Warisan Budaya

Ketika Walisongo Memilih Tidak Menghapus Kebudayaan Jawa

Wayang, gamelan, tembang, dan arsitektur lama bertahan melalui perjumpaan budaya dan Islam.

Oleh Narendra

Ketika Walisongo Memilih Tidak Menghapus Kebudayaan Jawa
Wayang dan gamelan menjadi contoh kebudayaan Jawa yang terus bertahan ketika masyarakat mengalami perubahan besar pada masa berkembangnya Islam.DOK pexels-kal-347
Diterbitkan

Ketika Islam berkembang semakin luas di Jawa sekitar abad ke-15 dan ke-16, masyarakat yang ditemuinya bukan masyarakat tanpa kebudayaan. Mereka telah mengenal wayang, gamelan, tradisi lisan, kesusastraan, tata ruang, upacara, serta bentuk arsitektur yang tumbuh melalui perjalanan panjang masyarakat Jawa.

Di tengah perubahan besar itu, banyak unsur kebudayaan lama tidak serta-merta hilang. Sejumlah kajian mengenai Walisongo justru menunjukkan adanya proses akulturasi: bentuk-bentuk budaya yang telah dikenal masyarakat dipertahankan, digunakan kembali, lalu sebagian memperoleh fungsi dan pemaknaan baru.

Jejaknya masih dapat dilihat berabad-abad kemudian. Wayang tetap dimainkan, gamelan tetap berbunyi, tradisi komunal terus berkembang, sementara masjid-masjid tua Jawa memperlihatkan arsitektur yang berbeda dari bangunan Islam di Timur Tengah.

Islam Datang ke Ruang Budaya yang Telah Hidup

Jawa sebelum masa Walisongo telah mengalami perjalanan kebudayaan yang panjang. Pengaruh lokal, Hindu-Buddha, jaringan perdagangan Asia, serta berbagai tradisi masyarakat telah membentuk kehidupan sosial dan kebudayaannya.

Karena itu, proses berkembangnya Islam tidak berlangsung di ruang kosong. Masyarakat mempunyai bahasa simbol, seni, kebiasaan, dan cara memahami dunia yang telah hidup jauh sebelum agama baru semakin luas diterima.

Kajian mengenai strategi kultural Walisongo menunjukkan pentingnya kemampuan berhadapan dengan kenyataan tersebut. Alih-alih menjadikan seluruh kebudayaan lama sebagai sesuatu yang harus disingkirkan, unsur-unsur yang dapat digunakan kembali mengalami proses penyesuaian.

Proses itu tidak berarti seluruh unsur lama dipertahankan tanpa perubahan. Ada yang diteruskan, ada yang ditafsirkan kembali, ada pula yang mengalami perubahan fungsi dan nilai mengikuti perkembangan masyarakat Muslim Jawa.

Bukan Menghilangkan, tetapi Mengubah dari Dalam

Dalam kajian kebudayaan, proses seperti ini lazim dibicarakan sebagai akulturasi. Dua kebudayaan bertemu dan saling bersentuhan, sementara unsur-unsur sebelumnya tidak seluruhnya lenyap.

Sebuah kajian tentang strategi kultural Walisongo yang diterbitkan dalam jurnal KOMUNIKA menempatkan pendekatan tersebut sebagai salah satu kunci perkembangan masyarakat Muslim Jawa. Unsur budaya lokal diadopsi sebagai medium, sementara nilai-nilai Islam dimasukkan ke dalamnya.

Pendekatan itu membantu menjelaskan mengapa perubahan keagamaan di Jawa tidak selalu diikuti pemutusan total terhadap kebudayaan sebelumnya. Sebagian bentuk lama justru memperoleh kehidupan baru di tengah masyarakat yang berubah.

Di sinilah Walisongo mempunyai posisi menarik dalam sejarah kebudayaan. Mereka tidak hanya dikenang sebagai penyebar agama, tetapi juga sebagai tokoh yang hidup di tengah salah satu periode transformasi budaya terbesar di Jawa.

Wayang Tidak Ikut Hilang

Wayang merupakan salah satu contoh yang paling sering dibicarakan ketika menelusuri hubungan Walisongo dan kebudayaan. Tradisi pertunjukan wayang telah berkembang sebelum Islam menjadi kekuatan besar di Jawa.

Alih-alih ditinggalkan ketika masyarakat mengalami Islamisasi, wayang terus hidup. Dalam historiografi Walisongo, Sunan Kalijaga menjadi tokoh yang paling kuat dikaitkan dengan penggunaan pertunjukan tersebut sebagai medium penyampaian ajaran.

Cerita yang dimainkan tidak harus kehilangan seluruh bentuk yang telah dikenal penontonnya. Dunia pewayangan tetap menyediakan tokoh, konflik, humor, bahasa simbol, dan ruang pertunjukan yang akrab, sementara pesan yang disampaikan dapat mengalami penafsiran baru.

Kajian mengenai hubungan Islam dan seni pertunjukan juga mencatat keberlanjutan fungsi wayang sebagai medium dakwah setelah masa Walisongo. Dengan demikian, sebuah kesenian pra-Islam tidak berhenti ketika lanskap keagamaan masyarakat berubah.

Cerita Lama Mendapat Pembacaan Baru

Akulturasi tidak hanya terjadi karena sebuah pertunjukan tetap dimainkan. Perubahan juga dapat berlangsung pada cara sebuah cerita dimaknai.

Kisah Mahabharata dan Ramayana mempunyai akar panjang dalam kebudayaan India dan telah mengalami pengolahan lokal selama berabad-abad di Nusantara. Ketika Islam berkembang, dunia pewayangan Jawa tidak serta-merta kehilangan seluruh warisan cerita tersebut.

Dalam perkembangannya muncul pula lakon, tokoh, dan tafsir yang semakin khas Jawa. Tradisi pedalangan menjadi ruang yang lentur untuk membicarakan kehidupan manusia, kekuasaan, etika, hubungan sosial, hingga nilai keagamaan.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa kelestarian budaya tidak selalu berarti membekukan sebuah kesenian dalam bentuk paling awalnya. Kadang sebuah tradisi justru bertahan karena masyarakat terus memberinya kemungkinan untuk berbicara kepada zaman yang berubah.

Gamelan Tetap Berbunyi

Jejak perjumpaan Islam dan kebudayaan Jawa juga terdengar melalui gamelan. Instrumen gamelan sendiri mempunyai sejarah jauh sebelum masa Walisongo, bahkan representasi alat musik sejenis telah ditemukan pada relief peninggalan masa Hindu-Buddha.

Ketika masyarakat Jawa mengalami perubahan keagamaan, gamelan tidak menghilang. Instrumen tersebut tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan kesenian dan kehidupan sosial Jawa.

Tradisi Sekaten menjadi salah satu contoh paling terkenal mengenai perjumpaan tersebut. Kajian akademik mengenai Sekaten menempatkannya sebagai fenomena sosial-keagamaan yang mempertemukan agama, kebudayaan, dan kehidupan ekonomi masyarakat.

Gamelan Sekati kemudian menjadi bagian yang sangat dikenal dalam perayaan tersebut. Hingga sekarang, tradisi gamelan upacara masih menjadi bagian dari rangkaian Sekaten di lingkungan keraton Jawa.

Tembang Menjadi Jalan untuk Berbicara

Musik bukan satu-satunya medium bunyi yang mempunyai tempat dalam kisah Walisongo. Tembang juga kerap disebut dalam berbagai sumber sebagai bagian dari pendekatan kultural sejumlah wali.

Sunan Muria, misalnya, dikenang melalui pendekatan kepada masyarakat pedesaan, petani, pedagang, dan kelompok yang berada jauh dari pusat kekuasaan. Direktorat Pelindungan Kebudayaan mencatat penggunaan hikmah dan tembang dalam pendekatan tersebut.

Pilihan menggunakan bentuk yang sudah akrab mempunyai arti penting. Pesan baru tidak datang dalam bahasa budaya yang sepenuhnya asing, melainkan memasuki ruang yang sudah dikenali masyarakat.

Dalam masyarakat yang tradisi lisannya kuat, tembang dapat membawa pengetahuan melampaui kemampuan membaca dan menulis. Ia mudah didengar, diingat, dinyanyikan kembali, lalu berpindah dari satu orang kepada orang berikutnya.

Masjid Tidak Harus Menjadi Salinan Timur Tengah

Jejak akulturasi yang paling mudah dilihat mungkin justru berada pada bangunan. Masjid-masjid tua Jawa tidak seluruhnya dibangun dengan bentuk kubah besar seperti gambaran masjid yang kini lazim ditemukan.

Penelitian Direktorat Jenderal Kebudayaan terhadap makam-makam Walisongo menunjukkan bahwa arsitektur Islam awal di Jawa mengadaptasi teknologi dan bentuk lokal yang telah ada. Pengaruh bangunan Hindu-Buddha dan bentuk asli seperti punden berundak masih dapat dikenali dalam sejumlah peninggalan.

Hal serupa terlihat pada penggunaan atap tumpang pada masjid-masjid tua. Bentuk tersebut memperlihatkan bagaimana kebutuhan bangunan keagamaan baru diterjemahkan melalui bahasa arsitektur yang telah dikenal masyarakat setempat.

Dengan demikian, penerimaan Islam tidak harus membuat masyarakat Jawa meninggalkan seluruh pengetahuan membangun yang diwarisi sebelumnya. Tukang, bahan lokal, teknik konstruksi, dan estetika yang sudah hidup tetap mempunyai tempat dalam lanskap baru.

Arsitektur Menjadi Arsip Perjumpaan Budaya

Bangunan mempunyai kemampuan menyimpan sejarah tanpa harus menuliskannya. Bentuk atap, susunan ruang, tiang, gerbang, ornamen, dan bahan bangunan dapat menunjukkan lapisan kebudayaan yang pernah bertemu di sebuah tempat.

Kajian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai makam Walisongo menunjukkan bahwa arsitektur makam para wali tidak sekadar mengambil model dari Persia, Arab, Magribi, Siria, atau India. Adaptasi terhadap bentuk lokal justru mempunyai peranan penting.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan Islam di Jawa berkembang melalui proses lokal yang kompleks. Unsur dari luar hadir, tetapi masyarakat tidak berhenti menggunakan pengetahuan arsitektur yang telah dimiliki.

Karena itu, masjid dan kompleks makam tua dapat dibaca bukan hanya sebagai tempat keagamaan. Keduanya juga menjadi arsip material mengenai bagaimana masyarakat Jawa melewati perubahan zaman.

Sunan Kudus dan Pertemuan Identitas

Kudus memberikan salah satu gambaran paling kuat mengenai lapisan budaya dalam perkembangan Islam Jawa. Kompleks Masjid Menara Kudus dikenal melalui bentuk arsitektur yang menunjukkan perjumpaan unsur Islam dengan estetika bangunan yang telah dikenal sebelumnya.

Menara bata merahnya jauh dari gambaran menara masjid Timur Tengah. Secara visual, bentuk tersebut memperlihatkan bahasa arsitektur lokal yang mempunyai kedekatan dengan tradisi bangunan masa Hindu-Buddha.

Warisan semacam ini penting karena menunjukkan bahwa identitas baru tidak selalu dibangun dengan menghancurkan seluruh bentuk identitas lama. Sebuah masyarakat dapat mengalami perubahan keagamaan sekaligus membawa sebagian pengetahuan artistik dan teknologinya ke masa berikutnya.

Kudus kemudian tumbuh sebagai ruang budaya Islam dengan karakter lokal yang sangat kuat. Hingga kini, jejak perjumpaan tersebut menjadi salah satu penanda penting sejarah kota.

Sunan Muria Mendekati Masyarakat dari Pinggiran

Tidak semua Walisongo bekerja di pusat kekuasaan. Sunan Muria dalam catatan Direktorat Pelindungan Kebudayaan justru dikenal memilih hidup dekat dengan masyarakat di kawasan perbukitan Muria.

Ia berinteraksi dengan petani, tukang, dan pedagang. Pendekatannya melalui hikmah dan tembang menunjukkan bahwa penyebaran agama dapat berlangsung melalui bahasa sosial masyarakat sehari-hari.

Catatan kebudayaan mengenai Sunan Muria juga menggambarkan bahwa sejumlah upacara masyarakat tidak langsung dilarang. Sebagian mengalami perubahan isi dan pemaknaan sesuai nilai yang ingin diperkenalkan.

Perubahan seperti ini memperlihatkan sifat tradisi yang tidak selalu hitam-putih antara “bertahan” dan “hilang”. Sebuah bentuk dapat terus dilakukan sementara makna di dalamnya perlahan berubah.

Tradisi Lama Tidak Selalu Bertahan Utuh

Penting pula untuk tidak menggambarkan Walisongo seolah-olah mempertahankan seluruh kebudayaan Jawa tanpa seleksi. Kajian sejarah justru menunjukkan adanya proses penyesuaian terhadap nilai keagamaan yang mereka bawa.

Sebagian tradisi dapat diterima sebagai medium sosial atau seni, sementara unsur tertentu mengalami reinterpretasi. Ada pula praktik yang berubah seiring masyarakat semakin kuat mengidentifikasi dirinya sebagai Muslim.

Karena itu, kata “pelestarian” perlu digunakan dengan hati-hati. Apa yang terjadi lebih dekat dengan keberlanjutan melalui transformasi daripada konservasi dalam pengertian modern.

Budaya tidak ditempatkan di balik kaca agar bentuknya tidak berubah. Ia tetap berada di tengah masyarakat, digunakan, ditafsirkan, dan kadang diubah oleh generasi yang menjalaninya.

Mengapa Pendekatan Itu Bisa Bertahan?

Salah satu jawabannya mungkin terletak pada kedekatan bentuk budaya dengan kehidupan masyarakat. Wayang tidak perlu diperkenalkan dari awal, gamelan telah mempunyai pendengar, sementara tembang hidup dalam bahasa yang dipahami sehari-hari.

Ketika medium yang digunakan telah akrab, perubahan tidak selalu terasa sebagai pemutusan. Masyarakat masih dapat mengenali sebagian dunianya ketika berhadapan dengan ajaran dan nilai yang baru.

Penelitian BRIN mengenai Walisongo dan perkembangan Islam Nusantara menyoroti interaksi budaya serta sikap akomodatif terhadap budaya lokal. Kajian lain juga menunjukkan keterbukaan terhadap tradisi lokal sebagai salah satu karakter penting proses pembentukan tradisi Islam Nusantara.

Dari sudut kebudayaan, strategi tersebut menghasilkan sesuatu yang penting. Islam yang berkembang di Jawa kemudian memiliki ekspresi budaya yang tidak sepenuhnya menyerupai masyarakat Muslim di wilayah lain.

Ketika Kebudayaan Menjadi Jembatan

Warisan Walisongo pada akhirnya tidak hanya berada di makam, masjid, atau nama mereka yang terus disebut. Jejak yang lebih luas dapat ditemukan pada cara kebudayaan Jawa melewati perubahan keagamaan yang sangat besar tanpa kehilangan seluruh bentuk yang telah dibangun sebelumnya.

Wayang tetap mempunyai panggung. Gamelan masih ditabuh, tembang tetap dinyanyikan, sementara bentuk arsitektur lokal ikut membentuk masjid dan kompleks keagamaan.

Namun semuanya tidak bertahan dalam keadaan beku. Makna, fungsi, dan konteksnya terus berubah mengikuti masyarakat yang mewarisinya.

Di situlah peran Walisongo dapat dibaca dari sudut Warisan Budaya. Mereka berada pada sebuah masa ketika masyarakat harus berhadapan dengan pertanyaan besar: apa yang dilakukan terhadap kebudayaan lama ketika keyakinan dan tata kehidupan sedang berubah?

Jejak sejarah menunjukkan bahwa salah satu jawabannya bukan selalu menghapus. Sebagian warisan diberi kesempatan untuk tetap hidup, lalu berjalan bersama masyarakat menuju zaman berikutnya.

Berabad-abad kemudian, kita masih dapat melihat hasil perjumpaan itu. Bukan kebudayaan Jawa yang sama persis dengan masa sebelum Islam, dan bukan pula kebudayaan yang kehilangan seluruh masa lalunya, melainkan kebudayaan yang terus berubah sambil membawa sebagian ingatan lama di dalamnya.

CATATAN REDAKSI

Artikel ini membahas Walisongo dalam konteks sejarah perubahan kebudayaan Jawa dan proses akulturasi pada masa berkembangnya Islam. Sumber mengenai Walisongo berasal dari tinggalan material, penelitian sejarah dan arkeologi, naskah, babad, tradisi lisan, serta historiografi yang disusun pada periode berbeda; karena itu, sejumlah kisah mengenai tokoh, penciptaan kesenian, atau asal-usul tradisi tidak selalu mempunyai tingkat kepastian sejarah yang sama.

Tradisi dan praktik masyarakat yang bersinggungan dengan ritual, sesaji, keyakinan, maupun pemaknaan spiritual ditempatkan sebagai bagian dari konteks sejarah dan kebudayaan masyarakat pendukungnya. EMMANUS tidak menempatkan keyakinan atau klaim supernatural sebagai fakta objektif dan tidak memberikan penilaian keagamaan terhadap praktik yang dibahas.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait