Dinamika

Yang Menyertai Kita Sebelum Lahir

Dari rahim hingga tradisi Nusantara, manusia memberi makna pada sesuatu yang dahulu menopang kehidupannya.

Oleh Narendra

Yang Menyertai Kita Sebelum Lahir
Ilustrasi ibu dan bayi baru lahir sebagai gambaran awal perjalanan manusia dari kehidupan di dalam rahim menuju dunia. Berbagai masyarakat Nusantara memberi makna yang berbeda terhadap plasenta dan unsur yang menyertai kelahiran. DOK josepino-eneola
Diterbitkan

Sebelum manusia mengetahui nama ibunya, rumah pertamanya adalah ruang yang dipenuhi cairan. Ia belum pernah melihat cahaya, menghirup udara dengan paru-parunya, atau mengetahui bahwa di luar tubuh ibunya ada dunia yang sedang menunggu.

Namun ia tidak tumbuh sendirian. Ada plasenta yang bekerja, tali pusat yang menghubungkan, darah yang mengalir, dan cairan ketuban yang menjadi bagian dari lingkungan tempat tubuh kecilnya berkembang.

Kelahiran kemudian memisahkan semua yang selama berbulan-bulan berada begitu dekat dengannya. Bayi memperoleh nama dan kehidupan baru di luar rahim, sedangkan sesuatu yang dahulu menyertainya mendapatkan perlakuan yang berbeda-beda di tangan kebudayaan.

Di Jawa kita mengenal ungkapan kakang kawah, adi ari-ari. Tetapi apabila perjalanan dihentikan di Jawa, kita akan kehilangan cerita yang jauh lebih luas.

Sebelum Menjadi Simbol, Mereka Adalah Bagian dari Kehidupan

Ilmu kedokteran modern memberi gambaran menakjubkan tentang plasenta. Organ sementara ini menjadi tempat pertukaran oksigen dan nutrisi antara ibu dan janin, membantu pembuangan produk sisa metabolisme, menghasilkan hormon, dan menjalankan fungsi penting dalam mempertahankan kehamilan.

Darah ibu dan janin tidak sekadar bercampur menjadi satu. Pertukaran berlangsung melalui struktur plasenta yang memungkinkan oksigen, nutrisi, dan berbagai zat berpindah di antara sistem ibu dan janin.

Tali pusat menjadi jalur penting dalam sirkulasi janin. Melalui pembuluh darah di dalamnya, janin memperoleh darah yang membawa oksigen dan nutrisi dari plasenta serta mengirimkan kembali karbon dioksida dan produk sisa metabolisme.

Cairan ketuban pun bukan sekadar air yang mengelilingi janin. Ia memberikan perlindungan mekanis, memberi ruang bagi pergerakan, dan mempunyai peran dalam pertumbuhan serta perkembangan normal berbagai organ janin.

Maka jauh sebelum memperoleh makna budaya, semua itu memang mempunyai hubungan biologis yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Tetapi dari titik inilah kita harus berhati-hati membedakan dua dunia pengetahuan.

Sains Tidak Membuktikan Saudara Gaib

Kedokteran dapat menjelaskan plasenta sebagai organ, cairan ketuban sebagai lingkungan biologis janin, serta tali pusat sebagai bagian penting dari sirkulasi fetal. Ilmu pengetahuan tidak mempunyai bukti bahwa plasenta atau cairan ketuban menjadi saudara spiritual yang terus mendampingi seseorang setelah kelahiran.

Karena itu mengatakan ilmu kedokteran modern telah membuktikan Kakang Kawah Adi Ari-Ari akan mencampurkan dua jenis pengetahuan yang berbeda. Tradisi berbicara dalam wilayah simbol, kepercayaan, pengalaman, dan kosmologi, sedangkan ilmu biomedis menguji proses biologis melalui metode empiris.

Namun perbedaan itu tidak membuat salah satunya harus dipaksa menjadi yang lain. Pertanyaan antropologis yang justru menarik adalah mengapa manusia di berbagai tempat memberikan perhatian begitu besar kepada sesuatu yang keluar bersama kelahiran.

Kajian lintas budaya menunjukkan perlakuan khusus terhadap plasenta bukan fenomena Indonesia saja. Cara memperlakukannya sangat beragam, sementara gagasan mengenai kedekatan antara anak dan plasenta juga ditemukan dalam sejumlah masyarakat di dunia.

Jadi manusia rupanya telah lama melakukan sesuatu yang menarik. Organ biologis dapat berhenti menjalankan tugas fisiologisnya, tetapi maknanya belum tentu ikut berhenti.

Jawa Menyebutnya Saudara

Dalam sebagian tradisi Jawa, air ketuban yang mendahului kelahiran bayi dipahami melalui ungkapan kakang kawah, sedangkan plasenta yang keluar setelah bayi disebut adi ari-ari. Pemaknaan tersebut kemudian berhubungan dengan gagasan yang lebih luas mengenai saudara kelahiran dalam kosmologi Jawa.

Kata kakang dan adi menjadikan urutan kelahiran sebagai bahasa kekerabatan. Sesuatu yang mendahului bayi disebut kakak, sedangkan yang menyusul kemudian ditempatkan sebagai adik dalam konstruksi simboliknya.

Pada titik tertentu, tubuh tidak lagi dibaca hanya sebagai tubuh. Peristiwa kelahiran menjadi cara untuk berbicara tentang hubungan manusia dengan asal-usul, diri, kehidupan, dan sesuatu yang dipercaya berada di luar dirinya.

Tetapi konsep ini adalah salah satu ekspresi budaya Jawa. Ia tidak boleh ditempelkan begitu saja kepada masyarakat lain hanya karena mereka juga mempunyai tradisi terhadap plasenta.

Madura Memiliki Ceritanya Sendiri

Di Sumenep, Madura, penelitian etnografi terhadap ritual Ngobur Tamoni menemukan masyarakat setempat memberikan perlakuan khusus kepada plasenta. Dalam pandangan komunitas yang diteliti, plasenta dipahami sebagai saudara bayi yang telah menyertai dan menjaganya selama berada dalam kandungan.

Ritual tersebut juga memuat doa dan harapan orang tua bagi anak. Penelitian terhadap praktik ini menunjukkan bahwa tata cara dan perlengkapannya dapat mengalami perubahan mengikuti perkembangan masyarakat.

Kemiripan gagasan tentang saudara memang menarik. Namun kemiripan tidak otomatis membuktikan bahwa tradisi Madura sekadar mengambil konsep Kakang Kawah Adi Ari-Ari dari Jawa.

Setiap tradisi harus terlebih dahulu dibaca melalui bahasa dan sejarah masyarakat pemiliknya. Nusantara tidak menjadi kaya karena semuanya sama, melainkan karena kedekatan tertentu dapat muncul melalui ungkapan yang berbeda.

Di Bangka, Plasenta Juga Memiliki Hubungan Kekerabatan

Catatan etnografi mengenai Orang Lom di Bangka memberikan contoh lain yang menarik. Plasenta dibersihkan dengan hati-hati dan dalam dokumentasi etnografis diperlakukan dalam hubungan simbolik yang dekat dengan bayi, termasuk melalui bahasa kekerabatan.

Kita kembali menemukan cara manusia mengubah sesuatu yang biologis menjadi bagian dari hubungan sosial. Namun kesamaan bahasa kekerabatan tidak cukup untuk menyatakan bahwa masyarakat tersebut mempunyai kosmologi yang sama dengan Jawa.

Justru di sinilah riset menjadi penting. Kemiripan dapat berasal dari pertukaran budaya, sejarah bersama, perkembangan gagasan yang sejajar, atau proses lain yang membutuhkan bukti sebelum disimpulkan.

Dari Sumatra hingga Kalimantan, Tanah Menyimpan Jejak

Riset etnoarkeologi yang dipresentasikan peneliti BRIN pada Kongres Indo-Pacific Prehistory Association 2026 meneliti wadah plasenta di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Penelitian tersebut menemukan kemiripan berupa penggunaan wadah kecil bertutup dari tanah liat, meskipun nama lokal dan konteks budayanya berbeda-beda.

Dalam komunitas yang menjadi objek penelitian, penguburan plasenta memperoleh pemaknaan tertentu mengenai hubungan manusia dan bumi. Para peneliti melihat kemiripan bentuk, teknologi, dan makna sebagai kemungkinan hasil difusi, konvergensi budaya, atau warisan bersama dalam jaringan Austronesia barat.

Kata kemungkinan penting untuk dipertahankan. Temuan tersebut membuka jalan untuk memahami hubungan lintas wilayah, bukan memberi izin kepada kita menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat Sumatra, Jawa, dan Kalimantan menjalankan tradisi yang sama.

Namun setidaknya satu hal semakin terlihat. Perhatian terhadap plasenta memiliki jejak yang melampaui batas satu kelompok budaya.

Aceh Mengenal Perpisahan dengan Plasenta

Penelitian etnografi di Aceh Selatan juga mendokumentasikan penguburan plasenta sebagai bagian dari rangkaian praktik setelah kelahiran. Di sana perlakuan terhadap plasenta berada bersama berbagai praktik lain yang berkaitan dengan ibu dan bayi.

Dokumentasi mengenai masyarakat Aceh juga menunjukkan penggunaan wadah dan penguburan plasenta di sekitar lingkungan rumah pada komunitas tertentu. Praktik tersebut perlu dibaca melalui konteks masyarakat setempat, bukan menggunakan kerangka kosmologi daerah lain.

Aceh tidak membutuhkan istilah Kakang Kawah untuk memberikan makna pada kelahiran. Inilah salah satu alasan istilah Jawa tidak boleh dijadikan payung untuk menjelaskan seluruh Nusantara.

Bali Menunjukkan Jalan yang Berbeda

Dalam tradisi Hindu Bali dikenal konsep Kanda Pat atau Catur Sanak yang menghubungkan kelahiran dengan unsur-unsur yang menyertai manusia, termasuk yeh nyom atau air ketuban, getih atau darah, serta ari-ari. Konsep tersebut mempunyai kosmologi dan landasan religiusnya sendiri sehingga tidak tepat sekadar disebut versi Bali dari Sedulur Papat Jawa.

Bahkan Bali sendiri tidak berbicara dengan satu suara mengenai perlakuan terhadap ari-ari. Pada sejumlah komunitas Bali Aga terdapat tradisi menggantung plasenta, berbeda dengan praktik penguburan yang dikenal di komunitas lainnya.

Di Trunyan, misalnya, penelitian mendokumentasikan ari-ari yang ditempatkan dalam tempurung kelapa lalu digantung di lokasi tertentu. Pemaknaan dan tata caranya hidup di dalam kerangka adat serta keyakinan masyarakat setempat.

Perbedaan ini menggugurkan godaan untuk mencari satu “tradisi asli Nusantara”. Bahkan dalam satu pulau, cara manusia memperlakukan sesuatu yang menyertai kelahiran dapat berbeda.

Timur Indonesia Mengingatkan Kita untuk Tidak Gegabah

Dokumentasi etnografi di Nusa Tenggara Timur mencatat peran dukun beranak tradisional dalam sejumlah proses kelahiran, termasuk pemotongan tali pusat dan penanganan plasenta. Namun dokumentasi yang tersedia tidak cukup untuk menyatakan masyarakat yang diteliti mempunyai konsep saudara plasenta seperti yang ditemukan dalam beberapa komunitas lainnya.

Perbedaan kekuatan bukti seperti ini penting dalam penelitian kebudayaan. Tidak ditemukannya dokumentasi bukan berarti sebuah tradisi pasti tidak ada, tetapi kita juga tidak boleh mengisi ruang kosong dengan dugaan.

Karena itu tidak tepat mengatakan seluruh Nusantara mengenal Kakang Kawah Adi Ari-Ari dengan nama berbeda. Yang dapat dikatakan berdasarkan bukti adalah berbagai komunitas Indonesia mempunyai praktik dan pemaknaan terhadap plasenta serta unsur kelahiran, dengan persamaan dan perbedaan yang harus dihormati.

Mengapa Plasenta Begitu Mudah Menjadi Simbol?

Bayangkan pengalaman manusia jauh sebelum anatomi modern dapat menjelaskan kehamilan. Seorang bayi keluar dari tubuh ibu, kemudian disusul sebuah organ dengan tali yang beberapa saat sebelumnya terhubung langsung kepada bayi.

Tidak diperlukan mikroskop untuk menyadari bahwa benda itu mempunyai hubungan dengan kehidupan yang baru saja lahir. Manusia dapat melihat kedekatannya, meskipun belum mengetahui pertukaran gas, hormon, struktur plasenta, atau sirkulasi janin.

Kajian antropologi menunjukkan penanganan plasenta memperoleh makna khusus dalam banyak masyarakat dunia. Cara memperlakukannya berbeda-beda berdasarkan nilai, kepercayaan, sejarah, dan tradisi masing-masing masyarakat.

Dengan kata lain, manusia modern bukan orang pertama yang bertanya apa arti organ yang keluar setelah bayi. Pertanyaan itu tampaknya telah mengikuti peristiwa kelahiran sejak waktu yang sangat panjang.

Sebuah Organ yang Selesai Bekerja

Ada paradoks yang menarik pada plasenta. Selama kehamilan ia begitu penting, tetapi setelah kelahiran tugas fisiologisnya berakhir.

Plasenta menyediakan lingkungan pertukaran yang memungkinkan janin memperoleh oksigen dan nutrisi serta membuang sisa metabolisme. Ia juga menghasilkan hormon dan menjalankan fungsi lain yang penting bagi keberlangsungan kehamilan.

Ketika bayi mulai bernapas dan tali pusat diputus, sirkulasi tubuhnya mengalami perubahan besar. Sistem yang selama kehidupan janin bergantung pada plasenta beralih menuju kehidupan di luar rahim.

Secara biologis, perpisahan telah terjadi. Secara kebudayaan, manusia kemudian menentukan bagaimana perpisahan itu diberi arti.

Ada yang menguburkan dan ada yang menggantung. Ada yang menempatkannya dalam wadah tertentu, sementara masyarakat lain memberinya bahasa kekerabatan dan menyertainya dengan doa.

Mungkin yang Dihormati Adalah Perjalanan

Kita tidak mengetahui dengan pasti apa yang dipikirkan manusia pertama yang memberikan perlakuan khusus kepada plasenta. Menarik garis lurus dari fungsi biologis yang kita ketahui sekarang menuju keyakinan leluhur hanya akan menghasilkan cerita yang indah tetapi belum tentu benar.

Namun kita dapat melihat sebuah pola manusiawi. Kelahiran bukan hanya perpindahan tubuh dari rahim menuju dunia, tetapi peristiwa besar yang kemudian diberi bahasa sosial, spiritual, dan kosmologis oleh masyarakat.

Plasenta berada tepat pada batas itu. Ia pernah menjadi bagian penting dari kehidupan sebelum lahir, kemudian keluar ketika kehidupan di luar rahim dimulai.

Barangkali karena posisi yang luar biasa itulah ia begitu mudah memperoleh simbol. Bukan karena masyarakat masa lalu mengetahui fisiologi plasenta seperti dokter modern, melainkan karena mereka menyaksikan sendiri kedekatannya dengan kelahiran.

Tubuh Menjadi Bahasa Kebudayaan

Manusia mempunyai kemampuan mengubah sesuatu yang biologis menjadi cerita tentang dirinya. Darah dapat menjadi simbol kekerabatan, tanah menjadi simbol asal-usul, napas menjadi gambaran kehidupan, sementara kelahiran dapat menjadi pintu bagi berbagai pemaknaan tentang keberadaan.

Dalam sebagian masyarakat Nusantara, plasenta dan unsur kelahiran memasuki wilayah yang sama. Tubuh tidak berhenti sebagai anatomi, tetapi menjadi bahasa untuk menjelaskan hubungan manusia dengan keluarga, alam, bumi, yang sakral, dan perjalanan hidup.

Di Jawa bahasa itu dapat muncul sebagai kakang dan adi. Di tempat lain ia mempunyai nama, perlakuan, doa, larangan, dan penjelasan yang tidak selalu sama.

Justru perbedaan tersebut perlu dijaga. Menjadikan semuanya sebagai “Kakang Kawah Adi Ari-Ari Nusantara” terdengar menyatukan, tetapi sebenarnya dapat menghapus suara masyarakat yang memiliki kosmologinya sendiri.

Ilmu Modern Tidak Mengurangi Keindahannya

Mengetahui bahwa plasenta merupakan organ tidak membuat tradisi kehilangan nilai budayanya. Sebaliknya, mengetahui tradisi tidak mengharuskan kita menerima seluruh keyakinan di dalamnya sebagai fakta biologis.

Dua pengetahuan dapat berdiri pada tempatnya masing-masing. Kedokteran menjelaskan bagaimana tubuh bekerja, sedangkan antropologi dan sejarah membantu kita memahami bagaimana manusia memberi arti pada pengalaman tubuh tersebut.

Bahkan ilmu pengetahuan masih terus mempelajari plasenta karena organ sementara ini mempunyai mekanisme yang kompleks dan berpengaruh besar terhadap kehamilan. Artinya, sesuatu yang selama berabad-abad memperoleh perhatian kebudayaan juga tetap menjadi objek penelitian penting dalam ilmu kedokteran modern.

Mungkin di sinilah perjumpaan yang paling sehat terjadi. Kita tidak menggunakan sains untuk mengesahkan kepercayaan, dan tidak menggunakan tradisi untuk menggantikan ilmu kedokteran.

Kita Pernah Tinggal di Sana

Tidak seorang pun dapat mengingat kehidupannya di dalam rahim. Tetapi tubuh setiap manusia pernah melewati perjalanan itu.

Pernah ada masa ketika paru-paru kita belum mengambil oksigen dari udara. Pernah ada tali pusat yang menjadi bagian dari sistem yang menghubungkan sirkulasi kita dengan plasenta, sementara tubuh berkembang di dalam cairan ketuban.

Setelah lahir, semuanya seakan hilang dari ingatan. Kita tumbuh, memperoleh nama, belajar berjalan, membangun kehidupan, dan suatu hari mungkin menyaksikan kelahiran generasi setelah kita.

Tetapi kebudayaan mempunyai cara menyimpan sesuatu yang tidak dapat disimpan ingatan pribadi. Ia mengubah pengalaman kelahiran menjadi nama, simbol, wadah, penguburan, gantungan, doa, cerita, dan filosofi.

Maka Kakang Kawah Adi Ari-Ari bukan jawaban untuk seluruh Nusantara. Ia adalah salah satu pintu untuk memahami pertanyaan yang ternyata jauh lebih besar.

Bagaimana manusia memahami sesuatu yang pernah menyertainya sebelum ia mampu mengenal dunia? Ilmu modern memberi jawaban mengenai tubuh, sedangkan kebudayaan memperlihatkan bagaimana manusia dari generasi ke generasi mencoba memberi makna pada perjalanan itu.

Keduanya tidak harus saling membuktikan. Keduanya dapat membawa kita kepada kesadaran sederhana bahwa jauh sebelum mampu berdiri sendiri, kehidupan kita pernah bergantung pada sesuatu yang setelah kelahiran tidak lagi kita bawa pergi.

CATATAN REDAKSI

Artikel ini membahas tradisi dan pemaknaan terhadap plasenta, air ketuban, tali pusat, darah, serta unsur yang berkaitan dengan kelahiran melalui dua ranah pengetahuan yang sengaja dibedakan: ilmu biomedis dan kebudayaan. Penjelasan mengenai fungsi plasenta, cairan amnion, tali pusat, dan sirkulasi janin didasarkan pada literatur kedokteran, sedangkan gagasan mengenai saudara kelahiran, perlindungan spiritual, kesucian, hubungan dengan bumi, serta makna lain ditempatkan sebagai kepercayaan, kosmologi, dan interpretasi masyarakat yang menjalankannya.

Istilah Kakang Kawah Adi Ari-Ari dalam artikel ini digunakan dalam konteks tradisi Jawa dan tidak dimaksudkan sebagai nama umum bagi seluruh tradisi Nusantara. Bukti etnografi dan arkeologi menunjukkan adanya perlakuan khusus terhadap plasenta di berbagai komunitas Indonesia, tetapi kesamaan tertentu di antara praktik tersebut tidak membuktikan bahwa semuanya berasal dari satu ajaran, mempunyai filosofi yang sama, atau merupakan variasi langsung dari konsep Jawa.

Artikel ini juga tidak menyatakan bahwa ilmu pengetahuan modern membuktikan konsep saudara spiritual dalam tradisi kelahiran. Ilmu kedokteran dapat menunjukkan bahwa plasenta, tali pusat, dan cairan amnion mempunyai fungsi biologis penting selama kehamilan dan perkembangan janin, tetapi temuan tersebut tidak membuktikan keberadaan hubungan spiritual setelah kelahiran.

Praktik terhadap plasenta di Indonesia sangat beragam, bahkan di dalam wilayah budaya yang sama. Ada masyarakat yang menguburkan, menggantung, menggunakan wadah tertentu, atau menjalankan tata cara lain dengan alasan yang berbeda. Karena dokumentasi akademik untuk setiap kelompok masyarakat Nusantara tidak sama lengkapnya, EMMANUS tidak menganggap ketiadaan sumber sebagai bukti bahwa suatu tradisi tidak ada, tetapi juga tidak mengisi kekosongan tersebut dengan klaim yang belum terverifikasi.

Sebagian praktik kelahiran bersinggungan dengan agama, kepercayaan lokal, kesehatan ibu dan anak, serta tindakan medis. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menentukan benar atau salahnya keyakinan tersebut secara agama, mengesahkan klaim supernatural sebagai fakta, ataupun menjadikan tradisi sebagai pengganti pelayanan kesehatan berbasis bukti.

EMMANUS menempatkan tradisi-tradisi tersebut sebagai bagian dari keragaman cara manusia Nusantara memahami kelahiran dan asal kehidupan. Persamaan dapat dipelajari dan hubungan sejarah dapat diteliti, tetapi perbedaan istilah, masyarakat pemilik, kosmologi, agama, serta praktik lokal tetap harus dipertahankan agar gagasan tentang “Nusantara” tidak justru menghapus keragaman yang ingin didokumentasikan.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait