Di wilayah Pandak, Bantul, terdapat cerita tutur tentang sebuah sendang yang namanya menyimpan kisah pilu. Cerita itu berkisah tentang seorang putri yang meninggalkan keraton setelah keluarganya mengetahui bahwa ia mengandung, tetapi tidak bersedia mengungkapkan siapa ayah dari anak yang dikandungnya.
Menurut salah satu versi legenda setempat, sang putri diusir dari istana. Ia kemudian meninggalkan kehidupan keraton dan menempuh perjalanan hingga tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul.
Perjalanan itu membawanya jauh dari lingkungan tempat ia dibesarkan. Tanpa perlindungan keluarga kerajaan, sang putri harus menghadapi masa depan yang tidak pasti sambil membawa kandungannya.
Di tempat pengasingan itulah, kisahnya kemudian terhubung dengan sebuah sumber air. Cerita tersebut tidak hanya mengingat perjalanan seorang perempuan yang terusir, tetapi juga berusaha menjelaskan asal-usul nama sebuah tempat yang dikenal masyarakat setempat.
Legenda itu diwariskan dalam dua sebutan yang berdekatan bunyinya: Sendang Bubaran dan Sendang Babaran. Keduanya hadir dalam cerita yang sama-sama berpusat pada perpisahan, kelahiran, dan jejak masa lalu di wilayah Pandak.
Putri yang Terusir dari Keraton
Kisah bermula ketika kehamilan sang putri diketahui oleh keluarganya. Ia tidak menjelaskan siapa laki-laki yang telah menghamilinya. Sikap itu membuat keluarganya marah, hingga keputusan untuk mengusirnya dari keraton pun dijatuhkan.
Dalam versi yang dicatat di wilayah Pandak, keraton tersebut disebut sebagai Keraton Majapahit. Namun, cerita tutur ini tidak memberikan keterangan yang cukup untuk memastikan hubungan peristiwa tersebut dengan catatan sejarah kerajaan.
Sang putri kemudian meninggalkan istana dan mengembara. Ia tidak lagi berada di tengah keluarga yang dahulu menjadi bagian dari kehidupannya. Perjalanan membawanya ke wilayah yang sekarang termasuk Kabupaten Bantul.
Di tempat itulah ia menanti kelahiran anaknya. Tidak ada kemegahan istana yang mengiringi peristiwa tersebut. Kisah setempat justru menempatkan sang putri di sebuah wilayah yang kemudian dikenal melalui keberadaan sumber air.
Peristiwa kelahiran itu menjadi titik penting dalam versi legenda ini. Bukan hanya karena sang putri melahirkan seorang anak laki-laki, melainkan juga karena kelahiran tersebut dikaitkan dengan asal mula sebuah sendang.
Air yang Mengalir Saat Kelahiran
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, ketika sang putri melahirkan, air ketubannya berubah secara ajaib menjadi aliran air kecil. Aliran itu kemudian dikaitkan dengan tempat yang dikenal sebagai Sendang Bubaran.
Kisah tersebut menjadikan kelahiran sebagai bagian dari asal-usul bentang alam. Air yang biasanya hadir sebagai bagian dari proses kelahiran dalam cerita ini memperoleh wujud lain, yakni aliran yang menetap dalam ingatan masyarakat terhadap suatu tempat.
Dalam versi ini, nama yang dianggap lebih dekat dengan peristiwa tersebut adalah Sendang Babaran. Kata *babaran* merujuk pada kelahiran, sehingga nama itu dipahami sebagai penanda peristiwa yang dialami sang putri di tempat pengasingannya.
Seiring berjalannya cerita, sebutan Sendang Bubaran juga dikenal dalam tradisi setempat. Kemiripan bunyi kedua nama itu membuka dua penjelasan berbeda: satu dikaitkan dengan kelahiran, sementara versi lain menghubungkannya dengan bubarnya sebuah hubungan.
Legenda ini tidak menjelaskan secara pasti kapan perubahan sebutan itu berlangsung. Yang diwariskan adalah kaitan antara sebuah nama, aliran air, dan peristiwa yang dianggap penting dalam masa lampau.
Anak yang Dikenal sebagai Untung Surapati
Anak laki-laki yang dilahirkan sang putri dikisahkan tumbuh jauh dari kehidupan keraton. Ia memulai hidup dengan menjadi kacung di lingkungan keluarga Belanda, kemudian diangkat sebagai anak.
Dalam perjalanan hidupnya, ia berkembang menjadi seorang prajurit. Namun, kehidupan militernya tidak berlangsung tanpa perubahan. Cerita tutur tersebut menyebut bahwa ia kemudian meninggalkan kesatuannya dan berbalik melawan Belanda.
Anak yang dalam legenda itu lahir di wilayah Pandak tersebut kemudian dikenal sebagai Untung Surapati. Hubungan antara tokoh itu dan kisah kelahiran sang putri menjadi bagian dari versi cerita yang hidup di masyarakat setempat.
Kisah Sendang Babaran pun melampaui penjelasan tentang asal-usul air. Di dalamnya, sebuah tempat di Bantul dihubungkan dengan cerita tentang seorang perempuan yang terusir dan seorang anak yang kelak dikenal melalui perjalanan hidupnya.
Sampai di situlah legenda ini meninggalkan jejaknya: pada nama sendang, pada cerita tentang kelahiran, dan pada ingatan masyarakat yang menghubungkan keduanya dengan Untung Surapati. Versi ini tetap menjadi cerita tutur setempat, bukan bukti bahwa seluruh rangkaian peristiwa tersebut berlangsung persis seperti yang dikisahkan.
CATATAN REDAKSI
Legenda Sendang Bubaran berasal dari wilayah Triharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Catatan Pemerintah DIY melalui basis data Jogja Budaya memuat dua versi cerita yang berkaitan dengan nama sendang tersebut.
Naskah ini mengembangkan versi kedua, yakni cerita tentang seorang putri yang diusir dari keraton, melahirkan seorang anak laki-laki, dan dikaitkan dengan munculnya aliran air. Dalam versi ini, nama Sendang Babaran dihubungkan dengan kata “babaran”, yang berarti melahirkan. Anak yang dilahirkan itu kemudian diidentifikasi dalam cerita setempat sebagai Untung Surapati.
Versi pertama memiliki alur berbeda. Menurut keterangan juru kunci yang dicatat dalam basis data yang sama, Sendang Bubaran dikaitkan dengan putra Raja Mataram yang bersemadi setelah dimarahi dan diusir oleh ayahnya karena hubungan cintanya dengan seorang putri yang telah dijanjikan untuk ayahnya. Nama “Bubaran” dalam versi tersebut dihubungkan dengan bubarnya hubungan cinta. Versi pertama tidak digabungkan ke dalam naskah utama.
Kedua versi tersebut merupakan tradisi tutur setempat. Keterangan mengenai perubahan air menjadi aliran sendang dan hubungan kelahiran tokoh Untung Surapati dengan wilayah Pandak harus dipahami sebagai bagian dari legenda, bukan fakta sejarah yang telah dipastikan.
Naskah ini tidak dimaksudkan untuk menetapkan versi mana yang paling benar. Tujuannya adalah mendokumentasikan salah satu versi cerita yang hidup di masyarakat dengan tetap membedakan tradisi lisan dari bukti sejarah.








