Dinamika

Mereka Berlari ke Masa Depan Tanpa Meninggalkan Masa Lalu

Kita pernah diajari sebuah bayangan tentang kemajuan: gedung harus semakin tinggi, mesin semakin canggih, jalan semakin lebar, dan segala sesuatu yang berbau masa lalu perlahan diletakkan di belakang. Seolah untuk tiba di masa depan, sebuah bangsa harus terlebih dahulu mengganti pakaian lamanya. Rumah tradisional kemudian terasa terlalu kuno, kerajinan tangan dianggap kalah cepat dari mesin, […]

Oleh Narendra

Mereka Berlari ke Masa Depan Tanpa Meninggalkan Masa Lalu
Jepang dan China memperlihatkan bahwa modernisasi tidak selalu berjalan dengan meninggalkan identitas budaya. Di tengah industri dan teknologi, tradisi juga dapat memperoleh ruang ekonomi dan diteruskan kepada generasi berikutnya. DOK : pexels-szymon-shields
Diterbitkan

Kita pernah diajari sebuah bayangan tentang kemajuan: gedung harus semakin tinggi, mesin semakin canggih, jalan semakin lebar, dan segala sesuatu yang berbau masa lalu perlahan diletakkan di belakang. Seolah untuk tiba di masa depan, sebuah bangsa harus terlebih dahulu mengganti pakaian lamanya.

Rumah tradisional kemudian terasa terlalu kuno, kerajinan tangan dianggap kalah cepat dari mesin, makanan lokal harus diberi nama asing agar terlihat berkelas. Tradisi tetap dipertontonkan pada hari-hari tertentu, tetapi semakin jarang menjadi bagian dari kehidupan yang benar-benar kita hidupi.

Ketika Modernitas Tidak Menghapus Ingatan

Lalu kita menoleh ke Jepang. Negeri yang begitu sering menjadi lambang teknologi itu masih mempunyai ruang bagi kertas washi, washoku, keterampilan bangunan kayu, pembuatan sake dengan koji, festival tradisional, dan ratusan kerajinan yang terus dipertahankan.

Jepang tidak berhenti membangun kereta, robot, semikonduktor, kendaraan, dan industri modern karena mempertahankan warisan tersebut. Ia memperlihatkan sesuatu yang sering luput kita sadari: masa depan dan masa lalu tidak selalu harus ditempatkan pada dua ujung yang saling meniadakan.

Di China, pemandangan lain terlihat dalam skala yang jauh lebih besar. Negara dengan kota-kota modern, manufaktur raksasa, perdagangan global, dan teknologi digital itu pada saat bersamaan menjadikan budaya sebagai bagian nyata dari kegiatan ekonominya.

Pada 2024, menurut National Bureau of Statistics of China, nilai tambah industri budaya dan industri terkait budaya mencapai 6,2094 triliun yuan atau sekitar 4,61 persen dari produk domestik bruto negara tersebut. Angka itu tentu tidak berarti budaya sendirian membuat China menjadi kekuatan ekonomi dunia, tetapi cukup menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar hiasan yang diletakkan di pinggir pembangunan.

Kemajuan Tidak Memiliki Satu Penyebab

Kita perlu berhati-hati sebelum menjadikan Jepang dan China sebagai dongeng yang terlalu indah. Kemajuan ekonomi kedua negara dibentuk oleh sejarah yang panjang, industrialisasi, pendidikan, infrastruktur, kebijakan negara, perdagangan, investasi, produktivitas, teknologi, demografi, serta begitu banyak faktor lain.

Karena itu, mengatakan Jepang dan China maju semata-mata karena menjaga tradisi akan menyederhanakan kenyataan. Tetapi mengatakan budaya tidak mempunyai tempat dalam perjalanan ekonomi mereka juga tidak sesuai dengan apa yang dapat kita lihat hari ini.

Yang menarik justru terletak di antara keduanya. Modernisasi tidak selalu membuat sebuah bangsa harus malu kepada warisannya sendiri.

Ada saat ketika tradisi dipertahankan sebagai identitas. Ada pula saat ketika pengetahuan lama memperoleh bentuk ekonomi baru tanpa harus sepenuhnya kehilangan asal-usulnya.

Jepang dan Tangan yang Tidak Dibiarkan Lupa

Di Jepang, pemerintah mempunyai kerangka resmi untuk industri kerajinan tradisional. Pada Oktober 2025, Ministry of Economy, Trade and Industry mencatat 244 kerajinan telah ditetapkan sebagai traditional crafts berdasarkan undang-undang khusus yang mengatur promosi industri tersebut.

Tujuannya bukan sekadar menyimpan benda-benda lama agar dapat dilihat generasi berikutnya. Undang-undang itu menghubungkan pewarisan teknik tradisional dengan pengembangan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah.

Ada sesuatu yang menarik dari cara pandang tersebut. Tangan seorang perajin tidak hanya diperlakukan sebagai penjaga kenangan, tetapi juga sebagai pemilik pengetahuan yang masih mempunyai tempat dalam kehidupan ekonomi.

Subsidi dapat diberikan untuk membantu regenerasi penerus dan pengembangan permintaan. Artinya, pertanyaan tentang siapa yang akan meneruskan keterampilan lama tidak sepenuhnya diserahkan kepada nasib.

Tetapi Jepang pun tidak hidup dalam cerita yang sempurna. Badan Urusan Kebudayaan Jepang mengakui adanya persoalan depopulasi, masyarakat yang menua, kekurangan penerus, biaya pemeliharaan, serta kesulitan menjaga sumber daya budaya agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Justru di situlah pelajarannya menjadi lebih nyata. Budaya tidak bertahan hanya karena sebuah masyarakat mencintainya; ia membutuhkan manusia, pasar, pendidikan, kebijakan, ruang hidup, dan alasan ekonomi agar generasi berikutnya masih mempunyai kesempatan memilih untuk meneruskannya.

Washi Bukan Sekadar Selembar Kertas

Washi mungkin terlihat sederhana jika hanya dipandang sebagai kertas. Tetapi di balik selembar kertas terdapat pengetahuan mengenai bahan, air, serat, tangan, kesabaran, dan teknik yang diwariskan lintas generasi.

UNESCO mencatat keterampilan pembuatan washi tradisional Jepang sebagai warisan budaya takbenda. Pengetahuan dan proses pembuatannya diwariskan dari generasi ke generasi dan ikut memberikan rasa identitas kepada masyarakat pendukungnya.

Di sinilah sebuah benda menjadi lebih besar daripada fungsi fisiknya. Kertas tidak hanya bernilai karena dapat ditulisi, melainkan karena dunia mengetahui cerita tentang siapa yang membuatnya, bagaimana ia dibuat, dan mengapa pengetahuan itu layak dipertahankan.

Nilai ekonomi kemudian tidak selalu lahir dari membuat sesuatu sebanyak-banyaknya dengan harga semurah-murahnya. Kadang nilai justru tumbuh karena sebuah benda mempunyai identitas yang tidak dapat dengan mudah ditiru oleh tempat lain.

Bukankah Nusantara juga mengenal hal serupa? Kita mempunyai kain, logam, kayu, bambu, tanah, serat, rempah, kapal, pangan, ukiran, anyaman, dan ribuan keterampilan yang dahulu lahir bukan dari laboratorium pemasaran, tetapi dari kebutuhan manusia hidup bersama lingkungannya.

Ketika Makanan Menjadi Identitas

Jepang juga memperlihatkan bahwa makanan dapat membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada rasa. Washoku, budaya makan tradisional Jepang terutama dalam perayaan Tahun Baru, tercatat dalam daftar warisan budaya takbenda UNESCO sejak 2013.

Dalam penilaian UNESCO, washoku berkaitan dengan identitas, rasa memiliki, hubungan sosial, serta pengetahuan yang diwariskan. Maka semangkuk makanan tidak lagi berdiri hanya sebagai sesuatu yang habis setelah dimakan.

Ia membawa cerita. Dan dunia modern ternyata bersedia membayar pengalaman yang mempunyai cerita.

Restoran, bahan pangan, teknik memasak, peralatan makan, perjalanan wisata, hingga citra suatu negara dapat bertemu di sekeliling identitas kuliner. Budaya tidak harus kehilangan makna hanya karena memasuki ekonomi, meskipun batas antara pemanfaatan dan eksploitasi selalu perlu dijaga.

Budaya yang Menghidupi, Bukan Hanya Dihidupi

UNESCO mengakui bahwa kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan living heritage dapat menghasilkan pendapatan, menopang mata pencaharian, menciptakan pekerjaan, dan membantu ekonomi lokal. Pendapatan tersebut pada kondisi yang tepat juga dapat membantu praktik budaya tetap berlangsung dan pengetahuannya diteruskan.

Namun UNESCO memberikan catatan penting: masyarakat pemilik dan pelaku warisan tersebut harus memperoleh manfaat utama. Komersialisasi yang mengambil simbol budaya tetapi meninggalkan masyarakat pendukungnya justru dapat membawa risiko bagi warisan itu sendiri.

Di sinilah pembicaraan tentang ekonomi budaya menjadi lebih dalam daripada menjual suvenir. Pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak uang yang dapat dihasilkan dari budaya, tetapi siapa yang menerima manfaat dan apakah pengetahuan yang melahirkan produk tersebut ikut bertahan.

Budaya yang hanya diambil bentuk luarnya mungkin menghasilkan barang. Tetapi belum tentu menghasilkan pewarisan.

China dan Budaya dalam Skala Raksasa

China memberikan gambaran yang berbeda. Jika Jepang mudah dibaca melalui ketelitian craftsmanship dan pengalaman budaya, China menunjukkan bagaimana budaya dapat bergerak dalam skala industri yang sangat besar.

Data resmi China untuk 2024 menunjukkan sektor budaya dan terkait budaya bukan bagian kecil yang tak terlihat dalam perekonomian. Dari nilai tambah 6,2094 triliun yuan tersebut, sekitar 69,7 persen berasal dari layanan budaya, sementara manufaktur dan perdagangan produk terkait budaya juga mengambil bagian.

Di dalamnya terdapat penciptaan dan produksi konten, desain kreatif, saluran komunikasi budaya, hiburan, peralatan budaya, manufaktur, serta kegiatan lainnya. Tradisi tentu hanya salah satu bagian dari ekosistem budaya yang jauh lebih luas itu.

Namun angka tersebut menunjukkan sesuatu yang penting. Kebudayaan dapat bergerak dari ruang identitas menuju desain, produk, pengalaman, media, perdagangan, dan teknologi tanpa harus seluruhnya berhenti menjadi kebudayaan.

China memahami bahwa cerita juga mempunyai nilai. Simbol mempunyai nilai, estetika mempunyai nilai, makanan mempunyai nilai, kerajinan mempunyai nilai, dan ingatan kolektif dapat memasuki dunia modern melalui bentuk yang terus berubah.

Ketika Warisan Tidak Dikunci di Museum

Ada perbedaan antara menyimpan dan menghidupkan. Sebuah benda dapat bertahan ratusan tahun di dalam lemari kaca, tetapi keterampilan yang menciptakannya dapat mati dalam satu generasi ketika tidak ada lagi tangan yang mau belajar.

Warisan hidup membutuhkan manusia. Ia membutuhkan seorang anak yang melihat pekerjaan orang tuanya bukan sebagai jalan menuju kemiskinan, melainkan sebagai keterampilan yang masih mempunyai martabat dan masa depan.

Karena itulah persoalan ekonomi tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari pelestarian. Seorang perajin tetap harus membeli beras, membayar rumah, menyekolahkan anak, dan menjalani kehidupan seperti manusia lainnya.

Jika sebuah keterampilan tradisional hanya dihargai ketika dipamerkan tetapi tidak mampu memberikan kehidupan yang layak kepada pelakunya, kita sedang meminta seseorang menjaga warisan dengan pengorbanan yang mungkin tidak sanggup ditanggung generasi berikutnya.

Pada titik tertentu, cinta saja tidak cukup. Warisan juga membutuhkan ekosistem.

Ketika Wisata Membayar untuk Menjaga Budaya

Jepang bahkan mencoba membangun hubungan langsung antara kebudayaan, pariwisata, dan pelestarian. Kebijakan cultural tourism mereka diarahkan agar wisata budaya mendorong kunjungan ke daerah, memperpanjang masa tinggal, meningkatkan kunjungan berulang, dan menciptakan pendapatan.

Yang menarik bukan sekadar wisatawan datang dan membayar tiket. Badan Urusan Kebudayaan Jepang menyebut tujuan menciptakan siklus ketika pendapatan yang dibawa pengalaman budaya dapat kembali diinvestasikan untuk pewarisan sumber daya budaya.

Konsepnya sederhana tetapi dalam. Budaya menghasilkan nilai ekonomi, lalu sebagian nilai ekonomi tersebut kembali membantu budaya bertahan.

Tentu pelaksanaannya tidak otomatis sempurna. Pariwisata yang berlebihan juga dapat mengubah ritus menjadi pertunjukan, masyarakat menjadi dekorasi, dan tradisi menjadi produk yang bentuknya ditentukan oleh selera pengunjung.

Karena itu, keberhasilan ekonomi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran. Sebuah tradisi yang menghasilkan banyak uang tetapi kehilangan masyarakat pemiliknya mungkin sedang hidup secara komersial sekaligus mati secara kultural.

Lalu Kita Pulang ke Nusantara

Setelah melihat Jepang dan China, mungkin kita perlu pulang tanpa membawa keinginan menjadi keduanya. Indonesia tidak perlu menjadi Jepang, dan Indonesia juga tidak perlu menjadi China.

Kita mempunyai jalan sejarah sendiri. Kita mempunyai ribuan pulau, ratusan kelompok masyarakat, bahasa, tradisi, makanan, pengetahuan alam, seni, arsitektur, tekstil, musik, cerita, dan keterampilan yang tidak lahir dari sejarah mereka.

Pertanyaannya justru terasa lebih dekat dan lebih menyakitkan. Dengan kekayaan sebesar itu, mengapa kita masih begitu sering mencari identitas dari luar ketika ingin terlihat modern?

Di kawasan wisata, bangunan baru terkadang lebih mudah mengambil bentuk Eropa daripada menggali arsitektur setempat. Kafe berlomba menghadirkan suasana dari negeri lain, sementara benda-benda lokal sering baru dianggap menarik setelah diberi bahasa pemasaran asing.

Tidak ada yang salah dengan belajar dari dunia. Kebudayaan Nusantara sendiri tumbuh melalui perjumpaan panjang dengan berbagai bangsa, agama, perdagangan, migrasi, dan pertukaran pengetahuan.

Yang patut direnungkan adalah ketika keterbukaan berubah menjadi rasa minder terhadap milik sendiri. Kita mengimpor bentuk bukan karena membutuhkannya, tetapi karena diam-diam menganggap sesuatu yang datang dari luar selalu terlihat lebih maju.

Kita Tidak Kekurangan Bahan untuk Menjadi Besar

Indonesia tidak kekurangan cerita. Bahkan satu kabupaten dapat menyimpan lebih banyak tradisi daripada yang mampu didokumentasikan satu orang sepanjang hidupnya.

Kita juga tidak kekurangan keterampilan. Tangan-tangan Nusantara mengenal tenun, batik, songket, ukir, anyaman, perahu, logam, keramik, jamu, rempah, pangan fermentasi, arsitektur tropis, sistem pengairan, hingga pengetahuan membaca alam.

Yang sering menjadi persoalan adalah rantai setelahnya. Siapa yang mendokumentasikan, siapa yang mengembangkan desain tanpa mencabut identitasnya, siapa yang membangun pasar, siapa yang melindungi pengetahuan, siapa yang mendidik penerus, dan siapa yang memastikan masyarakat pemilik budaya tidak hanya menjadi penonton ketika nilai ekonominya membesar.

Kita begitu sering membicarakan pelestarian setelah sesuatu hampir hilang. Padahal pewarisan seharusnya dimulai ketika pengetahuan itu masih hidup di tangan orang yang dapat mengajarkannya.

Jangan Menunggu Perajin Terakhir

Ada kesedihan yang hampir selalu datang terlambat. Kita baru mencari seorang maestro ketika rambutnya telah memutih dan baru merekam pengetahuannya ketika tidak banyak orang lagi yang mampu meneruskannya.

Setelah ia pergi, kita menyebut keterampilannya warisan. Kemudian kita membuat seminar tentang bagaimana menyelamatkan sesuatu yang selama bertahun-tahun kita biarkan kehilangan ruang hidup.

Barangkali pelajaran dari Jepang bukan sekadar bagaimana mereka mempertahankan washi atau kerajinan tradisional. Pelajarannya adalah kesadaran bahwa penerus harus disiapkan ketika guru masih ada.

Dan pelajaran dari China bukan sekadar besarnya angka industri budaya. Yang layak diperhatikan adalah keberanian melihat budaya bukan hanya sebagai beban anggaran, tetapi sebagai bagian dari sumber daya kreatif yang dapat memasuki ekonomi kontemporer.

Ketika Budaya Hanya Menjadi Kostum

Ada bahaya lain yang lebih sunyi. Kebudayaan dapat terlihat semakin ramai justru ketika ruhnya semakin tipis.

Festival bertambah, panggung semakin besar, kostum semakin indah, kamera semakin banyak, tetapi pengetahuan mengenai makna perlahan hilang. Kita mengenakan pakaian tradisional tanpa mengenal masyarakat yang menciptakannya, menampilkan tarian tanpa mengetahui cerita yang dikandungnya, dan membangun ornamen lokal hanya sebagai latar untuk berfoto.

Pelestarian semacam itu mungkin berhasil menjaga bentuk. Tetapi bentuk yang terpisah dari pengetahuan berisiko menjadi dekorasi.

Budaya bukan sekadar benda yang dapat dilihat. Ia juga cara manusia memahami hubungan dengan sesama, alam, pekerjaan, keluarga, ruang hidup, dan perjalanan waktu.

Jika yang kita wariskan hanya kostumnya, generasi berikutnya mungkin masih mengetahui seperti apa nenek moyangnya berpakaian. Tetapi mereka belum tentu mengetahui bagaimana nenek moyangnya memandang kehidupan.

Ekonomi Bisa Menjadi Jalan, Bukan Tujuan Akhir

Membawa budaya masuk ke ekonomi bukan berarti segala sesuatu harus dijual. Ada ritus, ruang sakral, pengetahuan komunitas, dan bagian kehidupan masyarakat yang tidak semestinya dipaksa menjadi komoditas.

Ekonomi seharusnya menjadi salah satu jalan agar masyarakat mempunyai alasan material untuk terus menjaga keterampilan dan pengetahuan yang memang dapat dikembangkan secara wajar. Ia bukan izin untuk mengambil semua yang dianggap eksotis lalu menjualnya kepada pasar.

Di sinilah Indonesia dapat belajar tanpa menyalin. Kita dapat membangun produk budaya tanpa mengubah masyarakat menjadi properti wisata.

Kita dapat membuat kerajinan menjadi premium tanpa menghapus nama daerah pembuatnya. Kita dapat membawa kuliner ke pasar global tanpa membuatnya malu menggunakan nama sendiri.

Kita dapat membangun hotel modern yang berbicara dengan lanskap dan arsitektur lokal. Kita dapat membuat teknologi menjadi alat untuk mendokumentasikan bahasa, cerita, musik, keterampilan, dan pengetahuan yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatan.

Modernitas tidak harus datang membawa penghapus. Ia dapat datang membawa pengeras suara.

Dunia Tidak Membutuhkan Indonesia Menjadi Orang Lain

Ada ironi dalam globalisasi. Ketika semua tempat mulai terlihat sama, sesuatu yang benar-benar lokal justru menjadi semakin langka dan bernilai.

Wisatawan tidak perlu terbang ribuan kilometer untuk menemukan tempat yang persis seperti rumahnya. Dunia juga tidak membutuhkan Indonesia menghasilkan tiruan dari sesuatu yang telah dibuat lebih dahulu oleh negara lain.

Yang tidak dimiliki Jepang adalah Nusantara. Yang tidak dimiliki China juga Nusantara.

Mereka tidak mempunyai seluruh cerita kita, bahasa kita, rasa makanan kita, cara masyarakat kepulauan membangun rumah, membaca laut, mengolah hutan, menenun kain, menyusun bunyi, atau menafsirkan kehidupan melalui ratusan tradisi yang berbeda.

Justru karena dunia semakin seragam, identitas dapat menjadi pembeda. Tetapi identitas hanya bernilai ketika kita sendiri masih mengetahui apa yang sedang kita bawa.

Mungkin yang Hilang Bukan Budayanya

Banyak kebudayaan Indonesia sebenarnya belum hilang. Ia masih ada di desa, rumah, dapur, sanggar, bengkel kecil, pasar, ladang, pantai, gunung, dan tangan orang-orang yang namanya mungkin tidak pernah masuk berita.

Yang perlahan hilang mungkin rasa percaya diri kita terhadapnya. Kita terlalu lama mengukur kemajuan dengan seberapa mirip kita dengan tempat lain.

Akibatnya, yang lokal harus terlebih dahulu mendapatkan pengakuan dari luar sebelum kita merasa bangga. Ketika sebuah kain dipakai tokoh dunia, kita merayakannya; ketika makanan masuk daftar internasional, kita merasa yakin bahwa ia memang berharga.

Padahal nilainya telah ada jauh sebelum dunia memberi tepuk tangan. Yang berubah hanyalah cara kita melihatnya.

Berlari Tanpa Memutus Jalan Pulang

Jepang dan China bukan negara tanpa masalah, dan keduanya bukan resep yang dapat disalin begitu saja ke Indonesia. Mereka mempunyai sejarah, sistem politik, struktur ekonomi, demografi, dan perjalanan modernisasi yang berbeda.

Tetapi keduanya memberi satu cermin yang layak kita pandangi. Menjadi modern tidak selalu berarti menjadi seseorang yang lain.

Sebuah bangsa dapat membuat teknologi tanpa membuang kerajinannya. Ia dapat membangun kota tanpa harus malu kepada arsitektur lamanya, mengembangkan industri tanpa menganggap tradisi sebagai penghambat, dan menjual produk ke dunia sambil tetap membawa cerita tentang dari mana produk itu berasal.

Mungkin Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak alasan untuk mencintai budayanya. Kita membutuhkan cara agar cinta itu mempunyai rumah, pekerjaan, pasar, pendidikan, dokumentasi, penerus, dan masa depan.

Sebab kebudayaan yang hanya dikenang akan perlahan menjadi sejarah. Kebudayaan yang masih dipakai, dipahami, dikembangkan, dan diwariskan mempunyai kesempatan menjadi kehidupan.

Kita tidak perlu menjadi Jepang. Kita tidak perlu menjadi China.

Kita hanya perlu cukup percaya diri untuk menjadi Indonesia.

Sebab bangsa yang berjalan menuju masa depan tidak selalu harus membakar jembatan menuju masa lalunya. Kadang-kadang, justru dari jembatan itulah ia mengetahui dari mana datangnya—dan mengapa dunia perlu mengenalnya.

 

CATATAN REDAKSI

Artikel ini menggunakan Jepang dan China sebagai contoh untuk melihat hubungan antara kebudayaan, ekonomi, industri, pariwisata, dan modernisasi. Keberhasilan ekonomi kedua negara tidak diposisikan sebagai akibat tunggal dari kuatnya tradisi dan budaya; pertumbuhan mereka terbentuk oleh banyak faktor, termasuk industrialisasi, pendidikan, teknologi, kebijakan ekonomi, perdagangan, investasi, infrastruktur, dan kondisi sejarah masing-masing.

Perbandingan dengan Indonesia digunakan sebagai refleksi mengenai kemungkinan menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan tanpa menghilangkan masyarakat pemilik, makna, dan proses pewarisannya. EMMANUS tidak menempatkan model Jepang maupun China sebagai pola yang harus ditiru, melainkan sebagai konteks untuk memperluas percakapan mengenai masa depan kebudayaan Nusantara.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait