Dinamika

Hoaks di Era AI, Batas Fakta dan Rekayasa

Mengulas motif di balik produksi hoaks, peran buzzer, psikologi penyebaran informasi, dan penggunaan AI dalam manipulasi konten.

Oleh Ridwan

Aktivitas digital
Dua perempuan menggunakan ponsel di sebuah kafe terbuka. Aktivitas digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sekaligus menuntut kecermatan dalam menerima dan membagikan informasi. Foto: Aprido Islam Perdana/Pexels
Diterbitkan

Sebuah video yang beredar di media sosial pada Oktober 2026 memperlihatkan Menteri Keuangan Suahasil Nazara seolah-olah mengumumkan program bantuan dana bagi masyarakat. 

Dalam tayangan tersebut, calon penerima diarahkan menghubungi nomor WhatsApp untuk memperoleh informasi dan mendaftar. Wajah dan suara pejabat yang ditampilkan membuat pengumuman itu tampak meyakinkan.

Hasil pemeriksaan sejumlah kanal cek fakta menunjukkan bahwa video tersebut merupakan konten manipulasi. 

Materi visualnya menggunakan dokumentasi asli, sedangkan suara dan narasinya direkayasa dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Informasi bantuan yang disampaikan juga tidak benar.

Kasus semacam ini memperlihatkan perubahan wajah hoaks di tengah masyarakat digital. Informasi palsu tidak lagi selalu hadir dalam bentuk pesan berantai dengan susunan kalimat yang janggal. 

Teknologi memungkinkan seseorang membuat video, suara, dan gambar yang menyerupai kenyataan. Kebohongan dapat dikemas seolah-olah berasal dari pejabat, lembaga resmi, atau orang yang dikenal masyarakat.

Di Indonesia, penyebaran informasi semacam ini berlangsung di tengah semakin luasnya penggunaan telepon pintar. 

Ponsel telah menjadi sarana komunikasi, hiburan, transaksi, sekaligus sumber berita bagi masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Informasi dapat berpindah dari satu grup percakapan ke grup lain hanya dalam hitungan detik.

Kemudahan tersebut membawa manfaat besar. Masyarakat dapat memperoleh berita, pengetahuan, dan layanan tanpa harus bergantung pada media konvensional. 

Di sisi lain, kecepatan penyebaran informasi tidak selalu diikuti kebiasaan memeriksa kebenarannya.

Persoalannya bukan hanya mengapa seseorang percaya pada informasi yang belum terbukti benar. Ada pihak yang sengaja memproduksi kebohongan, mengemasnya agar menarik perhatian, kemudian memperluas jangkauannya melalui berbagai kanal digital. 

Di sisi lain, pengguna biasa dapat ikut menyebarkannya karena percaya, takut, marah, atau merasa sedang membantu orang lain.

Mengapa Hoaks Mudah Dipercaya dan Dibagikan?

Kemampuan menggunakan teknologi tidak selalu sejalan dengan kemampuan menilai informasi. 

Seseorang dapat mahir menggunakan WhatsApp, Facebook, TikTok, atau YouTube, tetapi belum tentu mampu membedakan berita faktual, opini, manipulasi visual, dan informasi palsu.

Keadaan ini berkaitan dengan proses psikologis dan sosial. Informasi yang menyentuh emosi, misalnya kabar tentang bencana, ancaman keselamatan, bantuan pemerintah, atau persoalan agama, dapat mendorong seseorang bereaksi sebelum memeriksa sumbernya. 

Rasa takut dan khawatir membuat orang ingin segera memperingatkan orang lain. Kemarahan dapat mendorong seseorang membagikan informasi yang dianggap mendukung pandangannya.

Kepercayaan kepada pengirim pesan juga berpengaruh. Informasi yang diterima dari keluarga, teman, tetangga, atau anggota komunitas sering kali dianggap lebih dapat dipercaya. 

Penerima pesan mungkin tidak lagi mempertanyakan dari mana informasi tersebut berasal. Kepercayaan kepada orang yang mengirim pesan menggantikan pemeriksaan terhadap isi pesan.

Kajian psikologi mengenai penyebaran berita palsu menunjukkan bahwa perilaku tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari proses kognitif, kondisi personal, lingkungan sosial, hingga pemahaman terhadap informasi. 

Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam jurnal BMC Psychology pada 2024, misalnya, mengidentifikasi berbagai faktor psikologis yang berkontribusi terhadap produksi dan penyebaran berita palsu.

Penelitian lain juga memperlihatkan bahwa pengulangan informasi dapat memengaruhi persepsi kebenaran. Dalam psikologi dikenal istilah illusory truth effect, yakni kecenderungan seseorang menilai suatu pernyataan lebih benar setelah berulang kali terpapar pernyataan tersebut. 

Informasi yang awalnya diragukan dapat terasa semakin familier ketika terus muncul di berbagai akun dan grup percakapan.

Kondisi ini menjelaskan mengapa jumlah unggahan, komentar, dan pembagian sebuah informasi tidak dapat dijadikan ukuran kebenaran. Sesuatu yang ramai dibicarakan belum tentu benar. Sebaliknya, informasi yang benar tidak selalu memperoleh perhatian sebesar kabar yang sensasional.

Ada Kepentingan di Balik Informasi Palsu

Hoaks tidak selalu dibuat tanpa tujuan. Di balik sebuah informasi palsu dapat terdapat kepentingan ekonomi, politik, ideologis, maupun kepentingan pribadi.

Dalam penipuan ekonomi, informasi palsu digunakan sebagai umpan. Tawaran bantuan sosial, hadiah undian, investasi, atau pekerjaan dapat dirancang untuk menarik calon korban agar mengeklik tautan, menghubungi nomor tertentu, atau menyerahkan data pribadi. 

Tujuan akhirnya bisa berupa pencurian uang, pengumpulan informasi pribadi, atau pengambilalihan akun.

Dalam kepentingan politik, informasi palsu dapat digunakan untuk membangun citra seseorang, merusak reputasi lawan, mengarahkan opini publik, atau menurunkan kepercayaan terhadap lembaga tertentu. 

Narasi yang disusun tidak selalu bertujuan membuat masyarakat percaya sepenuhnya. Dalam beberapa situasi, menimbulkan keraguan, kemarahan, dan ketidakpercayaan terhadap suatu pihak sudah dapat menjadi sasaran.

Hoaks juga dapat digunakan sebagai propaganda untuk memperkuat pandangan kelompok tertentu atau membangun prasangka terhadap kelompok lain. 

Isu agama, identitas, suku, budaya, dan politik dapat menjadi bahan untuk menciptakan narasi yang memecah perhatian dan hubungan sosial masyarakat.

Ada pula pembuat konten yang mengejar popularitas dan keuntungan dari tingginya interaksi. Judul sensasional, gambar mengejutkan, serta klaim yang memancing perdebatan dapat menarik perhatian pengguna. 

Dalam ekosistem digital yang memberi nilai pada jumlah tayangan dan interaksi, konten kontroversial berpotensi memperoleh jangkauan lebih besar.

Motif tersebut perlu dibedakan dari perilaku orang yang meneruskan informasi. Tidak semua penyebar hoaks mengetahui bahwa informasi yang dibagikannya palsu. 

Sebagian melakukannya karena ingin membantu, merasa informasi tersebut penting, ingin menjadi orang pertama yang menyampaikan kabar, atau karena isinya sesuai dengan keyakinan pribadi.

Pembedaan ini penting. Misinformasi merujuk pada informasi keliru yang disebarkan tanpa harus disertai niat menipu. 

Disinformasi merupakan informasi palsu atau menyesatkan yang sengaja dibuat maupun disebarkan untuk menipu atau memengaruhi. Keduanya dapat menghasilkan dampak yang merugikan, tetapi memiliki perbedaan dalam hal niat.

Dari Produsen Hoaks hingga Pengganda Narasi

Penyebaran hoaks tidak selalu berlangsung secara spontan. Dalam sejumlah kasus, terdapat pihak yang memproduksi informasi palsu, pihak yang mengemas dan memperluas narasi, serta pengguna yang meneruskannya. 

Rantai ini dapat melibatkan akun anonim, jaringan akun, kelompok penyebar terkoordinasi, bahkan sistem otomatis.

Salah satu istilah yang sering muncul dalam pembahasan ruang digital adalah buzzer. Secara umum, buzzer merupakan akun atau pihak yang berupaya memperbesar perhatian terhadap pesan, isu, produk, atau narasi tertentu melalui aktivitas digital. 

Keberadaan buzzer tidak otomatis berarti penyebaran hoaks. Aktivitas tersebut juga dapat digunakan untuk promosi, kampanye, atau penyebaran informasi yang sah.

Persoalan muncul ketika jaringan akun digunakan untuk memperkuat informasi palsu dan membentuk persepsi yang menyesatkan. 

Sejumlah akun dapat mengulang pesan serupa, memberikan komentar, atau membagikan konten yang sama sehingga suatu isu tampak mendapat dukungan luas.

Masyarakat yang melihat aktivitas tersebut dapat memperoleh kesan bahwa banyak orang memiliki pandangan yang sama. 

Padahal, ramainya percakapan digital belum tentu mencerminkan pendapat mayoritas masyarakat. Akun yang terlihat banyak juga tidak selalu mewakili banyak individu yang berbeda.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep social proof atau bukti sosial. Dalam situasi yang tidak pasti, seseorang dapat menjadikan perilaku orang lain sebagai petunjuk untuk menentukan sikap. 

Ketika banyak akun menyampaikan informasi yang sama, sebagian pengguna mungkin menganggap informasi tersebut benar tanpa memeriksa sumbernya.

Algoritma media sosial juga menjadi bagian dari ekosistem ini. Konten yang memperoleh perhatian dan interaksi dapat terus direkomendasikan kepada pengguna lain. 

Ketika sebuah narasi diulang dan diperluas melalui berbagai kanal, jangkauannya dapat semakin besar. Pengguna biasa yang meneruskan informasi tanpa verifikasi kemudian ikut menjadi pengganda narasi, meskipun tidak memiliki hubungan dengan pembuat awalnya.

Laporan Oxford Internet Institute mengenai manipulasi media sosial terorganisasi menunjukkan bahwa sejumlah negara telah menghadapi praktik penggunaan akun manusia maupun otomatis untuk memengaruhi percakapan digital. 

Laporan tersebut memberi gambaran bahwa manipulasi informasi dapat melibatkan jaringan dan strategi, bukan hanya tindakan seorang pengguna yang membagikan pesan keliru.

AI Membuat Kebohongan Semakin Meyakinkan

Kehadiran AI membawa persoalan baru. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan gambar, suara, video, dan teks dalam waktu singkat. 

Kemampuan tersebut berguna dalam pendidikan, penelitian, pekerjaan kreatif, dan berbagai kegiatan produktif. Akan tetapi, teknologi yang sama dapat disalahgunakan untuk membuat konten manipulatif.

Foto rekayasa dapat menampilkan peristiwa yang tidak pernah terjadi. Video deepfake dapat membuat seseorang tampak mengucapkan pernyataan yang tidak pernah disampaikan. 

Teknologi peniruan suara dapat digunakan untuk mencatut identitas anggota keluarga, pejabat, atau tokoh publik. Berita palsu pun dapat disusun menggunakan bahasa formal dan tampilan yang menyerupai pengumuman lembaga resmi.

Perubahan ini membuat masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan apa yang terlihat dan terdengar. Foto, video, dan rekaman suara yang tampak autentik belum tentu merupakan bukti bahwa suatu peristiwa benar-benar terjadi.

Laporan OECD berjudul Facts not Fakes: Tackling Disinformation, Strengthening Information Integrity yang diterbitkan pada 2024 mengingatkan bahwa perkembangan AI generatif dapat memperbesar kemampuan memproduksi konten menyesatkan dalam skala besar. 

Produksi konten manipulatif menjadi lebih mudah, sementara pemeriksaan keasliannya membutuhkan perhatian dan kemampuan yang semakin baik.

AI bukan sumber masalah dengan sendirinya. Persoalannya terletak pada tujuan penggunaan teknologi dan kemampuan masyarakat menghadapi hasil produksinya. 

Ketika teknologi digunakan untuk meniru identitas, menciptakan pernyataan palsu, atau menawarkan bantuan yang tidak pernah ada, masyarakat dapat menghadapi bentuk penipuan yang jauh lebih meyakinkan dibandingkan pesan berantai konvensional.

Membangun Kembali Kepercayaan di Ruang Digital

Menghadapi hoaks tidak cukup dengan imbauan agar masyarakat berhati-hati. Literasi digital perlu menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan tentang cara menggunakan perangkat dan aplikasi.

Masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber, mencari pemberitaan pembanding, melihat konteks foto atau video, dan tidak terburu-buru membagikan informasi yang memancing emosi. 

Jika sebuah pesan meminta uang, data pribadi, atau tindakan segera, pemeriksaan perlu dilakukan sebelum mengikuti instruksi di dalamnya.

Tanggung jawab juga berada pada media, platform digital, lembaga pendidikan, komunitas, dan pemerintah. Media perlu menjaga akurasi serta menyediakan klarifikasi yang mudah diakses. 

Platform digital perlu memperkuat penanganan akun dan konten manipulatif. Lembaga pendidikan dan komunitas dapat membangun kebiasaan memeriksa informasi sejak lingkungan keluarga dan masyarakat.

Perkembangan teknologi membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi. Akan tetapi, kemudahan itu tidak otomatis menghasilkan pemahaman yang lebih baik. 

Kemampuan menilai informasi membutuhkan pengetahuan, kebiasaan, dan kesediaan untuk tidak langsung percaya.

Hoaks tidak hanya hidup karena ada orang yang mempercayainya.

Ada pihak yang memproduksi kebohongan, ada kepentingan yang mendorong penyebarannya, ada jaringan yang memperbesar jangkauannya, dan ada pengguna yang tanpa sadar meneruskannya. AI menambah kemampuan untuk membuat kebohongan tampak seperti kenyataan.

Di tengah keadaan tersebut, sikap kritis menjadi bagian penting dari kehidupan digital. Sebelum membagikan sebuah informasi, masyarakat perlu berhenti sejenak dan memeriksa kebenarannya. 

Sebab, satu sentuhan untuk meneruskan pesan dapat memperluas manfaat sebuah informasi, tetapi juga dapat memperpanjang perjalanan sebuah kebohongan.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Dinamika

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →