Seorang ibu menelepon orang tuanya dari kota tempat ia bekerja dan tinggal bersama keluarga. Ia berbicara dalam bahasa daerah, sementara anaknya yang duduk di dekat telepon hanya menangkap sebagian percakapan. Ketika sang nenek bertanya sesuatu secara langsung, si anak menjawab dalam bahasa Indonesia, bahasa yang lebih biasa digunakannya sehari-hari.
Pemandangan semacam itu dapat dijumpai dalam keluarga perantau, meskipun pengalaman setiap keluarga tentu berbeda. Ada anak yang fasih menggunakan bahasa daerah karena terbiasa mendengarnya di rumah, ada yang memahami tetapi kesulitan menjawab, dan ada pula yang hanya mengenal beberapa sapaan. Perbedaan itu tidak selalu menunjukkan bahwa orang tua kurang mencintai kebudayaannya; kehidupan keluarga, lingkungan pergaulan, dan kebiasaan berbahasa ikut membentuk kemampuan anak.
Bahasa daerah kerap menjadi bagian dari kenangan tentang rumah, bahkan ketika rumah itu berada jauh dari tanah kelahiran orang tua. Namun, kenangan tidak dengan sendirinya menjadi warisan yang dikuasai anak. Bahasa perlu digunakan agar tetap hidup dalam percakapan, dan keluarga perantau menghadapi tantangan tersendiri untuk menjaga kebiasaan itu di tengah kehidupan yang terus berubah.
Bahasa yang Berpindah Bersama Keluarga
Merantau membawa lebih dari barang bawaan dan rencana mencari penghidupan. Orang membawa cara menyapa, ungkapan yang akrab di telinga, cerita keluarga, serta bahasa yang digunakan sejak kecil. Ketika tinggal di daerah lain, kebiasaan tersebut bertemu dengan lingkungan baru yang mungkin menggunakan bahasa berbeda dalam pergaulan sehari-hari.
Bahasa Indonesia sering menjadi jembatan komunikasi di sekolah, tempat kerja, dan lingkungan yang dihuni orang dari berbagai latar belakang. Penggunaannya membantu anak berinteraksi dengan teman serta mengikuti kegiatan pendidikan. Bagi keluarga yang berasal dari daerah berbeda, bahasa Indonesia juga dapat menjadi bahasa bersama yang memungkinkan semua anggota keluarga berkomunikasi dengan nyaman.
Kehadiran bahasa Indonesia tidak otomatis menghapus bahasa daerah. Keduanya dapat digunakan bergantian sesuai lawan bicara, situasi, dan kebutuhan. Seorang anak, misalnya, mungkin menggunakan bahasa Indonesia saat bercerita tentang sekolah, tetapi mendengar bahasa daerah ketika orang tuanya berbincang dengan kerabat atau membicarakan kampung halaman.
Tantangan muncul ketika bahasa daerah hanya terdengar sesekali, sementara bahasa Indonesia digunakan hampir sepanjang hari. Anak mungkin memahami percakapan orang tua, tetapi tidak terbiasa menyusun kalimat sendiri. Lama-kelamaan, kemampuan pasif itu bisa menjadi batas: ia mengenali maksud pembicaraan, tetapi kesulitan ikut berbincang dengan anggota keluarga yang lebih tua.
Ketika Anak Memahami, tetapi Tidak Menjawab
Dalam sejumlah keluarga, orang tua tetap menggunakan bahasa daerah kepada anak, tetapi anak menjawab dalam bahasa Indonesia. Percakapan semacam ini tetap dapat menjadi ruang perjumpaan antargenerasi. Meski demikian, apabila anak jarang mendapat kesempatan berbicara dalam bahasa daerah, kemampuan aktifnya mungkin tidak berkembang sekuat kemampuan memahami.
Keadaan tersebut dapat menjadi lebih rumit ketika orang tua sendiri terbiasa menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Pilihan itu mungkin muncul karena bahasa Indonesia terasa lebih praktis, karena pasangan berasal dari daerah berbeda, atau karena orang tua ingin memudahkan komunikasi anak di lingkungan tempat tinggalnya. Keputusan berbahasa dalam keluarga biasanya terbentuk dari kebutuhan sehari-hari, bukan selalu dari pertimbangan tentang pelestarian budaya.
Ada pula anak yang merasa canggung memakai bahasa daerah di luar rumah. Pengucapan yang berbeda dari teman sebaya, kekhawatiran salah memilih kata, atau pengalaman diejek dapat membuatnya enggan berbicara. Jika orang dewasa langsung menyalahkan anak karena dianggap tidak bangga pada asal-usulnya, persoalan bahasa justru dapat berubah menjadi beban emosional.
Bahasa tidak tumbuh melalui teguran semata. Anak membutuhkan kesempatan mendengar, mencoba, melakukan kesalahan, lalu memperbaiki ucapannya tanpa dipermalukan. Orang tua dapat memulai dengan percakapan ringan, cerita sebelum tidur, panggilan kepada kerabat, atau ungkapan sehari-hari yang digunakan secara konsisten dan wajar.
Rumah, Kakek-Nenek, dan Ingatan Keluarga
Bagi anak perantau, hubungan dengan kakek-nenek terkadang menjadi salah satu kesempatan paling dekat untuk mengenal bahasa daerah. Saat berkunjung ke kampung halaman atau berbicara melalui telepon, anak dapat mendengar sapaan, cerita masa kecil orang tuanya, dan ungkapan yang jarang digunakan di tempat tinggalnya sekarang. Hubungan tersebut membuat bahasa hadir bersama orang dan pengalaman, bukan hanya sebagai daftar kosakata.
Namun, tidak semua keluarga dapat pulang secara rutin. Jarak, biaya perjalanan, pekerjaan, kondisi kesehatan, dan berbagai tanggung jawab membuat pertemuan antargenerasi memiliki frekuensi yang berbeda. Komunikasi melalui telepon atau panggilan video dapat membantu menjaga hubungan, tetapi manfaatnya bergantung pada bagaimana anggota keluarga benar-benar berbincang.
Orang tua dapat menceritakan pengalaman masa kecil dengan bahasa yang mereka kuasai, lalu menjelaskan kata-kata yang belum dipahami anak. Mereka juga dapat memperkenalkan nama makanan, istilah kekerabatan, ungkapan kesopanan, atau cerita keluarga yang memiliki makna khusus. Cara seperti ini memberi konteks pada bahasa dan membantu anak memahami mengapa sebuah kata digunakan dalam situasi tertentu.
Setiap bahasa daerah juga memiliki ragam dan variasi. Cara berbicara dapat berbeda menurut wilayah, generasi, atau kebiasaan keluarga, sehingga tidak tepat menuntut semua anak menggunakan satu bentuk bahasa seolah-olah tidak ada variasi. Yang penting adalah memberi mereka akses untuk belajar, memahami perbedaan, dan membangun hubungan dengan penutur lain tanpa merasa bahwa latar belakangnya harus disembunyikan.
Mewariskan Bahasa Tanpa Memaksa
Keinginan mempertahankan bahasa daerah dapat berangkat dari rasa sayang terhadap keluarga dan kebudayaan. Namun, niat baik perlu disertai cara yang membuat anak merasa dilibatkan. Jika bahasa hanya hadir dalam bentuk larangan, ujian, atau teguran ketika anak salah bicara, mereka bisa menghubungkannya dengan rasa takut alih-alih kedekatan.
Keluarga dapat memilih kebiasaan sederhana yang sesuai dengan keadaan mereka. Ada yang membiasakan sapaan tertentu dalam bahasa daerah, menyediakan waktu berbincang dengan kerabat, atau menceritakan kisah keluarga menggunakan bahasa yang ingin diwariskan. Dalam keluarga dengan dua bahasa daerah atau lebih, orang tua juga dapat menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa mungkin berkembang dengan tingkat yang berbeda.
Upaya itu tidak menuntut bahasa Indonesia ditinggalkan. Anak tetap membutuhkan kemampuan berbahasa Indonesia untuk belajar dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Menguasai bahasa Indonesia dan mempelajari bahasa daerah bukan dua tujuan yang harus saling meniadakan; keluarga dapat memberi ruang bagi keduanya sesuai kebutuhan dan kesempatan.
Pada akhirnya, bahasa keluarga tidak bertahan hanya karena disebut sebagai warisan leluhur. Ia bertahan ketika masih dipakai untuk bertanya tentang kabar, menghibur seseorang yang sedang sedih, bercanda saat makan bersama, atau menyampaikan kasih sayang dengan ungkapan yang akrab sejak kecil. Bagi keluarga perantau, menjaga bahasa berarti menjaga kemungkinan agar hubungan dengan asal-usul tetap dapat dijalani, meskipun kehidupan anak terbentuk jauh dari tempat orang tuanya dibesarkan.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini merupakan esai budaya dalam rubrik DINAMIKA EMMANUS tentang penggunaan bahasa daerah dalam keluarga perantau dan tantangan pewarisan bahasa antargenerasi.
Tulisan membahas pilihan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, hubungan anak dengan orang tua dan kakek-nenek, serta peran kebiasaan keluarga dalam membentuk kemampuan berbahasa. Gambaran percakapan keluarga pada pembukaan merupakan ilustrasi, bukan laporan hasil wawancara atau peristiwa yang diamati di lokasi tertentu.
Pengalaman keluarga perantau tidak seragam. Kemampuan anak memahami atau menggunakan bahasa daerah dapat dipengaruhi oleh kebiasaan di rumah, bahasa yang digunakan pasangan, lingkungan pergaulan, akses kepada penutur lain, dan kesempatan berkomunikasi dengan keluarga besar. Artikel ini tidak menyimpulkan bahwa seluruh anak perantau kehilangan bahasa daerah atau bahwa penggunaan bahasa Indonesia dengan sendirinya menyebabkan bahasa daerah ditinggalkan.
Bahasa Indonesia dan bahasa daerah tidak ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling bertentangan. Artikel menekankan pentingnya menyediakan kesempatan belajar dan menggunakan bahasa daerah tanpa mengurangi kebutuhan anak untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Tulisan ini merupakan refleksi budaya, bukan penelitian sosiolinguistik atau laporan kondisi bahasa pada komunitas tertentu. Klaim tentang tingkat kemunduran bahasa, jumlah penutur, atau keadaan bahasa daerah tertentu memerlukan data dan sumber khusus sebelum dapat ditambahkan.








