Berita

Tradisi Seba, Warga Baduy Minta Pemprov Lindungi Hutan dan Budaya Adat

Sebanyak 1.769 warga masyarakat adat Baduy melakukan ritual Seba ke Pemerintah Provinsi Banten, sebagai bagian dari tradisi tahunan yang sarat nilai budaya dan permohonan kepada pemerintah. Dalam pertemuan dengan Gubernur Banten, rombongan warga Baduy menyuarakan sejumlah harapan dan permintaan yang berkaitan dengan keberlangsungan adat, perlindungan alam, serta layanan kesehatan masyarakat adat. Ritual Seba diawali dengan […]

Oleh Achmad Aristyan

Tradisi Seba, Warga Baduy Minta Pemprov Lindungi Hutan dan Budaya Adat
Masyarakat adat Baduy melakukan ritual Seba ke Pemerintah Provinsi Banten. Foto: Bahtiar/Detikcom
Diterbitkan

Sebanyak 1.769 warga masyarakat adat Baduy melakukan ritual Seba ke Pemerintah Provinsi Banten, sebagai bagian dari tradisi tahunan yang sarat nilai budaya dan permohonan kepada pemerintah.

Dalam pertemuan dengan Gubernur Banten, rombongan warga Baduy menyuarakan sejumlah harapan dan permintaan yang berkaitan dengan keberlangsungan adat, perlindungan alam, serta layanan kesehatan masyarakat adat.

Ritual Seba diawali dengan pembacaan doa dan penyampaian pesan-pesan adat dalam bahasa Sunda, yang kemudian diteruskan dengan penyampaian aspirasi masyarakat oleh perwakilan tokoh adat, Jaro Oom.

Baca Juga: Fadli Zon di WAVES 2025: Animasi ‘Jumbo’ Lampaui Frozen 2

Dalam sambutannya, Jaro Oom menegaskan bahwa kehadiran rombongan warga Baduy kali ini membawa pesan dari para tetua adat di Kanekes, khususnya permintaan agar pemerintah tetap memperhatikan dan melindungi kearifan lokal serta wilayah adat mereka.

“Khususna katitipan kolot menta perlindungan pamarentah Banten,” ucap Jaro Oom saat menyampaikan amanah adat kepada Gubernur Banten, Sabtu (3/5/2025) dikutip dari news.detik.com.

Menurutnya, salah satu poin penting yang disampaikan adalah permintaan agar Pemprov Banten melindungi lingkungan alam, mulai dari kawasan Gunung Karang hingga Ujung Kulon, termasuk wilayah hutan tempat masyarakat Baduy menggantungkan hidup.

Selain soal lingkungan, mereka juga menyoroti persoalan kesehatan.

Jaro Oom mengungkapkan bahwa sejumlah warga Baduy yang bertani di kawasan hutan seringkali mengalami gigitan ular, namun sulit mendapatkan pertolongan cepat karena keterbatasan fasilitas kesehatan yang memiliki stok anti bisa.

“Tradisi kami budaya tadi kami kemungkinan ketika masyarakat bertani, kami bertani di leuweung. Kami khusus hoyong dikhususkan anti bisa,” jelasnya.

Tak hanya itu, masyarakat Baduy juga menyinggung pentingnya penguatan regulasi untuk melindungi desa adat.

Baca Juga: Hari Kebebasan Pers Internasional, Menguatkan Media, Mengawal Kebenaran

Menurut Jaro Oom, perlu adanya peraturan yang lebih kuat dari sekadar Peraturan Daerah (Perda), termasuk di level pusat agar keberadaan dan hak-hak masyarakat adat tetap terjaga.

“Kami hoyong dilindungi, hoyong dikhususkan RUU Perda Desa Adat, tingkat Lebak, pusat, bahkan dikhususkan Perdana,” tuturnya dalam bahasa Sunda Baduy.

Ritual Seba merupakan bentuk penghormatan masyarakat Baduy kepada pemerintah sebagai bentuk hubungan antara rakyat dan pemimpin.

Setiap tahun, mereka berjalan kaki dari wilayah pedalaman Baduy di Kabupaten Lebak menuju pusat pemerintahan di Serang, sebagai simbol ketaatan sekaligus sarana menyampaikan aspirasi.

Pemerintah Provinsi Banten menyambut baik pelaksanaan Seba ini dan menyatakan komitmennya untuk terus menjaga warisan budaya serta menjawab kebutuhan masyarakat adat.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Berita

Lihat semua →
Ikan arwana Super Red asal Kalimantan Barat yang dikenal dari kawasan Kapuas Hulu dan Danau Sentarum.

Kearifan Lokal Menjaga Arwana Super Red Kalbar

Arwana Super Red Kalimantan Barat dikenal di pasar ikan hias internasional. Di sekitar Danau Sentarum, pengetahuan dan keterlibatan masyarakat berperan menjaga kelestarian ikan kebanggaan daerah ini.

Ridwan
Budaya Batang Menelusuri Jejak Mataram

Budaya Batang Menelusuri Jejak Mataram

Dialog budaya Batang dan DI Yogyakarta membuka kembali pembahasan hubungan sejarah pesisir utara Jawa dengan Mataram Islam yang menjadi bagian dari upaya penelitian serta pelestarian warisan sejarah.

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan