Berbagai kisah mengenai legenda anak durhaka mengisi khazanah cerita rakyat Indonesia.
Sebut saja kisah Malin Kundang dari Sumatera Barat, yang dijatuhi kutukan hingga berubah menjadi batu, dan Sampuraga dari Mandailing Natal di Sumatera Utara, yang konon berubah menjadi sumur berisi air panas.
Sementara di Tanjungbalai, Sumatera Utara seorang pemuda dikutuk menjadi daratan dikelilingi perairan akibat durhaka kepada ibunya. Daratan itu sekarang dikenal sebagai Pulau Simardan.
Durhaka Terhadap Ibu Kandung
Menurut cerita masyarakat setempat, Simardan adalah anak dari seorang janda miskin. Suatu ketika, Simardan merantau ke negeri seberang untuk mencari nafkah.
Setelah beberapa tahun, ibunya yang sudah tua mendengar berita adanya kapal layar baru tiba dari Malaysia. Masyarakat menyebut pemiliknya Simardan, anaknya yang telah lama hilang.
Merasa bahagia, si ibu pun bergegas menuju pelabuhan. Namun, saat tiba di sana, ia mendapati Simardan berjalan bersama seorang wanita cantik dan kaya.
Dengan penuh kasih sayang, sang ibu memeluknya dan mengklaim bahwa Simardan adalah anaknya. Namun, betapa terkejutnya, ketika pelukan kasih itu ditolak dengan kasar oleh Simardan, yang mendorongnya hingga terjatuh.
Meskipun sang istri meminta Simardan untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya, pendiriannya tidak berubah. Simardan bahkan mengusir ibunya dan menyebutnya sebagai pengemis.
Asal Usul Pulau Simardan
Sebelum kejadian itu, Pulau Simardan masih berupa perairan tempat kapal berlabuh. Kini, Pulau Simardan, berada di Kecamatan Datuk Bandar Timur, Tanjungbalai, Sumatera Utara,
Menurut H. Daem, seorang tokoh masyarakat berusia 80 tahun, yang tinggal di Jalan Sentosa, Kelurahan Pulau Simardan, Lingkungan IV Kota Tanjungbalai.
Meski peristiwa ini terjadi di Tanjungbalai, Daem menjelaskan bahwa Simardan sebenarnya berasal dari kawasan hulu Tanjungbalai, yakni daerah Tapanuli.
Hal ini juga dikuatkan oleh Abdul Hamid Marpaung, 75, warga Jalan Binjai Semula Jadi, yang menyatakan bahwa asal Simardan adalah Porsea di Tapanuli.
Harta Karun yang Terpendam
Menurut versi cerita Marpaung, berbeda dengan legenda anak durhaka yang merantau demi keluarga, Simardan pergi ke Malaysia untuk menjual harta karun yang ditemukan di sekitar rumahnya.
Sebelumnya, ia bermimpi tentang lokasi harta karun, dan keesokan harinya pergi ke tempat tersebut dan menemukan berbagai perhiasan.
Rencananya harta karun itu dijual di Tanjungbalai, karean terdapat kerajaan yang besar dan kaya. Namun, tidak ada kerajaan yang mampu membayar harta karun tersebut
Simardan pun terpaksa pergi ke Malaysia. Di Pulau Penang, Malaysia, harta karun tersebut berhasil terjual, bahkan Simardan juga menikahi putri kerajaan itu.
Satu Nama Berbeda Versi Cerita
Kisah versi Marpaung ini berbeda dengan versi cerita H. Daem yang mengatakan, tujuan Simardan merantau ke Malaysia adalah mencari pekerjaan. Setelah beberapa tahun, ia berhasil menjadi orang kaya dan menikahi seorang bangsawan.
Simardan akhirnya kembali ke Tanjungbalai bersama istrinya. Kedatangannya, menurut Daem, adalah untuk berdagang sekaligus mencari bahan kebutuhan.
Namun, menurut Marpaung, kedatangan Simardan didorong oleh keinginannya untuk memiliki keturunan. Atas saran orang tua di Malaysia, pasangan suami istri itu kembali ke Tanjungbalai.
Berita tentang kedatangan Simardan sampai kepada ibunya, yang merasa gembira dan menyiapkan berbagai hidangan khas dari keyakinannya yang belum mengenal agama.
Namun, makanan yang dibawa adalah yang diharamkan dalam Islam. Dengan semangat, sang ibu menuju Tanjungbalai bersama kerabatnya, tetapi perlakuan Simardan berbeda dari harapannya.
Simardan menolak untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya.
Tindakan ini dilakukannya karena ia merasa malu kepada istrinya jika diketahui bahwa ibunya tidak mengenal agama dan merasa malu terhadap penampilan ibunya yang miskin, yang mengenakan pakaian compang-camping.
Baca juga: Kisah Putri Hijau, Keindahan dan Keajaiban dari Labuhan Deli
Munculnya Pulau Simardan dan Misteri Kera Putih
Setelah menerima perlakuan yang kasar, wanita tua itu berdoa sambil memegang payudaranya, berharap Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya jika Simardan memang anaknya.
Setelah berdoa, tiba-tiba angin kencang dan ombak besar datang dan menghancurkan kapal. Menurut cerita, tubuh Simardan tenggelam dan berubah menjadi pulau bernama Simardan.
Para pelayan dan istrinya berubah menjadi kera putih, karena mereka tidak setuju sikap durhaka Simardan terhadap ibunya. Mereka diberikan tempat tinggal di hutan Pulau Simardan.
Marpaung menjelaskan bahwa sekitar empat puluh tahun lalu, masih ditemukan kera putih yang diyakini merupakan jelmaan para pelayan dan istri Simardan.
Namun, karena ada populasi manusia di Pulau Simardan, kera putih itu tidak pernah terlihat lagi.
Selain itu, pada tahun lima puluhan, masyarakat menemukan tali kapal besar di Jalan Utama Pulau Simardan saat menggali sumur. Penemuan ini mengindikasikan bahwa Pulau Simardan dulunya merupakan perairan.
Marpaung menekankan, kebenaran legenda Simardan tergantung pada persepsi masing-masing orang, tetapi penemuan tali dan rantai kapal memberikan bukti bahwa di masa lalu, Pulau Simardan merupakan tempat berlabuh kapal. (Achmad Aristyan – Sumber: budaya-indonesia.org)