Setiap kali masyarakat Jawa memasuki malam 1 Sura, ada jejak keputusan seorang raja yang telah berusia hampir empat abad. Nama Sultan Agung mungkin tidak selalu disebut, tetapi penanggalan yang membuat Sura kembali datang dari tahun ke tahun merupakan salah satu warisan penting pemerintahannya.
Jejak Sultan Agung juga tidak berhenti pada kalender. Imogiri, tradisi Sekaten, perkembangan sastra Jawa-Islam, tata ruang pusat kerajaan, hingga cara Mataram mempertemukan kebudayaan Jawa dengan Islam membawa kita kepada masa ketika Sultan Agung memerintah pada paruh pertama abad ke-17.
Ia memang lebih sering dikenang melalui kekuasaan Mataram dan dua serangan terhadap VOC di Batavia. Namun jika perang meninggalkan kisah tentang sesuatu yang telah berlalu, sebagian kebijakan kebudayaannya justru masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat Jawa hari ini.
Raja yang Tidak Hanya Membangun Kekuasaan
Sultan Agung memerintah Mataram pada 1613–1645, ketika kerajaan tersebut berkembang menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Jawa. Di bawah pemerintahannya, kekuasaan Mataram meluas dan berhadapan dengan berbagai kekuatan regional maupun VOC.
Namun kehidupan sebuah kerajaan tidak dibangun dengan pasukan saja. Sultan Agung juga berhadapan dengan persoalan yang lebih dalam: bagaimana membangun identitas masyarakat Mataram ketika tradisi Jawa yang telah berusia panjang bertemu dengan Islam yang semakin kuat.
Sejumlah penelitian mengenai kebijakan kebudayaannya memperlihatkan pola yang menarik. Sultan Agung tidak selalu menempatkan kebudayaan lama dan Islam sebagai dua dunia yang harus saling meniadakan, tetapi mencoba mempertemukannya dalam bentuk baru.
Hasilnya dapat ditemukan dalam penanggalan, upacara, kesusastraan, seni, pemerintahan, dan ruang kerajaan. Sebagian kemudian bertahan jauh melampaui umur politik Mataram sendiri.
Ketika Dua Penanggalan Dipertemukan
Salah satu warisan Sultan Agung yang paling jelas adalah Kalender Jawa-Islam. Sebelum perubahan itu, masyarakat Jawa telah lama mengenal kalender Saka, sementara masyarakat Muslim juga menggunakan kalender Hijriah.
Pada 1633, Sultan Agung memberlakukan sistem penanggalan baru. Sistemnya menggunakan perhitungan bulan atau kamariah sebagaimana kalender Hijriah, tetapi angka tahun Saka tidak dibuang dan tetap diteruskan.
Ketika tahun Saka telah mencapai 1555, angka tersebut tidak dikembalikan menjadi tahun pertama. Tahun berikutnya tetap berjalan sebagai 1555 dalam sistem baru, sebuah pilihan yang membuat perubahan tidak memutus kesinambungan waktu masyarakat Jawa.
Di sinilah keputusan Sultan Agung mempunyai arti kebudayaan yang jauh lebih besar daripada persoalan menghitung hari. Ia mengambil sistem lama yang telah dikenal masyarakat, mempertemukannya dengan penanggalan Islam, lalu membentuk cara baru dalam membaca waktu.
Sura dan Ingatan yang Masih Berjalan
Nama bulan dalam kalender tersebut kemudian berkembang dalam bentuk Jawa seperti Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, dan Besar. Sebagian nama memperlihatkan kedekatan dengan bulan Hijriah, sementara penggunaannya berkembang dalam lingkungan budaya Jawa.
Sura menempati posisi yang sangat dikenal karena berhubungan dengan Muharam. Sampai sekarang, pergantian 1 Sura masih menjadi penanda penting dalam kehidupan budaya sejumlah masyarakat Jawa.
Berbagai tradisi kemudian tumbuh atau berkembang di sekitar malam tersebut, terutama di lingkungan keraton dan masyarakat yang masih menggunakan penanggalan Jawa. Bentuknya dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga tidak seluruh tradisi 1 Sura dapat begitu saja disebut sebagai ciptaan Sultan Agung.
Warisan Sultan Agung berada pada sistem waktunya. Kalender yang dibentuk pada abad ke-17 memberi kerangka yang memungkinkan berbagai tradisi tersebut terus menentukan hari pelaksanaannya.
Sekaten yang Mendapat Bentuk Baru
Sultan Agung juga dikaitkan dengan perkembangan Sekaten. Tradisi ini mempunyai akar yang lebih tua daripada pemerintahannya dan dalam historiografi Jawa sering dihubungkan dengan masa awal perkembangan Islam.
Karena itu, Sultan Agung tidak tepat disebut sebagai pencipta Sekaten. Sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa pada masa pemerintahannya tradisi tersebut dihidupkan atau ditata kembali dengan penyesuaian pada perlengkapan dan pelaksanaan upacara.
Sekaten memperlihatkan cara kebudayaan bekerja dalam lingkungan Mataram. Perayaan keagamaan bertemu dengan gamelan, keramaian masyarakat, simbol kerajaan, dan ruang masjid.
Dalam perkembangan berikutnya, Sekaten diteruskan oleh kerajaan-kerajaan pewaris Mataram. Tradisi tersebut tetap dikenal terutama di Yogyakarta dan Surakarta, meskipun bentuk pelaksanaannya mengalami perubahan dari masa ke masa.
Gamelan di Tengah Perayaan Islam
Kehadiran gamelan dalam Sekaten menunjukkan bahwa kesenian Jawa tidak harus menghilang ketika kehidupan Islam berkembang. Bunyi gamelan justru menjadi bagian dari ruang perayaan yang berkaitan dengan Maulid Nabi Muhammad.
Tradisi tersebut terus berkembang setelah masa Sultan Agung. Sejumlah perangkat gamelan Sekaten yang diwariskan keraton bahkan mempunyai sejarah masing-masing dan tidak seluruhnya berasal dari periode yang sama.
Karena itu, penting membedakan antara tradisi yang dikembangkan pada masa Sultan Agung dengan benda-benda pusaka yang dibuat oleh generasi raja sesudahnya. Kesinambungan budaya hampir selalu melibatkan banyak generasi.
Yang bertahan bukan satu benda yang tidak pernah berubah. Yang bertahan adalah tradisi yang terus dipelihara, diperbarui, dan diberi tempat oleh masyarakat penerusnya.
Sastra Gending dan Jalan Kebudayaan
Sultan Agung juga dikenal dalam sejarah kesusastraan Jawa melalui Serat Sastra Gending. Sejumlah kajian menempatkan karya tersebut sebagai salah satu ruang penting untuk memahami pandangan tentang hubungan manusia, Tuhan, kehidupan, dan kebudayaan pada lingkungan Mataram.
Serat itu menggunakan bahasa dan bentuk kesusastraan Jawa untuk membicarakan gagasan yang berkaitan dengan spiritualitas Islam. Penelitian terhadap teksnya menemukan perjumpaan antara pemikiran tasawuf dan konsep-konsep yang telah dikenal dalam dunia kebudayaan Jawa.
Pilihan menggunakan sastra mempunyai arti penting. Ajaran tidak disampaikan dalam bahasa asing yang sepenuhnya terpisah dari masyarakat, tetapi masuk melalui bentuk kebudayaan yang dapat dikenali.
Dari sinilah Sultan Agung dapat dilihat bukan hanya sebagai penguasa yang menggunakan kebudayaan untuk memperkuat kerajaan. Ia juga hidup dalam sebuah zaman ketika sastra menjadi ruang untuk merumuskan hubungan antara dunia Jawa dan Islam.
Ketika Jawa dan Islam Tidak Harus Saling Menghapus
Kalender Jawa dan Sastra Gending memperlihatkan pola yang serupa. Unsur lama tidak selalu dibuang ketika unsur baru datang, tetapi dipertemukan dan kemudian menghasilkan bentuk kebudayaan lain.
Penelitian mengenai kebijakan budaya Sultan Agung menggambarkan kemampuannya mengintegrasikan unsur Jawa dengan Islam. Proses tersebut terlihat pula pada seni, upacara, struktur keagamaan kerajaan, dan simbol-simbol kekuasaan.
Namun akulturasi bukan berarti segala sesuatu dicampurkan tanpa perubahan. Sebagian tradisi mengalami penyesuaian, sebagian mendapatkan pemaknaan baru, sementara unsur lainnya dapat berkurang atau ditinggalkan.
Kebudayaan yang muncul kemudian bukan kebudayaan Jawa sebelum Islam yang dibekukan. Ia merupakan kebudayaan yang bergerak mengikuti perubahan masyarakatnya.
Kerto, Pusat Dunia Mataram
Warisan Sultan Agung juga meninggalkan jejak pada tanah. Salah satu tempat penting untuk memahaminya adalah Kerto, pusat pemerintahan Mataram pada masa Sultan Agung yang berada di wilayah Yogyakarta sekarang.
Penelitian arkeologi menunjukkan Kerto bukan sekadar tempat persinggahan raja. Situs tersebut mempunyai fungsi sebagai pusat politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, dan keagamaan kerajaan.
Data historis dan arkeologis memperlihatkan keberadaan berbagai unsur kompleks kerajaan. Keraton, alun-alun, sitinggil, ruang-ruang kerajaan, serta lingkungan pendukungnya menjadi bagian dari pusat kekuasaan Mataram.
Banyak bangunannya memang tidak lagi berdiri utuh. Namun tinggalan arkeologis membuat kita masih dapat membaca bagaimana kekuasaan Sultan Agung dahulu ditempatkan dalam sebuah ruang.
Ruang Kekuasaan yang Menjadi Warisan
Keraton Jawa bukan hanya rumah seorang raja. Ruang di dalam dan di sekitarnya berhubungan dengan pemerintahan, upacara, agama, kehidupan sosial, serta simbol mengenai kedudukan penguasa.
Pada masa Sultan Agung, Kerto berkembang sebagai pusat semacam itu. Menjelang akhir pemerintahannya, pembangunan kawasan yang kemudian berkembang menjadi Plered juga telah dimulai.
Warisan tata ruang Mataram menjadi penting karena dinasti ini tidak berakhir bersama Sultan Agung. Setelah berbagai konflik dan pembagian politik pada masa berikutnya, tradisi kerajaan Mataram diteruskan dalam lingkungan Surakarta dan Yogyakarta.
Hubungan antara tata ruang Mataram awal dengan keraton-keraton penerusnya mempunyai sejarah panjang dan tidak dapat disederhanakan sebagai salinan langsung. Namun terdapat kesinambungan gagasan mengenai ruang kerajaan Jawa yang layak dibaca sebagai satu mata rantai kebudayaan.
Imogiri, Gunung yang Dipilih untuk Para Raja
Di antara warisan material yang paling kuat berhubungan dengan Sultan Agung adalah kompleks makam kerajaan di Imogiri. Pembangunannya dimulai pada masa pemerintahannya pada abad ke-17 di kawasan perbukitan selatan Yogyakarta.
Sultan Agung kemudian dimakamkan di sana setelah wafat pada 1645. Pilihan tersebut membuat Imogiri menjadi salah satu tempat terpenting dalam sejarah dinasti Mataram.
Yang menarik, fungsi Imogiri tidak berhenti ketika kerajaan mengalami perpecahan. Dinasti-dinasti penerus Mataram tetap menggunakan kawasan tersebut sebagai kompleks pemakaman kerajaan.
Karena itu, Imogiri seperti mengikat cabang-cabang sejarah yang kemudian berjalan ke arah berbeda. Surakarta dan Yogyakarta mempunyai perjalanan politik masing-masing, tetapi leluhur dinasti mereka tetap bertemu di perbukitan yang dahulu dipilih pada masa Sultan Agung.
Imogiri Bukan Sekadar Makam
Untuk mencapai bagian tertentu kompleks Imogiri, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga menuju kawasan makam di perbukitan. Perjalanan fisik menuju tempat tersebut ikut membentuk pengalaman ruang yang berbeda dari pemakaman biasa.
Kompleksnya menyimpan gerbang, halaman, bangunan, makam, serta tata ruang yang berhubungan dengan tradisi kerajaan Jawa. Sejumlah bagian telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi sumber penting untuk membaca perkembangan arsitektur serta kebudayaan Mataram.
Namun Imogiri juga merupakan ruang yang masih mempunyai fungsi hidup bagi lingkungan keraton dan masyarakat pendukungnya. Ada tata cara, penghormatan, serta tradisi yang terus menyertai tempat tersebut.
Di sinilah batas antara peninggalan dan warisan menjadi tipis. Imogiri bukan hanya sesuatu yang tersisa dari abad ke-17, tetapi ruang sejarah yang masih mempunyai hubungan dengan manusia hari ini.
Sultan Agung dan Ingatan tentang Sejarah Jawa
Pada masa Sultan Agung, legitimasi kekuasaan juga dibangun melalui cerita tentang masa lalu. Sejumlah kajian menghubungkan lingkungan pemerintahannya dengan perkembangan penulisan babad serta usaha menempatkan dinasti Mataram dalam mata rantai sejarah Jawa.
Namun bagian ini perlu dibaca hati-hati. Babad Tanah Jawi mempunyai sejarah penyusunan, penyalinan, dan berbagai versi yang panjang, sehingga tidak tepat jika keseluruhan teks yang dikenal sekarang disebut begitu saja sebagai karya Sultan Agung.
Yang lebih aman adalah melihat masa pemerintahannya sebagai salah satu periode penting dalam pembentukan historiografi dan legitimasi dinasti Mataram. Masa lalu menjadi sesuatu yang ditulis dan ditafsirkan untuk menjelaskan kedudukan kerajaan pada masa kini.
Dalam tradisi kerajaan, sejarah memang tidak selalu hanya berfungsi untuk mengingat. Ia juga dapat digunakan untuk menjelaskan siapa yang berhak memerintah dan dari mana sebuah kekuasaan memperoleh legitimasi.
Warisan yang Tidak Selalu Berbentuk Benda
Ketika berbicara tentang peninggalan seorang raja, kita mudah mencari keris, makam, keraton, prasasti, atau benda pusaka. Warisan Sultan Agung menunjukkan bahwa kebudayaan dapat bertahan dalam bentuk yang jauh lebih sulit disentuh.
Kalender adalah sistem untuk mengatur waktu. Sastra menyimpan gagasan, sedangkan upacara menyimpan hubungan antara manusia, kerajaan, agama, dan masyarakat.
Semua itu dapat bertahan meskipun bangunan runtuh atau pusat kerajaan berpindah. Ia hidup karena generasi berikutnya terus menggunakan, menafsirkan, atau mengubahnya.
Mungkin karena itu pengaruh kebudayaan Sultan Agung terasa panjang. Sebagian warisannya tidak hanya ditempatkan di museum, tetapi masih hadir dalam kehidupan.
Hampir Empat Abad Kemudian
Mataram yang diperintah Sultan Agung tidak lagi ada dalam bentuk politik yang sama. Wilayah kekuasaannya berubah, pusat kerajaan berpindah, dan dinasti tersebut kemudian mengalami konflik serta pembagian.
Namun setiap datang 1 Sura, kalender yang akarnya dibentuk pada pemerintahannya kembali digunakan. Ketika Sekaten berlangsung, ketika teks Sastra Gending dibaca kembali, atau ketika orang menaiki tangga menuju Imogiri, jejak kebudayaan Mataram itu kembali muncul.
Warisan semacam ini tidak berarti semua tradisi hari ini sama persis dengan bentuknya pada abad ke-17. Hampir empat ratus tahun telah memberi cukup waktu bagi masyarakat untuk mengubah, menambah, mengurangi, dan menafsirkan kembali apa yang mereka warisi.
Justru di situlah kebudayaan menunjukkan daya hidupnya. Sultan Agung telah lama meninggalkan dunia, tetapi sebagian gagasan tentang waktu, ruang, sastra, upacara, dan identitas Jawa yang berkembang pada zamannya masih berjalan bersama masyarakat hingga sekarang.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini membahas Sultan Agung dalam konteks sejarah dan perkembangan kebudayaan Mataram. Sejumlah warisan seperti Kalender Jawa-Islam dan pembangunan pusat kerajaan mempunyai dukungan historis dan arkeologis yang kuat, sementara hubungan Sultan Agung dengan beberapa karya sastra, upacara, dan tradisi juga berasal dari historiografi keraton, babad, serta penelitian yang dapat memiliki perbedaan penafsiran.
Tradisi yang berkaitan dengan 1 Sura, makam, upacara keraton, atau praktik spiritual ditempatkan sebagai bagian dari sejarah dan kebudayaan masyarakat pendukungnya. EMMANUS tidak menempatkan keyakinan maupun klaim supernatural yang mungkin menyertai tradisi tersebut sebagai fakta objektif.






