta perang air. 

Hadir pula unit mobil pemadam api dari Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Gianyar. Kendaraan ini diperlukan untuk membantu menyemprotkan air ke tengah peserta.

Setelah suara kulkul (alat komunikasi yang terbuat dari bambu) dibunyikan, warga desa akan berdatangan. Mereka berkumpul di perempatan desa.

Selanjutnya, persembahyangan dipimpin sejumlah jro mangku di episentrum catus pata desa adat. Sedangkan krama duduk tersebar di empat penjuru arah. Setelahnya, Siat Yeh dimulai. Satu sama lain saling menyiram. 

Sarat Nilai Budaya

Terakhir Festival Air Suwat diadakan yaitu menjelang pergantian 2023 menuju 2024. Festival ke 8 ini mengangkat tema festival tahun itu adalah “Bangkit Bersatu Bersama Air”.

Tradisi ini menarik perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Alasannya bukan hana karena suasananya yang meriah, namun juga sarat nilai budaya. 

Tradisi ini juga sering menjadi bagian dari promosi pariwisata Bali, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga adat istiadat lokal di tengah modernisasi.

Tradisi Siat Yeh bukan hanya sebuah perayaan, tetapi juga sebuah pesan tentang pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

TopikTradisi
Tradisi29 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati