Cerita Rakyat

Asal Mula Desa Jimbaran, Kisah Dalem Ireng dan Dalem Putih

Desa Jimbaran, sebuah desa di pesisir selatan Bali, Provinsi Bali, dikenal karena keindahan pantainya yang berpasir putih serta lautnya yang jernih. Di balik keindahan dan popularitasnya ini, Desa Jimbaran juga memiliki cerita rakyat legendaris yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Kisah Raja Yang Mengasingkan Anak-Istrinya Cerita mengisahkan perjuangan dan keberanian dua bersaudara, Dalem […]

Oleh Anisa Kurniawati

Asal Mula Desa Jimbaran, Kisah Dalem Ireng dan Dalem Putih
Ilustrasi pemandangan pantai Jimbaran yang berpasir putih. Foto: Wikimedia Commons/pedrizat
Diterbitkan

Desa Jimbaran, sebuah desa di pesisir selatan Bali, Provinsi Bali, dikenal karena keindahan pantainya yang berpasir putih serta lautnya yang jernih.

Di balik keindahan dan popularitasnya ini, Desa Jimbaran juga memiliki cerita rakyat legendaris yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.

Kisah Raja Yang Mengasingkan Anak-Istrinya

Cerita mengisahkan perjuangan dan keberanian dua bersaudara, Dalem Ireng dan Dalem Putih.

Dilansir dari budayabali.com, Pada zaman dahulu, terdapat sebuah kerajaan di timur Bali bernama Kerajaan Klungkung yang dipimpin Raja Ida Dewa Agung Sri Ratu Dalem. 

Raja ini dikenal bijaksana dan dicintai rakyatnya. Raja mempunyai dua orang istri dan dua orang anak dari istrinya yang kedua. Anak dari istri keduanya bernama Dalem Putih dan  Dalem Ireng. 

Semula, Baginda Raja sangat mengasihi istrinya yang kedua dan putra-putranya yang lucu.

Namun, setelah Dalem Ireng mulai belajar berdiri dan melangkah, sikap Dewa Agung berubah. Dewa Agung sangat membenci kedua putra dan istri keduanya. 

Sebaliknya, Dewa Agung sangat mengasihi istrinya yang pertama. Padahal permaisurinya itu tidak melahirkan seorang putra pun. 

Pengusiran Dalem Putih dan Dalem Ireng

Singkat cerita Raja memerintahkan patih setianya untuk mengusir istri keduanya beserta kedua anaknya dari istana.

Walau berat hati, sang patih akhirnya menjalankan perintah sang raja. Ibu Dalem Ireng dan Dalem Putih bersama kedua putranya diusir ke hutan belantara. 

Mereka menghadapi berbagai penderitaan. Mulai dari kelaparan, kehausan, hingga keputusasaan. Dalam kondisi yang semakin sulit, sang ibu terpaksa meninggalkan Dalem Putih di tengah hutan agar ia bisa menjaga adiknya yang lebih kecil.

Dalem Putih, yang ditinggalkan sendirian di hutan, ditemukan pertapa bernama Dukuh Sakti. Sang pertapa mengasuh Dalem Putih dengan penuh kasih sayang, mengajarkan berbagai ilmu seperti bela diri, meditasi, dan pengobatan. 

Dalem Putih kemudian menjadi sosok bijaksana berkemampuan luar biasa. Jelang akhir hayatnya, Dukuh Sakti berpesan agar Dalem Putih menuju barat daya dan tinggal di sekitar Pura Uluwatu.

Dalem Putih menuruti pesan gurunya. Ia membuka lahan baru di daerah Uluwatu dan mulai dikenal oleh penduduk setempat sebagai seorang dukun yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

Berkat kebijaksanaannya, Dalem Putih menjadi sosok yang dihormati. Ia pun menikah dengan seorang gadis cantik dari daerah tersebut.

Pertemuan Kembali dengan Dalem Ireng

Suatu hari, seorang pemuda asing singgah di pondok Dalem Putih. Setelah perkelahian sengit akibat kesalahpahaman, mereka akhirnya saling mengenali. Pemuda itu ternyata Dalem Ireng, adiknya yang terpisah sejak kecil.

Meski penuh haru, pertemuan tak berlangsung lama. Dalem Ireng, yang terbiasa berkelana, memilih melanjutkan perjalanannya, sementara Dalem Putih tetap tinggal di daerah Uluwatu.

Asal Nama Desa Jimbaran

Dalem Putih, bersama penduduk setempat, membuka lahan baru di  utara Pura Uluwatu. Lahan yang luas itu diberi nama “Jimbaran,” yang berasal dari kata “jimbar” yang berarti “luas terhampar.” 

Kini, Desa Jimbaran selain dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan kisah bersejarah tentang keberanian, perjuangan, dan pengorbanan dua saudara yang menjadi bagian dari cikal bakal desa tersebut.

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat29 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati