Dinamika

Apakah Keramahan dan Kasih Sayang Hanya Sebatas Ucapan?

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah. Namun, kemarahan, fitnah, dan pertengkaran di ruang publik mengajak kita menguji apakah keramahan dan kasih sayang benar-benar hadir dalam tindakan.

Oleh Ridwan

Apakah Keramahan dan Kasih Sayang Hanya Sebatas Ucapan?
Penjual melayani pembeli di pasar jajanan. Keramahan dalam perjumpaan sehari-hari mengajak kita mempertanyakan cara memperlakukan orang lain di ruang digital. Foto: Rizky Rianto/Pexels
Diterbitkan

Mudah tersulut amarah, saling menghujat di media sosial, lalu menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk merendahkan orang lain. Percakapan semacam ini terasa akrab di ruang maya. Kolom komentar yang semestinya menjadi tempat bertukar pandangan tidak jarang berubah menjadi arena saling serang.

Di tengah situasi itu, ada lagu yang kembali terlintas: Tell Me Why dari Edane, band rock Indonesia yang telah mewarnai perjalanan musik rock Tanah Air selama beberapa dekade. Lagu tersebut dirilis dalam album Edan pada 2010.

Melalui lagu itu, Edane mempertanyakan kontras yang terasa ganjil. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, sementara lagu-lagu cinta terdengar di mana-mana. Namun, pertengkaran dan hujatan tetap terjadi.

Pertanyaan itu terasa dekat bukan karena lagu tersebut ditulis untuk menggambarkan keadaan Indonesia hari ini, melainkan karena jarak antara nilai yang kita banggakan dan perilaku yang kita perlihatkan masih layak dipertanyakan.

Dari situlah gagasan tulisan ini bermula. Bukan dari keinginan mencocokkan persoalan sosial dengan lirik lagu, melainkan dari pengalaman mendengarkan sebuah karya yang mengingatkan kita pada keadaan di sekitar. 

Mengapa keramahan yang begitu lekat dengan citra bangsa tidak selalu hadir dalam cara kita memperlakukan orang lain? Dan apakah kasih sayang masih memiliki tempat ketika perbedaan, kepentingan, dan kemarahan mengambil alih percakapan?

Keramahan yang Mendapat Ujian

Keramahan bukan sekadar citra yang tidak memiliki dasar. Banyak orang mengalaminya dalam keseharian melalui bantuan tetangga, kepedulian di lingkungan sekitar, atau kesediaan menolong orang yang sedang kesulitan. Namun, pengalaman baik itu tidak serta-merta menggambarkan perilaku semua orang dalam setiap keadaan.

Pada 2026, Indonesia menempati peringkat keempat negara paling ramah dalam Condé Nast Traveller Readers’ Choice Awards, dengan skor 97,50. Pengakuan tersebut menunjukkan kesan positif para pembaca atau pelancong yang berpartisipasi dalam pemeringkatan itu. 

Meski demikian, hasil tersebut perlu dibaca sesuai konteksnya: penilaian terhadap pengalaman dan persepsi keramahan, bukan ukuran menyeluruh tentang perilaku seluruh masyarakat Indonesia.

Di sinilah pertanyaan dari Tell Me Why memperoleh relevansinya. Keramahan dapat hadir dalam perjumpaan sehari-hari, tetapi bagaimana nilainya bertahan ketika orang berbeda pandangan, merasa dirugikan, atau berhadapan dengan kepentingan yang berlawanan?

Keramahan tidak berarti seseorang harus selalu tersenyum, mengalah, atau menerima semua keadaan tanpa keberatan. Ada kemarahan yang muncul karena penghinaan, kekecewaan, pelanggaran norma, atau kepercayaan yang dikhianati. 

Persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang marah, melainkan bagaimana kemarahan itu diungkapkan dan ke mana ia diarahkan: menjadi keberanian untuk mengoreksi keadaan, atau berubah menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Marah Bukan Berarti Kehilangan Empati

Penelitian Mochamad Sulaiman Zuhdi dan Fathul Lubabin Nuqul berjudul “Konsepsi Emosi Marah dalam Perspektif Budaya di Indonesia: Sebuah Pendekatan Indigenous Psychology”, yang terbit dalam Jurnal Psikologi pada 2022, dapat membantu menjelaskan mengapa kemarahan tidak bisa dipahami secara sederhana.

Penelitian tersebut melibatkan 254 responden dari enam kelompok etnis, yakni Jawa, Sunda, Madura, Bugis-Makassar, Batak, dan Minang. Di antara pemicu kemarahan yang ditemukan ialah penghinaan, kekecewaan, pelanggaran norma, pengalaman tidak menyenangkan, serta pengkhianatan terhadap kepercayaan. Cara orang mengekspresikan dan mengendalikan kemarahan juga dapat berbeda.

Temuan itu tidak membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sekarang semakin pemarah. Penelitian tersebut lebih berguna untuk memperlihatkan bahwa kemarahan memiliki konteks dan pemicu yang beragam. Karena itu, membicarakan kemarahan seharusnya tidak berhenti pada penilaian bahwa seseorang kehilangan kesantunan atau tidak lagi memiliki empati.

Tekanan sosial dan ekonomi juga menjadi bagian dari konteks yang patut diperhatikan. Survei CELIOS bersama Kabinet Bayangan yang diberitakan pada Oktober 2026 mencatat 75 persen responden mengaku mengalami stres terkait kebijakan pemerintah. 

Pemberitaan mengenai survei tersebut menyoroti persoalan seperti harga kebutuhan pokok, pekerjaan, dan penegakan hukum. Survei itu melibatkan 1.142 responden dari masyarakat umum, menggunakan metode nonprobabilitas melalui Meta Ads dengan pembobotan.

Angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Metode pengambilan sampelnya tidak memungkinkan hasilnya dianggap sebagai gambaran representatif seluruh penduduk Indonesia. Stres yang dilaporkan juga tidak otomatis berarti kemarahan atau perilaku agresif. Namun, hasil itu memberi gambaran tentang tekanan yang dirasakan sebagian responden ketika berhadapan dengan persoalan publik.

Tekanan dapat membantu menjelaskan konteks, tetapi tidak dengan sendirinya membenarkan tindakan menyakiti orang lain. Kemarahan bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Tantangannya ialah menyampaikan keberatan tanpa menghilangkan martabat orang yang menjadi lawan bicara.

Fitnah dan Batas dalam Perbedaan

Persoalan menjadi lebih rumit ketika kemarahan bertemu dengan ruang digital. Perbedaan pendapat yang semula dapat dibicarakan secara langsung bisa berkembang menjadi saling sindir, tuduhan, atau penghinaan yang menyebar luas. Dalam situasi semacam ini, batas antara mengkritik gagasan dan menyerang pribadi kerap menjadi kabur.

Media sosial membuat pernyataan seseorang dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Kecepatan itu memungkinkan informasi dan kritik tersebar luas, tetapi juga membuat tuduhan yang belum terverifikasi berpotensi menyebar sebelum kebenarannya diperiksa. Orang yang terlibat perselisihan pun dapat dengan mudah menjadi sasaran penilaian publik yang tidak selalu didasarkan pada informasi lengkap.

Kritik terhadap kebijakan atau tindakan pejabat merupakan bagian penting dari kehidupan publik. Kritik dapat menguji keputusan, menuntut penjelasan, dan mendorong pertanggungjawaban. Sebaliknya, tuduhan yang tidak berdasar atau serangan yang bertujuan merendahkan orang lain dapat mengalihkan perhatian dari substansi persoalan.

Dalam pemberitaan mengenai pemberlakuan KUHP baru pada Januari 2026, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra membedakan kritik sebagai penilaian atau analisis atas suatu persoalan dari penghinaan yang bertujuan merendahkan. Penerapan ketentuan hukum tetap bergantung pada konteks dan penilaian terhadap kasus konkret.

Pembedaan ini penting karena keramahan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk membungkam kritik. Sebaliknya, kebebasan menyampaikan pendapat juga bukan pembenaran untuk menyebarkan fitnah atau mempermalukan orang lain. Menghormati sesama bukan berarti menghindari perdebatan, melainkan tetap mempertahankan tanggung jawab ketika berdebat.

Kepentingan dan Kepercayaan Publik

Relasi antara keramahan dan perilaku juga patut dilihat dalam kehidupan publik. Sikap santun dalam pergaulan tidak otomatis menjamin seseorang akan bertindak adil ketika memiliki kewenangan. Sebaliknya, kritik yang keras tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seseorang tidak memiliki kepedulian.

Kepercayaan publik tidak tumbuh hanya melalui bahasa yang meyakinkan atau penampilan yang santun. Kepercayaan juga bergantung pada tindakan yang dapat diperiksa, keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan, dan kesediaan untuk menerima koreksi. Keramahan dalam hubungan personal dan tanggung jawab dalam menjalankan kewenangan memang bukan hal yang sama, tetapi keduanya sama-sama menguji kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.

Karena itu, pembicaraan mengenai nilai sosial tidak cukup berhenti pada ajakan agar masyarakat lebih sopan. Ada pula kebutuhan untuk menciptakan ruang yang memungkinkan kritik disampaikan, persoalan diperiksa, dan pihak yang memiliki kewenangan dimintai pertanggungjawaban. Tanpa itu, seruan tentang kesantunan berisiko hanya berlaku bagi mereka yang diminta menerima keadaan, bukan bagi semua pihak secara setara.

Pertanyaan tentang keramahan dan kasih sayang pada akhirnya tidak hanya menyangkut perilaku orang yang kita temui di jalan atau di ruang digital. Pertanyaan itu juga menyentuh cara kita menggunakan kekuasaan, merespons kritik, dan memperlakukan orang-orang yang terdampak oleh keputusan kita. Nilai yang baik tidak cukup diucapkan; ia perlu tampak dalam tindakan, terutama ketika tindakan tersebut menuntut tanggung jawab.

Solidaritas yang Masih Menemukan Jalan

Meski ruang publik kerap dipenuhi pertengkaran, kehidupan masyarakat tidak hanya berisi permusuhan. Media sosial yang dapat memperluas jangkauan hujatan juga memungkinkan orang menyampaikan dukungan, menggalang bantuan, dan menunjukkan kepedulian terhadap mereka yang terdampak bencana.

Pada Oktober 2026, tagar #PrayforKalimantan beredar sebagai bentuk solidaritas di tengah kebakaran hutan dan lahan yang mengancam permukiman serta menimbulkan persoalan asap dan kesehatan. Dukungan semacam ini menunjukkan bahwa ruang digital tidak hanya memiliki satu wajah. Di dalamnya terdapat pula upaya untuk menyuarakan kepedulian dan menghubungkan perhatian masyarakat dengan keadaan orang lain.

Tentu, sebuah tagar tidak cukup untuk mengukur seberapa jauh solidaritas diwujudkan dalam tindakan. Ungkapan simpati perlu diikuti kepedulian yang sesuai dengan kebutuhan, informasi yang dapat dipercaya, dan dukungan yang tidak berhenti pada simbol. Namun, keberadaan ekspresi solidaritas mengingatkan bahwa kemampuan untuk peduli tidak hilang hanya karena ruang publik juga dipenuhi konflik.

Di titik ini, keramahan dan kasih sayang dapat dipahami lebih luas daripada sikap menyenangkan orang lain. Keduanya berkaitan dengan kesediaan mengakui bahwa orang lain memiliki kebutuhan, martabat, dan pengalaman yang layak diperhatikan. Wujudnya tidak selalu berupa kelembutan kata-kata. Terkadang, kepedulian hadir sebagai keberanian menyampaikan kritik, membantu orang yang kesulitan, atau menolak menyebarkan tuduhan yang belum jelas kebenarannya.

Pertanyaan yang Kembali Menggema

Pada akhirnya, Tell Me Why tidak harus diperlakukan sebagai jawaban atas persoalan masyarakat hari ini. Lagu memiliki ruang tafsir yang lebih luas daripada satu peristiwa atau satu keadaan. Namun, ketika sebuah karya dari 2010 kembali terasa dekat, ada alasan untuk berhenti sejenak dan memeriksa keadaan di sekitar.

Keramahan tidak berarti kita harus selalu sepakat. Kasih sayang pun bukan tuntutan untuk diam menghadapi sesuatu yang keliru. Keduanya justru diuji dalam cara kita menyampaikan kritik tanpa merendahkan, mempertahankan pendirian tanpa meniadakan orang lain, serta menyikapi perbedaan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.

Mungkin itulah sebabnya pertanyaan yang dilontarkan Edane melalui Tell Me Why masih terasa dekat. Bukan karena waktu tidak berubah, melainkan karena jarak antara nilai yang kita ucapkan dan perilaku yang kita tunjukkan masih terasa hingga hari ini.

Apakah keramahan dan kasih sayang benar-benar hadir dalam tindakan kita, atau masih sebatas ucapan?


CATATAN REDAKSI

Artikel ini menggunakan lagu Tell Me Why dari Edane sebagai titik berangkat refleksi sosial, bukan sebagai pernyataan bahwa band tersebut telah meramalkan keadaan Indonesia hari ini. Hubungan antara lagu dan persoalan sosial merupakan pembacaan editorial yang terbuka terhadap tafsir lain.

Data survei dan penelitian yang dikutip memiliki cakupan serta keterbatasan masing-masing. Hasil survei tentang stres tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh masyarakat atau menjadi bukti bahwa tekanan menyebabkan kemarahan. Demikian pula, contoh solidaritas di ruang digital tidak dengan sendirinya mengukur perilaku seluruh penggu

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Dinamika

Lihat semua →
Di Perantauan, Bahasa Keluarga Ikut Berubah

Di Perantauan, Bahasa Keluarga Ikut Berubah

Di keluarga perantau, bahasa daerah berhadapan dengan kebiasaan baru dan bahasa Indonesia. Pewarisannya berlangsung melalui percakapan sehari-hari, bukan sekadar nasihat agar anak tidak melupakan asal-usulnya.

Narendra

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →